Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 190


__ADS_3

"Apakah ini salah satu dari rencana kalian?", dengan polosnya Nyonya Rima bertanya kepada Ken dan juga Ana. Tuan Dion yang masih setia duduk di sofa sana, kali ini tak bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan konyol istrinya. Harusnya pertanyaan itu tidak dikeluarkan, karena hanya akan membuat Sarah makin curiga saja.


"Ana?", wajah Sarah benar-benar diliputi tanda tanya besar saat ini.


"Sarah, ini bukan keinginanku, ini keinginan bayiku. Aku ingin melakukan resepsi pernikahan bersama denganmu. Pasti sangat menyenangkan, bukan!", jawab Ana dengan wajah polosnya. Tatapan Ana penuh harap pada sahabatnya itu.


"Ana, jangan membuat lelucon! Ini tidak lucu!", Sarah mulai berucap dengan nada tidak suka. Sepertinya ia mulai marah.


"Jika ini memang rencana kalian, maka jangan harap aku akan setuju!", ancam Sarah kemudian menatap Sam dengan tatapan menuduh.


"Aku tidak tau apa-apa! Sungguh! Aku bersumpah hanya akan menikah denganmu jika aku berbohong!", dengan wajah serius Sam mengucapkan janjinya sambil mengacungkan dua jarinya ke depan. Tentu saja pria itu segera menampilkan senyum konyolnya. Begitu pula dengan Tuan Dion yang berada di sofa, ia rasanya ingin memukul kepala anak bungsunya itu dengan segala kekonyolannya.


"Hey, sumpah macam apa itu! Aku tidak terima!", Sarah melipat tangannya di depan dada. Bibirnya mengerucut menahan kesalnya. Bagaimana mungkin sekarang dirinya terjebak dalam situasi pelik seperti ini. Tidur seranjang dengan pria mabuk, permintaan ibu hamil itu, lalu kedua orang tua yang berada di sini juga. Situasi macam apa ini, kepala Sarah menjadi pusing lagi sekarang.


"Jadi jika ini bukan karena rencana kami kau akan setuju?!", Ken tiba-tiba membuka suara.


"Ti,, tidak seperti itu juga!", Sarah kalang kabut menghadapi tembakan jitu yang Ken arahkan padanya. Itu sama seperti membalikkan kalimatnya dengan sangat cermat dan sesuai tujuan.


"Lalu apa?", tatapan Ken memaksa Sarah untuk segera memutuskan sesuatu saat ini juga.


"Sarah, maafkan aku! Memang awalnya kami ingin memaksa dirimu dan Sam untuk segera menikah. Karena kami tau sebenarnya kalian memiliki perasaan yang sama. Tapi sebelum kami sempat mengutarakan hal itu, perutku bergejolak kemudian seperti kau tau barusan aku muntah-muntah. Lalu rasa mual di perutku tiba-tiba hilang ketika aku membayangkan kau dan Sam bersama aku dan Ken berada di atas satu pelaminan. yang sama. Membayangkan hal itu hatiku rasanya nyaman sekali. Perutku yang tadinya sangat mual tiba-tiba sembuh seperti tak terjadi apa-apa. Sarah ku mohon, kau mau ya!", wajah Ana menampilkan banyak harapan pada bola matanya. Ia seperti anak kecil yang sedang meminta dibelikan lolipop oleh ibunya.


"Ana, permintaanmu itu bukanlah hal yang mudah. Pernikahan bukan untuk dipermainkan. Dan ini menyangkut tentang kelangsungan hidupku selamanya. Aku tidak bisa melakukannya, maaf!", Sarah menundukkan wajahnya menghindari bertatapan mata dengan Ana. Ia sungguh menyesal karena harus menolak permintaan sahabatnya itu. Jika itu adalah hal lain dan bukan tentang menikah, sungguh Sarah berjanji pasti akan mengabulkannya. Baginya juga sama, pernikahan adalah hal yang sakral dan bukan untuk main-main. Ia hanya ingin menikah satu kali dalam hidupnya. Meskipun perasaan merek sama, tapi masih banyak hal lainnya untuk menunjang suatu pernikahan tetap utuh dan langgeng untuk selamanya.


"Sarah! Kumohon! Seumur hidupku aku tak pernah meminta apapun padamu. Ini pertama kalinya dan ini adalah keinginan bayiku. Dan lagi, tak ada hal yang namanya main-main dalam hal ini. Kurasa Sam juga akan setuju untuk menikah denganmu. Dan aku yakin dia akan selalu membahagiakanmu. Iya kan, Sam!", Ana begitu memohon permintaannya akan dikabulkan. Dan ia juga ingin Sam juga ikut terlibat untuk meyakinkan Sarah.


