
Perlahan Joice bangkit dari posisinya, lalu dengan tubuh yang masih gemetar ia mencoba merangkak mendekat ke arah cairan merah itu berada.
"Itu pasti hanya halusinasiku saja, kan!", bibir Joice gemetar berusaha masih berpikir positif mengenai pemandangan yang ada di depannya.
Cairan merah itu tepat berada di pinggir ranjangnya. Setelah cukup dekat, ia menguatkan jemarinya untuk menyentuh cairan merah pada inisial huruf A itu. Ia dekatkan ujung jarinya ke arah indera penciumannya, cairan itu berbau amis.
"Darah! Ini darah!", gumamnya lirih.
Joice langsung beringsut menempel ke pinggir ranjangnya. Ia duduk dengan dua kaki yang ditekuk rapat menempel ke dada. Tangannya memeluk erat kedua kakinya dengan tubuh yang gemetar hebat.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Ini tidak nyata! Tidak!", suaranya yang tersekat makin menghilang bersamaan dengan wajahnya yang tenggelam di antara lututnya.
"Apakah itu Ana?! Tidak, tidak mungkin! Wanita sialan itu telah mati! Ya, telah mati!", Joice mengangkat kepalanya saat mengingat inisial A itu. Lalu ia tersenyum miring mengingat lagi bahwa Ana telah mati di tangannya. Rasanya bahagia sekali mengetahui saingan terberatnya sudah menghilang. Tapi,, tiba-tiba wajahnya berubah pias dan tubuhnya kembali gemetar.
"Hantu,, apakah itu hantunya?! Apakah dia telah berubah menjadi hantu dan akan balas dendam terhadapku?! Tidak! Itu tidak mungkin!", Joice terus menggeleng saat wajahnya kembali ia tenggelamkan di antara lututnya. Ia tidak bisa menerima kenyataan jika khayalannya kini telah membuat sebuah gambaran hantu Ana akan balas dendam kepada kepada dirinya.
Pelan ia mengangkat wajahnya hingga sebelah matanya sedikit terlihat. Mata itu melirik tajam ke arah tulisan dengan cairan merah.
"Tidak, itu tidak akan pernah terjadi! Derajat hantu lebih rendah daripada aku yang seorang manusia. Aku tidak takut, tidak takut!", sebenarnya kalimat itu ia gunakan untuk menghibur diri dan menguatkan keberaniannya saat ini. Ia tak menampik jika jauh dalam lubuk hatinya saat ini, nyali yang ia punya masih menciut. Dapat terlihat jelas dari tubuhnya yang masih gemetar dan tangan yang mencengkeram erat kedua kakinya.
***
__ADS_1
Sedangkan di lobby apartemen yang sama, Ken setengah berlari menghampiri mobilnya. Tubuhnya terasa panas, hingga ia membuka kancing jasnya dan mengendurkan ikatan dasinya. Ia tahu sebab apa yang menimbulkan reaksi seperti ini pada tubuhnya, hal ini terjadi karena tanpa sengaja ia menelan sedikit teh yang sudah Joice buatkan. Dan benar sesuai perkiraannya, wanita licik itu mencampurkan sesuatu di dalamnya. Kini rasa panas telah menjalar ke seluruh tubuhnya hingga wajahnya memerah, meski tak terlalu menyakitkan seperti yang ia perkirakan jika ia sampai menenggak minuman itu sampai habis. Namun rasa ini sangat tak nyaman baginya. Hanya Ana, hanya istri tercintanya yang dapat mengobati rasa tidak nyaman di tubuhnya ini.
"Sam, kau urus hal ini dengan Han dan yang lainnya. Kali ini biar Nona Sarah yang mengambil perannya. Aku butuh Ana sekarang!", ucap Ken dengan cepat setelah mencapai mobilnya.
Saat itu Ana tengah dirias oleh Sarah dan Risa untuk melakukan misi selanjutnya. Namun melihat keadaan kakaknya yang seperti ini, Sam langsung paham apa yang terjadi. Ia segera memerintahkan Sarah menghapus riasan pada wajah Ana dengan cepat. Jujur saja, Sarah juga menjadi panik karena ia merasa dalam tekanan besar saat Ken melihat kegiatannya dengan tatapan tajam seakan sudah habis kesabaran.
"Ada apa sebenarnya?", tanya Ana hati-hati pada Ken. Tapi sedikitnya ia paham, karena bukan sekali dua kali ia melihat seorang pria dalam keadaan seperti ini saat bekerja di club malam milik ayahnya dulu.
