
"Kau ini apa-apaan sih! Begitu saja bertengkar, sudah seperti anak kecil saja!", sambil menyeret suaminya ke arah mobil, Ana mengomel terus sepanjang jalan.
"Kau itu sudah akan memiliki anak. Apakah kau tidak malu dengan anakmu, heh!", setelah akhirnya sampai pada mobil mereka Ana menghempas telinga Ken begitu saja.
"Maafkan ayahmu ini ya, sayang!", Ken lantas segera mengusap perut istrinya yang masih rata itu. Masih menundukkan kepalanya, ia menyipitkan matanya sebentar. Semoga saja setelah ini amarah Ana akan selesai.
"Memangnya ada apa mendadak kau meladeni adikmu yang konyol itu?", tanya Ana seraya berjalan menuju pintu mobil.
"Entahlah! Tiba-tiba aku menginginkannya saja!", keduanya kini sudah duduk di dalam mobil. Dan Ken menjawab pertanyaan istrinya itu dengan wajah santai sambil mengedikkan bahunya.
Ia sedang jujur kali ini, karena memang itu yang ia rasakan tadi. Tiba-tiba ia sangat ingin memarahi adiknya yang suka bersikap konyol itu sampai puas. Berteriak, memaki, bahkan rasanya ia sangat ingin memukul adiknya itu. Entahlah, tiba-tiba perasaan itu muncul begitu saja.
"Mungkin anakku yang menginginkannya!", Ken tersenyum polos yang mengesalkan bagi Ana.
"Aku yang hamil, kau yang mengidam!", Ana mendengus. Ia menatap suaminya itu tak percaya.
Ken hanya terkekeh mendengar ucapan Ana yang terlihat masih kesal. Lalu dengan gemasnya ia mencubit hidung mancung milik istrinya itu.
"Iiihh!! Kau ini!", wanita hamil itu mengelus hidupnya yang sakit dan belum merubah wajahnya yang masih cemberut.
Dan si suami kembali tertawa kecil sambil menghidupkan mesin mobilnya. Ia menoleh ke samping lalu mendengus pelan. Ken ingat harus membuat perhitungan dengan Han besok. Karena hal ini, ia menjadi merasa dikhianati olehnya. Bisa-bisanya asisten kepercayaannya itu bermain dengan orang tuanya tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Ya, meskipun hal itu malahan membuahkan hasil yang baik. Tapi Ken tak peduli, ia akan tetap menghukum Han nanti.
"Jangan hukum Han!", suara Ana membuat Ken menoleh tiba-tiba. Bagaimana istrinya itu tau apa yang ada dipikirannya?! Apa sangat jelas terlihat di wajahnya jika ia sedang kesal dengan Han sekarang?!
"Hukum saja mereka untuk cepat menikah!", Ana memandang lurus ke depan tak melihat Ken sama sekali. Wajah datarnya jelas mengatakan bahwa yang Ana keluarkan dari mulutnya kali ini adalah sebuah perintah.
"Ayo, kita jalan!", Ana lalu tersenyum seakan ia tidak melakukan apa-apa barusan.
__ADS_1
"Hah! Iya, kita jalan sekarang", tiba-tiba saja Ken menjadi gugup. Ia membuang nafasnya dengan mulutnya dulu sebelum membalas ajakan istrinya untuk pulang.
***
Tak jauh berbeda dengan apa yang Ken alami tadi. Sam pun sama ruginya. Ia habis-habisan dimarahi oleh Sarah. Telinga pria itu terasa berdengung saking lamanya Sarah berceramah di sampingnya. Sesekali ia mengguncang telinganya itu dengan satu tangan agar indera pendengarannya tidak rusak.
Dan wanita itu, Sarah, kini masih mengerucutkan bibirnya. Menampilkan aksi mogok bicara pada pria itu karena kekesalan yang begitu besar ia rasa. Sungguh memalukan sekali sikap pria yang akan menjadi suaminya kelak itu. Sudah konyol, bodoh, lalu kekanakan, juga cemburuan. Jadi apalagi yang bagus dari pria itu selain kaya dan tampan. Huh! Sarah sungguh sangat sebal sekarang.
Sepanjang perjalanan keduanya saling terdiam. Jika Sarah jelas masih kesal sekarang, beda lagi alasan yang Sam punya. Pria itu hanya memberikan waktu untuk Sarah beristirahat. Karena sejak tadi bibir wanita itu sepertinya sudah lelah memarahi dirinya. Sam hanya membuat sedikit perhatian kepada calon istrinya itu.
***
Supir pribadi Sam menghentikan laju mobilnya di depan halaman rumah Sarah. Pria paruh baya itu lalu membukakan pintu untuk Sam dan juga Sarah.
