
Seorang pria duduk di sebuah restoran sambil sesekali ia sesap kopi hitam yang berada di hadapannya. Salah satu kakinya ia silangkan ke kaki lainnya, bersandar mencoba menenangkan diri. Berulang kali pria itu mengembuskan nafasnya dengan kasar. Akhirnya tiba juga saat bagi dirinya bertemu dengan wanita yang satu ini. Teman lamanya yang juga tak lain adalah sepupu dari kekasihnya itu. Ia harus menjelaskan sesuatu.
Louis menepati janjinya untuk datang bertemu dengan Ana. Kebetulan dia sedang berada di sekitar restoran ini, jadi Louis bisa lebih dulu sampai di sana. Jadi ia bisa menenangkan diri lebih dulu sebelum menghadapi singa betinanya Presdir Ken yang terhormat itu.
Perasaan tertekan ini telah membuat hatinya tidak nyaman sama sekali. Bukan tertekan karena ia akan berhadapan dengan Ana. Tapi perasaannya kini tertekan oleh masalah yang kini tengah menerpa dirinya. Masalah keluarganya, dan juga masalah Krystal yang tidak memberikan toleransinya sedikit pun terhadap hubungan mereka. Mungkin bertemu Ana dan Tuan Ken adalah hal yang sangat tepat. Mungkin saja mereka berdua bisa menjadi penengah dari masalah yang tengah ia hadapi saat ini.
bruk
"Pelan-pelan, Sayang!", tegur Ken lemah lembut pada Ana yang langsung meletakkan bokongnya di atas kursi dengan kasar. Dan Louis sempat kaget karena hal itu. Hanya sebentar, lalu ia bisa menguasai diri lagi. Sepasang suami istri itu akhirnya datang. Dan Ken pun mendudukkan diri di sebelah istrinya, berhadapan dengan tempat Louis berada.
"Aku akan pesankan minuman dulu!", Louis meniupkan nafasnya yang tak berdaya, namun ia masih bersikap tenang.
"Aku mau jus strawberry, jus mangga dan juga jus alpukat!", seru Ana menyampaikan apa yang diinginkannya, meskipun saat ini wajahnya masih terlihat kesal. Wanita itu merasa moodnya harus diperbaiki lagi dengan ketiga minuman itu.
"Baiklah!", jawab Louis menurut saja dengan keinginan ibu hamil itu.
"Apakah kau yakin, Sayang?", tanya Ken mencoba meyakinkan lagi. Ia menoleh ke arah istrinya itu keheranan. Apakah istrinya itu akan menghabiskan semua minuman yang dia pesan?! Tapi ya sudahlah! Siapa memangnya yang bisa melarang keinginan ibu hamil yang satu ini!
"Yakin! Kenapa memangnya? Tidak boleh?", Ana menaikkan dagunya dengan tatapan menantang. Lagipula jika tidak habis, masih ada dua orang itu kan yang akan menghabiskan pesanannya. Ana heran kenapa suaminya harus bingung seperti itu!
__ADS_1
"Boleh, tentu saja boleh! Kau juga bisa memesan seluruh minuman yang ada di sini, Sayang! Asalkan istri dan anakku senang!", dengan sabar Ken mengusap pucuk kepala istrinya itu. Ken benar-benar yakin jika mood istrinya sekarang menjadi buruk kembali.
Padahal tadi ia sudah berhasil memperbaikinya. Sekarang malah begini lagi. Karena kali ini bukan disebabkan oleh dirinya, maka ia masih bisa sedikit bersantai. Suaminya ini tidak akan menjadi satu-satunya bahan pelampiasan, karena saat ini ada seseorang bersama dengan mereka.
"Huh!", Ana memasang wajah cemberutnya sambil melipat tangan di depan. Ia memandang lurus dulu ke depan, sebelum akhirnya tatapan kesalnya itu ia alihkan kepada Louis yang berada di sampingnya.
Pria itu sedang memesankan minuman yang tadi Ana sebutkan kepada pelayan. Tak lupa ia juga memesankan kopi sesuai dengan keinginan Tuan Ken, karena ia sudah bertanya sebelumnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?", tanya Ana tak basa-basi setelah pelayan tadi pergi. Tatapan mata Ana sangat menginterogasi.
"Ku pikir saudaramu sudah bercerita, bukan?!", untuk yang ke sekian kalinya Louis menghela nafasnya.
"Belum! Sarah yang memberitahuku! Itu pun tidak jelas informasinya! Hanya saja, mendengar jika rencana pernikahan kalian akan batal, aku otomatis marah. Tapi aku masih memiliki nilai sportivitas yang tinggi, jadi aku menunggumu memberi penjelasan yang masuk akal kepadaku!", Ana tak menurunkan kadar ketajaman tatapannya sama sekali meskipun ia mau memberi Louis kesempatan untuk membela diri.
Pria itu tidak mengurangi sedikit pun cerita sesungguhnya mengenai masalah yang kini sedang dihadapinya. Sama dengan apa yang Krystal ceritakan kepada Sarah, ini memang berawal dari ayahnya yang mendadak jatuh sakit dan kosongnya bangku pemimpin di perusahaan yang ayahnya itu miliki. Belum lagi saat ini perusahaan itu juga dalam kondisi tidak baik. Dan hal itu jelas sudah menjadi tanggung jawab Louis sebagai ahli waris satu-satunya.
