Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 206


__ADS_3

"Ahh! Kita melupakan seseorang, Krystal!", Ana menoleh pertama ke sumber suara. Ia meringis dengan perasaan sedikit tak enak hati.


"Ah ya, Kakak! Kenalkan ini Louis, kekasihku!", dengan semangat Krystal beralih ke arah pria itu dan memeluk lengannya.


"Senang bertemu denganmu, Kakak ipar!", Louis dengan percaya diri menjabat tangan Adam sambil memamerkan senyumannya.


"Sudah seserius itukah hubunganmu dengan adikku?!", gurau Adam seraya melepaskan tangannya dari tangan Louis.


"Bagaimana tidak serius, Kak! Jika dia saja mengejar Krystal sudah sejak bertahun-tahun lamanya", Ana menutup mulutnya agar tidak tertawa saat menyampaikan kenyataan yang ada. Dan dia sendiri merupakan saksi dari perjuangan Louis untuk mendapatkan hati saudaranya itu.


"An,,,,!", Louis memiringkan wajahnya ke arah Ana dengan tatapan tak suka. Tapi kemudian ia tersenyum kikuk sambil menggaruk ujung alisnya yang tak gatal. Yasudahlah, memang begitu kenyataannya. Louis mendesah pasrah di tengah tawa mereka semua.


"Bagaimana jika lanjutan obrolan ini sambil makan siang?!", ajak Adam pada tiga orang lainnya. Dan tentu saja langsung disetujui oleh mereka. Apalagi Ana yang sudah merasa minta diisi perutnya. Namanya juga wanita hamil ya, kan. Ana selalu membawa-bawa senjata itu di setiap permintaannya.


***


Langkah Sarah telah terseret-seret oleh tarikan tangan Sam yang tak jelas arah tujuannya kemana. Wanita itu pasrah karena kini pria itu tiba-tiba berubah menjadi sangat misterius. Sam tidak menoleh sedikitpun ke arah dirinya sejak beberapa langkah meninggalkan Ana dan yang lainnya.


"Sam, sebenarnya kau akan membawaku kemana?".


"Sam, apakah ini akan menjadi tidak sopan karena kita tidak ikut menyambut kedatangan kakaknya Krystal?".


"Sam, Sam! Sam kau mendengarkan aku atau tidak sih!", Sarah sedikit berteriak sambil menghempas tangannya dengan kasar sehingga pegangan tangan Sam pada pergelangan tangannya terlepas.


Pria itu mengembuskan nafasnya perlahan untuk mengontrol emosinya. Sebenarnya ia ingin memberi Sarah sebuah kejutan. Tapi saat mendengar wanita itu membawa-bawa pria lain dalam pertanyaannya, hal itu barulah membuat Sam jengkel bukan kepalang. Ia sudah cukup bersabar soal Louis tadi. Tapi sekarang Sarah harus tau jika ia sedang marah. Pria itu membalikkan tubuh tegapnya dengan tatapan tajam dan wajah dinginnya.


"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa wajahmu seperti seorang yang sedang kesal? Memangnya apa salahku?", Sarah sedikit meninggikan intonasi suaranya. Ia masih kesal karena sejak tadi dirinya diabaikan.


"Cukup!", nada suara Sam rendah dan penuh tekanan. Apalagi matanya yang Sarah tau jika pria ini sekarang sedang serius.

__ADS_1


"Ap,, apanya yang cukup?", Sarah tergagap karena tekanan yang Sam berikan melalui tatapan matanya. Dia yang biasanya tak ada takutnya dengan Sam kini tak ada nyali untuk melawan pria itu. Saat ini ia hanya sedang berpura-pura kuat saja sambil mengangkat dagunya.


"Cukup kau menguji kesabaranku, Sarah! Jangan bahas pria lain saat kau sedang bersamaku!", Sam maju selangkah demi selangkah dengan aura penekanan yang cukup kuat. Dan bersamaan dengan itu pula Sarah mundur dengan wajah yang mulai pias.


Mereka saling bertatapan tapi tak menghentikan langkahnya masing-masing. Sam terus mendominasi Sarah hingga punggung wanita itu membentur dinding dingin di sana. Sam tak bicara lagi, lewat tatapannya ia ingin Sarah mengerti jika dirinya saat ini sedang cemburu. Apakah hal seperti saja Sarah tak dapat mengerti?!


