Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 29


__ADS_3

"Kalau begitu aku tidak jadi ke toilet!", Sam meringis lalu kembali duduk lagi di tempatnya. Pria itu merapatkan kedua tangan dan kakinya dalam posisi patuh.


"Dasar, kau ini!", setelah menghentakkan kakinya dengan keras ke lantai, Sarah pun ambruk di samping Sam. Ia mendudukkan dirinya kembali dengan wajah kesal. Harus luar biasa sabar dan lapang hatinya dalam menghadapi suaminya yang konyol itu. Kadang ia berpikir, mengapa kakak beradik Wiratmadja itu memiliki sifat yang berbeda sekali!


Di sebelah mereka, Ana dan Ken hanya memandangi Sam dengan tatapan malas. Selalu saja adik mereka ini membuat ulah. Terlalu kreatif, namun membuat hati kesal karena terlalu banyak ulah yang ia buat. Ana dan Ken memiliki harapan yang sama di dalam hati, semoga putra mereka tidak menuruni sedikit pun sifat konyol dari pamannya itu.


***


kriet


Pintu ruang kerja Tuan Harris terbuka pelan dari arah luar. Ketiga orang yang berada di dalam pun terkejut di tempat mereka masing-masing. Krystal, Tuan dan Nyonya Harris seketika berubah menjadi patung hidup. Nafas mereka pendek-pendek, tertahan di dada sebab dari efek kejut yang masih mereka rasa. Namun nampak yang paling tenang di antara ketiganya adalah Tuan Harris yang diam-diam sudah bisa mengembuskan nafasnya penuh kelegaan. Akhirnya ia bisa terlepas dari jerat rasa terkejutnya itu.


Masih berdiri dalam diam, Louis memejamkan matanya dengan begitu erat di ambang pintu. Pria itu tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali. Rasa berat membuka kelopak matanya, sama seperti berat rasa di hatinya setelah mengetahui fakta yang telah disembunyikan darinya selama bertahun-tahun lamanya ini. Setelah bisa menguasai diri, Louis meniupkan nafasnya dengan keras ke atas, masih dengan matanya yang terpejam. Kemudian ia menjejakkan kakinya ke arah dalam ruangan dengan wajah tenang. Seperti badai akan datang sesudahnya nanti.


Huh! Pria itu menyandarkan panggulnya pada sofa tunggal. Dia enggan untuk mendudukkan diri. Lebih tepatnya ia berdiri di tengah-tengah di antara mereka semua yang sudah menempati ruangan itu terlebih dahulu. Ia keluarkan seluruh perasaan berat di hati melalui nafas kasar yang ia lepas melalui mulutnya.


"Jadi selama bertahun-tahun ini aku yang tidak tahu sendirian?!", Louis membuka kalimat dengan suara berat.


"Lou,, ".


"Sayang", Tuan dan Nyonya Harris sama-sama kehilangan cara untuk merangkai kata, untuk memberi penjelasan kepada putra mereka perihal masalah yang selama ini mereka jaga.


Semua kemarahan yang semula membara di dada Krystal sekarang dipadamkan oleh air mata yang meluruh, membasahi wajah cantik Nyonya Harris yang selalu menggenggam tangannya sejak tadi. Didekap oleh suasana yang entah bagaimana ia menjelaskannya ini, Krystal merasa ditulari cairan bening yang dimiliki oleh ibu dari kekasihnya itu. Ia merasa jika pelupuk matanya juga sudah mulai terisi air mata.


Wanita itu meletakkan foto lama yang sedari tadi ia pegang. Sekarang adalah masa bagi dirinya untuk bergantian menggenggam tangan wanita paruh baya itu. Saat ini adalah waktu dimana dirinya yang harus memberikan kekuatan untuk seorang ibu yang tengah bersedih hatinya. Dua tangannya diberi pekerjaan yang berbeda. Yang satu menggenggam tangan Nyonya Harris, yang satunya lagi merangkul bahunya. Mendekap wanita paruh baya itu dalam kehangatan yang menenangkan.


Kemudian Tuan Harris, beliau menautkan seluruh jemari tangannya sambil menundukkan kepala. Ia menjatuhkan pandangannya ke arah jari jemarinya dengan begitu banyak pikiran di matanya.


"Sebenarnya apa yang Papa dan Mama pikirkan sehingga menyembunyikan hal sebesar ini dariku?! Apa aku tidak cukup mampu menanggung beban itu bersama keluargaku?! Apakah aku setidak berguna itu di mata kalian?! Lalu apa Mama dan Papa pikir aku punya muka untuk menghadapi keluarga Alleta setelah mengetahui hal ini?!", suaranya yang teredam pecah oleh emosi. Louis mengucapkan kata-katanya sambil sesekali memejamkan mata.


