Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 153


__ADS_3

Maaf ya kemaren ga jadi update 2 episode,, otaknya lg ga sinkron soalnya, ga mau di ajak kerja sama πŸ€­πŸ™


Oke, jadi karena dari pertanyaan di episode-episode sebelumnya sampai sekarang jawaban yang paling banyak adalah untuk meneruskan ceritanya Sam dan Sarah di sini, maka aku akan kabulkan dengan meneruskan cerita mereka di sini aja supaya kalian ga nyari-nyari lagi, gimana πŸ˜‰


Sebenarnya untuk cerita Ken dan Ana sudah akan selesai. Tapi karena permintaan untuk disatukan dengan ceritanya Sam dan Sarah, jadi aku masukin cerita mereka mulai dari episode ini ya


Penasaran gimana langkah Sam buat ngedapetin hati Sarah?


Yuk ikutin terus ceritanya 😊


***


"Jadi kalian menjebakku! Ya, kalian menjebakku, kan!", Joice berteriak lagi saat dua orang polisi mulai memasangkan borgol di tangannya. Perasaan hancur sudah membuat wanita itu terus berteriak seperti orang gila. Lalu dengan cepat ia menyambar pistol yang dipegang salah satu polisi disebelahnya. Dan,,,,


dduaarr


Seseorang terkena tembakannya, lalu darah mengalir deras di lantai villa itu.


"Saaamm!", semuanya berteriak histeris.


Ben dengan gerakan cepat segera mengambil alih senjata api yang Joice dapatkan secara paksa itu.


"Bawa dia pergi, cepat!", perintah Ben pada semua polisi yang memang tujuan utamanya adalah untuk menangkap Joice sejak tadi.


"Kami mohon maaf atas kesalahan yang telah diperbuat oleh putri kami. Kami mohon undur diri!", pamit Tuan Alexander kepada keluarga Wiratmadja yang tengah bersimpuh mengelilingi Sam yang sudah ambruk karena perutnya sempat tertembak.


Hanya Tuan Dion dan Ken yang menoleh, lalu membalas mereka dengan sebuah anggukan kecil. Isyarat bahwa mereka kini bukan lagi prioritas, karena putra bungsu mereka saat ini sedang dalam kondisi bersimbah darah. Sedangkan Nyonya Rima dan Ana, mereka berdua sedang saling merangkul, saling menguatkan satu sama lain.


Dan Sarah, wanita itu tengah bersimpuh sambil memeluk kepala Sam. Insiden ini hanya mereka berdua yang paling tau apa yang terjadi. Sam masih mengurai senyumannya ke arah Sarah, sedangkan wanita itu sudah berderaian air mata.


Tadi,, kejadian sebenarnya adalah bahwa Sarah yang akan menghalangi tubuh Ana dari tembakan yang akan Joice layangkan. Namun,, gerakan halus itu tertangkap oleh mata Sam, sehingga pria itu segera menarik tubuh Sarah menjauh dan membiarkan dirinya menikmati tembusan timah panas di perutnya.


"Kau khawatir padaku, ya!", ucap Sam lirih sambil tangannya membelai lembut pipi Sarah yang banjir air mata.


"Bodoh! Kenapa masih bertanya?!", Sarah tertawa kecil di tengah tangisnya. Bisa-bisanya lelaki ini masih mengeluarkan sebuah gurauan di saat-saat seperti ini.


"Ken, bagaimana sekarang?", Ana sudah berdiri dan merengkuh tubuh suaminya. Ia sangat sedih dan menyesal dengan kejadian ini. Karenanya, Sam mengorbankan diri untuk dirinya. Kini Ana benar-benar menangis di dalam pelukan Ken, suaminya. Ana benar-benar merasa bersalah pada Sam saat ini.


"Tenanglah, sebentar lagi ambulans akan datang!", Ken mengusap-usap pucuk kepala Ana agar istrinya itu bisa lebih tenang.


"Sam, bertahanlah sebentar lagi!", ucap Ken pada adiknya itu. Sejujurnya Ken sebagai kakak tentu merasa sangat khawatir, apalagi darah terus saja keluar dari lukanya. Tapi sebagai anak tertua dan yang paling bisa diandalkan, Ken tak ingin menampilkan kekhawatirannya ke permukaan. Ia berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Karena sedikit saja emosinya keluar, maka hal itu akan berdampak kepada semua orang di dekatnya, terutama istrinya yang tengah merasa bersalah ini.