Sambil menatap ke dalam mata pria itu, Sarah berusaha mencerna maksud dari ucapannya tadi. Ia jadi terngiang ucapan Ana tadi saat mereka masih berada di lobby. Cemburu, ia rasa itu yang terjadi sekarang ini. Sama halnya dengan saat mereka di lobby tadi. Hah, itu kan hanya sebuah kalimat saja. Cetek sekali pikiran orang ini. Memang benar kata Ana, jika pria keluarga Wiratmadja amat konyol jika sudah termakan api cemburu. Sarah mendesah terlebih dahulu sebelum mulai berbicara.


"Kau,, kau cemburu?", tanya Sarah hati-hati.


Pria itu tak menjawab dan malahan merentangkan salah satu tangannya ke depan yang Sarah pikir akan melakukan sesuatu kepadanya. Memukulnya atau semacamnya hingga membuat Sarah memalingkan wajah dan memejamkan mata saking takutnya.


Pelan Sarah membuka sebelah matanya untuk menilik situasi yang ada. Dan ternyata Sam hanya membuat tangannya menempel pada dinding di sebelah Sarah, seperti sedang menyangga tubuhnya. Tangannya itu berada tepat di sebelah wajah wanita itu, makanya Sarah pikir tadi Sam akan berbuat macam-macam padanya. Tapi tatapan mata pria itu tak berubah sedikitpun, malahan seperti makin dingin menatap Sarah.


"Jadi benar kau cemburu?", Sarah melembutkan suaranya sambil sedikit menipiskan salah satu ujung bibirnya. Baiklah, kali ini biar ia mengalah saja dengan pria konyol yang sedang kesal ini. Sekali-sekali tak apalah baginya.


cup


Di wajah mereka sebenarnya sama-sama timbul semburat kemerahan dan kepulan asap hangat dari pipinya. Tapi sebisa mungkin keduanya mengontrol kesadaran diri mereka. Baik Sarah, apalagi Sam yang tetap mempertahankan ekspresi dinginnya. Meski pipinya saat ini sudah memerah, tapi ia berusaha bersikap tak peduli.


"Dengan kau bersikap seperti ini, kau akan membuatku berpikir bahwa kau sedang meragukan perasaanku padamu", Sarah membelai pipi pria itu dengan lembutnya.


Sam menangkap tangan Sarah yang berada di wajahnya. Masih dengan wajah dinginnya, ia mengecup punggung tangan itu tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari mata Sarah.


"Tapi aku belum pernah mendengar bagaimana perasaanmu yang sebenarnya terhadapku", ujar Sam datar namun menohok ke benak Sarah.


Ah benar! Memang wanita itu belum ingin menyatakan secara langsung bagaimana perasaannya kepada Sam. Ia masih menunggu momen yang tepat untuk mengatakan bahwa ia juga sama cintanya seperti Sam mencintai dirinya. Mulut Sarah masih kaku untuk mengungkapkan hal itu sekarang ini.


Tak mendapat jawaban, Sam maju satu langkah, lalu satu langkah lagi. Ia terus menatap hingga ke bagian paling dalam bola mata wanita itu untuk mencari jawaban. Tapi Sarah tetap diam. Lalu Sam mulai siap menyergap bibir ranum itu dengan bibirnya. Ia sudah ingin menyalurkan cinta kasihnya agar Sarah paham dan mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Rasa cemburu yang membelenggu hati hingga rasanya ia ingin memberikan kesan posesif itu pada bibirnya.

__ADS_1


Sarah mengelak, ia memalingkan wajahnya dengan wajah merah darah. Sesungguhnya wanita itu sedang menahan malu yang teramat sangat. Tapi ada hal lain yang ia rasa mengganjal dalam situasi ini.


"Sa,, Sam!", lirih suaranya sambil menahan dada Sam yang akan kembali memberikan penyerangan.


"Hem!", pria itu berdehem untuk menjawab sambil menjauhkan wajahnya untuk menelisik ekspresi apa yang wanita itu miliki untuknya.


"Itu,,, ", Sarah merasa tak enak hati untuk menyebutkan perkaranya. Ia merasa telah merusak suasana romantis ini.


"Hem!", Sam menaikkan alisnya dengan wajah lumayan penasaran.


"Itu,,, kakiku terinjak olehmu!", sambil mendesis karena sakit di kakinya Sarah menggunakan telunjuknya untuk memberitahu Sam apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana.


-


-


-


-


baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya


🌹Hey you, I Love you!🌹


Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan 😊


jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya 😁


terimakasih teman-teman πŸ˜‰

__ADS_1


love you semuanya 😘


keep strong and healthy ya


__ADS_2