"Louis,,, ", seru Krystal pelan untuk mengingatkan pria itu agar tidak terbawa emosi lebih jauh lagi. Agar lelaki itu bisa menguasai diri dari perasaan campur aduk yang ia rasa ia bisa mengerti.

__ADS_1


"Mereka pasti akan memandang rendah keluarga kita habis-habisan setelah ini! Apa Mama dan Papa tahu jika setelah ini kita sudah tidak memiliki harga diri lagi di hadapan mereka?!", Louis melirik sebentar ke arah Krystal, namun ia tetap melanjutkan semua keluhnya yang penuh dengan rasa kecewa, terlebih lagi kepada dirinya sendiri yang tidak berguna ini.


"Louis, hentikan! Bisakah kau menurunkan nada bicaramu saat berhadapan dengan orang tua?! Bagaimana pun mereka adalah orang tuamu sendiri, Lou! Mereka melakukan semua ini karena mereka terlalu menyayangi dirimu! Bisakah kau berpikir ke arah situ?!", Krystal menggeram marah dalam peringatan yang ia suarakan kepada kekasihnya itu. Ia melepas pegangannya pada Nyonya Harris saking emosinya menghadapi pria yang tengah dibakar perasaannya itu.


Krystal berusaha mengerti bagaimana berkecamuknya perasaan lelaki itu. Tapi bukan berarti semuanya mesti dilampiaskan kepada orang tuanya. Meskipun dalam hal ini memangyang bersangkutan atas masalah ini adalah kedua orang tuanya sendiri. Namun,, bisakah sekali saja Louis berpikir dari sisi orang tuanya?! Bagaimana mereka berkorban selama ini?! Itu hal yang membuat Krystal marah.


"Sudah, Krystal, sudah! Ini memang salah kami! Kami yang sudah menyembunyikan semua ini dari Louis! Kami yang bersalah kepadanya!", Nyonya Harris tak kuasa menahan debit air mata yang begitu deras hingga membanjiri seluruh wajahnya. Wanita paruh baya itu memegangi tangan Krystal memohon kepadanya agar tidak tersulut emosi juga.


"Benar, Krystal! Ini memang salah kami!", sebuah suara berat keluar dari mulut Tuan Harris. Kemudian ia beranikan diri untuk memandang putranya itu dengan penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa, Mama, Papa!", Krystal melepas tangan Nyonya Harris sambil menipiskan bibirnya.


"Dengar! Kau dengarkan, Louis! Bahkan sampai di titik ini mereka tidak menyalahkan dirimu sama sekali! Mama dan Papa sangat menyayangimu sampai menanggung semua hal ini di punggung mereka sendiri! Tidakkah kau mengerti hal ini?!", seru Krystal menggebu-gebu berbalut emosi di nadanya.


"Sudah, Krystal! Mama dan Papa tidak apa-apa! Sudah, jangan diteruskan lagi!", di sedikit kekuatan yang ada di tangannya, Nyonya Harris menarik Krystal agar mau duduk kembali. Sudah cukup situasi yang menekan ini, ia tidak tahan jika pasangan muda itu malahan bertengkar gara-gara masalah ini. Karena ia akan makin menyalahkan dirinya sendiri jika hal itu terjadi. Sebab,, yang selalu ia mengharapkan adalah kebahagiaan untuk putra semata wayangnya itu.


brug


"Sayang!", melihat putranya seperti itu, Nyonya Harris segera menghampirinya secepat angin. Ia ikut bersimpuh lalu memeluk putranya itu dengan begitu erat. Kedua ibu dan anak menangis bersama di atas lantai dingin itu.


Tuan Louis menyeka wajahnya yang basah akibat air mata. Kemudian ia menggerakkan kursi rodanya mendekati istri dan anaknya itu. Ia merasa kedua rodanya makin ringan diputar. Tuan Harris pun menolehka kepalanya ke belakang untuk mengetahui penyebabnya. Ternyata ada Krystal dengan sebuah senyuman di bibirnya sedang membantu melajukan kursi rodanya. Lelaki paruh baya itu membalas senyumannya sebagai ucapan terima kasih. Kursi dan tuannya pun bergerak mendekat ke arah dua orang yang sedang berpadu dalam tangis.


