Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 155


__ADS_3

Tak terasa langkah mereka harus berhenti karena mereka telah sampai pada ruangan yang mereka tuju. Ken membuka pintu ruangan itu dari luar lalu menghela tangannya supaya Ana masuk ke dalam terlebih dahulu kemudian diikuti dengan dirinya.


Terlihat di dalam ruangan itu Sam yang masih terlelap karena obat biusnya belum juga habis. Lalu di samping ranjangnya, duduk Nyonya Rima yang sedang di rangkul oleh Tuan Dion sambil berdiri. Mereka menoleh ke arah Ken dan Ana yang baru saja datang.


"Ayah, Bunda, bagaimana keadaan bocah itu sekarang?", tanya Ken seraya maju mendekat.


"Dia sudah baik-baik saja. Nanti setelah bangun mungkin dia akan langsung bertindak konyol lagi! Anak ini, bisa-bisanya dia mengorbankan dirinya untuk melindungi seorang wanita. Belajar darimana dia tindakan heroik seperti itu?! Apa kau yang mengajarinya?", Tuan Dion mengeluarkan gurauannya untuk menghentikan suasana sedih yang telah berlangsung sejak tadi. Mereka semua tertawa mendengar ucapan Tuan Dion. Nyonya Rima dan juga Ana mulai berhenti memiliki kekhawatiran yang berlebihan seperti tadi. Suasana pun menjadi lebih rileks untuk keempatnya.


"Sebaiknya Ayah dan Bunda pulang dulu. Biar aku dan Ana yang menjaga Sam malam ini", Ken memberi saran kepada kedua orangtuanya.


"Tidak, nak! Kau dan Ana sudah sangat lelah hari ini. Lebih baik kalian saja yang pulang. Besok kalian bisa kembali lagi ke sini", jawab Nyonya Rima kepadanya.


"Lagipula pengantin baru tidak boleh kelelahan. Karena kalian harus kerja keras untuk memberikan kami cucu!", Nyonya Rima menutup mulutnya setelah berbicara. Ia malu sendiri dengan apa yang ia ucapkan. Wanita paruh baya itu juga seorang manusia biasa. Ia juga memilikinya rasa iri setiap kali berkumpul dengan teman-temannya yang seumuran, mereka selalu membicarakan tentang cucu-cucu mereka yang lucu. Sedangkan dirinya, yang bisa ia banggakan hanya itu-itu saja sejak dulu tak pernah berubah, bahwa putranya adalah Presdir Ken yang terhormat.


"Ya ampun Bunda! Sejak kapan Bunda berpikiran seperti itu?! Ayah sungguh tidak menyangka!", Tuan Dion menambahkan bumbu yang membuat wajah Nyonya Rima makin memerah.


"Ayolah, Ayah! Apa cuma Bunda saja yang menginginkan cucu di keluarga kita?", Nyonya Rima mencubit pinggang suaminya itu dengan gemasnya. Sudah tau istrinya malu, tapi Tuan Dion malahan makin menjadi menggoda dirinya. Lagipula ia juga tau, Tuan Dion sendiri pun juga sangat menantikan kehadiran junior-junior kecil di rumah mereka.


"Ya benar! Kalian harus bekerja keras untuk memberikan kami cucu!", kali ini Tuan Dion memasang wajah serius dan berbicara dengan nada tegas. Dan mereka makin tertawa dibuatnya.


Wajah Ana sudah merah padam. Menghangat bahkan sudah kepanasan. Bagaimana bisa mertuanya itu terang-terangan mengatakan hal seperti itu di hadapannya. Ana sungguh malu mendengarnya. Dan bukan hanya itu saja, setelah ini ia yakin bahwa suaminya akan melaksanakan perintah orang tuanya itu dengan penuh semangat.


"Kau dengar, sayang?! Ayah dan Bunda meminta kita untuk pulang. Dan setelah itu aku harus kerja lembur rupanya", Ken menyenggol pinggang Ana hingga wanita itu sedikit terpental. Pria itu menampilkan senyuman menggodanya.


"Astaga, ya ampun!", Ana tak mampu berkata-kata. Ia hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sudah tidak tau mau diletakkan dimana wajahnya saat ini. Obrolan fulgar ini harus segera dihentikan, pikir Ana.


"Ayo Ken, sebaiknya kita pulang sekarang! Ayah, Bunda, kami pamit dulu. Besok kami akan kembali lagi!", Ana membungkuk hormat kepada mertuanya lalu berjalan sambil menarik paksa tangan suaminya. Ia sudah tidak kuat menahan malu yang menderanya saat ini.


"Lihatkan, menantu kalian sungguh tidak sabar!", ucap Ken kepada kedua orangtuanya sambil tangannya ditarik-tarik oleh Ana. Ken menyeringai puas, ia selalu senang bisa menggoda istrinya yang akan menghasilkan ekspresi menggemaskan seperti barusan.

