
Suasana masih hening di dalam ruangan itu. Yang terdengar hanya bunyi dentingan jarum jam yang setia melekat pada salah satu bagian dinding kamar. Ana sejak tadi terus berkutat dengan pemikirannya sendiri. Tangannya bergerak tak jelas di atas nakas. Ia tengah melampiaskan kekesalannya lantaran hanya bisa memandangi dalang yang membuatnya harus merasakan hal-hal yang menyakitkan, terutama saat ayahnya meninggal dunia. Karena bahkan dirinya sendiri yang berstatus sebagai putri satu-satunya dari Tuan Danu tak dapat memimpin acara pemakaman ayahnya sendiri. Ia hanya bisa memandangi jenazah ayahnya dimasukkan ke liang lahat dari kejauhan tanpa bisa mendampinginya.
Ana menggertakkan giginya dan sedikit menggeram. Namun geramannya itu berhenti saat seseorang menerkamnya tiba-tiba. Ken, pria itu sudah memeluk Ana dari belakang dan melingkarkan satu tangannya yang tidak cedera ke bagian pinggang wanita itu dengan begitu eratnya. Sejenak Ana menikmati hangatnya pelukan yang sudah begitu lama ia rindukan, namun ia segera menyadari bahwa tangan Ken yang cedera terhimpit oleh tubuh mereka yang saling menempel satu sama lain. Ia melepaskan tangan Ken dan langsung membalikkan tubuhnya sehingga mereka saling memandang satu sama lain.
"Terima kasih Ana, terima kasih!", Ken menangkupkan salah satu tangannya pada pipi Ana dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih karena kau masih hidup!", Ken mengecup kening Ana begitu dalam hingga matanya terpejam. Terlihat di sana bahwa air matanya mulai merembes dan membuat bulu mata lentik milik pria itu basah.
"Terima kasih, terima kasih!", gumamnya terus menerus setelah memasukkan Ana ke dalam pelukannya yang paling dalam. Dengan posesifnya ia mengeratkan rengkuhan tangannya pada tubuh Ana yang sudah amat sangat ingin ia temui.
Ana menyandarkan kepalanya dengan nyaman pada dada bidang milik Ken. Ia pun ikut memejamkan matanya, menghilangkan kekalutan yang selama ini mendera dengan menikmati aroma maskulin yang selalu bisa membuatnya merasakan sebuah ketenangan. Selain mendiang ayahnya, hanya Ken yang ia punya untuk membuatnya merasa aman dan damai.
Haru yang Ken rasakan adalah perasaan yang sama yang Ana miliki saat ini. Air matanya pun mulai merembes keluar dari matanya yang terpejam. Lama kelamaan mengalir dan terus mengalir hingga suara isak tangis terdengar masuk ke telinga milik Ken.
Pria itu melonggarkan pelukannya kemudian mengangkat dagu Ana dengan lembut. Dilihatnya wajah Ana sudah banjir air mata. Dengan menggunakan satu tangannya, Ken menghapus air mata itu dengan hati-hati. Ken mengecup kedua mata yang basah itu secara bergantian. Kemudian ia mengecup ujung hidung Ana. Hingga akhirnya bibirnya mendarat pada bibir mungil merah muda yang sudah lama tak tersentuh olehnya.
"Sudah jangan menangis lagi ya!", Ken mengusap pucuk kepala Ana yang kembali meringsek bersandar pada dada miliknya.
"Tapi ayah, Ken!", ucap Ana sambil terisak.
"Biarkan ayah bahagia di sana, sayang! Saat ini masih ada aku yang akan selalu berada di sampingmu. Kau tau, aku sudah berjanji pada ayah untuk membuatmu bahagia. Ayah sangat ingin melihatmu selalu bahagia. Jadi tolong jangan menangis lagi, ya?!", ucap Ken untuk meredakan tangis Ana dan langsung mendapat anggukan kepala dari wanitanya itu.
"Dan aku berjanji tak akan membiarkan kejadian seperti ini terulang lagi!", mata Ken membulat besar dengan sorot mata tajamnya.