"Kakak pikir aku selemah itu, heh!", Sam sedikit tersenyum. Ia pun tau bahwa ia tak boleh terlihat lemah saat ini. Dengan senyumnya, Sam tau akan memberikan sedikit energi positif bagi keluarganya maupun Sarah, wanita yang ia selamatkan barusan.


"Sam!", Nyonya Rima mengambil alih tubuh Sam untuk bersandar di pangkuannya. Wanita paruh baya itu sudah berderai air mata, tak sanggup melihat keadaan putranya yang seperti ini. Meskipun putra bungsunya ini sedikit nakal dan konyol, namun kasih sayang yang Nyonya Rima berikan tidaklah dibeda-bedakan. Setiap anak memiliki keistimewaannya sendiri pikir wanita itu.


"Sudah Bunda, jangan menangis! Aku tidak apa-apa!", Sam mencoba tersenyum meskipun setelah itu ia merasakan nyeri di tempat lukanya.


Mobil ambulans datang, Sam langsung digotong dan dibawa masuk ke dalam sana oleh beberapa petugas medis. Nyonya Rima beserta Tuan Dion ikut masuk ke dalam mobil ambulans. Lalu dengan segera mobil itu melaju meninggalkan area villa.


Sarah menatap nanar punggung mobil putih itu. Rasanya ia ingin sekali berada di dalam sana untuk ikut menjaga Sam yang telah menyelamatkannya. Rasanya ia ingin sekali terus berada di sisi pria gilanya itu. Dada Sarah sakit saat melihat tangannya penuh darah, tapi bukan darahnya melainkan darah pria yang telah menolongnya. Lalu,, ia genggam sisa-sisa perasaannya saat tadi Sam membelai lembut pipinya sambil tersenyum, meskipun keadaannya sedang terluka parah tapi pria itu masih mampu menenangkan hatinya.


"Kau ikut dengan kami!", ucap Ken pada Sarah dengan nada sedikit memerintah. Hal itu Ken gunakan untuk membuyarkan lamunan Sarah yang sangat kentara dengan hanya berdiam diri, mematung entah sampai kapan setelah melihat mobil ambulans itu pergi menjauh.


"Baiklah!", jawab Sarah lirih sambil membenamkan kepalanya dalam.


"Ana!", seruan Ben membuat ketiga orang itu menghentikan gerakan mereka untuk memasuki mobil kemudian menoleh bersamaan.

__ADS_1


"Kakak!".


"Maaf aku tak dapat mengantarkan kalian sampai ke rumah sakit. Masih ada hal lain yang harus aku lakukan!", ucap Ben setelah jarak di antara mereka cukup dekat.


"Ada apa, Kak?", tanya Ana yang mulai heran karena ia mencium bau-bau mencurigakan dari tingkah kakaknya itu.


"Ana, kurasa tugasku kali ini sudah selesai. Aku harus kembali. Semua rencana balas dendam kita sudah terlaksana meski dengan celah".


"Sampaikan permohonan maafku kepada adikmu. Maaf aku kurang cepat tadi!", kali ini Ben berucap kepada Ken.


"Dan tolong jaga Ana baik-baik, bahagiakan dia! Jika sedikit saja kau menyakitinya, maka aku bersimpuh hidupmu akan sia-sia!", kali ini Ben mengucapkan peringatannya. Dari sorot matanya, tak ada sedikitpun keraguan dengan apa yang ia katakan. Matanya menyiratkan seolah ia tak main-main dengan ucapannya.


"Cehh!", Ken berdecak serta tersenyum sinis.


"Aku bahkan sudah berjanji kepada mendiang Ayah Danu. Lalu untuk apa aku berjanji padamu, kau pikir kau siapa?", Ken sebal. Ia kesal ada laki-laki lain lebih memperhatikan Ana ketimbang dirinya. Meskipun itu Ben yang telah menganggap Ana sebagai adiknya sendiri, namun Ken tetap saja tidak suka. Raja singa ini tidak suka jika betinanya di klaim pejantan lainnya.


"Kau mau aku hajar, ya!", Ben sudah menggertakkan gerahamnya tak sabar. Ia sudah akan maju namun ditahan oleh Relly dari samping tubuhnya. Dan Ana langsung berlari mengitari mobil kemudian merentangkan tangan sebagai pembatas untuk melerai mereka.


"Sudah cukup! Apa di saat seperti ini masih penting untuk bertengkar?!", bentak Ana pada keduanya.


"Baiklah Kakak, aku berjanji akan selalu bahagia. Dan kuharap kelak kau juga akan bahagia sama seperti aku", Ana tersenyum tulus ke arah kakaknya itu.