"Aku akan menjelaskannya nanti!", Ken segera menarik tangan Ana untuk masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
"Apa kau bersedia Sarah menggantikan Nona Ana?", tanya Han sopan saat mobyio bosnya sudah menghilang.
"Tuan Sam, saya akan ke sana dulu. Anda bisa berjaga di sini dengan Risa dan Sarah", Han berjalan ke arah sudut saat melihat seseorang berjalan di area itu.
"Baiklah, ayo kita mulai kak! Kau bantu aku merias ya", Sarah dan Risa pun memulai kerjasama mereka.
***
Wakti sudah menunjukkan pukul 12 siang. Joice sudah rapih dengan setelan formalnya untuk berangkat ke kantor. Tadi ia memanggil petugas kebersihan untuk membersihkan kamarnya dari cairan merah itu. Dan membungkam mulut orang itu agar tak ada yang mengetahui hal itu kecuali dirinya. Kini ia sudah memulihkan kepercayaan dirinya lagi. Dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, Joice melangkah anggun menuju mobilnya yang berada di area parkir.
Kebetulan sekali, entah mengapa area parkir itu terasa sepi dan mencekam. Tapi ia berusaha menetralisir perasaan dan mimik wajahnya saat ini. Joice tinggal beberapa meter dari mobilnya. Dari sudut matanya ia merasakan ada suatu bayangan lewat dari arah samping tak jauh darinya. Namun saat ia menoleh ke arah itu, ia tak menemukan apapun bahkan ketika kepalanya sudah berputar hampir 180 derajat untuk menyapu area di sekitarnya.
__ADS_1
Pikiran negatif mulai menggerogoti dirinya. Apalagi baru saja ia juga mengalami hal buruk di dalam kamarnya. Kini ia sudah sampai di samping pintu mobil miliknya. Sambil menoleh ke kanan dan kiri terus menerus, tangan gemetarnya merogoh tas jinjingnya untuk mengambil kunci mobil. Saking gemetarnya, saat kunci mobil itu sudah ia dapatkan, malahan akhirnya terjatuh di sebelah kakinya. Joice membungkukkan tubuhnya, kunci itu sudah di raih, tapi rasanya ia enggan untuk mengangkat kepalanya karena ia merasa seseorang sedang berdiri di belakangnya. Lututnya mulai lemas. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Joice berusaha berdiri sambil berpegangan dengan handle pintu mobil. Sekali lagi, ia beranikan diri untuk menoleh ke arah orang yang tadi berada di belakangnya. Namun tetap saja, hasilnya adalah nihil. Tak ada siapapun di sana.
"Joice!", suara seorang wanita memanggilnya dengan alunan lembut namun tetap menyimpan simfoni yang menakutkan.
Joice segera menoleh ke arah suara itu berasal. Suara itu berasal dari mobil yang berada di samping mobilnya.
"Siapa kau?", suaranya gemetar menyiratkan sebuah ketakutan yang mendalam saat melihat masih tak ada sosok apapun di sana.
Namun saat ia membalikkan tubuhnya, tiba-tiba lampu mobilnya yang berada di dalam menyala. Dam nampak seorang wanita tengah terduduk di kursi pengemudinya. Wanita itu mengenakan dress yang sama persis dengan dress terakhir yang ia kenakan saat mengalami kecelakaan. Namun bedanya, pakaian itu sudah compang-camping dan berlumuran darah. Dan Joice mengingat dengan jelas akan hal itu.
Keringat dingin, lutut lemas, dan tubuh yang gemetar, lengkap sudah kekacauan yang ia rasakan. Joice membekap mulutnya dengan erat, lalu memundurkan langkahnya dengan amat perlahan. Jantungnya berpacu sangat kencang, rasanya organ dalam tubuhnya itu akan segera lepas dari tempatnya.
Deg
Lampu mobil itu menyala lagi dan menampilkan wajah menyeramkan seorang wanita dengan banyak darah di wajahnya. Tampilan menyeramkan itu mendekat ke arah luar saat jendela mobil itu tiba-tiba terbuka. Lalu tertutup lagi dengan cepat bersamaan juga dengan menghilangnya sosok hantu wanita itu.
"Aaaaaaaakkhh! Aaaaaaaakkhh!", Joice berteriak histeris seraya membalikkan tubuhnya. Lututnya yang lemas tak mampu menopang tubuhnya hingga akhirnya ia merosot dan berjongkok sambil menutupi kedua wajahnya dengan tangan yang mengepal kuat.
"tak! tak!"
Tiba-tiba suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Masih dengan kepala yang ia sembunyikan, Joice menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Tak ada keberanian sedikit pun untuknya mengangkat kepala.
__ADS_1