
"Itu Susi!", kepala pelayan itu masih diliputi kebingungan yang besar.
***
Dua buah alpukat telah dibelah oleh Susi. Ia lalu mengambil daging buah itu untuk ia masukkan ke dalam blender. Ia menambahkan sedikit gula ke dalam sana.
Lalu tangannya merogoh saku rok seragam yang dipakainya. Sebuah bungkusan kecil berwarna putih menyembul di ujung jari yang mengapitnya. Susi dengan senyum penuh arti, ia memasukkan serbuk yang terdapat pada bungkusan itu ke dalam blender yang sudah berisi buah alpukat.
"Maafkan saya, Nona! Ini demi keluarga saya!", gumamnya lalu menyalakan blender itu. Sehingga semua yang berada di dalam sana dilumat sampai halus.
***
"Susi?!", kepala pelayan itu bertanya dengan ekspresi wajahnya. Dan Ana hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Ken sangat mempercayaimu, Bibi! Jadi aku akan mempercayaimu juga. Tolong jaga rahasia ini dari siapapun. Hanya kau dan aku yang tau. Bahkan suamiku sendiri pun tak tau mengenai hal ini".
"Jangan ubah sikap Bibi padanya! Bersikaplah seolah-olah Bibi tidak mengetahui apa-apa, seperti sebelumnya", Ana berbisik menyampaikan pesannya.
Senyum majikannya yang teduh dan meyakinkan itu membuatnya bingung harus bagaimana. Nyonya muda keluarga ini sangatlah baik dan bersahaja. Mana bisa ia membiarkan begitu saja saat ada orang yang berniat jahat padanya.
"Jangan khawatir, aku sudah memiliki rencanaku sendiri! Nanti saat aku butuh bantuan, aku pasti akan memanggilmu, Bibi!", Ana mengerti kekhawatiran di wajah wanita paruh baya itu. Jadi ia berusaha menenangkannya.
"Kalau begitu saya bisa sedikit lega!", ucap kepala pelayan itu sambil mengelus dadanya.
"Hanya sedikit sajakah?!", lalu Ana pun mengernyitkan alisnya.
"Tentu saja! Saya akan benar-benar lega jika Tuan Ken sudah mengetahuinya", kepala pelayan itu tersenyum polos pada Nonanya.
"Sudahlah Bibi! Tenang saja, Bibi jangan khawatir, okeh!", Ana mengerlingkan sebelah matanya sambil mendorong wanita paruh baya itu pergi.
"Aku masih memiliki satu pahlawan lagi di belakangku, Bibi!", Ana bergumam sendiri dan tersenyum sangat riang. Ia sudah memikirkan segalanya di dalam kepalanya. Wanita itu melengkungkan bibirnya sambil berlalu pergi.
Tapi kemudian langkahnya ia hentikan saat suara Susi terdengar sedang mengangkat telepon dari seseorang.
"Halo, Tuan!".
"Iya, Tuan! Saya sedang menjalankan rencananya. Nanti saya akan menghubungi Tuan lagi jika sudah ada hasilnya!", ucapnya lagi pada ponsel yang menempeldi telinganya.
"Mencari informasi tentang ,,,siapa? Sarah? Bagaiamana caranya, Tuan?! Saya takut Nona Ana akan mencurigai saya jika saya banyak bertanya".
"Ba,,, baik, Tuan! Saya akan mencari informasi mengenai wanita itu! Tapi saya mohon tolong jangan sentuh keluarga saya, Tuan!", kedua tangan wanita itu gemetar saat memegangi ponselnya itu. Entah ancaman apa yang diterima oleh Susi saat ini mengenai keluarganya.
Ana membalikkan tubuhnya sambil berpikir keras. Siapa sebenarnya orang yang memerintahkan dan mengancam Susi itu?! Bahkan orang itu menanyakan perihal sahabatnya itu! Ana menggigit-gigiti kuku jarinya sambil memeras otaknya.
__ADS_1
"Baik, Tuan Alexander! Saya akan menjalankan tugas yang Tuan berikan dengan baik!", lalu Ana segera membalikkan tubuhnya lagi menatap Susi yang baru saja menyelesaikan panggilannya.
Bak mendapat angin segar, pertanyaan yang mulai berkeliaran di dalam benaknya itu akhirnya memiliki jawabannya sendiri. Ia tidak perlu repot-repot mencari tau dengan susah payah.
