Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 148


__ADS_3

"Kau pikir mataku hanya satu, heh!", Tuan Bram melemparkan senyum mengejek sambil membuang mukanya.


"Apa maksud, Paman?", Ana menyipitkan matanya.


"Jika memang kau punya banyak mata, lalu kenapa kau tidak tahu jika Ana masih hidup?!", pertanyaan Ken telak membuat Tuan Bram terdiam.


"Hentikan omong kosongmu, Tuan! Akui saja jika kau memang sudah kalah! Untuk apa menyombongkan diri lagi. Tak ada gunanya! Sekarang kau hanya harus merenungi kesalahanmu di dalam penjara", ujar Ken sambil menatap Tua Bram dengan ekspresi dinginnya.


Memang benar Tuan Bram memiliki banyak mata-mata yang ia kirim untuk memantau musuh-musuhnya. Tapi mengapa semua informasi penting tidak ada yang sampai ke telinganya. Bahkan mengenai fakta bahwa Ana adalah wanita dari Presdir Ken yang terhormat ini, mengapa ia bisa sampai tidak mengetahuinya. Ia jadi mempertanyakan kinerja asistennya selama ini, Yohan.


"Yohan! Apa kalian yang membungkam mulutnya?", Tuan Bram baru menyadari ada sesuatu yang salah.


"Dia sendiri yang bersedia bekerja untukku. Kau pikir orang itu tahan dengan tuan yang kejam dan bengis seperti dirimu yang bahkan menggunakan keluarganya untuk mengancamnya supaya mau terus setia kepadamu?!", ucap Ken sambil mencondongkan wajahnya ke depan memberi tekanan dengan auranya.


"Kau! Bagaimana kau tau hal itu?!", Tuan Bram mulai merasa terusik dan waspada.


"Bukankah sudah kukatakan, jangan terlalu sombong! Masih ada awan di atas awan, Tuan. Menyingkirkan dirimu sangatlah mudah bagiku, sayangnya keponakanmu ini selalu menahanku", Ken kembali menyandarkan punggungnya sambil merangkul bahu Ana lalu mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. Ia menunjukkan kepemilikannya terhadap Ana di depan Tuan Bram.


"Dia, wanita ini yang merupakan keponakanmu, putri dari kakakmu, sampai detik ini dia masih menganggapmu sebagai keluarga, Tuan. Tapi, apa sedetik saja kau pernah menganggapnya sebagai keluarga? Yang kau lakukan adalah menjadikan dirinya sebagai musuhmu, bukan keluargamu!", ucap Ken tajam. Jika di luar tadi Ana yang berbicara tentang isi hatinya. Kali ini Ken sudah tak tahan ingin sekali memberi kuliah kepada rubah tua yang entah masih memiliki hati atau tidak.


"Kau menjadikan dirinya dan juga kakakmu sendiri sebagai targetmu. Kau rela mengorbankan mereka yang masih terikat dengan darahmu demi mencapai keinginanmu. Bahkan kau bermain dengan nyawa mereka. Pantaskah kau masih disebut keluarga?!", suara Ken terdengar mulai emosional dan meninggi. Sejak kecelakaan Tuan Danu tempo hari, Ken sudah benar-benar menahan amarahnya kepada orang yang berada di hadapannya kini.


Ana meremas ujung dressnya dengan bibir bergetar. Matanya terasa panas dan seakan mulai mencairkan air mata yang semula membeku di dalam sana. Semua yang Ken katakan mewakili apa yang Ana rasakan dan apa yang memang ingin Ana sampaikan kepada pamannya itu. Ken menggenggam kepalan tangan istrinya itu lalu meremasnya dengan lembut. Ia menyalurkan kekuatan kepada istrinya itu.


"Sekarang, saatnya kau bertanggungjawab atas ketamakan yang telah kau perbuat selama ini, Tuan", Ken mengakhiri ucapannya tajam.


Tuan Bram menundukkan kepalanya selama Ken berbicara seolah ia tengah mencerna setiap kalimat yang terlontar untuknya. Namun tak dinyana, yang ia lakukan selanjutnya adalah tersenyum miring ke arah mereka berdua, Ana maupun Ken.

__ADS_1


"Aku tidak akan meminta maaf. Karena aku tidak pernah menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan. Semua yang kulakukan adalah demi apa yang memang sudah seharusnya menjadi milikku! Seharusnya memanglah milikku jika ayahmu tidak datang saat kakekmu memanggilnya!", ucap Tuan Bram sambil menatap tajam ke arah Ana.


