Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 9


__ADS_3

"Duduk!", pinta Ana pada suaminya itu dengan nada yang sedikit tegas.


"Ayo, duduk! Lihat, aku bahkan belum menghabiskan es krimnya!", ia menarik tangan suaminya itu sampai terduduk lagi di sampingnya. Matanya ia arahkan pada mangkuk es krim vanilla dan es krim lainnya yang masih berada di dalam kantung plastik.


Ken terkekeh ringan, ia menuruti saja permintaan istrinya itu. Dan kembali menikmati es krim cokelat yang ada di tangannya. Matanya ia arahkan ke depan dan tangannya ia gunakan untuk merangkul bahu Ana lagi.


"Sudah tidak kesal?", tanya Ken tiba-tiba dengan nada acuhnya. Ia melirik melihat wajah bahagia istrinya yang sedang menikmati es krim strawberi di tangannya itu. Kedua kaki Ana juga bergoyang-goyang di bawah sana. Terlihat sekali jika ibu hamil itu sedang sangat senang saat ini.


"Huh!", Ana tak menjawab. Ia hanya mengerucutkan bibirnya sebentar lalu dengan tak peduli ia meneruskan untuk menikmati es krimnya saja lagi.


Bagaimana dirinya mau marah lagi, jika sekarang saja mulutnya sudah disogok menggunakan es krim yang nikmat. Meskipun hatinya masih ingin kesal, manisnya es krim ini pasti akan segera mengobati kekesalannya itu. Pasalnya, es krim ini sudah mengubah mood Ana yang semula jelek menjadi sangat baik. Ia bahkan terlalu senang sekarang.


Ken melebarkan sudut bibirnya. Sungguh sangat mudah membuat istrinya itu kesal, tapi juga sesederhana itu untuk membuatnya senang kembali. Tidak perlu sesuatu yang merepotkan atau yang bernilai, cukup dengan es krim dan suasana yang nyaman. Hanya seperti itu saja Ana sudah tidak kesal lagi.


Padahal,, jika pun Ana adalah seorang wanita yang materialistis, Ken tidak akan mempermasalahkan hal itu. Ia memiliki uang yang begitu banyak dan tidak akan takut kehabisan jika istrinya itu terus membelanjakannya. Malahan ia senang, karena dengan begitu ia akan semakin giat untuk bekerja.


Tapi beruntungnya adalah, selain memiliki hati yang baik, istrinya itu adalah tipe wanita yang sederhana. Semua pengeluaran yang dilakukannya masih sewajarnya. Dan lagi Ana tidak terlalu suka berbelanja. Ia lebih suka berjalan-jalan, berkeliling untuk sekedar menyegarkan matanya dengan rentetan barang-barang mewah. Tapi tak ada niat sedikitpun untuk membelinya, jika memang ia tidak betul-betul menginginkannya.


Dua orang anak-anak kebetulan melewati mereka, Ana jadi berpikir tentang es krim yang masih tersisa. Tidak mungkin ia menghabiskannya, tidak mungkin juga ia membawa semua es krim itu pulang. Paling-paling sampai di rumah sudah mencair semua. Di dalam kantung plastik itu masih ada empat buah es krim. Sangat sayang jika nanti mereka terbuang sia-sia.


"Hey, kalian! Ayo kemari!", Ana memanggil kedua anak lelaki itu dengan melambaikan tangannya.


"Kami?", keduanya memastikan lagi dengan menunjuk diri mereka sendiri.

__ADS_1


Setelah mendapatkan sebuah anggukan dari Ana, mereka pun berjalan mendekat dengan wajah ragu. Apakah mereka memiliki kesalahan?! Keduanya saling berpandangan dengan tanda tanya di kedau bola mata mereka masing-masing.


"Ini untuk kalian!", ibu hamil itu menyerahkan kantung plastik itu kepada salah satu di antaranya.


"Cepat habiskan! Sepertinya sebentar lagi akan mencair!", ucapnya lagi saat melihat mereka begitu antusias mendapati isi dari kantung plastik itu.


"Terima kasih, Kakak cantik!", ucap anak lelaki yang memegang kantung plastik itu seraya menyolek dagu Ana. Kemudian keduanya segera berlari dari sana, saat tahu jika ternyata mereka sedang ditatap oleh pria menyeramkan di sebelahnya wanita baik itu.


"Dasar!", Ana menggeleng pelan seraya melebarkan senyumannya. Masih kecil saja sudah pandai menggoda wanita!


"Hei! Ada apa dengan wajahmu, Ken? Apakah es krimnya tidak enak?", Ana melihat wajah suaminya itu tidak baik-baik saja. Wajahnya tegang, alisnya berkerut dalam, bibir pria itu pun tertutup sangat rapat, seperti baru saja diberi lem.


"Kau cemburu? Pada anak kecil itu? Yang benar saja, Ken!", Ana tergelak saat suaminya itu tetap memilih untuk diam dengan wajah cemberutnya. Pria itu sesekali hanya menjilati es krim di tangannya dengan kesal.


