Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 145


__ADS_3

Mobil hitam itu telah meninggalkan rumah besar keluarga Wiratmadja. Kini tinggal Ken dan Ana beserta supir yang mengantar mereka. Ana masih diam sejak sepeninggalan Nyonya Rima dari mobil mereka. Ken meraih bahu istrinya itu lalu menggeser tubuh Ana hingga merapat dengan dirinya. Ia sandarkan kepala Ana pada bahunya supaya istrinya itu bisa lebih rileks.


"Ada apa?", tanya Ken lembut di atas kepala Ana.


"Apakah Bunda sudah benar-benar menerimaku?", tanya Ana sambil menatap keluar jendela.


"Kenapa?", Ken setia menjadi pendengar Ana kali ini. Dengan sabar dan penuh kasih sayang, Ken akan mendengarkan keluh kesah yang akan istrinya sampaikan setelah ini.


"Sepertinya Bunda masih peduli terhadap Joice!", sejak mereka meninggalkan butik, beberapa kali Nyonya Rima menanyakan keadaan Joice kepada mereka. Bermaksud prihatin dengan keadaan Joice terakhir kali ia melihatnya. Namun Nyonya Rima juga telah menyampaikan bahwa yang dilakukan wanita itu memanglah salah, apalagi nyawa putra sulungnya juga sempat terancam. Tapi tetap saja, mulutnya tak berhenti bertanya bagaimana keadaan wanita licik itu, tak ada maksud lain sebenarnya, hanya rasa kemanusiaan saja pikir Nyonya Rima.


"Jangan terlalu banyak berpikir! Bunda telah menerima dirimu sepenuhnya, sayang! Kebahagiaanku adalah yang terpenting baginya saat ini. Ia sudah tak memandang Joice sedikitpun!", Ken mencoba menenangkan pikiran Ana yang tengah berkabut dengan tangan yang mengusap lembut kepala Ana dan sesekali memberi kecupan di sana.


"Benarkah?! Tapi tadi,,,,", Ana akan meneruskan ucapannya yang masih belum puas dengan menghadapkan dirinya ke arah Ken.


cup


Tapi malahan serangan mendadak yang ia terima. Ken sudah menangkap dagu Ana dengan jemarinya lalu dikecupnya bibir manis itu supaya berhenti bicara. Hanya kecupan tidak lebih, karena ia langsung memundurkan wajahnya untuk menatap wajah Ana dengan serius.


"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu. Lebih baik kita pikirkan bagaimana caranya supaya di sini cepat terisi oleh calon anak kita", Ken mengusap perut Ana dengan lembut. Lalu mengecup perut yang masih rata itu, ya karena memang belum ada apa-apa di sana. Mungkin masih butuh proses karena pernikahan mereka yang masih menginjak beberapa hari.


Ana memandangi suaminya itu dengan senyum damai. Saat tangan suaminya itu menyentuh perutnya, Ana jadi membayangkan saat dirinya hamil nanti. Betapa menyenangkannya setiap hari Ken akan mengusap perutnya seperti ini. Tapi senyumnya langsung menghilang setelah mendengar ucapan Ken selanjutnya. Tangan yang sebelumnya mengusap perut Ana, kini telah menarik pinggang Ana hingga tubuhnya merapat dengan tubuh suaminya.


"Kita harus banyak berusaha, sayang!", bisik Ken di telinga Ana dengan nada yang begitu menggoda. Ia mengecup telinga Ana yang langsung memerah sebelum menjauhkan wajahnya dengan senyum puas karena telah berhasil menggoda istrinya itu.


"Apa otakmu isinya hanya itu saja, hah!", Ana memukul pelan dada Ken.


"Saat bersamamu aku tak dapat memikirkan hal yang lain", bisik Ken lagi yang akhirnya membuat Ana tertawa.


"Aku setuju!", sahut Ana di tengah tawanya.


"Jadi setelah sampai di rumah, kita bisa langsung membuatnya?", tanya Ken dengan penuh semangat.


"Maksudnya aku setuju, memang kau selalu seperti itu! Selalu berpikiran mesum!", Ana terkekeh setelah berbicara.

__ADS_1


Senyumnya mengembang sempurna, tak ada lagi kekhawatiran atau pikiran lain yang tak berguna di wajahnya. Ken menikmati pemandangan ini, pemandangan yang dapat menyejukkan hatinya. Tawa Ana, senyuman Ana, hanya itu yang boleh melesat di bibirnya. Ken tak akan membiarkan lengkungan itu berputar ke bawah, yang mengisyaratkan bahwa istrinya tengah bersedih atau tak enak hati. Ken akan berusaha sekuat tenaga membuat istrinya merasakan bahagia seumur hidupnya.


***


Cahaya rembulan menembus jendela kamar pasangan pengantin baru itu. Keduanya berbaring bersama dengan posisi saling memeluk satu sama lain. Mereka baru saja menyelesaikan perpaduan cinta mereka yang terasa bagai candu bagi keduanya. Ken bilang, ia akan berusaha keras supaya Ana bisa cepat mengandung anak mereka. Ken tak sabar ingin memiliki versi lain dari dirinya. Jadi malam ini, setelah makan malam, Ken langsung membujuk dan merayu istrinya untuk melakukan proses produksi Ken junior dengan gaya yang berbeda.


