Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 97


__ADS_3

Ken terkekeh mendengar pertanyaan Ana dengan wajah polos dan kebingungan. Ia memang belum menuturkan rencana yang ia miliki.


"Apa kau sudah tidak sabar untuk menikah denganku, heh?!", Ken menaikkan dagu Ana dengan telunjuknya. Seringainya melebar menatap Ana dengan senyuman menggoda.


"Sebenarnya siapa di sini yang begitu tidak sabar?!", ucapan Ana telak membuat Ken tersipu karena ia mengakui bahwa dirinya memang sudah tidak sabar ingin menjadikan Ana sebagai istrinya. Ia menahan bibirnya untuk tersenyum lebar dengan satu tangannya. Mereka terkekeh bersama.


"Masih ada beberapa urusan kantor yang harus aku selesaikan. Paling cepat mungkin pekan depan kita akan melangsungkan pernikahan", tutur Ken seraya membawa Ana masuk ke dalam dekapannya.


"Emmh?" Ana mendongakkan kepalanya lagi. Ia masih mencoba mencerna ucapan Ken. Wajahnya saat ini meminta Ken untuk menjelaskan kepadanya secara detail.


"Ia sayang, ada beberapa urusan kantor yang harus aku selesaikan sendiri. Sisanya akan diurus oleh Sam nanti. Aku ingin tak ada yang menggangguku saat aku cuti nanti. Karena setelah acara pernikahan kita berlangsung aku ingin kita berangkat bulan madu", Ken mendorong kepala Ana dengan sangat lembut untuk bersandar kembali ke dadanya.


"Benarkah?! Kita akan bulan madu?!", tanya Ana seolah tak percaya dengan mata berbinar. Ken mengangguk dengan senyuman.


"Yeay, kita jalan-jalan", ucap Ana kegirangan dengan wajah polosnya. Yang ada dipikirannya saat ini adalah pergi ke suatu tempat menikmati hari-hari di sana untuk melepas penat dan sebagainya, mencari-cari penghiburan dari diri sendiri dan kekasihnya.


"Ya, kita jalan-jalan! Di sekitar ranjang!", bisik Ken begitu menggoda di telinga Ana.


"Kau ini!", lagi-lagi wajah Ana merona. Ia memukul pelan bahu Ken sambil tersenyum malu. Bisa-bisanya Ken membahas masalah itu dengannya di saat mereka belum menikah. Dan lagi apa yang Ana bayangkan buyar seketika, saat Ken mulai menggodanya.


"Tapi Ken,, bagaimana dengan bundamu?", Ana masih belum bisa menghilangkan bayangan Nyonya Rima yang begitu sinis memandangnya tempo hari.


"Dengan atau tanpa restu darinya, aku akan tetap menikah denganmu!", ucap Ken begitu lembut namun terdengar tajam di telinga Ana.


Ia bisa merasakan ada keinginan yang sangat besar dalam diri prianya itu. Mulut Ana bungkam, ia tak bisa menyanggah dengan kata apa pun. Ana tak ingin ada perdebatan lagi dengan Ken. Saat ini ia akan mengikuti saja apa yang sudah Ken rencanakan. Meskipun dalam lubuk hatinya, ia masih merasa berat untuk menjalani hubungan tanpa restu dari orang tua Ken itu.


"Besok sore aku akan menjemputmu. Kita pilih gaun yang paling cantik untuk dirimu, oke", tambah Ken kemudian dengan sebuah ajakan yang menggiurkan.


"Tapi Ken...", Ana melepaskan diri dari pelukannya. Ia menjauhkan dirinya dari tubuh Ken, dengan wajah sendu ia menundukkan kepalanya.


Ken mengerutkan keningnya. Ia mulai tak suka dengan situasi saat ini, dimana menurutnya Ana akan membuat sebuah kalimat yang tak ingin ia dengar lagi.


"Tapi Ken... gaunnya tidak boleh lebih cantik dariku!", seru Ana bergegas keluar ruangan. Ia melebarkan senyumnya beriringan dengan langkahnya. Ia sangat puas bisa mengerjai Ken untuk ke sekian kalinya.


"Awas kau ya!", Ken mengigit bibir bawahnya. Ia tersenyum gemas menatap punggung Ana yang mulai menjauh.


***


Bukan lagi fajar ketika mentari mulai terasa hangat menyentuh permukaan kulit setiap insan, tapi teriknya belum menyakiti. Ini bukan pagi, bukan juga siang yang sudah menanti. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi saat ini di sebuah mansion besar nan mewah.

__ADS_1


"Apakah bosmu ada di dalam?", tanya wanita yang baru saja turun dari mobilnya. Wanita cantik yang memiliki tubuh tinggi semampai ini berdiri di depan pintu rumah besar itu.


"Ya!", seorang berpakaian serba hitam menjawab seraya menganggukkan kepalanya.


"Aku ingin bertemu dengannya. Aku sudah membuat janji dengannya", ucap wanita itu dengan nada sedikit arogan.


