Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 268


__ADS_3

Mobil yang Sam tumpangi pun menepi di barisan paling belakang deretan mobil-mobil itu. Wajah semua orang yang masih bersamanya terlihat waspada.


"Aku yang keluar duluan!", ucapan Sam menghentikan pengawalnya yang akan membuka pintu pertama kali.


Melihat raut wajah bosnya yang terlihat serius pun mereka tak berani membantah. Pengawal itu mengangguk seraya menarik tangannya kembali.


Saat Sam keluar dari mobilnya, terdengar suara pintu terbuka sari salah satu mobil yang berbaris di depannya. Matanya yang awas dan waspada mulai memindai siapa gerangan yang keluar dari sana. Karena sampai saat ini, pria itu masih belum mengetahui jika semua orang itu adalah orang suruhan Ben.


Sepasang kaki yang ramping keluar pertama kali. Lalu sepasang kaki itu sedikit melompat keluar mobil. Hingga nampaklah sosok yang ia cari-cari sejak tadi.


"Sam!", wanita itu berseru seraya berlari ke arahnya. Ekspresi bahagianya dapat Sam rasakan. Hanya saja pria itu masih kebingungan saat ini.


Wanita itu langsung merengkuh tubuhnya. Memeluknya dengan erat hingga dirinya yang linglung pun tersadar dan segera membalas pelukannya. Mereka seperti sedang saling melepaskan rindu setelah tidak bertemu selama satu abad lamanya.


Sepasang makhluk yang saling mencintai itu saling menghirup aroma tubuh pasangannya masing-masing. Aroma yang dapat memberikan ketenangan batin pada diri mereka. Keduanya sama-sama bersyukur karena mereka akhirnya dapat bertemu kembali. Hilang sudah kekhawatiran yang sebelumnya meledak di hati keduanya.


Apalagi Sam, pria itu sangat bersyukur karena ia akhirnya bisa menemukan wanita yang ia cintai lagi. Dan dalam kondisi yang baik-baik saja. Itu yang paling penting. Karena ia sangat takut jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada calon istrinya itu, mengingat hari pernikahan mereka tinggal menghitung hari.


Lalu mucul Krystal setelahnya bersama dengan beberapa pria misterius yang tadi itu sebenarnya sedang bertugas untuk menyelamatkan mereka berdua.


"Berlindung di belakangku, Sarah!", Sam buru-buru melepaskan pelukannya dan menarik wanitanya itu ke belakang punggungnya.


"Tenang saja, Sam! Mereka,,,,".


"Jangan khawatir, Sayang! Kali ini aku tidak akan membiarkan hal seperti tadi terjadi lagi!", pria itu segera memotong ucapan Sarah.


Tangannya yang satu bersiap siaga menjaga Sarah di belakangnya. Dan yang satu lagi sudah terkepal sangat kuat dengan wajah serius dan semakin waspada.


"Tapi mereka itu,,,,", lagi-lagi ucapannya dipotong oleh pria itu.

__ADS_1


"Sssstt,,, kau harus percaya padaku, Sayang! Semua pasti akan baik-baik saja!", Sam berdesis untuk menghentikan Sarahnya berbicara.


Ia membalikkan tubuhnya, menghadap Sarah sebentar, bermaksud untuk menenangkan wanitanya itu. Ia tidak ingin wanitanya semakin khawatir dengan situasi saat ini.


Di belakang punggung Sam itu, Sarah sebenarnya sudah sangat tidak sabar. Bibirnya mencibir ke arah Sam tanpa sepengetahuan pria itu. Kapan bodohnya akan hilang?!


Dan tentu saja, Krystal yang berada di seberangnya pun sangat ingin terbahak melihat wajah kesal Sarah. Sepertinya ia mulai terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Melihat tingkah konyol bosnya.


Tapi sebisa mungkin ia tahan mulutnya yang ingin tertawa dengan tangannya. Karena ia sangat yakin, jika sampai tawa ini lolos dari mulutnya, rasa kesal Sarah akan semakin besar. Dan yang terkena imbasnya tentu saja Sam. Bosnya itu pasti akan dihajar habis-habisan oleh sahabatnya itu.


bugh


"Kau ini selalu saja bodoh!", Sarah menggeram seraya memukulkan tas kecilnya ke arah punggung Sam.