"Aku sungguh tak sanggup kehilangan dirimu, Ana. Aku bisa gila jika kau tak ada di sisiku. Aku tak mampu menanggung perasaan seperti itu lagi. Sungguh aku tak mampu! Kau adalah wanita pertama yang aku cintai, dan aku tak akan mencintai wanita manapun lagi jika kau tak ada", Ken melepaskan pelukannya pada Ana sehingga mereka saling berhadapan. Mata Ken mulai berkaca-kaca mengingat bagaimana perasaannya saat pertama kali ia mendapat kabar bahwa Ana telah tiada.
"Aku sangat mencintaimu, Ana. Sangat mencintaimu! Aku tak akan membiarkan siapapun memisahkan kita lagi, sayang!", ucapan Ken melemah dan melembut berbarengan dengan kening mereka yang saling berpaut.
__ADS_1
Cup
"Aku juga sangat mencintaimu, Ken!", ucap Ana dengan sorot mata yang begitu dalam setelah mengecup bibir prianya.
Perlahan Ken membalas kecupan lembut bibir wanitanya itu, ia memberi cukup tekanan di sana seraya memejamkan mata. Ana menyambut sentuhan lembut di bibirnya itu dan akhirnya ikut memejamkan matanya juga, menikmati cinta kasih yang Ken berikan padanya. Lalu keduanya beralih dengan saling ******* bibir masing-masing. Sepasang kekasih itu menyalurkan perasaan rindu dan kasih sayang yang begitu besar kepada satu sama lain yang telah lama mereka pendam.
Ken memperdalam kegiatannya dengan sedikit menekan tengkuk leher Ana dengan menggunakan satu tangannya yang tidak cedera. Ia memundurkan langkahnya hingga Ana terbawa dan membentur nakas yang berada di belakangnya. Kegiatan itu berlangsung terus menerus hingga keduanya kehabisan nafas dan memutuskan untuk menyudahi apa yang mereka mulai.
Ken menempelkan keningnya pada kening Ana. Mereka saling berebut oksigen dengan dada yang naik turun dan ritme yang amat cepat. Sejenak Ken menipiskan bibirnya lalu kembali ia menenggelamkan kepala Ana untuk bersandar pada dadanya. Ia merengkuh Ana, memeluknya dan mendekapnya erat. Seakan ketakutan akan kehilangaan Ana begitu besar datang pada pikirannya saat ini.
"Aku sangat mencintaimu, sayang! Aku tak ingin kehilanganmu lagi!", seru Ken dengan suara parau dan tatapan sendu yang memandang lurus ke depan. Ana tak mampu menjawab dengan kata-katanya, ia masih diliputi rasa haru saat mendengar ucapan Ken barusan. Hingga akhirnya ia mengangguk di sana, di dalam pelukan pria yang sangat dicintainya.
Kini Ana dan Ken sudah lebih rileks dengan perasaan mereka masing-masing. Mereka tengah duduk di salah satu jendela besar yang menghadap ke halaman. Ana bersandar pada dada bidang milik Ken sambil memainkan jemari tangan prianya itu. Sedangkan Ken terus menghujani pucuk kepala Ana dengan kecupan, namun matanya menatap lurus ke depan seolah tengah menerawang sesuatu yang memenuhi otak dan pikirannya saat ini.
"Sayang, mau kah kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi setelah kecelakaan itu hingga akhirnya kau bisa selamat dan bertemu diriku seperti sekarang ini?", tanya Ken yang langsung membuat Ana membalikkan badannya untuk menatap Ken langsung dengan serius.
"Tidak! Bukan begitu, aku hanya kaget saja tiba-tiba kau menanyakan hal ini", jawab Ana dengan senyum manisnya.
"Baiklah, aku akan bercerita!", Ana mengambil tangan Ken yang masih menempel pada wajahnya. Ia membalikkan badan lagi ke posisi semula dan melingkarkan tangan itu untuk memeluknya. Lalu ia mulai menceritakan kejadian naas yang menimpa mereka hingga akhirnya Ana dibawa dan dirawat oleh Ben.
