
Di tengah keributan yang terjadi, semua anggota keluarga hanya bisa diam. Sandi merangkul ibunya, sama berharapnya bisa menyalurkan energi positif untuk kedua wanita yang paling berharga dalam hidupnya.
Nyonya Rima sudah geram mendengar banyaknya opini negatif mengenai calon menantunya ini. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Apalagi saat ada yang menanyakan perihal Sarah yang hanya menginginkan harta Sam saja. Padahal ia juga sudah tau sendiri, bagaimana Sarah hanya membutuhkan sebuah cinta.
"Ayah selalu mendukung, Bunda!", senyum teduh Tuan Dion menenangkan hatinya yang panas. Nyonya Rima membalas senyuman suaminya lalu maju satu langkah. Matanya penuh tekad untuk melakukan hal yang sudah ingin ia lakukan sejak lama.
"Aku, Sarah Maheswari! Adalah calon istri Tuan Samuel Wiratmadja. Memang benar aku adalah seseorang dari kalangan bawah. Bahkan mungkin kalian lebih beruntung dibandingkan diriku ini. Meskipun begitu, aku tidak pernah menjual apapun untuk menarik perhatian Tuan Sam ini. Kalian hanya tidak tau bagaimana lika-liku hubungan kami sejak awal. Dan perlu kalian tau, kami sudah saling mengenal sejak setaun belakangan ini. Dan perasaan kami sudah tumbuh untuk satu sama lain", Sarah melepaskan diri dari pelukan prianya dan genggaman tangan ibunya pun ia lepas perlahan. Dengan lantang ia berbalik dan menatap kamera-kamera itu dengan mata nyalang.
"Aku memang tidak tau banyak mengenai masa lalu calon suamiku. Tapi yang aku tau adalah Sam yang sekarang. Sam yang sangat mencintaiku. Dan tentang wanita yang bernama Megan Aira itu, apakah benar dia pernah menjadi kekasih calon suamiku?! Biar Tuan Sam sendiri yang menjawabnya", Sarah menoleh dan menatap Sam dengan tersenyum. Aku percaya padamu, itulah yang Sarah sampaikan lewat tatapan matanya.
Nyonya Rima yang tadinya sudah akan berbicara pun menjadi kehabisan kata-kata. Ia menatap calon menantunya itu dengan penuh rasa bangga. Ia tidak menyangka jika Sarah akan seberani ini untuk menghadapi pertanyaan para wartawan yang jelas-jelas sedang menyerangnya. Pandangan mata itu jelas sama dengan pandangan yang lainnya. Namun Ana pun tersenyum penuh arti karena ia melihat salah satu tangan sahabatnya itu sedang gemetar. Ia tau bahwa saat ini Sarah sedang berusaha keras menahan rasa gugupnya yang bisa saja menggila.
"Megan Aira, apakah Anda mengenal orang itu secara pribadi?", tatapan tajam Sam menusuk sampai ke dalam mata wartawan yang tadi pertama melontarkan pertanyaan menyangkut aktris itu.
__ADS_1
Ditatap seperti itu membuat nyali sang wartawan menjadi menciut. Ia mendudukkan kepalanya dalam-dalam saat semua rekan wartawan mulai menolehkan kepala ke arahnya.
"Atau mungkin Anda dijanjikan untuk naik ke ranjangnya?", sungguh pertanyaan itu membuat si wartawan ingin segera melarikan diri dari sana. Sayang sekali, posisinya yang berada di tengah-tengah kumpulan orang itu membuatnya sulit bergerak.
Hanya dengan dua pertanyaan yang keluar dari mulut Sam, situasi pun berbalik. Semuanya jadi memiliki spekulasi tersendiri terhadap sosok artis itu. Dan si wartawan pun dipandang nyinyir oleh rekan yang lainnya. Dan mengingat video yang sempat beredar pun, mereka juga menarik kesimpulan bahwa memang Megan yang menggoda dan berusaha melemparkan dirinya kepada Tuan Samuel ini.
