Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 75


__ADS_3

FLASHBACK ON


"Silahkan duduk, Ken! Jangan terlalu sungkan!", ucap Tuan Reymond yang sudah duduk terlebih dahulu di sofa ruangan dimana Tuan Danu di rawat.


"Sepertinya kita bukan lagi tuan rumah di sini, sayang!", ucap Ken diiringi senyuman dan Ana yang baru datang pun juga ikut terkekeh melihat tingkah tamunya itu.


"Emmh, paman!", panggil Ana ragu.


"Bisakah aku juga memanggilmu seperti itu?", tanya Ana hati-hati seraya menyunggingkan senyum canggungnya.


"Tentu saja, nak! Aku dan Danu merupakan teman sejak lama. Begitu juga dengan bocah yang sudah sukses ini!", jawab Tuan Reymond riang sambil menepuk bahu Ken yang sudah duduk di sebelahnya dengan gemas.


"Ughh! Kurasa paman masih sangat bertenaga di usiamu sekarang ini!", Ken mengelus-elus bahunya sambil mengernyit kesakitan.


Ana menutup mulut dengan satu tangan untuk menahan tawanya. Kapan lagi ia bisa melihat raja singanya dianiaya oleh seseorang selain dirinya. Hal ini merupakan pemandangan yang langka baginya.


"Paman mau kopi atau teh, atau sesuatu yang lainnya? Aku akan membelikannya untukmu", ucap Ana yang masih berdiri di hadapan mereka.


"Air mineral saja cukup, cantik!", jawab Tuan Reymond.


"Kau tidak menawariku, heh?", tanya Ken yang sudah menyilangkan tangannya di depan dada sambil menaik turunkan alisnya dengan gaya menggoda.


"Beli sendiri!", sahut Ana cepat dan langsung memalingkan wajahnya. Ia segera berjalan dengan cepat keluar ruangan sambil menahan senyumnya.


"Sebentar paman, sepertinya aku harus memberi pelajaran pada singa betinaku!", Ken beranjak tanpa mempedulikan respon Tuan Reymond yang nampak terkejut dengan sebutan singa betina pada Ana.

__ADS_1


Tuan Reymond terkekeh melihat tingkah sepasang kekasih itu. Kemudian ia memandang sendu ke arah temannya yang tengah terbaring tak sadarkan diri.


Di luar ruangan ternyata Ken berhasil menangkap Ana yang sudah berjalan lebih dulu. Ia meraih pinggang Ana dan mendekapnya dari belakang.


"Mau kemana kau? Aku belum memberi hukuman padamu. Jadi bersiaplah nanti! Sekarang kita masuk dulu, sampai paman Reymond datang ke sini pasti ada hal yang sangat penting untuk ia sampaikan. Kita jangan menyia-nyiakan waktunya. Dia juga orang sibuk seperti diriku", Ken sudah membalikkan tubuh Ana agar menghadap dengannya.


"Lalu minumnya bagaimana?", tanya Ana polos.


"Kau tak perlu memikirkannya, serahkan saja padaku", jawab Ken santai.


"Yang harus kau pikirkan adalah bagaimana nanti aku akan menghukummu nanti!", bisik Ken di telinga Ana.


Bulu-bulu di sekitar sana terasa bangkit dan Ana langsung merasakan geli yang membuatnya menahan senyum. Ia memukul bahu Ken pelan. Wajahnya sudah merona membuat pria dihadapannya menjadi gemas dan ingin segera memakannya. Ken mencubit pipi Ana hingga berubah menjadi seperti tomat.


Ken menarik salah satu tangan Ana yang menganggur, karena tangan yang satunya lagi sedang ia gunakan untuk mengelus pipinya yang terasa panas dan sakit akibat ulah Ken. Sedangkan Ken, ia telah selesai memberi perintah pada salah satu anak buahnya untuk membelikan minuman untuk mereka.


Setelah memasuki ruangan Ken langsung mendudukkan dirinya di samping Tuan Reymond, sedangkan Ana duduk di sofa tunggal bersebrangan dengan mereka. di


"Jadi kau sudah membawa kembali singa betinamu?!", ucap Tuan Reymond memecah keheningan di sana.


Ken yang sedang memakan buah apel tiba-tiba batuk karena tersedak. Ana tak membantunya tapi malah melemparnya dengan tatapan tajam penuh emosi. Tuan Reymond lantas tertawa sambil membantu Ken dengan menepuk-nepuk pelan punggungnya. Ana menyodorkan minuman kepada Ken dengan acuhnya, hal itu malah membuat gelak tawa Tuan Reymond semakin menjadi.


"Jadi Presdir Ken yang terhormat akhirnya tunduk pada Keana Winata?", goda Tuan Reymond pada Ken.


"Dia yang lebih dulu menyukaiku!", ucap Ken percaya diri sambil meredakan batuknya.

__ADS_1


"Hey, kau mau singa betinamu ini mengamuk rupanya?! Aku dulu hanya mengagumimu, puas! Kau yang lebih dulu menyukaiku!" ucap Ana ketus dengan nada penuh peringatan. Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


Gelak tawa Tuan Reymond yang sempat terhenti kini menjadi lagi menggema di ruangan tempat Tuan Danu dirawat.