"Lalu, bagaimana bisa sekarang pria gila itu merelakan kau untuk datang ke sini? Bukankah seharusnya dia senang setelah mendapatkanmu di sisinya tanpa perlu memberitahu keberadaanmu padaku?!", tanya Ken sedikit emosi setelah mendengat penuturan Ana yang sebagian besar adalah bentuk perhatian dan perlindungan Ben terhadap kekasihnya itu. Apa lagi Ken tau bahwa Ben sejak lama memiliki perasaan lebih terhadap Ana.
"Hey, mengapa kau jadi begitu bersemangat, sayang!", tegur Ana dengan kekehannya. Ia merasa lucu jika melihat Ken sedang cemburu.
"Kakak memang sedikit gila, tapi dia adalah pria yang baik hati. Tak pernah sekali pun di berniat merebutku darimu. Dia sangat tau bahwa aku sangat mencintaimu, sayang. Aku tau mungkin sangat menyakitkan baginya untuk merelakan ku seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, kita ini adalah orang dewasa yang harus bisa menghadapi perasaan kita masing-masing, meskipun hal itu diliputi kekecewaan, sayang!", ucap Ana seraya mengusap-usap punggung tangan Ken yang melingkar di perutnya.
"Kau tau, bahkan ini adalah ide gilanya supaya aku bisa segera bisa bertemu denganmu. Di tidak tahan melihatku terus saja bersedih. Aku ini kan adik kesayangan nya?!", tambah Ana dengan riang sambil membalikkan badannya.
__ADS_1
Ken mendengus kesal saat lagi-lagi ia mendengar Ana memuji pria lain di hadapannya. Ia memalingakan wajah dan mengerucutkan bibirnya, melempar pandangan keluar jendela untuk menghindari menatap Ana. Karena jika sudah menatap Ana, akan selesai sudah sesi kekesalannya setelah melihat wajah imut wanitanya yang sedang merajuk.
Cup
"Kau seharusnya berterima kasih kepada kakak, bahwa ia telah menyelamatkan dan menjaga diriku sampai saat ini, sayang?", Ana menangkup wajah Ken supaya menghadap ke arahnya.
Cup
Ana kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Ken karena prianya itu berusaha memalingkan wajahnya lagi.
Cup
Satu lagi ciuman saat bibir Ken masih saja mengerucut menahan kesal.
Cup
Satu lagi karena Ken tak urung mengubah ekspresi menyebalkannya. Namun segera Ken menahan tengkuk leher Ana dan memulai permainan bibirnya di sana. Sejenak Ken menyeringai penuh kemenangan, namun segera ia melanjutkan gerakan-gerakan yang membuat mereka terbakar. Ciuman kali ini lebih bergairah dan lebih lama. Sesekali keduanya tersenyum bersamaan. Dan segera Ana menghentikan pergulatan bibir mereka dengan menggigit bibir bawah Ken pelan. Ia merasa akan sangat berbahaya bagi keduanya jika nafsu sudah menguasai diri mereka saat ini.
"Kenapa berhenti?!", tanya Ken dengan nafas tersengal. Kening mereka kembali bertautan dan masih berusaha menetralisir nafas mereka yang masih pendek-pendek.
"Kau selalu saja punya cara untuk mendapatkan keuntungan!", ucap Ana sambil memukul pelan lengan Ken.
"Tentu saja, aku adalah seorang pebisnis handal! Kau sudah tau kan buktinya!", ucap Ken dengan angkuhnya sambil menyeringai lebar.
"Ayo kita lanjutkan! Bukankah kau juga mendapat keuntungan, sayang!", tambahnya seraya memberikan senyum menggoda.
"Tidak, tidak! Terima kasih", seru Ana yang mulai menjauh dari tubuh Ken. Ia memutuskan untuk duduk di pinggir ranjang. Ana melipat kedua tangannya di atas perut seraya memandang Ken dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Wah ternyata kau memang ingin aku mengambil keuntungan yang lebih banyak ya sekarang!", pria itu segera melompat dan mulai menghampiri Ana dengan senyum yang begitu manisnya.