
"Heh! Kita lihat apakah kau masih mampu untuk membayar kesombonganmu, Megan! Bukankah kau sudah tidak mendapatkan pekerjaan selama beberapa waktu ini?! Dan oh, bukankah itu berarti bahwa kau tidak memiliki penyokong lagi di belakangmu sekarang?! Jadi kemana lagi kau harus menjual tubuhmu itu?", Krystal menembak Megan sampai ke lubang paling dalam. Sekarang giliran Krystal yang menatap wanita itu dengan tatapan meremehkan.
"Maaf Nona, limit kartu ini tidak mencukupi untuk membayar gaun ini", salah satu pegawai datang menyerahkan kembali kartu yang tadi.
"Kalau begitu gunakan yang ini!", dengan cepat Megan memberikan kartu lain kepada pegawai lagi.
"Maaf Nona, yang ini juga tidak bisa!", datang lagi pegawai itu setelah beberapa saat.
"Kalau begitu, ini! Cari yang mana saja yang bisa digunakan!", Megan mengeluarkan semua kartu yang dia punya saat ini. Lalu mengambil kartu yang tadi lagi dengan cepat.
Malu, sangat malu kondisi dirinya saat ini. Berulang kali ia menghembuskan nafasnya melalui mulutnya dengan kasar. Ia memalingkan wajahnya menghindari bersitatap dengan Krystal.
Krystal tersenyum puas melihat merahnya wajah Megan saat ini. Ia tau semua yang dialami Megan pasti tidak lepas dari campur tangan Sam sampai saat ini. Wanita tidak tau malu ini telah berani membangunkan sisi kejam bos mereka yang terkenal baik dan juga ramah. Ia juga sangat tau bagaimana biasanya wanita ini mendapatkan pekerjaannya. Hanya tubuhnya saja yang diandalkan, tanpa dibarengi dengan keahlian yang mumpuni bersamanya.
"Maaf Nona! Ini semua tidak dapat digunakan!", pegawai lelaki itu datang lagi dengan wajah menyesal.
Sedikit kesal melihat pegawai itu menaruh rasa iba pada Megan, Krystal lebih banyak menahan senyumnya. Habis sudah harga diri wanita itu. Di dalam hatinya, Krystal tengah tertawa terbahak-bahak mengingat betapa kontrasnya wajah Megan yang tadi dengan yang sekarang. Pelan dia mendekat ke arah pegawai itu, lalu menyambar gaun yang ia pegang dengan cukup kekuatan sehingga tak menimbulkan kerusakan pada gaun tersebut.
"Sayang sekali, kau tidak jadi dibeli oleh wanita ini!", Krystal berbicara pada gaun hitam itu yang ia angkat hingga ke depan wajahnya. Dengan wajah yang begitu memelas tapi sekejap ia alihkan dengan senyum ejekan kepada rivalnya itu.
"Tutup mulut kotormu!", bentak Megan tidak suka dan menyambar kembali gaun itu.
"Kalo begitu gunakan ini!", itu adalah kartu terakhir yang ia miliki. Sebuah kartu debit dari bank swasta dimana ia tak akan pernah menggunakan benda itu jika tidak dalam kondisi terdesak. Krystal dapat menangkap helaan nafas kasar yang Megan sembunyikan. Pegawai itu kembali membuat lantai menjadi licin karena sudah bolak-balik di rute yang sama.
"Maaf Nona,,,, ", wajah pegawai itu jelas buruk. Maka Megan segera menyela.
"Kalau begitu aku akan ke mobil dulu untuk mengambil kartuku yang lainnya. Tolong simpan pakaian ini untukku!", sudah seperti kepiting rebus wajahnya saat ini. Dan ia harus melarikan diri dari tempat ini dengan segera. Sebelum nyawanya habis termakan emosi untuk meladeni Krystal yang nyatanya tersenyum puas ke arahnya. Masih dengan gaya congkaknya, ia memakai kembali kacamata hitamnya yang besar itu lalu memulai langkahnya.
brruk
__ADS_1
Sayang sekali baru beberapa langkah, ia sudah terjatuh ke lantai. Dan suara benda jatuh itu membuat seisi toko menjadi menoleh ke arahnya. Hampir dari mereka semua tidak tahan untuk tidak tertawa. Kecuali pegawai yang sedari tadi melayaninya, Krystal dan juga Louis. Mereka bertiga hanya mengulum bibirnya, masih memberi muka kepada wanita itu.
"Kau,,,, !", bentaknya pada Louis setelah mengangkat wajahnya ke atas.
"Ya,,, aku kenapa?", Louis tersenyum secara gamblang menanyakan kesalahan apa yang diperbuat dirinya.
"Awas saja kalian! Aku akan membalas kalian satu persatu!", hardiknya setelah bangkit dan berdiri dengan susah payah.
"Sayang,,,, aku takut!!!", Krystal memeluk Louis dan menempelkan wajahnya pada dada prianya itu. Ia bersikap manja seolah-olah dirinya benar-benar ketakutan, namun terakhir keduanya malah memberi senyum ejekan.
"Tenang ada aku di sini!", Louis membalas pelukan kekasihnya itu. Sesaat ia menampilkan seringainya pada Megan.