"Kemarilah!", Ben merentangkan tangannya supaya Ana masuk ke dalam pelukannya.


Ana mulai melangkah untuk memeluk Ben, tapi tiba-tiba seseorang menyalipnya dari samping dan mendahuluinya memeluk Ben, kakaknya.


"Aku menggantikan Ana memelukmu! Karena kami adalah satu, maka anggap saja bahwa aku ini adalah Ana. Kau bisa membalas pelukanku, jika kau mau!", Ken menepuk-nepuk punggung Ben sambil memeluknya erat. Seulas senyum penuh kemenangan terbit di bibirnya.


"Hah! Baiklah, aku kalah!", Ben tersenyum seraya membalas pelukan yang Ken berikan.


"Kalau begitu aku pamit! Sampai jumpa Ana, kabari aku jika aku akan memiliki keponakan!", Ben mulai berjalan mundur menjauh dari Ken, Ana maupun Sarah. Ia memberikan salam hormatnya ke udara, lalu berbalik dan tak menoleh lagi ke arah mereka. Begitu juga dengan Relly yang sempat membungkuk hormat, lalu berangsur mengekori di belakang Ben.


"Sampai jumpa, Kak!", Ana melambai meski tak terbalas. Karena lambaian tangannya mengarah pada punggung kedua pria yang sudah berjalan menjauh. Tak terasa air mata merembes dan mengalir di pipi putih milik Ana, dan Ken yang melihatnya pun segera mengusapnya.


"Apa kau tak rela berpisah dengannya, heh?", Ken menarik pinggang Ana hingga mereka berdiri saling menempel pada satu sama lainnya.


"Bukan begitu sayang, aku hanya terharu memiliki banyak orang yang sangat menyayangiku, bahkan rela berkorban untukku!", Ana kembali memeluk Ken teringat lagi bahwa Sam telah tersakiti akibat melindungi dirinya.


"Sudah, sudah! Jangan terlalu banyak berpikir lagi, oke!", Ken mengecup pucuk kepala Ana berulang kali hingga wanitanya itu tersenyum dan menghilang sudah air matanya.


"Ehermm,,, sepertinya aku akan ke rumah sakit naik taksi saja! Aku tidak enak hati mengganggu kalian!", sindir Sarah halus. Ini sudah yang ke berapa kali matanya dinodai oleh adegan mesra pasangan suami istri baru ini.


"Ahh maaf Sarah, aku lupa masih ada dirimu di sini!", Ana malahan menambahkan taburan garam pada lukanya Sarah. Sudah dibuat muak dengan kemesraan mereka, malahan saat ini Ana berkata bahwa ia lupa akan kehadirannya.


Mereka pun akhirnya bergegas menuju rumah sakit terdekat, dimana Sam akan ditangani di sana. Sepanjang perjalanan semua orang di dalam mobil itu nampak terdiam, tenggelam dengan pemikirannya masing-masing. Ana dan Sarah yang masih merasa bersalah tentunya, sedangkan Ken sebagai kakak yang tak lepas kekhawatirannya.


***


Lampu ruangan operasi masih menyala. Sam masih ditangani di dalam sana. Nyonya Rima terlihat masih menangis di dalam pelukan suaminya. Ia sangat khawatir akan keselamatan putranya, apalagi Sam sempat tak sadarkan diri saat mereka baru saja sampai di rumah sakit. Tangis Nyonya Rima makin menjadi karena takut kehilangan putra bungsunya itu.


"Tenanglah, sayang! Kita harus banyak berdoa!", Tuan Dion mengusap-usap bahu istrinya supaya lebih tenang.


ttak ttak ttak


Suara beberapa langkah kaki mendekat. Ken, Ana dan juga Sarah akhirnya datang dengan raut wajah yang penuh dengan kekhawatiran. Ana dan Sarah saling berpelukan berdiri di sisi lorong di seberang Nyonya Rima dan Tuan Dion. Sedangkan Ken, ia nampak cemas berdiri tepat di depan pintu ruang operasi.


Sarah tidak tega melihat orang tua Sam yang terus saja menangis karena nyawa putra sedang berada dalam bahaya. Dan ia juga sangat tau jika hal itu terjadi karena Sam ingin menyelamatkan dirinya. Maka rasa bersalah itu tak dapat dibendung lagi di dalam hati Sarah. Ia melepaskan tangan Ana yang tengah merengkuh tubuhnya. Lalu dengan langkah ragu ia maju mendekat ke arah Nyonya Rima dan Tua Dion yang sedang duduk di kursi tunggu di lorong itu. Ana nampak cemas dengan apa yang akan Sarah lakukan. Tapi ia tak dapat berbuat banyak selain diam dan memperhatikan terlebih dahulu.

