
Sudah satu bulan berlalu, kantor CEO Glory Entertainment yang biasanya hangat beberapa hari terakhir menjadi terasa dingin. Seseorang yang mengisi ruangan ini mulai mengeraskan hatinya. Pria yang biasanya selalu mengumbar senyum hangatnya kepada siapapun yang ia temui kini berubah menjadi seorang atasan dingin nan arogan.
Samuel Wiratmadja, seorang playboy papan atas yang biasa berganti wanita setiap harinya, kini berubah menjadi sosok dingin yang tak tersentuh oleh siapapun apalagi oleh seorang wanita. Hatinya mengeras setelah ia merasakan sakitnya menahan rindu karena tak dapat menemukan pujaan hatinya. Hatinya nyeri mendapati bahwa bahkan Sarah tak ingin menemuinya lagi.
Ya, ini semua adalah salahnya. Ini memang salahnya. Harusnya sebelum menyatakan cinta kepada Sarah, Sam telah membereskan wanita-wanita yang biasa ada di sampingnya. Bahkan Megan Aira yang biasanya paling sering menggoda Sam karena berada di dalam satu lingkup perusahaannya yang sama pun tak mampu menyentuh pria itu lagi. Sam, kini berubah menjadi pria yang sulit dimengerti.
Sam yang biasanya tak mempermasalahkan hal-hal kecil, kini bahkan jika itu hanya masalah pekerjaan seorang cleaning servis atau seorang office boy, maka jika mereka melakukan sedikit kesalahan, dipecat adalah resiko yang harus mereka ambil. Sam benar-benar berubah menjadi pria berdarah dingin. Tapi hal itu seolah-olah terlihat seperti pria itu sedang menumpang amarahnya pada orang lain. Dan Ken, merasa itu tidaklah adil. Tapi mau bagaimana, saat ini ia belum bisa bergerak karena istrinya masih melarang keras untuk Ken memberitahu apapun mengenai Sarah.
"Hey! Apa yang kau lakukan berjam-jam di ruangan ini?! Biasanya kau sudah pergi bermain sekitar waktu ini?!", sindir Ken seraya masuk ke dalam kantor adiknya yang tak kalah megahnya dengan kantor miliknya.
"Bisakah kau diam, kak!", ucap Sam dingin dari kursi kebesarannya. Saat ini pria itu tengah sibuk dengan setumpuk dokumen untuk ia periksa. Wajahnya serius sehingga Ken dapat mengerti bahwa adiknya benar-benar berubah. Entahlah ia harus senang atau sedih, Ken tak mampu mengutarakannya saat ini.
"Apa kau sudah menemukannya?", tanya Ken tenang sambil membelakangi adiknya itu dan bersandar pada meja kerjanya. Mata Ken menatap lurus ke depan sambil tangannya dilipat di depan dada.
"Masih bertanya?! Bukankah kakak tau sendiri jawabannya!", sahut Ken acuh tanpa melihat ke arah depan. Tangannya masih sibuk membolak-balik dokumen yang ia pegang.
"Heh! Jadi usahamu hanya segitu saja?!", kali ini Ken benar-benar memancing emosi Sam yang sekarang jadi mudah terprovokasi.
"Kau pikir aku tak tau?! Kakak ipar yang menyembunyikan Sarah, kan? Dan kakak yang terus menutupi keberadaan mereka. Sehingga bagaimanapun aku mencarinya. Seberapa gilanya aku setelah ini aku tetap tidak akan menemukannya. Aku sudah mengerahkan orang-orang terbaikku untuk mencarinya. Jika usaha mereka tetap nol, maka siapa lagi yang memiliki kekuasaan yang lebih tinggi untuk mempersulit keadaan selain,,, kakak!", Sam meletakkan kembali dokumen yang ia pegang lalu bersandar pada kursi kebesarannya sambil menatap sengit ke arah punggung kakaknya.
Sam sudah menyusuri seluruh penjuru kota, bahkan sampai ke lubang semut sekalipun. Tapi tetap saja, tak pernah ada hasil yang ia dapatkan. Bahkan ia sudah memata-matai rumah lama Sarah. Tapi tetap saja hasilnya adalah nol. Tak ada seorang pun yang keluar masuk di sana. Tetangga sekitar mengatakan jika mereka telah pergi ke luar kota. Tapi hati Sam menetapkan bahwa Sarah masih ada di kota ini. Tapi dimana dia berada, Sam benar-benar sudah frustasi karena hal ini. Selama hidup baru pertama kali ia merasakan jatuh cinta yang sesulit ini kepada seorang wanita. Atau apakah ini karmanya karena selama hidupnya selalu bergonta-ganti wanita. Hah, entahlah! Kepala Sam hampir pecah setiap kali memikirkan hal-hal yang mengenai Sarah.
