
Sam memperhatikan gerak-gerik wanita di sebelahnya. Bagaimana pun juga, ia mengikuti perkembangan hubungan kakak dan calon kakak iparnya itu. Halang rintang menghiasi hubungan mereka. Ia pun menatap iba pada kedua orang yang sedang berpelukan itu. Dan untuk meredakan tangis Sarah, ia berinisiatif memeluk Sarah dan mengusap kepala Sarah lembut.
***
"Dimana Han, kak?", tanya Sam yang sedang duduk di kursi taman bersama dengan kakaknya.
"Dia ada di lantai 4 sedang menjaga sekretaris Risa", jawab Ken tanpa menoleh ke arah Sam.
"Risa? Memangnya ada apa dengan Risa?", Sam mengerutkan alisnya.
"Dia juga mengalami luka yang cukup parah. Tiga buah tulang rusuknya patah dan kepalanya mengalami pendarahan. Dokter mengatakan bahwa kondisinya belum stabil. Dan cedera pada otaknya akan membahayakan nyawanya", jelas Ken datar.
"Apa tidak sebaiknya kita menjenguk dia, kak", tanya Sam ragu.
"Tidak perlu, ada Han di sana!", Ken masih ingin menikmati udara ini. Karena begitu ia masuk ke dalam, dadanya terasa sesak ikut merasakan sakit yang Ana rasakan.
"Bagaimana pun juga kita harus melihatnya, kak!", ucap Sam memohon.
"Hah, baiklah!", ucap Ken malas seraya bangkit dari duduknya.
"Katakan pada Sarah untuk membawa Ana bersamanya", perintah Ken sambil berjalan mendahului Sam. Karena saat ini Ana masih menunggui ayahnya ditemani oleh Sarah. Tadi saat Ana lebih tenang, Sarah berusaha mengajaknya bicara untuk menghiburnya. Dan Ken memanfaatkannya waktu itu untuk menjernihkan pikirannya yang kacau akibat musibah ini.
***
Mereka sampai di depan sebuah kamar vip dimana kamar itu tertutup rapat. Hening melingkupi ruangan itu. Tak ada yang keluar atau pun masuk. Di ruangan itu terbaring seorang wanita lemah pucat pasi dengan balutan kepala tebal oleh perban.
Risa terbaring tak sadarkan diri dan tangannya tengah digenggam oleh seorang pria berambut ikal yang tertidur di sebelahnya. Dia adalah Han.
Sam membuka pintu kamar dengan hati-hati agar tak mengganggu penghuni kamar itu. Setelah memasuki kamar semua terdiam, terhenyak oleh pemandangan yang disajikan untuk mereka. Hanya Ken yang terlihat tenang dengan tatapan datarnya. Ia berjalan melewati mereka yang masih hening dan langsung melemparkan dirinya ke sofa di sudut kamar.
__ADS_1
"Sayang!", panggil Ken pada Ana sambil melambaikan tangannya.
Masih dengan wajah sendunya, Ana mencoba tersenyum dan mengusap lembut bahu sahabatnya. Ia berusaha menyemangati Sarah yang tak kunjung bergerak di ambang pintu. Kemudian Ana melangkah menuju Ken di sudut sana.
Sam juga baru kembali pada kesadarannya. Ia melepas knop pintu yang sedari tadi ia genggam. Sam membalikkan badan ke arah Sarah yang tak bergeming. Ia raih tangannya dan menggenggamnya. Sam membimbing Sarah yang tak lepas pandangannya dari Han ke arah sofa. Mereka berempat duduk di sana dalam keheningan.
Ana memandang iba ke arah Risa yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Sekretaris ayahnya yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri kini sedang tak berdaya.
"Kak Risa! Ayah!", ucap Ana dengan suara tersekat hampir tak terdengar.
Ken mendengar Ana menggumamkan sesuatu. Ia meraih jemari Ana dan menautkannya pada jemarinya. Kemudian ia kecup punggung tangan Ana. Menyalurkan rasa cinta kasih yang berlebih pada wanita yang dicintainya itu. Terakhir ia kecup pucuk kepala Ana dalam.
"Ken!", panggil Ana tanpa menoleh ke arahnya. Ana masih memandangi Risa yang terbaring lemah dengan Han di sisinya.
"Emmh!", sahut Ken setelah melepas kecupannya dari kepala Ana.
FLASHBACK ON
"Ada apa?", tanya Ken menempatkan ponselnya di samping telinga.
"Kabar buruk, Tuan!", jawab Han di seberang telepon.