"Tentu saja, kakak ipar!", ia berseru dengan amat ceria sambil menaikkan satu ibu jarinya pada Ana.


"Sarah, aku sangat mencintaimu! Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. Benar, aku sungguh berjanji dengan diriku sendiri dan Tuhan", wajah Sam berubah serius bahkan ia membawa nama Tuhan agar Sarah lebih percaya lagi padanya.


"Jangan membawa-bawa nama Tuhan! Kau jangan sok kenal dengan Tuhan. Belum tentu Dia mau mengabulkan doa-doamu itu. Heh!", Sarah menanggapinya dengan mendengus kesal.


"Ana ku harap kau juga mengerti situasinya. Ibuku,,,", Sarah menunduk sedih saat mengingat bagaimana permintaan ibunya untuk menjauh dari Sam.


"Jika itu situasinya maka biar orang tua yang bertemu dengan orang tua", Tuan Dion bangun dari duduknya lalu berjalan ke arah istri, anak dan menantunya.


"Ana,,,??", Sarah sungguh meminta penjelasan dari Ana. Apa maksud dari ucapan Tuan Dion barusan? Apakah mungkin mereka sudah tau tentang permintaan ibunya itu? Lalu apa maksud dari semua ini? Kepala Sarah benar-benar dibuat berdenyut sekarang.


"Sarah!", Nyonya Rima datang mendekat lalu duduk di pinggir ranjang sehingga kini mereka saling berhadapan. Tangan Nyonya Rima menarik dan menggenggam tangan Sarah dengan penuh kelembutan.


"Nyonya!", Sarah berusaha menarik tangannya karena merasa tidak pantas. Nyonya Rima menggeleng dan tetap mempertahankan tangan Sarah di dalam genggamannya.


"Maafkan aku karena pertemuan kita tidak menyenangkan. Bahkan mungkin kau sudah mencap jelek tentang diriku", tatapan Nyonya Rima begitu tulus saat ini.


"Tidak Nyonya, aku tidak berani", Sarah menggelengkan kepalanya dengan rasa sungkan di dadanya.


"Tidak apa-apa, Sarah! Aku mengerti! Kita jangan mempermasalahkan hal itu lagi, ya", wanita paruh baya itu tersenyum dan menatap dalam ke arah mata Sarah.


"Dengar Sarah, setelah bertemu dengan Ana aku jadi mendapat banyak pelajaran. Aku tak ingin jauh dari putra-putraku lagi. Saat ini yang terpenting bagiku adalah kebahagiaan untuk putraku, aku tidak akan memaksakan lagi apa yang aku inginkan kepada anak-anakku lagi", Nyonya Rima mengambil jeda untuk menghirup nafasnya dalam-dalam.

__ADS_1


"Sarah, putra bungsuku yang bodoh ini sudah memilihmu untuk menjalani sisa hidupnya. Aku juga telah melihat bahwa dirimu berbeda dari wanita kebanyakan yang mendekati putraku yang playboy ini hanya karena harta dan jabatan yang ia punya. Dari cerita Ana juga aku makin merasa bahwa kau memang yang paling pantas untuk mendampinginya putraku, Sarah", wanita muda yang diajak bicara tetap diam demi menghargai dan menghormati sosok yang berada dihadapannya itu sedang berbicara. Nyonya Rima juga sesekali menoleh ke arah Ana untuk menguatkan ucapannya.


"Dan kami juga sudah mengetahui bahwa perasaan kalian sama, kalian saling mencintai, jadi apa yang salah dengan menjalin hubungan ini?! Sarah, masalah permintaan ibumu itu biar aku dan suamiku yang mengurusnya. Kami mengerti apa yang ibumu minta, hal itu pasti karena ibumu menginginkan kebahagiaan untuk putrinya. Ibumu pasti tidak ingin melihatmu bersedih dan terluka. Kami sangat paham akan hal itu. Maka biarlah kami yang berbicara nanti dengannya", rayuan dan bujukan yang panjang dan lebar telah Nyonya Rima ucapkan kepada Sarah. Sebagai orang tua, ia juga ingin melihat putranya bahagia.


"Sarah, kau mungkin sudah tau bagaimana berantakannya putraku semalam. Dan semua itu terjadi karena dirimu. Betapa kehilangannya Sam karena dirimu. Sarah menikahlah dengan Sam, putra kami dengan segala kekonyolannya ini!", mata Sarah yang sudah berkaca-kaca langsung melebar mendengar ucapan terakhir yang Nyonya Rima ucapakan kepadanya.