"Louis! Maafkan, Papa, nak!", Tuan Harris menyentuh bahu putranya dengan suara tersekat. Tangis yang tertular dari istri dan anaknya itu masih tertahan di tenggorokannya saat ini.


"Tidak, Papa! Maafkan Louis yang sudah menjadi putra yang tidak berguna, Papa!", lelaki itu beralih ke arah ayahnya. Melepaskan pelukan ibunya untuk beralih ke hangatnya pelukan ayah.


"Kami yang bersalah karena sudah menutupi hal ini darimu!", akhirnya tangis Tuan Harris pecah juga di dalam pelukannya dengan putranya itu.


"Tidak, Papa! Louis memang anak yang tidak berguna! Maafkan Louis, Papa! Maafkan, Louis!", tangis Louis pecah sejadi-jadinya. Terdengar perih dan menyedihkan.


"Sayang! Sudah jangan menangis lagi, Sayang!", Nyonya Harris melengkapi pelukan suami dan putranya. Dan air matanya semakin deras di wajahnya.

__ADS_1


"Mama!", seru Louis kemudian meringsek masuk di antara ayah dan ibunya. Mereka bertiga menangis bersama untuk beberapa saat, tenggelam dalam perasaan mereka saat ini. Dan lupa jika masih ada seseorang lagi di sana.


Krystal berdiri di belakang keluarga itu sambil terus menyeka air matanya. Haru ini ia rasa karena sudah lama ia tak merasakan kasih sayang dari sebuah keluarga yang lengkap. Setelah kepergian mendiang ibunya, kasih sayang baru ia dapatkan lagi setelah bertemu dengan Ibu Asih. Yang tak lain adalah ibu dari sahabatnya sendiri. Melihat lengkap dan harmonisnya keluarga ini, ada sedikit rasa iri di dalam hatinya. Namun meskipun begitu, ia turut lega karena keluarga ini sudah saling terbuka. Harapannya adalah semoga mereka semua bisa menuntaskan masalah ini, segera. Pun, termasuk dengan dirinya. Ia akan membantu apapun yang ia bisa.


"Krystal, kemari, Sayang!", tangan Nyonya Harris melambai ke arahnya. Sambil menangis, wanita paruh baya itu mengajaknya masuk ke dalam pelukan besar itu.


"Iya, Ma!", dengan cepat ia hapus air matanya. Lalu ikut masuk ke dalam pelukan itu.


"Mama menyuruhku berhenti menangis, tapi Mama tidak berhenti menangis sejak tadi!", protes Louis di tengah pelukan mereka.


Keluhan itu pula yang membubarkan pelukan besar itu. Lalu keempat orang itu tergelak sendiri menyadari betapa jeleknya wajah mereka setelah menangis lama.


brug


Terdengar suara benda jatuh dari arah luar pintu. Semua orang yang berada di dalam pun menoleh dan ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar.


"Kau ini kenapa tidak bisa diam, sih! Sakit, kan!", Sarah mengaduh sambil memegangi sikunya yang terasa nyeri.


"Maafkan aku, Sayang! Aku tidak sengaja!", ucap Sam seraya membantu istrinya itu berdiri.


Setelah mengomeli Sam, nyatanya Sarah malahan ingin pergi ke toilet lantaran panggilan alam yang membuatnya ingin pergi buang air kecil. Tak memperdulikan suaminya lagi, ia segera beranjak untuk pergi ke toilet. Tapi ternyata suaminya itu menyusulnya. Hingga akhirnya Sarah pun ikut masuk ke dalam perangkap Sam untuk mengulik informasi dengan berjalan ke arah ruangan yang tak semestinya mereka datangi.


Mereka berdua mendengar setengah pembicaraan keluarga Harris itu. Namun ia merasakan ponselnya terus bergetar di kantung celananya. Dengan tidak sabar ia mengambil ponsel di kantungnya itu dengan gerakan kasar Hingga membuat Sarah yang berada di belakangnya pun terjengkang ke lantai. Dan akhirnya kegiatan menguping mereka selesai.


"Apa yang kalian lakukan?!", seru Krystal dari arah pintu. Wanita itu bertolak pinggang dengan wajah galaknya. Lalu ada Louis dan juga kedua orang tuanya berdiri di belakang Krystal, menatap Sarah dan Sam dengan penuh tanda tanya.


-


teman-teman jangan lupa baca ceritanya babang Ben sama neng Rose ya,, ga kalah seru sama ceritanya Ken sama Ana kok 😉


selamat menjalankan ibadah puasa ya semuanya 🙏

__ADS_1


__ADS_2