"Siapa nama anda?", pria berjas hitam itu bertanya tanpa ekspresi. Seolah ia memang sudah diset untuk bersikap datar.


"Aku Joice Alexander, katakan saja padanya aku ingin segera bertemu", lagi-lagi Joice bersikap layaknya tuan rumah di sana. Ia mengibas-ngibaskan tangannya seolah tak sabar untuk bertemu Tuan dari tempatnya berdiri.


"Silahkan masuk, Nona!", ucap pria itu datar setelah kembali datang dari arah dalam. Ia menghela tangannya mempersilahkan Joice masuk dengan wajah tanpa ekspresi.


"Ciihh!", Joice berdecak kesal saat ia tau bahwa pria berjas hitam itu masih bisa bersikap datar tanpa memperhatikannya sedikit pun. Lantas ia memasuki rumah mewah itu.


***


Mobil hitam itu bergerak dengan kecepatan sedang di jalanan yang tak begitu lengang. Di dalamnya duduk dengan mesra sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara. Dan di belakang kemudi seorang supir duduk bagai nyamuk yang segan untuk menghindari.


Ken dan Ana duduk berdampingan sambil berpegangan tangan. Mereka saling memandang dengan tatapan penuh pesona.


"Cantik!", puji Ken seraya mengecup punggung tangan Ana yang ia genggam.


"Lihat aku!", perintah Ken lembut.


Ana menggeleng, ia enggan melakukan hal yang akan membuatnya nampak bodoh karena ia juga sedang mengagumi ketampanan Ken yang tiada tara. Ia kembali menundukkan kepalanya.


"Lihat aku!", terdengar menuntut namun masih terdengar lembut.


Ana menggeleng lagi, namun dengan cepat Ken menengadahkan kepala wanita itu dengan sedikit paksaan. Hal itu membuat Ana mau tak mau menatap Ken dengan begitu dekat. Ana menelan salivanya dengan susah payah setelah akhirnya tersihir oleh ketampanan Ken saat ini. Setelah sekian lama, masih saja ia tak mampu mengendalikan dirinya jika harus memandang Ken dengan begitu intens.


"Apa aku tampan?", tanya Ken menguji Ana yang sedang lengah. Karena apapun yang akan Ana jawab merupakan jawaban yang jujur di saat ia tak memiliki kesan sepenuhnya.


Ana mengangguk dengan wajah polosnya. Tanpa sadar ia kembali membuat kesalahan yang akan membuatnya menjadi bahan tertawaan lagi.


Ken terkekeh seraya melepaskan tanagnnya dari wajah Ana.


Hal itu sontak membuat Ana membulatkan matanya lebar-lebar seraya menutup mulutnya dengan satu tangan. Lagi-lagi hal itu membuat Ana Ken makin tertawa dibuatnya.


"Kennn!!!", seru Ana sedikit kesal. Namun senyuman tetap terkembang setelahnya.

__ADS_1


Ya mereka memang pasangan yang amat serasi. Yang satunya nampak tampan dengan tuxedo hitam. Dan yang satunya nampak elegan dengan gaun hitam selutut. Gaun sederhana dengan butiran swarovski di seluruh bagiannya menjadi begitu elegan setelah Ana yang mengenakannya.


"Ken! Aku gugup!", ucap Ana tiba-tiba seraya mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.


"Tenang saja, sayang! Ada aku! Dan aku juga harus mengingat apa yang telah aku katakan sebelumnya", Ken mencoba untuk menenangkan Ana. Ia juga dapat merasakan telapak tangan Ana yang dingin dan berkeringat.


"Baiklah, aku percaya padamu", Ana menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ken untuk mengumpulkan sedikit saja keberanian dan rasa percaya diri untuknya nanti menghadapi Nyonya Rima yang kepadanya sangat tak menyukai.


***


"Kau masih ingat denganku, heh?! Kupikir kau sudah lupa untuk menemuiku!", seru pria paruh baya yang masih terbaring di rumah sakit.


Pria eksentrik itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari tersenyum canggung. Tanggung jawabnya sebagai pemimpin geng mafia besar sangatlah besar. Juga ada beberapa hal yang harus ia kerjakan sendiri itu membuatnya tak memiliki waktu untuk sekedar berkunjung menemui seniornya yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.


"Maaf, ayah!", ucap Ben sambil menggaruk alisnya.


"Kau masih berani memanggilku ayah?!", nada Tuan Danu sedikit melengking namun tak cukup untuk menyakiti kuping.


-


-


-


-


-


-


-


Maafkan author ya sudah seminggu ini enggak update. Karena kesehatan author yang kurang baik, jadi author meliburkan diri sementara beberapa waktu lalu..


Buat menebus waktu kalian yang udah kelamaan nunggu author akan update kasih kalian crazy up dengan konflik klimaks nya..


Baiklah, selamat membaca ya teman-teman.. sekali lagi author minta maaf ya 🙏


terima kasih buat kalian yang selalu dukung cerita ini ya 😊

__ADS_1


tapi jangan lupa buat terus kasih like, vote sama komentar kalian ya ...terima kasih 😘


__ADS_2