"Kau tahu An, aku tidak mendapatkan izin sepenuhnya dari keluargaku ketika aku memutuskan untuk terjun ke dunia hiburan. Mau dikata apa lagi, aku ini memang anak pembangkang yang bersikeras demi mendapatkan cintanya!", Louis tersenyum pahit mengenang masa-masa saat ia memutuskan untuk mengikuti jejak Krystal yang sudah lebih dulu masuk ke industri itu.
"Mereka hanya membuat satu permintaan, ketika suatu saat perusahaan benar-benar membutuhkan, aku harus benar-benar kembali!", lelaki itu membuang pandangannya sambil menuturkan keinginan orang tuanya kala itu.
__ADS_1
Dan saat inilah masa yang diinginkan oleh kedua orang tuanya. Dimana ayahnya yang sedang terbaring lemah itu menyerahkan semua tanggung jawab mengenai perusahaan kepada putra tunggalnya itu. Lalu apa Louis bisa menolak?! Meskipun ia sangat keras kepala, apalagi dia ini merupakan anak lelaki satu-satunya yang selalu dimanja, tapi ia memiliki rasa tanggung jawab yang besar di dalam dirinya. Sudah tentu ia tahu apa yang harus menjadi keputusannya.
Tapi sayang, apa yang sudah ada di dalam pikirannya itu terbentur dengan hubungan serius yang telah ia miliki dengan Krystal saat ini. Angan dan rencana yang telah dimiliki keduanya kini jadi berantakan.
"Aku harus kembali ke negara F, An! Perusahaan sedang menungguku di sana! Tapi Krystal keberatan untuk menjalani hubungan jarak jauh denganku. Paling tidak untuk sementara ini, meskipun aku belum tahu kapan aku bisa menyelesaikan masalah di sana. Aku sangat mencintainya, An! Kau tahu itu! Aku tidak ingin kehilangan Krystal! Tidak ingin, An! Kau tahu kan, bagaimana perjuanganku selama ini! Tapi bagaimana cara meyakinkan saudaramu itu tentang hal ini?! Aku sama sekali tidak tahu!", ia mengacak rambutnya sendiri dan tampak frustasi. Setelah itu bahkan tatapannya terlihat kosong untuk beberapa saat.
Tepat setelah semua penuturan Louis itu, pesanan mereka datang. Ana mengambil jus strawberry terlebih dahulu untuk ia coba. Sedangkan Ken, ia mengambil cangkir kopi pesanannya. Sepasang suami istri itu nampak berkutat dengan pemikiran mereka masing-masing setelah mendengarkan semua ucapan Louis tadi.
"Apakah kau sudah mencoba meyakinkan Krystal tentang hal ini? Apakah benar-benar tidak ada titik temu di antara pemikiran kalian masing-masing?", Ana mengusap dagunya sambil mengerucutkan bibir, matanya mencoba menembus pemikiran Louis saat ini.
"Sejujurnya, aku meminta Krystal untuk berhenti juga dari dunia hiburan dan ikut bersamaku setelah menikah nanti. Dia setuju dengan ide itu, tapi yang jadi permasalahan adalah waktu dimana aku masih sibuk dengan urusan perusahaan. Krystal tidak mau memberikan waktu dan kesempatan untukku, jika kami pada akhirnya tetap menjalani hubungan jarak jauh! Krystal tidak bisa, ia tidak yakin hubungan seperti itu akan berhasil. Dan sampai sekarang kami belum berbicara lagi!", Louis menatap cangkir kosong yang baru saja ia tanggalkan isinya. Ia gerak-gerakkan cangkir itu dengan pandangan tak terbaca.
"Jadi seperti itu!", Ana menganggukkan kepalanya berulang kali seraya meletakkan jus strawberry di tangannya, lalu mengambil jus mangga. Ia seruput minuman berwarna jingga itu dengan penuh kenikmatan.
Ken menatap gelas jus strawberry yang isinya tinggal setengah. Lalu satu gelas full jus alpukat, belum lagi jus mangga yang masih berada di tangan istrinya itu. Hanya melihatnya saja, lelaki itu sudah merasa sangat kenyang. Jadi bagaimana dengan Ana yang benar-benar meminum ketiga jus itu?! Ya sudahlah! Ken mengangkat kedua alisnya seraya menghela nafas tak berdaya.
"Jadi An, apa yang harus aku lakukan?", tanya Louis dengan wajah putus asanya. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan jika hubungannya dengan Krystal akan berakhir begitu saja. Padahal perjuangannya selama bertahun-tahun ini sudah sangat berat. Baru bahagia sebentar, kenapa sudah datang lagi cobaan besar seperti ini pada hubungan mereka?!
"Kenapa tidak kau nikahi saja dia sekarang juga?!", ungkap Ken tiba-tiba sambil meletakkan cangkir kopi miliknya ke meja. Wajah lelaki itu santai, berbeda dengan wajah Louis yang matanya hampir saja keluar.
__ADS_1
uhuk,, uhuk,,
"Ap,, apa?", Ana hampir saja tersedak saat sedang menikmati jus mangganya. Wanita itu pun ikut terkejut mendengar penuturan suaminya.