Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 120


__ADS_3

Wajah Joice nampak memerah, ia terlihat kesal ketika melihat dress mahalnya kotor akibat ulah Ana. Sedangkan Ana, ia menutup mulutnya agar Joice tak dapat mendengar bahwa ia kini sedang tertawa.


"Rasakan! hahaha", ucap Ana dalam hati.


Joice menundukkan kepalanya untuk melihat dengan jelas bagian dressnya yang kotor. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan menatap Ana dengan murka.


"Dasar kurang ajar!", hardik Joice dengan begitu marahnya. Tangannya sudah melayang ke udara dan siap mendarat pada pipi Ana. Namun seketika terhenti, karena saat ini tangannya tengah di cengkeram kuat oleh seseorang.


Sam memilih untuk tidak menghiraukan saran dari Han. Mengingat temperamen kakak iparnya yang buruk, ia jadi khawatir akan terjadi sesuatu di bawah sana. Jadi Sam memutuskan untuk segera turun, menyusul kemana kakak iparnya berada. Dan dirinya dibuat marah ketika melihat tangan lancang itu bersiap menjejakkan samar merah pada pipi Ana.


Sedangkan Ana, sejak awal ia sudah berniat untuk memprovokasi Joice. Dengan begitu mungkin akan semakin memperbaiki moodnya agar berangsur membaik, pikirnya. Lalu ketika ia mulai melangkah, dari atas ia melihat Sam berjalan ke arah anak tangga dan sudah pasti tujuannya adalah ke lantai bawah. Hal itu menambah semangat Ana untuk melakukan hal lebih kepada Joice. Karena apapun yang akan ia lakukan nanti, Sam pasti akan membelanya. Ana menyeringai akhirnya.


"Apa begini kelakuan calon istri kakakku?!", Sam menampilkan aura seram yang bahkan jarang sekali ia tunjukkan kepada siapapun. Tekanan yang ia berikan cukup kuat meski tak sebanding dengan aura yang Ken miliki. Namun hal itu sudah cukup membuat nyali Joice menciut. Tangannya yang dicengkeram kuat tiba-tiba tak memiliki daya untuk melepaskan diri. Matanya yang tadinya nyalang memandang ke arah Sam, seketika meredup dan bola matanya bergerak ke bawah tak berani menatap langsung ke arah Sam.


Ana tersenyum puas melihat hal itu. Jarang-jarang ia melihat Sam yang penuh kharisma seperti ini, karena biasanya pria itu selalu menjadi bahan bullying baginya. Ditambah lagi dengan kaki Joice yang sedang gemetar, Ana makin merekahkan senyumannya.


"Ta.. tapi Sam! Dia telah mengotori pakaianku, mungkin.. mungkin nodanya tidak bisa hilang. Dan ini.. ini sangat mahal!", ucap Joice hati-hati sambil berusaha melepaskan tangannya yang masih dicengkeram kuat oleh Sam.


"Uangmu sangat banyak, bukan?! Kau bisa membelinya lagi nanti", ucap Sam dingin.


"Dan itu hanya masalah sepele, tidak usah kau besar-besarkan!", ucap Sam sambil menghempas kasar tangan Joice yang ia cengkeraman.


Terlihat jelas kekuatan yang Sam keluarkan hingga meninggalkan bekas kemerahan pada tangan Joice. Wanita itu merintih kesakitan sambil memegangi tangannya. Tentu saja bibirnya mencebik kesal ke arah Sam yang melewatinya sambil lalu.


"Lihat saja nanti ketika aku sudah menjadi istri kakakmu, , kau pasti akan aku bereskan!", kecam Joice dalam hati.


"Silahkan Nona, Dokter sudah menunggumu di atas!", ucap Sam sopan kepada perawat itu yang tak lain adalah Ana. Tangannya menghela memberi jalan supaya Ana lebih dulu menaiki tangga. Ia tersenyum ke arah Ana seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Terima kasih Tuan!", Ana juga mengedipkan sebelah matanya ke arah Sam. Mereka berdua tersenyum penuh arti.


Dengan riang Ana menaiki tangga itu terlebih dahulu. Lalu Sam menyusul di belakangnya.


"Ambilkan orange jus yang baru. Dan jangan katakan apapun pada kakakku!", Sam menyuarakan ultimatum nya yang terdengar dingin saat melewati Joice.


