
"Ka,,, Kakak!", buru-buru Sam berdiri dan menghampiri Ken yang wajahnya sudah sangat suram.
"Wah,, wah,, hebat sekali kau ya! Sekarang kau sudah berani membuat kakakmu ini menunggu!", Ken tak menolehkan kepalanya sama sekali dan melewati Sam yang sedang berusaha untuk mendekatinya. Lalu Presdir Ken yang terhormat itu meletakkan bokongnya pada kursi kebesaran milik adiknya itu.
"Aku,,, aku,,, mana berani, Kakak! Aku bahkan tidak tau jika itu adalah Kakak. Jika saja aku tau pasti aku sudah berlari dan membukakan pintu langsung untukmu, Kak!", Sam tersenyum tak berdaya.
"Kau juga, kenapa kau tidak meneleponku dari tadi untuk memberitahu kedatangan Kakak!", ia tidak ingin disalahkan sendiri. Sampai pada akhirnya ia melemparkan masalah ini pada sekrekatrisnya
"Cih! Jika kau bersikap seperti itu, maka apa bedanya kau dengan mereka yang selalu membuat diriku muak!", Ken berdecak sambil memalingkan wajahnya. Tingkah adiknya ini meninggalkan kesan seperti para penjilat yang biasanya selalu memuakkan dirinya.
"Ya,, ya,, baiklah! Aku mengaku salah!", Sam merengut. Lagi-lagi ia selalu tak berdaya jika sudah berurusan dengan kakaknya ini.
Sekretaris Sam sejak tadi tak berani melangkah lebih dalam lagi. Ia berdiri hanya dua langkah saja dari ambang pintu. Itu ia maksudkan agar ia bisa cepat kabur jika situasinya tidak memungkinkan lagi baginya.
Menghadapai dua raja iblis yang berbeda karakter ini sungguh tidaklah mudah. Dan sekreataris itu sudah mengetahuinya semenjak ia bekerja untuk Sam beberapa tahun belakangan.
"Maaf, saya terlambat!", suara lelaki datang lagi dari arah pintu kantor CEO Glory Entertainment itu.
"Han, kau juga datang!", Sam berseru sangat senang. Jika ada manusia yang satu ini maka semua yang berurusan dengan kakaknya akan mudah diatasi.
"Kau boleh pergi!", tangan Han menghela agar sekreataris Sam itu bisa kembali ke meja kerjanya.
"Terimakasih, Tuan!", wanita itu membungkuk hormat pada ketiganya lalu berangsur keluar.
Ia mengelus dadanya seraya menghembuskan nafas kasarnya melalui mulut. Krisis yang hampir merenggut nyawanya akhirnya bisa ia lewati dengan kehadiran Tuan Han. Satu lagi orang merasa bersyukur dengan kehadiran asisten pribadi Ken itu.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa Kakak sampai datang langsung seperti ini? Apakah ada yang mendesak untuk aku urus?", Sam tidak basa-basi lagi.
Kakaknya yang memiliki kesibukan lebih daripada dirinya ini, jika menyempatkan datang ke kantornya begini pasti ada sesuatu yang tak bisa atau tak ingin dia tangani. Yah,,, suka-suka hati kakaknyalah memerintah dirinya! Sam hanya bisa mengeluh pasrah di dalam hatinya.
"Aku baru saja makan malam dengan salah satu klien. Kebetulan lewat jadi sekalian mampir!", suara Ken terdengar tenang. Namun tidak dengan raut wajahnya yang gusar.
"Wah,,, sejak kapan Kakakku ini menjadi begitu ramah dan perhatian begini pada adiknya?!", riang wajah lelaki itu jika melihat kakaknya yang galak itu memiliki masalah.
Jiwa keingintahuannya segera meronta. Ia menghampiri kakaknya itu dengan wajah penuh minat. Lalu sambil mencondongkan tubuhnya, Sam menduduki meja kerjanya sendiri.
"Tuan Ken ada pertemuan penting malam ini. Tapi klien memintanya untuk bertemu di Dragon Night. Dan Tuan Sam juga tau jika Tuan Ken tidak terlalu suka datang ke tempat itu", melihat bosnya itu enggan menjawab, jadilah Han yang berinisiatif untuk membuka suara.
Sedangkan di kursi kebesaran itu, Ken nampak acuh dan tak peduli. Ia malahan duduk menyamping menghindari wajah adiknya yang mengesalkan baginya itu.
