
Di sisi lain rumah sakit
"Jadi bagaimana dokter keadaan putri saya?", tanya Ibu Asih setelah seorang dokter keluar dari kamar tempat putrinya dirawat. Wajahnya begitu khawatir, tapi mereka semua yang ada di sana juga tak kalah khawatirnya.
"Apa putri ibu pernah mengalami trauma sebelumnya?", tanya dokter itu hati-hati.
"Ya dokter! Dia sempat terpuruk beberapa tahun lalu akibat kematian ayahnya dan juga calon suaminya. Sarah jadi menyalahkan dirinya sendiri, dok! Ia merasa menjadi pembawa sial untuk mereka", jelas Ibu Asih dengan tegar. Meskipun begitu, Sandi dan juga Ana setia menemaninya. Sedangkan Krystal memilih untuk duduk di tempat sambil memperhatikan perbincangan mereka.
Ana dan Krystal masih terdiam. Mereka menyimak perbincangan itu dengan seksama. Lalu terlihat berkutat dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Apakah ada hal yang memicu traumanya kembali lagi?", dokter itu mengajukan pertanyaannya lagi.
"Iya dokter, kemarin lusa kakak bermaksud menyelamatkan sahabatnya ini!", Sandi menghela tangannya menunjuk Ana dengan sopan.
"Ada seseorang yang mencoba menembaknya, kakak baru saja akan menghalangi tembakan itu tapi seorang teman lebih cepat menyingkirkan tubuh kakak, jadi orang itulah yang terkena tembakannya. Lalu kakak pulang dalam keadaan kacau dan sempat mengurung diri selama satu jam di kamar. Tapi sepertinya kemarin kakak sudah lebih baik setelah kami pergi liburan bersama. Entah apa yang membuat kakak menjadi seperti ini lagi!", begitu Sandi menjelaskan. Ia mengatakan apa yang ia tau sampai dimana kakaknya itu sudah baik-baik saja. Dan apa yang terjadi pagi ini ia sendiri pun masih menerka-nerka.
"Ah, aku paham sekarang! Ini pasti karena kata-kata Megan sialan itu!", batin Krystal memastikan.
"Aku tau kenapa!", sahut Krystal seraya berdiri dari tempat duduknya.
Semua orang berbalik menghadap ke arahnya dengan tatapan yang sama, dengan rasa penasaran yang sama.
"Tapi di sini sekali lagi aku tekankan bahwa bukan aku penyebabnya!", Krystal tak ingin disalahpahami hanya karena dirinyalah yang menarik Sarah dari ruangan itu.
"Iya, kami percaya padamu, Krystal!", Ana tersenyum lembut ke arahnya. Senyuman yang selama hidupnya sebagai saudara kandung tak pernah dilihatnya. Sejenak Krystal tertegun, ia terharu saat ini. Wanita itu merasakan kehangatan yang tak pernah ia temui sebelumnya. Tak terasa matanya terasa panas, bahkan rasanya air mata itu sudah hampir tumpah. Krystal tak ingin itu terlihat, maka ia pura-pura memalingkan wajahnya sebentar untuk menyeka cairan bening itu.
"Sebenarnya aku juga tidak tau jelas awal pembicaraan antara Sarah dan Tuan Sam. Aku tidak tau duduk permasalahannya. Hanya saja saat aku datang, Sarah mulai menundukkan kepalanya. Lalu datanglah si Megan sialan itu. Ah ya,,, dia sempat mengatakan bahwa Sarah adalah pembawa sial bagi Tuan Sam. Dan setelah mendengar kata-kata itu, tubuh Sarah mulai gemetar lalu pandangan matanya menjadi kosong. Maka dari itu, aku langsung saja membawanya keluar. Aku khawatir kondisinya akan lebih buruk lagi jika tetap di sana", hening sejenak saat Krystal berbicara. Semua orang mendengarkan penjelasan Krystal dengan seksama.
"Sarah,,,!", seru Ibu Asih dengan suara tersekat. Hampir saja Ibu Asih terjatuh karena lututnya menjadi lemas seketika, untungnya Sandi yang berada di sebelahnya segera merangkulnya. Putranya itu membantu menopang tubuh Ibu Asih yang saat itu bisa langsung terduduk di lantai dingin rumah sakit itu.
__ADS_1
"Apa?!", Ana juga merasakan beban berat menghantam dadanya. Ia juga ikut merasakan sesak yang menyakiti hatinya. Setelah mendengarkan cerita tentang Sarah tadi dari ibu dan adik dari sahabatnya itu, Ana merasa begitu tak berguna sebagai sahabatnya. Terlebih lagi hal ini juga berkaitan dengan dirinya. Ana terduduk di kursi tunggu di sebelah Krystal. Demi menyelamatkan dirinya, orang-orang jadi menderita di karenanya.