"Terimakasih, Pak!", Sarah tersenyum padanya setelah berhasil keluar dari mobil. Lalu berlalu begitu saja menuju ke arah teras rumahnya.
Karena sibuk dengan rasa kesalnya dan melangkahkan kaki ke dalam rumah. Sarah jadi tidak sadar jika supir pribadi Sam sebenarnya sudah meninggalkan halaman rumahnya.
🎶🎶🎶🎶🎶
Sam bersiul sambil melenggangkan kakinya mengikuti Sarah. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana dan melangkah dengan santai. Melepaskan sepatunya untuk ia letakkan pada rak sepatu yang berada di depan rumah. Lalu ikut masuk ke dalam rumah dan mendudukkan dirinya di kursi di ruang depan. Sangat santai, menggunakan tangannya sebagai bantalan, Sam bersandar sambil melipat salah satu kakinya.
"Kesal! Kesal! Kesal! Dasar konyol! Benar-benar konyol! Awas saja jika nanti setelah menikah dia masih bertingkah konyol. Aku akan,,,,, ", Sarah memutar tubuhnya untuk meletakkan tasnya di atas meja.
"Aaakkkhhh", ia kaget karena mendapati sosok yang ia gumamkan ada di hadapannya. Duduk dengan santai dengan wajah tanpa rasa bersalah. Sarah terperanjat sambil memeluk tasnya di depan dada.
"Kau,,, kau,,, kau benar-benar! Heh!", wanita itu mengacungkan telunjuknya di depan wajah Sam dengan nafas yang naik turun dengan cepat. Sekilas mungkin tanduk sudah muncul pada dahinya.
__ADS_1
"Benar-benar tampan dan mempesona!", Sam menangkap telunjuk Sarah lalu sengaja mengecupnya dengan senyuman yang amat menggoda.
Sebelum ia terjebak dalam hipnotis pria yang memang tampannya tidak ada celah itu, Sarah menarik jarinya dengan cepat lalu memejamkan mata. Kemudian ia membuka matanya sambil membuang nafasnya lewat mulut setelah bisa menguasai dirinya kembali.
"Kenapa kau tidak pulang?!", sekarang wanita itu sudah berkacak pinggang.
"Tidak apa-apa! Apakah memerlukan alasan untuk rindu pada orang yang kucintai", Sam kembali menyandarkan punggungnya bergaya santai.
"Ya,,,, ampun,,,, Saaammm!", Sarah sedikit berteriak seraya menepuk dahinya dengan keras. Pusing, sungguh pusing menghadapi pria yang satu ini.
Memangnya mereka baru saja berpisah?! Mereka bahkan selalu bersama sepanjang hari ini. Jadi dimana letak rindu yang pria itu katakan barusan. Sarah merapatkan giginya menahan kesal yang siap membuncah di dadanya. Sarah mengelus dadanya agar bisa lebih bersabar lagi.
"Sayang!", panggil Sam dengan nada super lembut.
Dan saat Sarah menoleh, sebuah senyuman terukir indah pada bibir pria itu. Bola mata Sarah bergerak ke atas, merasa jengah dengan panggilan pria itu. Bencana apa lagi yang akan menimpanya saat ini?! Lembutnya suara Sam malahan membuat bulu kuduknya merinding.
"Aku lapar! Bisakah kau masak sesuatu untukku?", pinta Sam manja seolah umurnya kini masih lima tahun.
bugh
Sarah tiba-tiba jatuh ke lantai. Matanya terpejam dengan tubuh lunglai. Sam panik, ia segera menghampiri Sarah. Mengangkat kepalanya di pangkuan, lalu menepuk-nepuk pipinya supaya lekas sadar dari pingsannya.
"Sarah! Sarah! Bangun Sarah! Ada apa denganmu? Kenapa bisa sampai pingsan begini?!", Sam benar-benar frustasi saat ini. Ia mengangkat tubuh wanita itu untuk ia rebahkan pada kursi panjang.
Sam menempelkan punggung tangannya pada kening Sarah. Kurang puas dengan hasilnya, maka ia tempelkan lagi pada lehernya. Agak ke dalam hingga membuat wanita itu harus menahan geli karena sentuhan tangan Sam yang besar dan lembut meski dia seorang pria.
"Apakah aku melihat Sarah bergerak barusan?! Ataukah hanya ilusi saja ya,?! Sarah kan sedang pingsan sekarang jadi mana mungkin dia bisa bergeser, kan!", Sam menggaruk alisnya dengan wajah kebingungan. Tapi masih ada jejak kekhwatiran di sana.
__ADS_1