"Tuan Alexander!", Ana merapalkan nama itu sambil menyipitkan matanya.
Tentunya Ana tau siapa orang itu. Seorang ayah yang sepertinya berniat melakukan aksi balas dendam karena putrinya. Dari kabar yang ia dengar, di dalam penjara sana, putrinya itu, Joice Alexander sudah setengah gila. Sungguh mengenaskan kondisi putrinya itu.
Dan dari yang Ana perkirakan, Tuan Alexander itu pasti berniat untuk menghancurkan keluarga yang telah membuat putrinya seperti itu. Padahal apa yang terjadi sekarang adalah karena ulah Joice sendiri dengan semua rencana jahatnya.
***
Ana sedang membaca majalah di ruang tengah, dimana biasanya ia dan suaminya itu akan menghabiskan waktu untuk bersantai. Susi datang membawa jus alpukat yang tadi dipesan olehnya.
"Ini silahkan jusnya, Nona!", pelayan wanita itu meletakkan gelas berisi minuman berwarna hijau itu di atas meja tepat di hadapan Ana.
"Baiklah! Terima kasih, Susi!", Ana meletakkan majalahnya di samping gelas itu lalu tersenyum pada wanita itu.
"Sama-sama, Nona!", Susi mencoba tidak tersenyum kaku. Ia membalas senyuman Ana dengan ekspresi yang lala kadarnya. Karena memang sejak awal Ana tau bahwa wanita itu tidak pandai berakting.
"Kau masih di sini? Apa ada yang ingin kau katakan lagi, Susi?!", Ana sudah memegang gelas yang berisi jus itu.
Wajah polos yang tersenyum itu sangat ramah, hingga membuat Susi linglung sesaat. Benarkah dengan apa yang ia lakukan saat ini?! Mencelakai orang sebaik ini, entah seberapa besar dosa yang akan ia terima nanti?! Tapi bagaimana dengan keluarganya?! Siapa yang bisa menyelematkan mereka jika bukan dia sendiri?! Ampun beribu ampun, tapi ia terpaksa harus melakukan hal ini.
"Ahh, ya! Tidak ada, Nona! Kalau begitu saya permi,,,", lantas suara seseorang dari arah pintu rumahnya begitu melengking di telinga semua orang sehingga Susi harus menghentikan ucapannya.
"Anaaaa", Sarah datang dengan wajah sumringahnya.
Wanita itu berlari dari depan sampai ke ruang tengah untuk menemui sahabatnya itu. Dan sampai di sana, ia segera merengkuh tubuh Ana untuk ia peluk erat-erat.
"Hey, kau ini bisa menyakiti anakku jika terus begini!", ucap Ana seraya mendorong tubuh Sarah menjauh.
"Hehehe,,, maafkan Aunty ya, Sayang! Aunty hanya terlalu merindukan ibumu. Sehari tidak bertemu saja, rasanya sudah rindu berat!", Sarah menundukkan tubuhnya untuk berbicara dengan perut Ana.
"Kau seperti sedang merayu seorang pria! Katakan saja itu semua pada Sam. Calon suamimu itu pasti akan langsung melompat kegirangan!", Ana mencibir. Ia juga sangat tau sekali bagaiamana tingkah konyol adik iparnya itu.
Di samping kedua orang yang sedang saling menyapa itu, masih ada Susi di sana. Pelayan wanita itu menundukkan kepalanya sambil tersenyum. Apa yang ia tunggu akhirnya datang juga. Tugas baru yang diberikan padanya, sepertinya ia bisa menyelesaikannya hari ini.
"Ahh,, Susi! Buatkan minuman untuk Sarah!", lalu Ana pun memberi perintah pada pelayan wanita itu.
"Baik, Nona!", dan Susi pun berlalu pergi.
"Ana, sepertinya itu jus yang baru dibuat ya! Segar sekali, untukku saja ya! Kebetulan aku sedang ingin minum jus alpukat!", Sarah hampir saja mengambil gelas itu, tapi Ana segera menyambarnya.
__ADS_1
"Jangan! Jus ini sudah dihinggapi lalat beberapa kali. Aku baru saja akan membuangnya!", lalu buru-buru Ana bangun dari duduknya sambil membawa gelas berisi jus itu.