__ADS_1


brukk


Sarah menjatuhkan dirinya di hadapan Nyonya Rima. Ia bersimpuh, berlutut di hadapan wanita paruh baya itu. Dengan tatapan kosong dan mata sembab, ia kemudian menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Maafkan aku, Nyonya! Maaf karena aku putramu dalam bahaya!", ucap Sarah dengan suara gemetar. Dan hal itu membuat Nyonya Rima mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang sedang wanita muda ini lakukan. Pun sama terkejutnya Ken dengan yang lainnya. Ia menoleh dengan tatapan waspada ke arah Sarah yang tengah berlutut di hadapan ibunya. Lalu ia memilih untuk berjalan ke arah Ana supaya bisa mengawasi mereka lebih dekat.


"Apa maksud ucapanmu?", tanya Nyonya Rima sambil melepaskan rengkuhan tangan suaminya.


"Sam melihatku akan melindungi Ana dari tembakan itu, jadi dia menarik tubuhku sehingga dirinya lah yang malahan tertembak dan seperti sekarang ini!", Sarah beranikan diri untuk bicara meski suaranya terdengar seperti sedang menahan tangisnya.


"Maafkan aku, Nonya! Maafkan aku! Maafkan aku telah membuat Sam membahayakan nyawanya! Maafkan aku Nyonya! Maaf!", Sarah sudah tak dapat menahannya lagi. Kini ia menangis pilu di hadapan Nyonya Rima. Tangisan sesal karena telah membuat orang lain berkorban demi dirinya. Tangisan pilunya ikut menyayat hati setiap orang yang ada di sana.


Ana yang mendengar penuturan pilu Sarah pun akhirnya ikut menangis histeris di dalam pelukan suaminya. Ia sama merasa bersalahnya kepada Sam, karena target Joice sesungguhnya adalah dirinya. Dan karena hal itu orang lain yang malahan menjadi korbannya.


"Maafkan aku, Nyonya. Maaf,,,,", tiba-tiba tubuhnya di rengkuh oleh seseorang di hadapannya. Nyonya Rima menyergapnya dengan pelukan erat.


"Kau tidak bersalah, nak! Jangan mengalahkan dirimu lagi!", Nyonya Rima melepaskan pelukannya lalu memandangi Sarah yang masih belum bisa menghentikan tangisannya.


"Cukup menangisnya! Sekarang lebih baik kita berdoa agar Sam bisa selamat, oke!" wanita paruh baya itu mengusap air mata yang membanjiri wajah Sarah dengan penuh kasih sayang.


"Tadi dia sendiri yang merasa sangat sedih karena putranya. Lalu sekarang bagaimana bisa dia tiba-tiba menjadi penyemangat bagi orang lain! Terlebih lagi wanita muda ini pernah terlibat konflik dengannya. Kuharap Bunda benar-benar berubah!", Tuan Dion tersenyum dalam hatinya.


ceklek


Pintu ruang operasi sudah terbuka. Seorang dokter keluar dari sana dan Ken segera mendekati dokter tersebut.


"Dokter, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Ken tak sabar. Dan semua orang menoleh ke arah suara Ken berasal.


"Pelurunya sudah berhasil kami keluarkan. Beruntungnya peluru itu tidak mengenai organ vitalnya. Hanya saja adik Tuan terlalu banyak kehilangan darah", dokter itu memberi penjelasan.


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?", kali ini Sarah yang bertanya dengan seraya berdiri dengan tatapan penasaran.


Wajah dokter berubah muram, ia menundukkan kepalanya sebentar. Dan hal itu membuat semua orang yang ada di sana menahan nafasnya, waspada dengan hasil terburuk yang akan mereka dengar.


-


-


-


-


-


-


pokoknya jangan lupa ya tinggalin like, vote sama komentar kalian okeh πŸ˜‰ biar aku semangat nulisnya kalo rating aku bisa naik lagi 😁


baca juga ya 🌹hey you, I Love you🌹 itu menceritakan tentang kisahnya Ben sama Rose


jangan lupa juga ya kasih dukungan kalian di sana 🀭


okeh, terima kasih teman-teman 😊


love you semuanya 😘


keep strong and healthy ya πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2