Giginya yang merapat dengan wajah yang merengut jelas bahwa saat ini wanita itu sangat kesal padanya.


Selain cemburu, ada lagi perasaan aneh saat melihat kejadian itu. Tapi apa?! Rasanya ia sangat sulit menjelaskan hal yang bersembunyi di dalam benaknya itu.


"Mereka yang telah menyelamatkan kami, Tuan!", karena kesal jadi Sarah memilih untuk bungkam. Jadilah Krystal yang menjelaskan siapa orang-orang misterius yang bersama mereka saat ini.


Semua orang itu adalah anak buah Ben. Dan Sam ingat siapa orang itu. Pria yang sangat dekat dengan kakak iparnya. Yang merupakan seorang ketua geng mafia Harimau Putih.


Krystal juga menjelaskan situasi yang sebenarnya saat kejadian mereka diselamatkan dari para penculik yang sebenarnya. Dan masih ada bersama mereka Megan Aira yang dibuat tak sadarkan diri lagi.


Salah satu anak buah Ben pun mengatakan bahwa semua ini adalah rencana Nona Ana dan juga bosnya. Ia menyampaikan berita bahwa kakak iparnya itu baik-baik saja.


"Benarkah yang kau katakan?!", saking tidak percayanya, Sam sampai menghampiri orang itu lalu meremas kedua bahunya.


"Tentu saja benar! Apa gunanya kami berbohong mengenai keadaan Nona Ana! Tidak ada gunanya!", ucap orang itu seraya menghempas tangan Sam di bahunya. Ia agak risih tubuhnya disentuh oleh lelaki lain.

__ADS_1


"Jadi apa kalian juga sudah mengetahui siapa dalang di balik ini semua?", kini wajah Sam berubah serius.


"Sebenarnya Nona Ana sudah mengetahuinya sejak awal. Karena Nona Ana hanya ingin sandiwara ini berjalan dengan sempurna jadi Nona tidak memberitahu siapa pun sejak awal. Orang itu adalah Tuan Alexander, ayah dari Joice Alexander!", wajah anak buah Ben itu tenang saat menjawab pertanyaan Sam.


Namun dalam hati ia juga merasa bangga atas sikap Nona Ana. Tindakan yang diambilnya sangat bagus dan instingnya sangat tajam. Semua itu pasti karena Nona Ana yang merupakan keturunan dari seorang ketua mereka sebelumnya.


Hal itu pun sama yang dirasakan Sam saat ini. Pria itu sampai tersenyum sendiri membayangkan tindakan kakak iparnya yang selalu keren itu. Tapi buru-buru semua pikiran itu menghilang saat ia menyadari jika masalah mereka belum selesai ketika dalangnya belum juga tertangkap.


"Jadi bagaimana kita akan menyelesaikan ini?", wajah Sam kembali serius lagi.


"Tuan tenang saja! Kami sudah memiliki rencana!", anak buah Ben itu mengangguk pada Sam dengan penuh kesungguhan.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengikuti rencana kalian!", Sam pun membalas anggukan kepala itu dengan penuh keyakinan.


Satu orang suruhan Tuan Alexander yang masih hidup masih di tangan mereka. Jadi mereka hanya tinggal melanutkan sandiwara ini sampai selesai saja. Karena sampai saat ini, ayah dari Joice itu masih belum mengetahui keadaan yang sebenarnya.


***


"Halo, Tuan!", sapa seorang pria dari seberang saluran teleponnya.


"Bagaimana pekerjaanmu?", Tuan Alexander langsung ke intinya.


"Semuanya berjalan dengan lancar, Tuan!", jawab pria itu dengan suara setenang mungkin.


"Kalau begitu kita akan langsung mengakhiri ini semua. Kebahagiaan keluarga itu harus berakhir malam ini juga!", Tuan Alexander tersenyum puas.


Ia mematikan sambungan telepon itu lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ia tatap cermin besar yang terdapat di dalam kamar mandinya yang bagus itu.


Sambil memiringkan kepalanya, ia menerbitkan sebuah seringai kejam pada bibirnya. Jangan salahkan dia jika berubah menjadi sangat tega seperti ini! Keluarga itu yang telah memaksanya untuk berbuat seperti ini. Keluarga itu harus membayarnya.

__ADS_1


__ADS_2