"Dasar bocah sialan! Awas saja kau!", umpat Joice dalam hati.


"Aku tidak menyangka kau bisa jadi sekeren itu!", ucap Ana tiba-tiba saat mereka sudah di lantai dua. Tangannya menepuk sebelah bahu Sam agar orang itu menoleh ke arahnya, lalu ia tersenyum bangga padanya.


"Jika sudah menyangkut orang kesayangan, maka aku akan berubah wujud!", gurau Sam sembari menampilkan senyumnya yang begitu lebar.


"Dasar kau ini!", Ana tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar jawaban yang Sam berikan. Adik iparnya ini memang konyol.

__ADS_1


"Apalagi jika Sarah melihat ekspresi mu tadi, kurasa pasti dia akan langsung menyukaimu!", goda Ana seraya menyenggolkan bahunya ke arah bahu Sam.


"Astaga, kakak ipar bicara apa sebenarnya?!", wajah Sam memerah seperti tomat. Ia jadi merindukan wanita yang sudah lama tak dijumpainya.


"Tenang saja aku pasti akan membantumu mendapatkan hatinya!", ucap Ana serius. Ia membetulkan posisi kacamatanya lalu tersenyum ke arah Sam.


"Ah, kakak ipar! Kau memang yang terbaik!", ucap Sam kegirangan. Tangannya sudah membentang siap memeluk Ana. Namun ternyata mereka sudah sampai di depan pintu kamar Ken, sehingga Ana tak menghiraukan Sam dan memilih untuk segera masuk ke sana.


"Aiisshh, kakak ipar!", ucap Sam kesal karena ia hanya dapat memeluk udara. Lalu ia pun segera menyusul masuk ke dalam.


Sedangkan Joice, di bawah sana ia masih sibuk membersihkan dressnya yang kotor. Lalu ia segera mengambil segelas orange jus lagi dan setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamar Ken.


***


"Anda darimana saja, Tuan?", bisik Han pada Sam.


"Aku baru saja melakukan hal keren!", jawab Sam setengah berbisik namun tak lupa ia menampilkan seringainya.


"Apa maksudnya, Tuan?", bisik Han lagi yang belum paham maksud dari ucapan Sam.


"cekk,, kau ini!", Sam berpura-pura kesal karena setelah itu ia tersenyum lagi.


Atmosfer ruangan itu belum juga hangat setelah Ana kembali. Dan lagi sepasang kekasih itu masih juga melemparkan tatapan bermusuhan pada satu sama lain. Ben hendak bertanya pada Ana mengenai apa yang baru saja dilihatnya tentang pandangan mata antara dirinya dan Ken. Namun suara langkah kaki mengurungkan niatnya.


"Ken, aku sudah membawakan orange jus yang kau minta!", ucap Joice riang lalu berinisiatif mendudukkan dirinya di tepi ranjang karena setelah Nyonya Rima memutuskan untuk berdiri.


"Ayo minumlah!", ucapnya lagi seraya menyodorkan gelas yang ada di tangannya kepada Ken.


"Letakkan saja di sana dulu!", ucap Ken dingin seraya menunjuk ke arah nakas di samping ranjangnya agar Joice menaruh orange jus itu di sana.


"Joice, ada apa dengan pakaianmu?", tanya Nyonya Rima setelah memperhatikan bagian depan dress itu basah.


"Se, , sesuatu terjadi, Tante!", ucapnya terbata sambil sesekali melirik ke arah Sam dan Ana secara bergantian.


"Tenang saja ini bukan masalah besar!", ucap Joice sambil tersenyum ke arah Nyonya Rima.


"Jadi sayang, kapan kau akan melangsungkan pernikahan kalian?", tanya Nyonya Rima tiba-tiba.


"Emmh, aku bagaimana Ken saja tante", jawab Joice sambil menatap Nyonya Rima dan Krn bergantian dengan malu-malu.


"Cehh!", Ana berdecak kesal melihat tingkah wanita itu. Ia memandang jijik ke arah Joice.

__ADS_1


Tentu saja Ken melihat setiap tingkah Ana karena ia tak melepaskan tatapannya dari wanita yang ia cintai itu. Sesaat ia menampilkan seringainya.


"Nikmati saja permainan ini, sayang!", ucap Ken dalam hati.