"Danu lihatlah, putrimu! Dia benar-benar menggemaskan seperti yang selalu kau ceritakan padaku!", gelak tawa yang telah dinodai air mata itu telah berhenti dan berubah sunyi. Cairan bening itu telah mengalir di pipi Tuan Reymond. Kini pria paruh baya itu sudah menatap ke arah temannya dengan wajah murung nan sendu.


Perubahan ekspresi itu sontak juga berdampak pada Ana. Matanya sudah memerah dan menggenang air mata. Ken memperhatikannya, ia langsung menggenggam tangan Ana erat untuk menguatkannya. Suasana haru terjadi selama beberapa saat.


"Maaf jika aku telah merubah suasana hati kalian!", ucap Tuan Reymond setelah menyeka air matanya sendiri. Kini ia sudah memasang wajah cerianya kembali.


Sebenarnya ia sudah menahan diri untuk tidak terlihat lemah di depan Ana karena ia tau dari bawahannya bahwa beberapa hari pertama setelah kecelakaan, Ana lebih sering menangis dan murung. Ia tau seberapa besar pasangan ayah dan putrinya itu saling menyayangi. Jadi ia juga bisa memperkirakan bagaimana sedihnya Ana saat itu. Maka dari itu, ia memutuskan untuk tidak bersedih di hadapan Ana nantinya. Tapi sayangnya hati dan perasaannya tak dapat diajak bekerja sama, melihat kondisi temannya yang seperti itu tak bisa menghentikan dirinya untuk ikut bersedih juga.


"Sudah tak apa, paman!", ucap Ana yang juga telah menyeka air mata yang sempat menggenang di pelupuk matanya.


"Jadi maksud kedatangan ku hari ini adalah untuk menjelaskan sesuatu yang sangat penting. Karena hal ini juga sudah dipersiapkan oleh ayahmu sejak beberapa waktu lalu", Tuan Reymond mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya.


"Ini adalah surat kuasa yang telah ditanda tangani oleh ayahmu sebelumnya. Jadi saham sebesar 20% milik Danu di Winata Group akan diserahkan padamu mulai hari ini. Dan hal ini baru hanya aku, kau, Ken dan Danu sendiri yang mengetahuinya. Baru hanya kita berempat yang mengetahui ini semua. Danu sudah memprediksi hal ini sejak beberapa waktu lalu semenjak ia menerima ancaman secara tidak langsung dari adiknya. Ia menyerahkan seluruh sahamnya padamu Ana selaku putrinya dan ahli waris satu-satunya yang ia miliki. Hal ini ia lakukan untuk berjaga-jaga jika terjadi hal yang tidak diinginkan dalam waktu dekat ini. Dan benar saja, sesuai prediksinya sekarang ia tengah berbaring lemah di sana", penjelasan Tuan Reymond telah Ana perhatikan dengan seksama. Namun diakhir kalimatnya, mereka semua merubah wajah seriusnya dengan tatapan sendu ke arah Tuan Danu.


"Dan karena kau juga berada di sini!", Tuan Reymond memukul paha Ken pelan untuk memastikan orang yang ia tuju memperhatikan. Awalnya Ken terkesiap kaget, namun ia langsung memasang wajah seriusnya.


"Danu sangat berharap kau bisa menjaga putrinya setelah ia tidak ada nanti! Nikahilah Ana, Ken. Secepatnya! Begitu perintahnya padaku", ucap Tuan Reymond lambat-lambat.


"Paman!", Ken dan Ana berseru bersamaan. Air mata sudah mengalir di pipi Ana, sedangkan Ken memasang wajah seriusnya dengan tatapan tajam ke arah Tuan Reymond.


"Apa? Kau pikir aku gila?! Katakan saja iya! Kekesalan yang kau rasakan, aku sudah lebih dulu berucap padanya!", ucap Tuan Reymond dengan intonasi tinggi sambil menunjuk ke arah ranjang Tuan Danu.

__ADS_1


"Aku bahkan sudah memukulnya saat ia mengucapkan hal-hal tentang setelah ia tiada nanti! Bagaimana bisa dia dengan entengnya mengatakan semua permintaannya padaku. Apa dia tidak memikirkan perasaanku saat ini, saat aku harus menyampaikan semua ini sendiri, hah! Jika kau ingin menumpahkan semua kekesalan mu, tumpahkan saja padanya!", lagi Tuan Reymond menunjuk ranjang Tuan Danu dengan emosinya.


Bagaimana bisa dirinya menahan rasa sedih yang seperti ini. Ia harus menyampaikan semua wasiat dan pesan terakhir temannya itu sendirian, bahkan tanpa ada orang yang boleh menemaninya. Beban yang dipikulkan padanya terasa begitu berat, saat harus melihat putri temannya itu dengan lemahnya menangis meratapi ayahnya yang terbaring tanpa tau akan sadarkan diri ataupun tidak.


__ADS_2