__ADS_1
"Kakak iparmu sedang hamil, Sam!", tutur Ken sambil menatap lurus ke depan.
"Baiklah, selamat!", ucap Sam dingin.
"Kau tau, wanita hamil sangat rentan dan sensitif. Tadinya aku berencana akan memberimu sedikit bantuan, tapi setelah mendengar bahwa Ana hamil, maaf aku belum bisa berbuat apa-apa untukmu. Aku tak ingin membuatnya marah atau tidak nyaman dengan hal ini", ujar Ken tenang menuturkan maksud isi hatinya yang sebenarnya.
"Jadi kakak tidak menyangkal jika ini semua adalah perbuatan kakak?!", Sam tersenyum sinis ke arah punggung lebat kakaknya itu.
"Hey, bukan aku yang menyembunyikan Sarah! Tapi dia yang ingin bersembunyi darimu!", Ken berbalik menatap adiknya tajam.
"Kau yang telah menyakiti hatinya. Kau pikir mudah menerima dirimu yang seperti itu. Salah siapa jika seseorang menjadi takut untuk berada di sisimu?!", ucap Ken tidak senang.
"Aku akan mengatakannya sekali lagi, aku tidak menyembunyikan Sarah. Tapi dia yang berusaha keras untuk bersembunyi dari dirimu!", Ken sudah menguarkan aura mendominasinya. Ia mencondongkan dirinya ke arah Sam untuk memberinya peringatan.
"Hah, sudahlah!", Ken menghela nafasnya kasar sambil menjauhkan dirinya dari adiknya itu.
"Anggap saja ini sebagai penebusan dosa atas semua kelakuanmu di waktu lalu. Kau adalah seorang laki-laki. Maka kau harus lebih bersabar atas hal ini!", Ken mencoba menasehati. Karena ia sejujurnya pun frustasi harus ditekan antara adik dan istrinya sendiri.
"Tapi harus sampai mana aku melebarkan kesabaranku, kak?! Harus bagaimana lagi aku bersabar?! Bahkan dengan sikapku yang sekarang, semua wanita mulai menjauhiku! Aku sudah berusaha keras untuk berubah. Aku ingin menemukan Sarah dan membuatnya melihat usahaku yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Untuk membuatnya menjadi satu-satunya dalam hidupku! Tapi dimana dia, dimana Sarah, aku sungguh ingin menunjukkan ini semua kepadanya. Bahwa aku serius mencintainya", Sam meremas rambutnya kuat-kuat. Ia membungkukkan tubuhnya sambil berkali-kali mendesah frustasi. Kini semua keluhnya tertuang lewat mulutnya. Bahkan pria itu sampai berkaca-kaca menahan perasaan yang menyiksa ini.
"Sudahlah! Bersabarlah Sam! Jika kau memang ditakdirkan dengannya, maka cepat atau lambat kau pasti akan bertemu dengannya", Ken mendekati adiknya lalu mengusap-usap punggungnya agar adiknya itu lebih tenang.
__ADS_1
"Hanya ini kalimat yang dapat aku sampaikan untuk menghibur dirimu!", Ken ikut membungkukkan kepala lalu membisikkan sesuatu di telinga adiknya.
"Sudah aku pergi dulu, ya! Ana pasti sudah menungguku di rumah!", lalu dengan santainya Presdir Ken yang terhormat itu melenggang ke arah pintu.
"Kakak! Apakah benar yang kau katakan?!", teriak Sam tak percaya pada pria yang makin dekat dengan pintu ruangannya.
Tapi yang ditanya tidak menjawab. ia hanya melambaikan tangannya memberi isyarat bahwa ia benar-benar harus pergi sekarang. Lalu Ken menghilang di balik pintu itu.
Sam masih berdiam di tempatnya. Tubuhnya memaku dan wajahnya menjadi tegang. Ia masih mencoba mencerna apa yang kakaknya barusan ucapkan kepadanya.
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
masih ada lagi ya teman-teman 😉
ditunggu aja ..oke