
Kakak beradik Wiratmadja sudah kembali sedari bekerja. Ken dan Sam tidak mengambil waktu lembur karena mereka sudah berjanji akan datang tepat waktu pada makan malam keluarga kali ini. Dan jika ada pekerjaan yang belum terselesaikan, maka itu akan dibebankan kepada bawahan mereka tentunya. Lagi-lagi Han menjadi korban dalam hal ini. Malangnya nasib pria itu!
"Uwwooww! Enak sekali!", mata Sam membelalak dan hampir keluar ketika sedang menikmati suapan pertamanya.
Sekarang, seluruh anggota keluarga Wiratmadja sudah berkumpul di meja makan. Adapun Tuan Dion selaku kepala keluarga, duduk paling depan di tengah mengepalai anggota keluarga yang lainnya. Kemudian Nyonya Rima duduk di sisi kanannya, lalu selanjutnya ada Ana dan juga Ken di sana. Sedangkan di sayap kiri, terdapat Sam dan juga Sarah duduk saling bersebelahan.
"Wow! Wow! Wow! Sumpah demi apa pun ini enak sekali!", sekali lagi pria itu berseru dengan begitu semangatnya.
"Sam! Apa-apaan kau ini?! Berlebihan sekali!", tegur Sarah sambil memukul pelan lengan suaminya itu.
"Tunggu! Tunggu! Biarkan lidah ini mengenal lebih jauh sajian pemikat hati ini!", Sarah kembali memukul lengannya karena tegurannya tidak dihiraukan.
Sedangkan Ana dan Ken yang berada di seberang mereka, hanya memasang wajah acuh tak acuh. Hanya Ana sekali memutar bola matanya malas. Dan untuk kedua orang tuanya, baik itu Nyonya Rima maupun Tuan Dion, kemudian hanya mau menggeleng lemah saja. Mereka semua pada akhirnya tetap melanjutkan kegiatan mereka, dan tak ada niatan sama sekali untuk meladeni ucapan pria konyol itu.
"Aku tahu! Aku tahu! Lidahku sangat mengenal cita rasa ini! Ini pasti masakan Bunda, kan?! Iya, kan! Benar, kan?! Aku yakin pasti benar! Lidahku tidak pernah salah menilai sesuatu! Karena selain masakan Kakak ipar, masakan Bunda adalah yang paling enak di dunia ini!", dengan bola mata bersinar, Sam berdiri dari tempat duduknya sambil berdialog sendiri. Menjawab pertanyaannya sendiri dengan begitu percaya diri. Sambil berbicara pria itu memandangi setiap makanan yang tersaji seakan bola matanya ingin langsung melahap mereka semua saat itu juga.
Dan Nyonya Rima tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk menjelaskan ketika putra bungsunya itu terus membuka mulutnya semakin lebar. Wanita paruh baya itu hanya diberi kesempatan untuk mengatupkan bibirnya kembali lantaran ia tidak jadi berbicara.
"Jadi menurutmu masakanku tidak enak, hah?!", celetuk Sarah seraya melemparkan lirikan tajam kepada suaminya itu.
Nyonya Rima pun mendesah pelan, akan selalu tiba waktunya bagi Sam untuk mendapat hukuman atas sikap konyolnya itu. Sedangkan Tuan Dion kini meletakkan peralatan makannya untuk menikmati riuh yang sebentar lagi akan terjadi. Sejak siang tadi ia memiliki hiburan di rumah ini berkat anak dan menantunya itu. Tuan Dion melipat tangannya di depan sambil bersandar, memperhatikan dengan wajah terhibur.
"Ahh,,, ", Sam melupakan sesuatu. Ia menoleh dengan gerakan lambat pada wanita yang berada di sebelahnya. Wanita itu kini sedang menampilkan seringai kejamnya yang membuat Sam mendadak menggigil sesaat. Lelaki itu pun menunjukkan giginya yang berderet, berbaris rapi dengan senyum kaku yang amat lebar. Perlahan ia mendudukkan dirinya kembali.
"Tentu saja! Masakan istriku tercinta adalah yang paling enak di antara semua orang di dunia ini! Masakan Bunda dan Kakak ipar tentu saja tidak ada duanya!", Sarah melotot ketika suaminya itu malahan berbicara jujur. Sehingga refleks Sam menutup mulutnya yang sudah salah bicara barusan.