"Jadi maksudnya, aku yang akan mewakili Kakak untuk datang ke sana, begitu?!", campur aduk pikiran Sam saat ini.
Sekretarisnya adalah seorang wanita. Jika ia saja belum pulang sampai jam segini, berarti wanita itu sedang lembur, bukan?! Lalu jika ia menyerahkan tugasnya pada wanita itu, mau lembur sampai jam berapa?! Sam sungguh tidak tega. Apalagi ia mengetahui jika wanita itu sudah berkeluarga. Sam benar-benar tidak tega untuk memberi tugas tambahan padanya.
Tapi di sisi lain juga ia jadi bisa melihat Sarah. Ia bisa mengawasi wanita itu di sana. Menjaga dan melindunginya, bahkan juga ia bisa menghalau bahaya yang akan mengancam calon istrinya itu nantinya. Wajah Sam terlihat bimbang saat ini.
"Sayangnya, klien kali ini meminta agar Tuan Ken tidak diwakili. Ia ingin bertemu dengan Tuan Ken langsung! Tapi Tuan Ken tidak ingin meninggalkan Nona Ana sendirian di rumah terlalu lama", kembali Han yang menjawab pertanyaannya.
Di sini Ken masih enggan membuka suara. Selain ia memang tidak suka dengan tempat itu, pikiran pria itu juga terbagi dua dengan Ana yang kini berada di rumah sendirian. Meskipun wanita itu mengerti, tapi tetap saja membuat dirinya kepikiran.
"Jadi sebenarnya mau apa kalian ke sini? Kenapa jadi rumit begini, sih?! Coba lihat, pekerjaanku sedang menumpuk sekarang. Dan tak ada yang mungkin mengerjakan ini semua selain aku. Jadi kumohon pada Tuan-Tuan sekalian untuk mengatakan maksud dan tujuan kalian dengan jelas!", Sam akhirnya berteriak frustasi. Ia berdiri sambil menggaruk kepala belakangnya dengan keras.
__ADS_1
Memikirkan diri sendiri saja ia sudah pusing. Lalu sekarang apa maksudnya?! Jadi maksudnya ia harus membuat solusi juga untuk kakaknya ini?! Bagaimana bisa?! Bukankah kakaknya juga tau, jika ia tidak terlalu jenius seperti dia?!
"Kau ikut denganku ke sana! Tumpukan kertas ini biar Han yang menyelesaikan. Tugasmu adalah menangani orang itu agar waktu kita di sana tidak menjadi lama!", singkat, jelas, padat, solusi yang Ken berikan.
"Nah,, kan jelas sekarang maksudnya! Kalau begitu ayo,, kita tidak usah mengulur waktu lagi!", tanpa berpikir panjang lagi Sam segera berjalan mendahului mereka semua ke arah luar ruangan.
"Dia itu benar-benar,,,!", Ken menggelengkan kepalanya seraya bangkit dari duduknya.
"Han, kau urus itu dulu!", lalu ia menepuk bahu asistennya itu seraya memberi titah.
"Baik, Tuan!", pria itu pun hanya bisa mengangguk pasrah.
Mau bagaimana lagi, apakah dirinya yanghanya seorang bawahan ini bisa menolak perintah. Sudah lelah ia seharian ini, lalu masih ada lagi ia harus menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya bukan miliknya. Baiklah, ia memang hanya bawahan yang patuh saat ini.
Dan saat ini, sekretaris wanita itu tengah melihat dengan tatapan aneh ke arah bosnya yang sedang melewati dirinya sambil bersenandung riang. Tidak seperti sebelumnya yang ia tau bahwa wajah bosnya itu suntuk dan muram.
🎶🎶🎶
Sam bersiul dengan melodi yang terdengar ceria. Ia berdiri di depan lift sambil menunggu kakaknya yang sedang menyusulnya di belakang. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Kakinya ia silangkan satu sambil menatap pantulan dirinya pada pintu lift yang masih tertutup itu.
"Aku masih tampan, kan?!", pria itu berbicara sendiri pada pantulan dirinya. Tampilannya masih oke untuk bertemu dengan calon istrinya nanti.
plak
"Kau sudah gila ya,,, berbicara sendiri!", Ken datang dengan tangan yang sengaja ia layangkan ke belakang kepala adiknya itu.
__ADS_1
"Hisshh!", bibir adiknya itu mencibir sambil memegangi kepalanya yang sakit.