Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 53


__ADS_3

Han yang berada di sana berusaha menjaga jarak agar tak mendapat masalah. Ia lebih memilih menikmati pemandangan indah antara calon kakak ipar dan calon adik iparnya. Sebisa mungkin ia menahan senyum dengan satu tangannya.


***


Sarah masih berusaha mengakhiri tangisnya yang lumayan menyesakkan dada. Sekuat apa pun manusia, siapa yang akan tahan dihina bahkan diperlakukan kasar oleh orang yang bahkan baru sekali ini ditemuinya. Ia tersenyum memandangi sahabatnya yang sedang memasang badan ke arah Sam sambil membulatkan matanya hingga hampir keluar.


Sarah sangat terharu akan semua kebaikan Ana. Ia sudah mengenal Ana sejak beberapa waktu lalu, jadi ia tau betul bahwa Ana adalah wanita terhormat yang patut dibanggakan. Bukannya dihina dan dimaki seenaknya. Sarah menitikkan lagi air matanya yang kini telah berubah menjadi tangis bahagia.


Tiba-tiba pandangan matanya teralihkan pada Han yang tengah berdiri menjauh dari mereka. Seorang pria tinggi dengan rambut ikal yang sedang bersandar pada sebuah dinding sambil menyilangkan satu kaki pada kaki lainnya dan juga menutup mulutnya dengan satu tangan untuk menahan senyumnya, membuat Sarah terpana. Ia memaku wajahnya ke arah Han dengan jantung yang berdegup kencang.


"duakk!", satu tendangan pada tulang keringnya membuat Sam meringis sambil mengelus kaki kirinya yang baru saja dihajar oleh calon kakak iparnya.


"bbuk! bbuk!", kini Ana memukuli punggung Sam yang tengah membungkuk tanpa ampun.


"Bagaimana bisa kau datang bersamanya, hah?! Katakan padaku, cepat! Gara-gara kau membawanya ke sini dia jadi korban ibumu kan! Dasar kurang ajar! Kau benar-benar sudah membuatku kesal, heh!", Ana meracau sambil mengejar Sam yang berlari kecil mengitari Ken. Ia terus memukulinya saat jarak tangan Ana cukup dekat untuk menggapai Sam.


Ken terkekeh melihat kelakuan kedua orang itu. Ia tak ingin menengahi keduanya, ia juga takut jadi bahan pelampiasan singa betinanya.


"Ampun kakak ipar! Tolong ampuni aku! Tolong!", Sam mengucapkan pengampunannya dengan wajah menyedihkan.


"Kakak, bantulah aku! Aku sudah tidak sanggup menahan serangan singa betinamu. Kasihanilah aku, kak!", Sam memohon sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah memelas.


"Apa kau bilang?! Sekali lagi kau katakan aku singa betina, akan aku robek mulutmu!", ucap Ana sambil memperagakan tangannya yang akan merobek mulut Sam dengan tatapan yang begitu mengerikan.


Ana menggertakkan giginya dan mulai mengejar Sam lagi. Ia masih terus memukuli Sam dengan wajah kesalnya.


"Kakak!", teriak Sam yang sudah tak mampu bertahan lagi dari serangan singa betina itu.

__ADS_1


Suara itu juga memekik pada gendang telinga Sarah yang akhirnya mengalihkan pandangan menuju kegaduhan yang terjadi antara Sam dan Ana. Ia melangkah mendekat ke arah Sam yang sedang meringkuk melindungi dirinya dengan kedua tangannya menghalangi tangan Ana untuk mencapai tubuhnya.


Sarah menggunakan tubuhnya untuk menjadi tameng bagi Sam. Ia menghalangi Ana yang masih membara emosinya untuk terus memukuli Sam.


" Ana hentikan! Kumohon hentikanlah Ana!", ucap Sarah frustasi. Ia sungguh berharap Ken dapat membantunya menghentikkan Ana yang sedang mengamuk.


"Tuan! Bisakah anda membantu saya menghentikannya! Tuan, hey Tuan!", teriak Sarah pada Ken.


Ken tak bergeming dari tempatnya. Ia masih menikmati penghukuman Ana pada Sam yang terlihat seru. Bahkan Han pun terlihat menggembungkan pipinya, ia berusaha keras menahan diri agar tawanya tak meledak.


"Ken!", satu tepukan di bahunya membuat Ken menoleh ke asal suara.


Tuan Dion sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum dan menggeleng pelan.


"Selamatkan adikmu, Ken! Lihatlah wanitamu benar-benar buas!", ucap Tuan Dion sambil tersenyum tipis.