__ADS_1
"Eh,,, maksudku tentu masakan istriku adalah yang nomor satu! Karena masakan Bunda dan Kakak ipar adalah yang nomor dua dan tiga! Masakan istriku adalah yang paling enak di dunia ini!", Sam merentangkan tangannya ketika mempraktekan ucapannya agar lebih meyakinkan.
"Benarkah?! Sepertinya waktu itu kau tidak berbicara begitu?!", Ana masuk di antara mereka dengan bumbu yang memercik api untuk semakin membara. Dengan wajah acuhnya wanita hamil itu mendadak suka memprovokasi dua orang di depannya. Dan berhasil ketika melihat wajah Sarah semakin garang ketika menatap Sam.
"Ten,, tentu saja benar, Kakak ipar! Masakan Sarah adalah yang paling enak! Masakan Kakak ipar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masakan istriku!", ucap Sam membela diri meskipun terbata awalnya. Ia juga berbicara sambil memeluk istrinya itu dari samping.
Ana memutar bola mata dengan enggan. Malas berbicara lagi ketika melihat wajah Sarah yang mulai tenang. Sekarang tidak seru lagi! Sahabatnya itu ternyata bisa mengendalikan dirinya saat ini. Sarah memang sedang tidak mau saja meladeni Sam yang konyol itu. Sehingga ia meyakinkan dirinya untuk tidak mempedulikan satu ucapan pun yang keluar dari mulutnya.
"Tutup mulutmu! Lagipula tidak ada satu pun dari kata-katamu yang bisa dipercaya!", ungkap Sarah malas seraya melepaskan tangan Sam yang masih melingkar di tubuhnya seperti ular.
"Sayang! Kau tega sekali kepada suamimu yang sangat jujur ini!", Sam merajuk seraya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Tubuhnya bergoyang seperti sebuah pohon yang sedang diterpa badai.
eherm,, eherm,,
"Tutup mulutmu! Dan makan!", Sarah segera menyumbat mulut besar suaminya itu dengan sepotong brokoli besar setelah mendengar Ken berdehem dengan gaya acuh khasnya. Sarah jadi merasa tidak enak hati karena sudah merusak suasana makan malam kali ini dengan celoteh tidak jelas suaminya itu. Maka dari itu ia berusaha segera menghentikan suara yang akan keluar lagi dari mulut Sam.
"Maafkan kami, Ayah!", ucapnya lagi dengan tulus ketika tak sengaja melihat ke arah ayah mertuanya yang ternyata sedang menghentikan makannya. Sarah semakin merasa bersalah.
"Hey! Tidak perlu minta maaf! Justru Ayah sedang menikmati momen-momen ini! Kami para orang tua sangat terhibur karena rumah yang begitu luas ini sekarang menjadi begitu ramai semenjak kedatangan kalian. Ayah merasa sangat beruntung karena sekarang sudah memiliki anak-anak perempuan juga. Hidup kami terasa jadi lebih lengkap dan berwarna! Karena sebelumnya yang kami miliki hanya anak-anak lelaki yang kaku!", ujar Tuan Dion dengan air muka penuh ketulusan.
"Ayah!", Sarah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kata yang lebih tinggi dari rasa syukur dan bangganya karena begitu diterima di keluarga yang terhormat ini. Sedangkan dirinya ini hanyalah seorang wanita biasa sebelumnya.
"Terima kasih, Ayah!", Ana juga merasa sangat senang karena keluarganya lengkap lagi sekarang. Diam-diam ia mengangguk pelan menyetujui pernyataan ayah mertuanya mengenai putra-putra mereka. Ana jadi bisa membayangkan bagaimana heningnya suasana meja makan ini dulu. Terlebih lagi dulu, Nyonya Rima belum sebaik dan semurah hati sekarang. Dan bisa dikatakan jika Ana dan Sarah tidak disetujui pada awalnya oleh wanita paruh baya itu. Ibu hamil itu sangat bersyukur karena situasinya sudah sangat berbeda saat ini, sudah jauh lebih baik.
"Kami yang seharusnya berterima kasih karena kalian telah membuat rumah ini menjadi hangat dan lebih berwarna!", sambung Tuan Dion menanggapi Ana tak menyurutkan senyumnya. Lalu disambut oleh senyuman dari semua orang yang saling berpandangan. Satu keluarga itu sedang diliputi dengan perasaan penuh cinta.