"Lihatlah Ken, Joice menunggu keputusan mu!", ucap Nyonya Rima pada Ken yang belum memberikan jawaban.


"Bunda, jangan terlalu memaksa kakak. Bagaimana jika menunggu tangan kakak pulih dulu dari...", Sam berniat membantu kakaknya namun segera disela.


"Satu minggu lagi!", suara Ken tenang namun nyaring dan jelas masuk ke dalam indera pendengar setiap orang yang berada di sana.


Semua mata terbelalak lebar mendengar penuturan Ken. Tak terkecuali Ana yang terbatuk-batuk karena begitu terkejutnya. Ben dengan perhatian menepuk-nepuk punggung Ana untuk membantu meredakan batuknya. Ken menatap tak suka ke arah pemandangan itu, lebih tepatnya ia sedang cemburu saat ini. Tau sendiri bukan, jika singa betinanya itu tidak bisa disentuh oleh pria lain, karena amukan raja singa amatlah mengerikan. Namun Ken berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang. Hanya saja sebelah tangannya mencengkram kuat selimut yang ia pegang.


"Bisakah kau ulangi lagi ucapanmu, sayang!", pinta Nyonya Rima begitu senangnya hingga ia meminta Ken mengucapkan kembali keputusan yang Ken ambil agar ia bisa mendengarnya dengan lebih jelas.


"Satu minggu, waktunya satu minggu lagi!", ucap Ken lagi namun masih tetap dingin. Wajahnya seperti biasa, datar tak terbaca.


"Benarkah Ken?!", ucap Joice seolah tak percaya dengan binar di matanya.


"Emmhh,,,,", Ken mengangguk lemah. Sejujurnya ia sangat malas mengakui ini semua dengan Joice sebagai pendampingnya.


"Terima kasih, Ken!", Joice siap menghambur ke arah tubuh pria itu karena begitu gembira.


Tapi tetap saja Ken tak sudi disentuh oleh wanita licik itu. Ken menggunakan satu tangannya yang tak cedera untuk menjadi perisai bagi tubuhnya dari Joice. Ia mengangkat tangannya agak tinggi untuk menahan tubuh Joice yang akan menghambur ke arahnya.


Ya, wanita itu sejenak nampak kecewa perihal tingkah Ken padanya. Namun, lagi-lagi ia menampilkan topengnya dengan tersenyum dan memundurkan diri untuk kembali duduk dengan tenang.


"Terima kasih, Ken!", serunya lagi seraya tersenyum malu.


"Sabarlah Joice, lambat laun Ken pasti akan menerima dirimu sepenuhnya", ucap Nyonya Rima lembut merasa tak enak hati sambil mengelus punggung calon menantu yang diakuinya itu.


Mendengar hal itu hampir semua yang ada di sana mendesis kesal tak terima. Namun mereka mengecilkan volume suara itu agar tak terdengar oleh Nyonya Rima maupun Joice. Terutama Ken yang segera memalingkan wajahnya ke arah lain dengan tatapan tak suka.


"Heh, jangan harap! Siapa pun tak akan ku biarkan mengambil priaku!", kecam Ana dalam hati.


Mata Ana mendelik besar ke arah sana, dimana Nyonya Rima dan Joice tengah bercengkrama dengan riangnya. Lalu tanpa sengaja, tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Ken yang sedang memandangnya dengan ekspresi tak terbaca. Ana jadi teringat bahwa sebelumnya ia dalam kondisi bertengkar dengan Ken. Jadi dengan egonya yang masih tinggi, Ana memalingkan wajahnya sambil mendengkus kesal. Ekspresi Ana saat ini adalah ekspresi kesukaan Ken dimana Ana nampak menggemaskan menurutnya. Sekilas Ken menaikkan kedua sudut bibirnya.


"Ahh, kapan Bunda akan pulang?! Aku sudah muak melihat wajah wanita licik ini!", gerutu Ken dalam hati.


Akhirnya sebuah ide keluar dari otaknya yang cemerlang. Ia memijit-mijit keningnya sambil melirik ke arah Sam dengan isyarat dengan matanya. Adiknya itu mengernyitkan alisnya bingung dengan maksud dari isyarat yang kakaknya berikan.


"Hah, Tuan Sam! Kapan otakmu bekerja?!", gumam Han.

__ADS_1


__ADS_2