Ana memainkan jemarinya di dada suaminya yang telanjang. Seharusnya saat ini matanya telah terpejam sama seperti yang sudah dilakukan oleh suaminya itu. Tapi malam ini sesuatu mengusik pikirannya hingga ia tak dapat memejamkan matanya. Jari telunjuk Ana menari-nari, membuat bentuk-bentuk abstrak di atas dada bidang milik Ken. Lalu gerakan tangannya tiba-tiba berhenti karena dicekal oleh tangan suaminya itu.


"Ronde kedua, bagaimana?", ucap Ken dengan suara parau khas bangun tidur.


"Kau ini?!", Ana memukul pelan dada suaminya itu sambil menipiskan bibirnya.


"Lalu kenapa kau menggodaku?!", Ken membenarkan posisinya supaya bisa leluasa melihat wajah istrinya saat ini.


"Siapa yang menggodamu!", Ana berkilah seraya menepuk dada Ken lagi.


"Jari ini bergerak-gerak begini di sini! Namanya apa bukan menggodaku, hemmh?!", Ken memegangi jari Ana dan membuat gerakan-gerakan seperti yang tadi Ana lakukan.


"Ada apa, sayang?", Ken tau mengapa Ana jadi seperti ini. Ia ingin mendengar alasan istrinya itu diam seakan banyak hal menggerogoti pikirannya.


"Ken! Bisakah besok aku menjenguk Paman Bram?", Ana mendongak saat melakukan permohonannya. Ia memakai jurus jitu yang tak mungkin ditolak oleh suaminya itu. Ana tersenyum semanis mungkin, lalu memasang wajah imutnya.


"Ceh! Kau selalu saja menggemaskan, heh!", Ken mencubit gemas pipi Ana hingga memerah.


"Auuww, sakit Ken!", ucap Ana seraya mengusap-usap pipinya yang terasa nyeri.


"Bagaimana pun juga dia adalah keluargaku. Setelah ayah wafat, hanya tinggal Paman Bram orang tuaku. Diluar kejahatan yang dia lakukan terhadap ayah, dia tetap keluargaku. Jadi paling tidak aku ingin menjenguknya sebagai rasa peduliku sebagai keponakannya", ucap Ana sebelum Ken mengajukan pertanyaan yang sudah terbaca jelas di wajahnya saat Ken mengernyitkan alisnya.


"Kau peduli dengan ******** busuk itu dan masih menganggapnya keluarga? Astaga Ana hatimu terbuat dari apa?! Apa kau tidak ingat bagaimana ucapannya sebelum ia ditangkap polisi. Baginya kau dan Ayah Danu hanyalah penghalang. Tak lebih dari itu!", Ken sedikit meninggikan ucapnya lantaran kesal karena Ana sedang melunak hatinya.


"Terakhir! Aku janji ini akan jadi yang terakhir aku bertemu dengannya! Tolong izinkan aku ya, sayang!", Ana kembali memasang wajah imutnya itu.


"Haahh!", Ken menghela nafasnya panjang. Mana tahan ia melihat wajah menggemaskan istrinya itu. Ana semakin pintar merayu dirinya sekarang. Ken tentu akan menyerah jika istrinya itu sudah melancarkan aksi menggemaskannya.

__ADS_1


"Baiklah! Aku temani besok! Tapi ada syaratnya!", Ken menatap Ana serius, pura-pura serius lebih tepatnya.


"Ya aku tau!", Ana mengambil inisiatif merangkak naik ke atas tubuh suaminya. Lalu ia mengecup singkat bibir suaminya itu.


"Aku selalu tau isi pikiranmu, sayang!", ucap Ana dengan senyum lebarnya. Ia sudah paham syarat apa yang akan diajukan suaminya itu. Daripada ia mendengar hal-hal konyol dari mulutnya itu, lebih baik Ana langsung membungkamnya dengan pagutan nikmat yang menjadi candu bagi Ken dan juga Ana tentunya. Akhirnya malam itu mereka kembali saling merayu, saling menuntaskan rasa haus yang mendamba pada satu sama lain hingga dini hari menjelang.


-


-


-


-


-


-


**Hai teman-teman semuanya,,, maaf baru sempet update ya.. satu episode lagi untuk malam ini, tapi mungkin nanti lewat tengah malam ya ..maklum sambil nyambi kerjaan sana-sini 🤭


Jangan lupa ya ikutin kisah Ben dan Rose di novel aku yang satunya dengan judul


🌹"Hey you, I Love you!"🌹


Dan terutama jangan lupa juga buat tinggalin like, vote sama komentar kalian,, okeh 😉


Love u teman-teman 😘


Stay strong and keep healthy ya 🥰


oh iya follow ig aku ya di @adeekasuryani


nanti aku folback kalian lagi,, tambah banyak temen tambah bagus kan 😊**

__ADS_1


__ADS_2