__ADS_1
"Apalagi jika sudah hadir anak-anak yang manis dan tampan di tengah kalian! Pasti akan semakin ramai rumah ini nanti!", Nyonya Rima berkata sambil menikmati khayalannya. Wajahnya berbinar bahagia ketika membayangkan hal itu terjadi.
Ana tersenyum membalas senyuman ibu mertuanya yang tanpa sengaja bertemu tatap dengannya. Namun segera ia merasakan kakinya disenggol dengan sengaja oleh suaminya. Ana menoleh untuk bertanya dengan sikap aneh Ken. Namun pria itu langsung memberinya jawaban. Bola matanya bergerak bagai mata kompas dan langsung mengarah pada orang yang berada di seberang mereka.
Ana mengikuti arah yang Ken maksud. Dan benar saja, ia melihat Sarah tengah menundukkan kepalanya dengan wajah murung. Begitu juga dengan Nyonya Rima yang menerima efek domino dari putra dan menantunya itu. Ia juga menoleh ke arah yang sama. Hatinya menjadi layu karena hal itu.
"Sarah, maafkan Bunda, nak!", matanya mulai terasa hangat dengan perasaan bersalah tatkala melihat menantunya yang satu ini terlihat begitu murung.
"Jangan begitu, Bunda! Tidak ada yang perlu dimaafkan! Aku tidak apa-apa, Bunda!", jawab Sarah dengan senyum kaku yang ia paksakan Ucapan itu jelas hanya untuk menghibur ibu mertuanya. Ia memang tidak menyalahkan siap pun dalam hal ini. Kenyataannya adalah memang dirinya yang belum diberi kesempatan untuk memiliki keturunan.
"Sungguh kau baik-baik saja? Maafkan, Bunda, ya! Bunda tidak bermaksud apa-apa, sungguh!", tanya Nyonya Rima masih penuh dengan perasaan khawatir.
"Benar, Bunda! Jangan terlalu dipikirkan! Tidak baik untuk kesehatan, Bunda, kan?!", semakin bersalah saja Nyonya Rima ketika mendengar menantunya itu malahan masih begitu perhatian kepada dirinya.
Jujur saja, sebenarnya Nyonya Rima lupa jika kemarin putra bungsunya itu meminta saran mengenai cara menghibur Sarah yang sedang banyak berpikir karena belum juga diberi keturunan. Sedangkan Ana bisa segera mengandung usai ia menikah. Nyonya Rima tidak mengingat hal penting ini, hal yang akan begitu sensitif ketika dinaikkan ke permukaan.
"Menu hari ini benar-benar enak!", seru Sam begitu kencang untuk mengalihkan topik utama pembicaraan mereka semua. Ia memasukkan sepotong daging berbumbu ke mulutnya.
Di sisi lain, Ana dan Ken hanya bisa saling berpandangan. Mereka hanya bisa berharap semoga mereka cepat memiliki keponakan dari Sarah dan Sam. Karena dalam hal ini akan riskan jika mereka berdua bersuara.
"Benar! Karena semua makanan ini yang memasak adalah Sarah!", Nyonya Rima ikut bergabung dengan usaha putranya itu. Ia juga ingin memperbaiki suasana di meja makan ini agar menjadi hidup kembali. Usahanya ini dilakukan demi menebus rasa bersalahnya terhadap SArah.
"Wahh,, memang benar apa yang aku katakan! Masakan istriku memang yang terbaik di dunia!", Sam kembali menampilkan gaya konyol seperti yang sebelumnya.
"Aku hanya mengikuti arahan dan resep dari Bunda!", lagi-lagi Sarah menampilkan senyum palsunya yang nampak jelas juga kaku.
__ADS_1
Setelah itu, selama makan malam ini berlangsung, suasana di meja makan menjadi sepi. Sunyi yang menguasai setelah ramai berlalu. Hanya dentingan sendok dan piring yang menjadi melodi pengiring suasana makan malam itu.
Hampir setiap orang sesekali melirik ke arah Sarah yang terus menikmati makanan di piringnya dengan tenang. Namun sangat jelas jika di wajah wanita itu sedang terjadi badai. Dan Sam sebagai nahkodanya, sedang berjuang untuk mengendalikan kapalnya agar tidak karam dan tenggelam dalam kesedihan. Sudah berulang kali Sam menghibur istrinya itu, namun selalu saja gagal.