Sam tersenyum sinis melihat situasi itu. Ia menebak jika wartawan itu adalah orang suruhan Megan Aira yang mungkin telah diiming-imingi tubuhnya. Megan itu pasti ingin menggunakan opini publik untuk menjatuhkan Sarah balik. Dan Sam tidak terima, berani menyentuh wanitanya, maka ia yang akan membalasnya.
"Megan Aira!", suara Sam yang besar membuat suasana menjadi hening seketika. Semua wartawan berfokus pada sumber suara.
Dari mobil hitam yang terparkir di luar gedung, Megan dapat mendengar semuanya. Ia sangat marah karena situasi di sana malah berbalik menyerangnya. Dan hal itu membuat namanya semakin parah. Ia sangat kesal hingga memukuli stir berulang kali.
"Dulu banyak wanita di sekelilingku, itu karena aku merasa semua wanita sama saja. Hanya menginginkan uang dan derajat seorang lelaki. Tapi itu berbeda ketika aku bertemu dengan kaka iparku dan juga Sarah. Mereka berdua adalah wanita sederhana yang tidak pernah memandang seseorang berdasarkan hal itu. Dan Sarah, ia bahkan sempat menolakku karena siapa sebenarnya diriku. Dia tidak menginginkan aku karena merasa tidak pantas untuk bersanding denganku. Sarah, baru satu wanita itu yang berani menolak aku, Samuel Wiratmadja", Sam tersenyum tulus pada wanita di sebelahnya.
__ADS_1
"Bocah ini, kenapa membawa-bawa nama istriku! Apakah dia sudah bosan hidup?!", Ken gemas karena Sam berani menaruh rasa kagumnya pada Ana. Ia menggeram seraya menggerutu pelan.
"Ken, tidak mungkin bukan kau cemburu pada adikmu sendiri? Hey, lihat! Mereka saling mencintai", Ana berjinjit untuk membisikkan sesuatu yang bisa membuat suaminya itu tetap tenang. Hah! Bisa-bisanya pria itu cemburu di saat seperti ini.
"Dan, sudah berkali-kali Sam memperjuangkan cintanya kepadaku. Bahkan ia sampai mempertaruhkan nyawanya untukku. Aku mencintainya sama seperti dia mencintaiku. Dan untuk insiden di kantor Sam tadi, itu adalah giliranku untuk memperjuangkan cintaku agar tidak diambil orang. Apalagi yang datang adalah belut yang sangat licin. Yah kalian bisa lihat sendiri lah videonya! Bagaimana susahnya wanita itu diusir dari kantor calon suamiku", semua orang tertawa mendengar akhir pernyataan Sarah. Sedangkan kedua pasangan itu saling melemparkan senyuman penuh cinta.
Momen ini tak terlewatkan untuk diabadikan. Semua kamera menyala mengambil gambar dari posisi mereka berada. Dan ini akan disebut dengan pengakuan cinta paling menghebohkan sepanjang masa.
"Mengenai kakak ipar yang Tuan Sam sebutkan, apakah itu yang dimaksud dengan istri dari Tuan Ken, kakak dari Tuan Sam sendiri? Lalu kapan mereka menikah, dan kenapa tidak terdengar kabar apapun sampai saat ini? Apakah mungkin kakak ipar yang Anda maksud sudah hamil lebih dulu?" cukup berani pertanyaan yang wartawan itu ajukan. Tentu saja Ken segera melayangkan tatapan tajamnya pada wartawan yang mengajukan pertanyaan. Pria itu sudah akan maju, namun Ana menahannya.
"Dengarkan baik-baik!", tiba-tiba Nyonya Rima sudah maju ke depan sambil menggandeng tangan Sarah.
"Ana! Kemari dengan Bunda!", Nyonya Rima melambaikan tangannya kepada menantu pertamanya itu sembari tersenyum hangat.
__ADS_1
"Iya, Bunda!", jawab Ana sambil tersenyum pula.
"Tidak apa-apa!", ujar Ana menenangkan Ken yang berusaha menahannya. Pria itu tentu sangat khawatir terhadap istrinya itu. Tapi melihat tatapan tegas ibunya di depan, akhirnya pria itu mau melepaskan Ana juga.