Ana berjalan agak cepat ke arah tempat sampah di sebuah sudut, lalu menuangkan isi gelas itu hingga melebihi setengahnya. Sambil berjalan kembali, ia sedikit merapihkan sisa jus yang berantakan hingga seolah-olah ia baru saja meminumnya.
"Sayang sekali! Padahal aku sedang sangat ingin minum jus alpukat!", Sarah merengut sambil menyandarkan punggungnya di sofa.
"Kau ini seperti sedang hamil saja!", sambil berusaha duduk, Ana memukul kecil kepala sahabatnya itu.
***
Susi sudah membawakan minuman untuk Sarah. Lalu ia tersenyum puas saat melihat gelas yang berisi jus yang ia buat sudah hampir habis. Ya paling tidak, sudah ada sebagian besar obat yang masuk ke dalam tubuh Ana. Ia hanya tinggal menunggu obat itu bereaksi.
Ia lalu menyingkir, namun tidak benar-benar pergi dari sana. Dengan sebuah lap di tangannya, ia berpura-pura sedang membersihkan sesuatu di dekat sana.
Ana segera menyadari hal itu. Namun ia tetap berusaha santai seakan ia tidak melihat Susi sama sekali. Ia yakin jika pelayan wanita itu sekarang pasti sedang menggali informasi.
***
Sarah tidak lama datang mengunjungi sahabatnya itu. Ia memang hanya sekedar datang untuk mengobrol sebentar mengingat tidak biasanya sahabatnya itu memilih untuk tetap di rumah. Lagipula ia juga sudah memiliki janji nanti malam. Dan ia pun sudah menyampaikan hal ini pada Ana. Namun sayang, sahabatnya itu tidak dapat ikut dengan dirinya dan Krystal, karena kondisinya yang sedang hamil ini. Sangat tidak pantas sekali bagi Ana, seorang wanita hamil mendatangi tempat seperti itu. Meskipun tempat itu adalah miliknya.
Ana baru saja mengantar Sarah keluar. Lalu, lagi-lagi ia harus tanpa sengaja mendengar laporan Susi pada bosnya itu melalui telepon.
"Iya, Tuan! Nanti malam Sarah dan Krystal akan pergi ke sebuah club malam. Saya kurang jelas nama tempatnya, maaf Tuan. Tapi begitulah kira-kira yang saya dengar tadi!", Ana memicingkan matanya dengan tatapan tajam saat mendengar hal itu. Sepertinya orang ini benar-benar serius ingin mencelakai semua anggota keluarga ini.
"Baik, Tuan! Saya mengerti!", dengan cepat Ana bersembunyi di balik pintu saat Susi baru saja selesai dengan teleponnya. Pelayan wanita itu sempat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menilai keadaan. Setelah dirasa aman, maka ia pun pergi dari sana.
Jika pelayan wanita itu bisa bergerak cepat untuk membuat laporan pada bosnya. Maka, kini saatnya bagi dirinya membuat laporan pada bos yang ia punya juga.
"Halo, Kakak! Apakah kau merindukan aku?", dengan ceria suara Ana segera menyapa orang itu pada sambungan teleponnya.
Siapa lagi yang dipanggil kakak olehnya, tentu saja itu adalah Benny Callary, ketua geng mafia Harimau Putih. Sepertinya orang yang berusaha mencelakainya tidak tau jika ia memiliki kekuatan besar yang akan selalu mendukung dan melindunginya.
"Kakakku yang baik! Kali ini sepertinya aku memerlukan sedikit bantuanmu! Okeh!", dengan gaya manja dan riangnya Ana mengucapkan permohonannya itu. Namun sudut matanya menampilkan dirinya yang lain, sangat tajam dan kejam seperti suaminya.
#FLASHBACK OFF
Belum sempat Ken berkomentar, karena ia rasa cerita ini masih belum selesai. Tapi ponselnya terus bergetar di dalam saku jasnya.
"Sam!", sapanya setelah mengangkat telepon itu.
"Kakak! Ini gawat! Sarah dan Krystal hilang lagi!", adiknya itu segera memberi laporan dengan suara frustasi.
"Apa maksudnya?", wajah Ken jelas kebingungan.
__ADS_1
Hilang lagi?! Apa maksudnya itu?! Tapi, melihat wajah semua orang masih tenang seperti air di kolam, maka ia hanya bisa menyangka sesuatu.