"Dia itu cuma anak-anak, Sayang! Tidak ada lelaki di dalam hatiku selain dirimu!", Ana harus pandai merayu suaminya yang sangat mudah cemburu itu. Suaminya yang seperti ini sudah menjadi hal biasa baginya. Jadi ia harus selalu siap untuk berpikir cepat, memikirkan bagaimana caranya meredam cemburu suaminya itu. Sesekali bersikap manja atau sesekali meniupkan kata-kata manis untuk memanjakan telinga pria itu.


Tapi memang bagi dirinya, hanya ada Ken, lelaki yang memiliki tahta di dalam hatinya ini. Yang lainnya hanya ia anggap keluarga ataupun teman. Lagipula bukannya suaminya juga tahu, jika tidak ada satu lelaki pun yang singgah di dalam hatinya selain suaminya itu. Jadi sebenarnya kadang Ana sakit kepala menghadapi sifat pencemburu suaminya itu. Ia selalu tak berdaya jika suaminya sudah seperti ini.


"Heh, gombal!", ucap Ken lalu menyunggingkan senyumannya. Pria itu akhirnya tersipu oleh kata-kata istrinya.


Ana meringis melihat tanggapan suaminya. Sudah seperti wanita yang sedang dirayu saja! Huh! Wanita itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tak habis pikir. Jadi maksudnya ia adalah lelaki yang sedang merayu wanitanya, begitu?! Baiklah, baiklah! Ia memang sedang merayu, merayu suaminya yang sangat pencemburu itu. Daripada moodnya jelek lagi, lebih baik ia menyantap es krim vanila yang masiih tersisa.


"Tapi ngomong-ngomong, tenyata saat terang seperti ini pun tempat ini indah juga, ya!", wanita itu berusaha mengalihkan pembicaraan mereka berdua agar suasana hatinya kembali membaik. Ia juga memantapkan tatapan matanya ke depan, ke arah danau di hadapannya. Ia juga harus memanjakan matanya dengan sesuatu yang indah itu.

__ADS_1


"Ya, indah!", jawab Ken. Tapi yang ditatap pria itu adalah istrinya yang saat ini sedang memandang ke depan seraya tersenyum dengan begitu damainya. Angin yang berembus meniupkan rambut panjangnya, sehingga Ana harus menahan beberapa anak rambutnya agar tidak berantakan.


"Indah dan cantik!", pria itu pun membantu istrinya itu untuk menyelipkan beberapa anak rambut yang berantakan ke belakang telinganya.


"Heh, gombal!", sekarang giliran Ana yang berseru dengan wajah tersipunya. Ia tahu jika suaminya itu sedang memuji dirinya, bukan pemandangan yang ia bicarakan barusan. Meskipun begitu, tetap saja kata-katanya itu membuatnya malu.


"Kau meniru ucapanku!", Ken mencubit gemas hidung istrinya itu hingga memerah. Ana tidak mungkin melawan, sebab kedua tangan wanita itu sibuk memegang sendok dan mangkuk es krim vanilanya.


"Sakit, Ken!", seru Ana kesakitan. Sambil meringis, ia menggosok hidungnya menggunakan punggung tangannya yang memegang sendok es krim.


"Kemari!", pria itu terkekeh seraya menggeser tubuh istrinya itu agar merapat lagi dengannya. Lalu ia merangkulnya lagi setelah menghabiskan es krim cokelat miliknya.


"Menurutku tempat ini jauh lebih indah sekarang!", Ken menatap lurus dengan pandangan yang begitu dalam.


"Kau tahu kenapa?", tanya pria itu lagi seraya menoleh. Ia menatap Ana lekat-lekat.


"Karena kita berada di sini dalam keadaan dan status yang berbeda!", Ken menyelipkan lagi anak rambut Ana yang lagi-lagi terbang tertiup angin sore itu.


Ana tak mengatakan apapun. Matanya berkedip polo, menantikan lanjutan dari ucapan suaminya itu. Meskipun ia penasaran, tapi ia berusaha menunggu dengan sabar sambil terus menyuapi mulutnya dengan es krim di tangannya.


"Karena saat ini, kita sudah mendapat menikah dan mendapat restu dari Bunda! Ditambah, sebentar lagi akan hadir calon buah hati kita!", Ken menundukkan kepalanya lalu mencium perut Ana yang sudah mulai membuncit itu. Lalu ia menempelkan telinganya di sana, berusaha mendengar pergerakan bayinya di dalam perut Ana.


Ya! Suaminya itu benar! Dulu, ia kemari dalam keadaan tidak baik. Langit malamnya terlihat indah setelah Sarah berhasil menghiburnya. Tapi sekarang, pemandangan ini benar-benar indah dengan rupa warna beserta langit sore yang menghiasinya. Semua keindahan itu melengkapi kebahagiaan mereka saat ini. Restu dari orang tua, kehadiran anak yang begitu diinginkan oleh mereka, semuanya terasa melengkapi keindahan pemandangan ini. Ia pun membelai kepala suaminya yang masih bertahan menempel di perutnya itu. Semua anugerah ini rasanya ia harus banyak-banyak mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


__ADS_2