Lalu ia teringat wanita yang tadi bersama dengan Sam. Lihat saja nanti, Ana akan membuat perhitungan sendiri dengan wanita itu. Ia tak akan memberi celah sedikitpun untuk mereka yang berani menyakiti orang-orang terdekatnya. Ana sudah membenamkan wajah wanita itu beserta namanya ke dalam ingatannya. Ia akan mengingat wanita bak rubah itu dengan baik. Karena setelah ini Ana akan membuat perhitungan dengan wanita itu.
Dan untuk Sam, lihat saja nanti. Kemarin Ana masih memberi kesempatan karena mendengar penjelasan Sam yang memang permasalahan mereka kemarin adalah murni salah paham. Tapi kali ini tidak, Ana tidak akan melunakkan hatinya lagi. Sam juga akan menerima akibatnya. Saat ini kesedihan dan kemarahan membakar hatinya. Tak mampu ia luapkan selain dengan meneteskan air mata.
Krystal yang menyadari air muka Ana mulai berubah. Ia pun berinisiatif memeluk Ana dari samping. Mengelus punggungnya agar sepupunya itu bisa menjadi lebih tenang.
"Kata-kata itu sangat tabu bagi Sarah. Bahkan jangan sampai ia mendengarnya", ucap Ibu Asih begitu lirih pada dokter itu.
"Emmhh,, baiklah! Kalau begitu bagaimana jika melanjutkan pembicaraan ini di ruangan saya, sekaligus membicarakan proses penyembuhan trauma yang Sarah alami", dokter memutuskan untuk berpindah tempat. Hal ini juga demi kenyamanan keluarga yang sepertinya nampak shock dengan keadaan pasiennya saat ini.
"Apa,, apakah itu bisa, dok? Apakah Sarah bisa sembuh dari traumanya?", suara Ibu Asih masih begitu lirih. Tapi dari nada yang ia ucapkan terdengar pula sebuah harapan dari seorang ibu untuk putrinya. Harapan agar putrinya tak pernah lagi tenggelam pada kubangan masa lalu yang selalu menyakitkan untuknya.
"Tentu saja bisa! Ibu tenang saja, Sarah pasti bisa sembuh dari traumanya! Mari kita ke ruangan saya!", ajak dokter itu sambil menghela tangannya.
"Mari, dok!", Sandi menjawab. Dan dirinya pun memapah ibunya menuju ruangan dokter tersebut. Sedangkan Ana dan Krystal memilih untuk melihat keadaan Sarah di ruangannya.
"Maafkan aku, Sarah!", ucap Ana lirih di samping tubuh sahabatnya yang masih tak sadarkan diri karena efek obat bius. Ia menggenggam erat tangan sahabatnya itu dengan perasaan bersalah.
Tak terasa air matanya telah mengalir membanjiri sekitar wajah dan tangannya. Krystal merasa berempati dengan apa yang terjadi dengan Ana maupun Sarah. Tapi ada satu hal yang membuatnya penasaran. Lalu ia beranikan diri untuk bertanya pada sepupunya itu.
"Ana!", Krystal menepuk pelan bahu Ana. Agak sedikit ragu namun itu harus dipertanyakan.
"Ya!", suara Ana serak dan lirih. Air matanya juga belum berhenti mengalir dari pelupuk matanya.
"Bisakah aku bertanya?", Krystal sangat berhati-hati. Ia takut jika nanti pertanyaannya malah akan membuat Ana semakin sedih.
"Tentu saja, Krystal!", Ana mengangguk sambil memaksakan senyumnya.
__ADS_1
"Emmhh,, apa maksud dari penembakkan itu, Ana? Apa yang terjadi sebenarnya? Tapi, jika kau tak ingin mengatakannya, tak apa, aku mengerti!", tanya Krystal sedikit ragu.
Beberapa detik terdiam, Ana mulai menggeram marah saat mengingat insiden itu. Butuh waktu bagi Ana untuk menceritakan hal yang menjadi asal mula di timbulnya luka bagi orang-orang terdekatnya.
"Jika kau keberatan, tidak apa-apa, Ana! Aku mengerti!", Krystal mengulangi ucapannya lagi takut jika hal itu akan menyinggung atau membuat Aan sedih lagi. Ia sangat khawatir sebenarnya.
-
-
-
-
-
-
baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya π
terimakasih teman-teman π
love you semuanya π
__ADS_1
keep strong and healthy ya π₯°