"Katakan?", perintah Ken singkat. Namun dalam hatinya sudah merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Tuan Danu mengalami kecelakaan saat akan berangkat dari bandara menuju hotel. Dan sudah dipastikan dalangnya adalah adik dari Tuan Danu yaitu, Tuan Bram", jawab Han terdengar tenang.
"Lalu bagaimana kondisinya saat ini?", tanya Ken menahan amarah. Tangannya sudah mengepal kuat di samping tubuhnya.
"Beliau sudah melewati masa kritis, tapi saat ini Tuan Danu dalam kondisi koma", jelas Han.
__ADS_1
"Baiklah,,,", belum sempat Ken memberi perintah Han sudah berucap lagi.
"Maaf Tuan, bisakah saya ke sana sekarang? Maaf jika saya tidak pernah memberi tahu Anda, Tuan. Tapi calon istri saya juga sedang kritis di sana", ucap Han sedikit canggung.
"Apa maksdumu Han? Siapa calon istrimu?", Ken mengernyitkan kedua alisnya dan memindahkan ponselnya ke sisi lainnya.
"Sekretaris Risa, Tuan. Dia juga berada di mobil yang sama dengan Tuan Danu. Saya harus segera menyusulnya. Maaf karena saya tidak bisa mendampingi Anda, Tuan. Saya mohon pengertian Anda. Saya harus segera melihat bagaimana kondisinya saat ini, Tuan. Saya sangat mengkhawatirkannya. Tolong jangan marah pada saya, Tuan", tutur Han dalam sambungan teleponnya. Dari suaranya dapat dipastikan saat ini guratan-guratan kekhawatiran sedang menghiasi wajahnya di sana.
"Tentu saja aku akan marah!", sahut Ken cepat.
"Maaf Tuan!", ucap Han dengan penuh penyesalan.
"Aku marah karena kau bahkan sudah mendahului diriku dan tak pernah mengatakan apa pun tentangnya. Sudahlah, lebih baik kau segera berangkat. Aku akan menyusulmu nanti. Saat ini tugasku adalah menjelaskan pada Ana", tutur Ken dengan nada sedikit menenangkan. Namun tersembunyi rasa khawatir pada dirinya memikirkan cara untuk menyampaikan semua ini pada wanitanya itu.
"Maaf dan terima kasih, Tuan! Saya pasti akan menjelaskannya pada Anda setelah kita bertemu di sana. Sebelum berangkat saya akan mengurus segala sesuatunya untuk Anda", ucap Han dan setelahnya mereka mengakhiri panggilan itu.
Matanya dipenuhi kobaran amarah yang sangat besar. Benaknya terisi emosi yang sudah membanjiri hati. Ia tersulut oleh kemarahan yang membuat aura di sekitarnya menjadi suram mencekam. Ia menggeram seram, dan tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya.
Tapi kemudian amarah yang memenuhi matanya berubah sendu saat nama Ana terlintas dalam benaknya. Bagaimana nanti dia harus menghadapi Ana, bagaimana ia harus mengurai semua kejadian ini pada kekasihnya itu. Ken tak sanggup melihat sedikit saja gurat kesedihan hadir di lengkung wajah Ana. Belum mengatakan sepatah kata pun, Ken sudah merasakan dadanya sakit. Bagaimana jika nanti ia mengatakannya langsung pada Ana. Karena bagaimanapun juga, hal ini menyangkut ayah dan orang terdekatnya. Ken sudah mengetahui bahwa Ana begitu dekat dengan sekretaris ayahnya itu.
"Haaahh", Ken menghela nafasnya panjang. Ia mencoba menetralisir perasaannya yang kacau.
Belum selesai berita buruk mengejutkan perihal ayah dari kekasihnya. Han malah menambah beban dalam pikirannya. Entah harus senang atau sedih mendengar berita tentang Han yang sudah memiliki pasangan. Haruskah ia senang karena ternyata adiknya memiliki kesempatan untuk memperjuangkan cintanya pada Sarah. Atau kah ia harus bersedih lantaran musibah yang dihadapi oleh Han juga termasuk berat. Ken belum menemukan jawaban dari rasa bimbangnya.
Ia paham, saat ini Han pasti sedang terpuruk. Entah bagaimana jika hal itu menimpa dirinya. Untuk mengatakan tentang kejadian ini saja Ken sudah merasa berat dan tersiksa. Bagaimana jika ia mengalami hal yang sama seperti Han. Wanitanya mendapat musibah yang begitu besar hingga hanya terbaring lemah tak sadarkan diri. Tapi Ken malas memikirkan ke arah sana. Ia hanya berharap hal itu tak akan terjadi padanya, kelak.
Ken pun berjalan ke arah dalam dengan wajah suram.
FLASHBACK OFF
__ADS_1