
"Aahh!", pria itu akhirnya memiliki sebuah ide di kepalanya. Ia tersenyum begitu senang sekarang.
Sam membuka jas yang membalut tubuhnya, lalu ia letakkan di tas kursi yang tadi di dudukinya. Kemudian ia melepaskan dasinya yang juga ia taruh di sana. Juga lengan baju ia gulung ke atas untuk mempermudah pergerakannya. Dan tak lupa, ia membuka sepatu dan kaos kakinya untuk ia letakkan d luar rumah, tepatnya di teras rumah. Pria itu menghela nafasnya dengan cepat, ia sudah siap bertempur sekarang.
Tapi bukannya mengambil sebuah alat kebersihan atau semacamnya, Sam malahan mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Cara membersihkan rumah!", pria itu berbicara pada ponselnya. Sebenarnya ia tengah melakukan pencarian dengan internet untuk mengetahui bagaimana dia melakukan tugasnya dengan membaca beberapa blog-blog yang berkaitan. Sam tertawa sebentar bahwa idenya berhasil, dan sekarang ia mulai membaca petunjuk apa saja yang harus dilakukannya.
"Pertama, cari alat kebersihan yang bisa digunakan seperti sapu, pel lantai dan sebagainya", pria itu menyapu seluruh ruangan itu untuk mencari benda yang ia cari. Karena tak mendapat apa-apa di sana, maka Sam pun melangkahkan kakinya keluar rumah. Dan benar saja, ia akhirnya mendapat sebuah sapu tergantung di salah satu dinding di teras rumah. Ia bersorak kecil untuk keberhasilan pertamanya.
Sarah membuka pintunya perlahan untuk menilai situasi. Ia mengeluarkan kepalanya sedikit dan ia melihat Sam sedang berada di teras rumahnya. Maka buru-buru ia keluar bersama baju ganti dan juga handuk di tangannya. Lalu berlari kecil dengan cepat menuju kamar mandi di belakang tanpa suara.
"Bagian pertama yang harus dibersihkan adalah jendela, selanjutnya adalah barang-barang yang posisinya lebih tinggi lalu turun ke bawah hingga yang terakhir adalah lantai", ia membaca lagi petunjuk selanjutnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Dalam artikel itu tidak dijelaskan bagaimana membersihkan jendela, jadi dia mencoba berpikir sejenak bagaimana ia harus melakukan tugas pertamanya ini.
Sam menyibak gorden yang menutupi jendela ruang tamu itu. Ia memiringkan kepalanya merasa ragu dengan apa yang akan ia lakukan saat ini. Dengan sapu yang ada di tangannya, ia mulai membersihkan kaca jendela rumah itu. Begitu menurut Sam adalah cara yang benar. Sambil tersenyum sendiri, ia menggerakkan sapu itu ke atas dan ke bawah supaya kaca itu bersih pikirnya.
Seumur hidupnya ia mana pernah melakukan hal-hal seperti membersihkan rumah. Jangankan rumah yang terlalu besar sepertinya, kamarnya saja mana pernah ia tau bagaimana caranya ruangan itu bisa menjadi rapih. Ya memang wajar sih, mengingat latar belakangnya yang merupakan kalangan super high class.
__ADS_1
"Kaca jendela sudah! Lalu sekarang apa lagi ya!", pria itu nampak berpikir. Memindai seluruh ruangan itu, lalu pandangan matanya jatuh pada sebuah nakas yang memang posisinya lebih tinggi daripada barang yang lainnya.
Dengan sapu yang ia pegang, lagi-lagi Sam nampak ragu dengan hal itu. Bagaimana bisa benda yang dipegangnya dapat membersihkan seluruh barang-barang yang ada di ruangan itu?! Sam hendak mengetuk pintu kamar Sarah untuk bertanya bagaimana dia harus melakukan ini semua. Tapi mengingat tentang harga dirinya dan juga bahwa ia yang telah menerima tantangan ini, maka ia menurunkan tangannya lagi dan kembali berpikir untuk beberapa saat.
prak,,prak,,prang,,
Suara benda jatuh terdengar nyaring dari arah depan. Sarah yang tengah asyik menyegarkan badan memutuskan untuk segera menyudahi kegiatan mandinya. Biarlah segini saja ritual mandinya yang biasanya akan berlangsung lama. Perasaannya tidak enak saat ini. Pria itu pasti sedang membuat masalah dengan rumahnya. Buru-buru ia memakai baju ganti yang sudah dibawanya. Lalu kembali ia berlari keluar dari kamar mandinya.
"Ya ampun, Sam!", seru Sarah dengan handuk yang ia kalungkan di lehernya. Ia begitu terkejut saat melihat Sam yang sedang berjongkok di bawah dengan tangan yang berdarah.
"Apa yang terjadi Sam?", ia membawa pria itu untuk duduk di kursi sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan hingga terhenti pada benda jatuh dimana tempat Sam berada tadi.
"Jangan pikirkan tentang foto itu. Aku masih punya banyak di kamarku! Tunggu sebentar, aku akan mengambil kotak obat dulu!", pria itupun ditinggalkan sebentar oleh Sarah yang kemudian tak lama datang membawa sebuah kotak kayu kecil berwarna putih.
Pertama ia mencabut kaca yang masih menancap di jari pria itu. Sam meringis karenanya, tapi ia berusaha keras menahan diri untuk tidak menjerit. Meskipun sebenarnya ia sangat ingin menangis jika ada bundanya di sini. Jadi saat Sarah mulai memegang pecahan kaca itu, Sam juga mulai menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengurangi rasa sakit yang menderanya.
"Lukanya tidak dalam! Jadi aku hanya bisa memberi ini lalu memperbannya", pria itu meringis lagi saat Sarah membersihkan lukanya dengan alkohol dan memberikan obat merah.
__ADS_1
"Jika kau menangis, maka aku benar-benar akan berpikir ulang untuk menikah denganmu!", ucap Sarah tajam tanpa melihat ke arah Sam saat tangannya sedang membalutkan perban pada jari pria itu.
Sam segera menegakkan punggungnya. Tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku dan tak berani ia mengeluarkan ekspresi apapun saat ini. Sarah yang menyadari hal itupun tersenyum samar. Ternyata mengancam pria gila itu dengan hal seperti itu sangat efektif pikirnya.
"Tunggu dulu! Tadi kau bilang membersihkan seluruh ruangan ini dengan apa?", Sarah merasa ada yang ganjal dengan ucapan Sam tadi maka ia mencoba menanyakan kembali hal ini.
"Dengan sapu! Aku tadi sudah membersihkan kaca jendela, nakas itu, kursi ini juga dengan sapu itu, juga dengan meja ini! Bagaimana hasilnya, bersih, kan?", dengan bangga ia mengabsen apa saja yang sudah dikerjakannya tadi.
"Dengan ap,, pa? Sap,, pu??", saking terkejutnya Sarah sampai terbata untuk memastikan hal itu. Ia tidak ingin salah menilai orang lagi, maka ia putuskan untuk memastikan sendiri kebenarannya.
"Iya!", pria itu menjawab dengan wajah polos dan rasa kebanggaan yang baru saja dimilikinya.
"Sapu?", tanya Sarah lagi dengan suara lirih.
"Iya!", jawab Sam sambil menganggukkan kepalanya.
Muncullah sungut di kepala Sarah saat mendengar jawaban Sam yang sudah pasti itu. Ia benar-benar marah atas kebodohan pria jni.
__ADS_1
"Saaaammm!", Sarah berteriak sekencang-kencangnya dengan emosi yang melingkupi dirinya.