Ken menggeram menahan amarahnya. Entah terbuat dari apa hati orang yang berada di hadapannya ini. Kepalan tangan sudah naik ke atas meja. Ken siap melayangkan tinju yang sangat kuat ke arah pria paruh baya di hadapannya ini. Ia sudah tidak peduli sopan santun dan tata krama. Ken sudah amat sabar sejak lama menghadapi pria busuk seperti Tuan Bram ini.


Ana menahan tangan Ken sambil menggeleng pelan. Biar ini menjadi urusan Ana. Selanjutnya adalah gilirannya yang berbicara, giliran Ana mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada pamannya itu.


"Aku juga tidak membutuhkan maaf darimu, Paman. Keluarga tetaplah keluarga, tak ada yang dapat merubah hal itu. Maka dari itu, meskipun kau tak ingin mengucapkan kata maaf itu, aku sudah memaafkanmu, Paman sejak lama. Hanya saja, kau masih harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau perbuat", ucap Ana dengan tenang setelah menyeka air matanya yang menggenang di ujung pelupuk matanya.


"Kalau begitu aku pamit dulu!", Ana bangkit lalu menarik tangan Ken untuk pergi dari sana. Dadanya benar-benar sesak saat ini. Di ruangan ini seakan oksigen hampir habis untuk ia hirup. Ana butuh udara segar secepatnya. Maka dari itu ia mempercepat langkahnya agar bisa cepat menghilang dari tempat itu. Ia pula tak menghiraukan ekspresi suaminya yang nampak tertegun dan pasrah ditarik begitu saja untuk mengekorinya.


"Aku punya satu permintaan!", seruan Tuan Bram menghentikan langkah Ana yang sudah sampai di ambang pintu. Ana tak menoleh ke belakang, ia hanya berdiam diri menunggu pamannya itu kembali mengeluarkan suara.


"Tolong jaga putriku! Hanya kau yang dia punya saat ini", ucap Tuan Bram seraya pergi meninggalkan ruangan itu menuju kamar tahanannya.


Suara itu terdengar tulus, Ana dan Ken bisa merasakannya. Tuan Bram sebenarnya memahami apa saja yang Ana dan Ken ucapkan sejak tadi, hanya saja egonya terlalu tinggi untuk mengakui kekalahannya. Permintaannya tadi terdengar seakan dia telah mengakui bahwa Ana memanglah keluarganya. Saat dia menghabiskan waktu di dalam tahanan nanti, memang hanya Ana lah keluarga yang Krystal miliki. Tak ada lagi yang bisa ia andalkan untuk menjaga putrinya selain keponakannya itu sendiri. Lalu karena merasa malu telah menelan ucapannya sendiri, ia memilih untuk segera pergi dari hadapan keponakannya itu.


Ken dan Ana saling melempar senyuman, lalu lelaki itu mengecup dalam kening istrinya. Penghargaan karena wanitanya itu telah berhasil mengatasi krisis di dalam keluarganya. Kemudian mereka memilih untuk meninggalkan tempat itu dengan perasaan haru dan damai.


***


"Kau yakin hari ini tidak akan bekerja?", tanya Ana pada suaminya yang sedang mengendarai mobil itu.


"Sudah kukatakan hari ini aku hanya ingin bersamamu, sayang!", Ken mengecup punggung istrinya itu.


"Ya, ya, ya! Aku tau kau sedang merayuku, kan?!", ucap Ana acuh sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku tidak mengerti maksud ucapanmu, sayang!", sungguh kali ini Ken serius bahwa ia memang tidak tau ke arah mana istrinya itu berbicara.

__ADS_1


"Jangan pura-pura lupa! Besok kau akan menikah dengan wanita licik itu, kan! Makanya hari ini kau merayuku supaya aku memberikan izin untukmu!", ucap Ana yang sudah terlihat kesal. Sekarang ia malah membuang pandangannya ke arah luar jendela.


"Sayang!", seru Ken tak suka dengan apa yang Ana bicarakan. Ken memperlambat laju mobilnya kemudian menepikannya. Ia harus berbicara serius dengan istrinya saat ini.


-


-


-


-


-


-


******Jangan lupa ya ikutin kisah Ben dan Rose di novel aku yang satunya dengan judul


🌹"Hey you, I Love you!"🌹


Dan terutama jangan lupa juga buat tinggalin like, vote sama komentar kalian,, okeh 😉


Love u teman-teman 😘


Stay strong and keep healthy ya 🥰


oh iya follow ig aku ya di @adeekasuryani

__ADS_1


nanti aku folback kalian lagi,, tambah banyak temen tambah bagus kan 😊****


__ADS_2