"Apakah ini sebuah lamaran?", tanya Sarah dalam hatinya.


"Aku tidak memaksamu, tapi ku mohon pikirkanlah, Sarah!", lagi Nyonya Rima berusaha memenangkan hati wanita itu untuk menjadi menantunya.


Sarah mengangkat kepalanya, air matanya yang sudah menggenang akhirnya tumpah juga. Ia merasa sangat terharu bahwa orang-orang hebat yang berada di hadapannya kini tengah membuat suatu permohonan untuk putra mereka. Bahkan ini tak main-main. Ini adalah sebuah pernikahan. Perasaan Sarah benar-benar campur aduk saat ini. Begitu banyak pemikiran yang bentrok di dalam otaknya saat ini.


Ia menyapu pandangannya ke arah semua orang. Dari Ken dan Ana yang mengangguk ke arahnya, lalu Tuan Dion yang sedang menampilkan senyum hangatnya, kemudian Nyonya Rima yang menatapnya dengan penuh harap dan kasih sayang. Dan jangan lupakan manusia di sebelahnya, Sam terlihat sangat gugup bahkan ia tidak bertingkah konyol saat ini. Pria itu hanya tersenyum lebaty hingga menampilkan deretan gigi putihnya. Dan Sarah segera mencebik kesal ke arah pria itu.


"Berikan aku waktu untuk berpikir, Nyonya! Pikiranku terlalu kacau saat ini. Bisakah kalian mengerti?", pinta Sarah dengan sorot mata yang sangat memohon pada yang lainnya.


"It's okay, tak masalah! Jadi sepertinya kita sudahi dulu sesi yang menegangkan dan sangat serius ini. Bagaimana jika kita membiarkan kedua orang yang baru bangun tidur ini untuk membersihkan diri. Apalagi pria yang baru mabuk ini, baunya sungguh menyakiti hidungku saja!", Tuan Dion yang semula berdiri di samping Ana datang mendekat lalu memposisikan dirinya di sebelah Sam. Ia juga mengibaskan tangannya di depan hidung sebagai isyarat bahwa tubuh Sam sudah berbau tidak enak.


"Tidak mandi pun aku tetap tampan, Ayah!", Sam mengangkat satu alisnya sambil memamerkan senyumnya kepada semua orang. Jelas saja mereka semua rasanya ingin memukul pria itu saja. Kekonyolannya tidak ada habisnya.


***


Sam tengah mandi di dalam sana. Sedangkan Ken, Nyonya Rima, dan Tuan Dion tengah berbincang di ruang tamu apartemen itu. Lalu tersisa Ana dan Sarah yang masih berada di atas ranjang sambil berbincang. Sarah dan Ana saling menginterogasi satu sama lain.


"Ana, apa maksud dari semua ini? Katakan dengan jujur, ini semua rencanamu kan?", tuduh Sarah dengan begitu antusias.


"Aku sudah berkata jujur tadi. Ini bukan rencanaku, lagipula aku juga tidak tau jika pada akhirnya bayiku ini menginginkan dirimu untuk benar-benar menjadi bibinya", jawab Ana dengan wajah penuh kejujuran di wajahnya.


"Ya, ya, baiklah! Aunty! Tapi jawan jujur Sarah, apa sudah terjadi sesuatu antara kau dan Sam semalam?", mata Ana penuh selidik ke arah sahabatnya itu.


"Pertanyaanmu membuatku tersinggung, kau tau! Tentu saja tidak,,, ", suara seseorang memotong ucapan Sarah.


"Tentu saja terjadi sesuatu, kakak ipar!", seru Sam dari arah kamar mandi. Pria itu bertelanjang dada dengan hanya handuk putih yang melilit dari pinggang sampai ke lututnya.


"Hey, dimana pakaianmu! Dasar tidak sopan!", tegur Ken yang baru saja mendekat ke arah istrinya. Telapak tangan Ken menutup mata Ana, lalu estafet telapak tangan Ana menutup mata Sarah. Mereka saling menjaga rupanya.


"Kenapa matanya harus ditutup kakak ipar?! Bahkan dia yang sudah melepaskan seluruh pakaianku semalam", goda Sam sambil menggosok handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Diam kau!", geram Sarah sambil tangannya meraba-raba untuk meraih sesuatu di dekatnya. Bantal, tangannya langsung melayangkan sebuah bantal ke arah yang ia rasa itu merupakan dimana Sam berasa.