"Kau pasti sengaja, kan?!", bisik Krystal pelan sambil menengadahkan kepalanya menghadap wajah kekasihnya.
"Itu hanya sedikit pelajaran, sayang!", setelah jawaban Louis keluar keduanya terkekeh bersamaan.
"Awas saja kalian!", Megan pun melarikan diri dari sana. Dengan rasa malu yang besar dan terutama rasa kesalnya yang tak terlampiaskan. Wanita itu menghentak-hentakkan kakinya ke lantai hingga menimbulkan bunyi keras.
"Wah, kasihan sekali wahai kau lantai!", Louis mendesah pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan. Wajahnya turut prihatin dengan rasa yang Megan tinggalkan pada lantai yang habis dipijaknya itu, seolah turut merasakan sakit yang mereka derita.
"Untung saja kau tadi menahanku! Jika tidak, mana mungkin akan ada kejadian seru seperti ini!", Krystal tersenyum girang.
"Apa maksudmu, sayang?", Louis mencubit kecil hidung kekasihnya itu dengan tatapan gemasnya.
"Awalnya itu, aku sempat menaruh perhatian cukup lama pada gaun itu sebelum Megan mengambilnya. Tentu saja wanita yang iri hati itu langsung melihat kemana arah mataku melihat. Dengan kesombongannya akhirnya dia memilih gaun itu, kan. Dan yang tidak disangka adalah dia tidak tau berapa harga gaun itu untuk pengangguran seperti dirinya", wanita itu sangat gembira saatkeluaran menjelaskan kejadian sesungguhnya.
Sebenarnya sejak awal Krystal telah melihat blangko harga gaun terbaru itu. Harganya sangat fantastis bagi seseorang yang tidak memiliki pekerjaan seperti Megan Aira itu. Memang benar jika gaun itu sangat cantik dan seksi, namun melihat harganya, Krystal jadi memiliki pemikiran sendiri untuk mengerjai wanita tidak tau malu itu. Yang benar saja, langsung terpancing dengan provokasi matanya.
"Sayangku ternyata licik sekali, ya!", kembali Louis mencubit kecil hidung Krystal seperti tadi.
__ADS_1
"Aku tidak licik, hanya pintar saja!", sergah wanita itu dengan cepat karena tidak terima dengan sebutan yang Louis berikan padanya.
"Jadi, sekarang kau akan membelinya? Ku pikir kau suka dengan gaun itu!", tanya Louis santai dengan sedikit keengganan. Ia hanya ingin menggoda kekasihnya saja.
"Barang yang telah dia pegang, tak akan menggugah minatku sama sekali!", tak lupa Krystal mendengus dengan angkuhnya bersamaan dengan wajah kesal saat mau tak mau mengingat wajah si wanita Megan itu.
"Tapi masih minat belanjanya?", bibir Louis melengkung ke bawah mengejek kekasihnya yang sebenarnya gila belanja.
"Tentu saja,,,, masih!", keduanya tertawa bersama.
"Kalau begitu, ayo sayang kita borong seluruh tempat ini!", ajak Louis yang disambut dengan jawaban pasti oleh kekasihnya. Keduanya bersemangat kembali untuk melanjutkan aktifitas mereka yang tadi tertunda.
***
Masih di area parkir gedung itu, seorang wanita membanting pintu mobilnya dengan keras setelah berhasil memasukinya. Wajahnya jelas sangat buruk saat ini. Apalagi ia juga tengah merasakan nyeri pada lututnya yang sekarang membiru akibat terjatuh tadi.
"Sial!", umpatnya sambil memukul stir mobil yang tidak bersalah.
Hari ini sungguh sial nasibnya. Benar-benar buruk dan sangat tidak baik. Tidak ada yang bagus yang dapat memperbaiki suasana hatinya saat ini. Bertemu rival, tidak dapat membayar, lalu dipermalukan, tak ada kata cukup untuk menghentikan kekesalannya saat ini.
Bahkan ia sampai menggunakan kartu andalan terakhirnya pun ia sampai tak dapat membayar gaun itu. Hal itulah yang makin membuatnya geram. Apa jangan-jangan sejak awal Krystal sudah mengetahuinya, maka dari itu ia dan kekasihnya nampak terlihat tenang. Spekulasi yang dibuatnya malahan memperburuk suasana hatinya saat ini.
"Lihat saja nanti! Aku akan membalas kalian semua!", dendamnya ia nyatakan untuk semua orang yang telah membuat keadaannya terpuruk seperti ini.
Karirnya yang terancam hancur yang berarti kemana dirinya menuju nanti, kemiskinan. Hal yang tak ingin sama sekali ia sentuh setelah bertahun-tahun lamanya. Ia sudah sangat nyaman dengan semua kemewahan yang sempat dimilikinya selama ini. Jadi ia tak akan membiarkan dirinya sendiri jatuh ke dalam lubang mengenaskan itu sendirian. Ia tau mulanya dendamnya ini akan ia utarakan.
sangat
"Tuan Sam, kau tau, aku merindukanmu!", wajahnya berubah bak penyihir yang akan mengeluarkan mantranya untuk mengutuk pangeran tampan yang tak menerima cintanya. Sangat kejam, hingga wanita itu tak sadar karena bahkan saat ini wajahnya telah berubah menjadi merah padam.
__ADS_1