__ADS_1


"Kau lihat, sejak kapan putra sulungmu begitu mahir menggoda wanita?!", ucap Tuan Dion pada istrinya.


"Ya, kurasa hal itu terjadi hanya kepada Ana!", jawab Nyonya Rima. Lalu keduanya tersenyum damai ke arah punggung sepasang pengantin baru yang mulai menghilang di balik pintu kamar itu.


***


Senja datang, siang menghilang. Teduhnya karena langit biru mulai berhias semburat jingga pada permukaannya. Sarah baru saja turun dari taksi yang berhenti tepat di depan rumahnya berdiri. Rumah sederhana dengan sedikit halaman di depannya. Dengan langkah gontai ia berjalan ke arah pintu rumahnya. Ia mengetuk pintu itu perlahan, lalu keluarlah seorang wanita paruh baya yang merupakan ibunya.


"Ada apa dengan matamu, nak? Kau habis menangis?", namanya adalah Ibu Asih. Ia mengusap lembut pipi putri sulungnya.


"Aku baik-baik saja, Ibu! Ayo masuk tidak baik Ibu terlalu lama di luar", Sara berkilah lalu mengalihkan pembicaraannya. Ia belum sia menceritakan apa yang terjadi hari ini pada ibunya.


"Mandilah, setelah itu kita makan malam bersama", Ibu Asih merangkul putrinya seraya membawanya masuk ke dalam rumah.


"Dimana Sandi, Bu?", tanyanya setelah menutup pintu.


"Dia sudah bekerja sekarang menjadi pelayan di salah satu restoran cepat saji", tutur Ibu Asih. Ada nada gembira terselip di sana.


"Kau bisa memberinya ucapan selamat nanti saat dia pulang. Sudah, lebih baik sekarang kau mandi, sana! Ibu menunggumu di dapur ya", Ibu Asih mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Baiklah!", Sarah tersenyum lalu masuk ke dalam kamarnya.


brakk


Setelah pintu kamar itu ditutup, menghilang pula senyum yang baru saja Sarah tampilkan untuk ibunya. Ia sungguh belum siap menceritakan tentang bagaimana perasaannya saat ini. Kekalutan yang ia rasakan, kesedihan yang mendalam, hal itu harus ia rasakan lagi kali ini.


Sarah langsung membenamkan wajahnya pada bantal kesayangannya. Lalu ia berteriak histeris di sana sambil ia tekan bantal itu ke wajahnya. Dan hasilnya, teriakan itu tak terdengar hanya terdengar di telinganya seorang. Sarah mengangkat wajahnya yang berderaian air mata. Ekor matanya menangkap sebuah bingkai foto dimana di sana terdapat foto dirinya yang masih remaja sedang bersama dengan mendiang ayahnya. Tangannya bergerak mengambil foto itu dan memeluknya erat. Lalu ia meneruskan lagi tangis pilu yang belum ia tuntaskan akibat insiden pagi tadi.


Ayah Sarah telah meninggal dunia sejak ia sepuluh tahun lalu. Mereka sangat dekat bahkan ayahnya sudah seperti teman bagi Sarah. Maka dari itu, saat mendengar kabar bahwa ayahnya telah meninggal dunia, Sarah yang saat itu sedang bersekolah langsung berlari tanpa peduli tentang izin atau bahkan tasnya yang masih tertinggal di kelasnya. Satu bulan ia mengurung diri di dalam kamarnya, karena Sarah merasa begitu kehilangan ayah sekaligus sahabatnya.

__ADS_1


"Ayah, apa yang harus aku lakukan?", ucapnya lirih sambil terus menangis.


Kenangan buruk yang menimbulkan sedikit trauma beberapa tahun lalu kembali hadir. Sarah merasa tak mampu menahan diri saat ini. Hatinya terlalu sedih dan sakit untuk ia tanggung sendiri. Alasannya untuk tetap sendiri tanpa seorang kekasih adalah karena kenangan pahit itu. Kalimat-kalimat menyakitkan itu masih ia ingat baik-baik di dalam benaknya. Dan Sarah tak dapat melupakan kenangan itu begitu saja.


Rasanya ia ingin bercerita dengan Ana untuk mengurangi bebannya. Tapi, sejak awal Sarah tak pernah mengangkat kisah ini ke permukaan kepada Ana. Ia bahkan merasa tak sanggup mengucapkan ceritanya. Rasanya terlalu pedih untuk ia ingat lagi pada masa sekarang ini. Tapi dengan kejadian tadi pagi, sesuatu yang tidur dalam benaknya itu kembali bangkit dan mengusik hidupnya.


"Aaaaahhkk!", lalu tiba-tiba Sarah menjerit histeris di kamarnya.


-


-


-


-


-


-


jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya 😁


**baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya


🌹Hey you, I Love you!🌹


terimakasih teman-teman πŸ˜‰


love you semuanya 😘

__ADS_1


keep strong and healthy ya πŸ₯°**


__ADS_2