"Sayang sekali tidak kena. Bagaimana jika kau ke sini, jadi kau bisa memukul atau melakukan apapun padaku dari dekat", Sam masih belum puas menggoda wanita itu.


"Kauuu!", Sarah menggeram lagi sambil mencengkram selimut yang menutupi kakinya.


"Pakai bajumu! Atau kau ingin aku membiarkan dirimu seperti ini di sepanjang jalan?!", Ken memperingati adiknya itu dengan ancaman.


"Heh, kakak! Kau sungguh tidak seru sama sekali!", Sam lalu melenggangkan kakinya ke arah walkin closet miliknya.


"Sarah, maukah kau memilihkan kemeja mana yang cocok untuk ku pakai hari ini? Atau ku pakai saja kemeja yang kau pakai sekarang ya? Sepertinya itu sangat bagus untukku!", teriak Sam dari arah dalam walkin closet.

__ADS_1


"Diam!", satu bantal Sarah lempar kuat-kuat ke arah Sam yang sedang menutup pintu lemarinya. Dan bantal itupun berhasil mengenai wajah pria itu.


"Terimakasih, sayang! Kau benar-benar romantis sekali!", Sam mendekap bantal yang Sarah lempar sambil menatap wanita itu dengan senyum puasnya. Pagi ini ia telah benar-benar puas membuat wanitanya marah. Kejahilannya sungguh memberikan energi tersendiri untuk pria itu.


"Tutup mulutmu!", Sarah sudah akan maju untuk memberikan hukuman kepada pria itu. Namun Ana segera menahannya.


"Lebih baik kau mandi sekarang! Itu ada pakaian yang bisa kau pakai untuk ganti!", Ana menunjuk sebuah paper bag di atas nakas di sebelahnya.


Tapi sebelum Sarah berdiri, Ana sudah mendahuluinya. Wanita hamil itu segera menitip mata suaminya. Memangnya hanya lelaki saja yang tak rela istrinya melihat hal-hal yang tidak seharusnya. Maka istri pun sama, mereka memiliki sisi posesif mereka sendiri. Ana tak ingin Ken melihat kaki jenjang milik Sarah yang terbuka itu, karena sahabatnya itu masih hanya memakai kemeja Sam yang semalam ia pakai.


Sarah menggelengkan kepalanya melihat pasangan suami istri itu. Keduanya memang selalu saling menjaga satu sama lain. Meski kadang terlihat konyol di mata orang lain, namun keduanya serasa tak peduli.


Saat ia mulai turun dari ranjang dan memperlihatkan sepasang kakinya yang mulus dan telanjang, sebuah siulan berhasil membuatnya segera kabur ke dalam kamar mandi. Tapi ia keluar lagi karena bungkusan yang Ana berikan masih tertinggal di luar.


"Apakah kau sengaja menggodaku, sayang!", Sam sedang berjalan mendekat dari arah walkin closetnya.


"Diam!", teriak Sarah seraya menyambar bungkusan di atas nakas lalu secepat mungkin menghilang dari pandangan pria itu.


"Dasar bodoh! Tidak bisa mengejar wanita, lalu pergi mabuk-mabukan padahal kondisi tubuhmu belum baik benar! Apakah kau sudah bosan hidup, hah!", Ana menarik telinga adik iparnya dengan sangat gemas sampai ia menggigit bibir bawahnya.


"Aduh, ampun kakak ipar! Ampun sakit, kakak ipar tolong lepaskan aku!", Sam meringis sambil berusaha melepas tangan Ana dari telinganya.


"Jika aku tidak meminta Ana untuk membiarkan Sarah yang membawamu ke sini pasti sampai saat ini kau belum bertemu dengannya", ucap Ken acuh sambil melipat tangannya di depan. Ia hanya menikmati saja apa yang istrinya lakukan pada adiknya itu.


"Apa maksudnya?! Jadi benar, selama ini aku tidak bisa menemukan Sarah adalah karena dirimu kan, kak?!", sambil meringis ia melemparkan sebuah tuduhan kepada kakaknya.


"Bukan aku, tapi Ana!", jawab Ken dengan santainya. Sam lantas berdiri tegak mendengar penuturan kakaknya.


-


-


-


-


-


baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya


🌹Hey you, I Love you!🌹


Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan 😊


jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya 😁


terimakasih teman-teman πŸ˜‰


love you semuanya 😘

__ADS_1


keep strong and healthy ya


__ADS_2