"Ken!", Tuan Dion menaikkan sedikit intonasinya. Kali ini wajahnya berubah serius. Wajahnya menyampaikan bahwa kata-katanya merupakan sebuah perintah yang tak ingin dibantah. Meskipun beliau sudah pensiun, tapi auranya untuk menekan seseorang masih sama seperti dulu. Bahkan terhadap Ken sekalipun, auranya masih begitu dominan. Sudah jelas darimana bibit Ken yang begitu berkharisma itu berasal.


Akhirnya Ken beranjak ke arah kegaduhan itu. Ken meraih pinggang Ana dengan satu tangannya, menariknya hingga memberi jarak yang cukup agar Ana tak mampu menggapai Sam lagi. Ken mengunci pinggang Ana hingga ia tak mampu melangkah lagi. Ana hanya bisa meronta-ronta, mencoba melepaskan diri untuk menuntaskan emosinya pada Sam.


Susah payah Ana berusaha melepaskan tangan Ken dari pinggangnya, tapi dia usahanya sia-sia. Kekuatan raja singa memanglah tak semudah itu dikalahkan. Ken makin menguatkan rengkuhannya pada Ana dari belakang.


"Lepaskan aku Ken! Biar aku beri pelajaran dia!", ucap Ana disisa tenaganya untuk melepaskan diri.


Ken memutar tubuh Ana hingga menghadap ke arahnya. Ia mengulas senyum dan membelai pipi Ana lembut. Kemudian ia memeluknya supaya Ana dapat meredam emosinya yang kentara dengan dadanya yang naik turun dengan ritme yang cukup cepat.


"Sudah! Ampunilah dia! Lihatlah dia sudah terlihat kacau akibat perbuatanmu", ucap Sam lembut di dalam pelukannya. Ia mengusap lembut kepala Ana, tujuannya tetap sama yaitu agar Ana berhenti termakan oleh emosinya lagi.

__ADS_1


Ana melihat ke arah Sam yang sudah kacau penampilannya dengan kemeja sedikit keluar dan dasi yang seperti habis tertarik dan berantakan. Ana menahan senyumnya sambil menghirup aroma maskulin tubuh Ken untuk menenangkan dirinya. Nafasnya mulai teratur, tanda bahwa dirinya sudah mulai terkendali.


Saat dirasa Ana sudah mulai tenang, Ken melepaskan pelukannya pada Ana.


"Sudah?", tanyanya untuk memastikan bahwa Ana telah selesai dengan emosinya pada Sam.


Ana melebarkan senyumnya dengan gigi yang berjajar rapi di sana. Ia mengangguk penuh semangat. Kemudian ia beralih ke arah Sarah yang tengah memegangi Sam yang sudah kacau.


Mendapati langkah kakak iparnya mendekat. Sam kembali meringkukkan tubuhnya dan menjadikan tangannya sebagai tameng dari apa yang akan Ana perbuat dengannya nanti. Sam mengernyit ketakutan setelah Ana sampai tepat di hadapannya.


Tangan Ana mulai melayang di udara, bukan ke arah Sam tapi malahan menarik Sarah mendekat.


"Ayo pulang!", Ana menarik Sarah hingga menjauh dari Sam.


Menyadari tak terjadi apa pun pada dirinya, Sam mengangkat kepalanya untuk melihat situasinya. Kemudian senyumnya melebar saat tau calon kakak iparnya itu bejalan menjauh darinya. Sam menegakkan dirinya lagi tapi masih memasang alarm kewaspadaan terhadap Ana.


Dua buah mobil bergerak mendekat dari arah halaman kediaman ini. Bertepatan pula dengan Nyonya Rima dan Joice yang mulai mendekat.


"Aku pulang!", ucap Ana lembut ke arah Ken.


"Aku akan mengantarmu", Ken hendak melangkah mendahului Ana.


"Tidak perlu! Aku masih ada sedikit urusan dengannya. Aku akan menjaga diriku baik-baik, oke", ucap Ana berusaha menenangkan Ken agar Ken tidak jadi mengantarnya.


"Mereka akan menjagaku! Kau tau kan?!", ucap Ana dengan senyum manisnya sambil melirik ke arah samping. Dan bersamaan itu pula ketiga bodyguard Ana keluar dari mobil di belakangnya.


Ken menghela nafas panjang. "Baiklah! Kabari aku nanti, oke!", Ken mengecup kening Ana sebelum melepasnya pergi. Rasanya berat sekali untuknya melepas kekasihnya itu pergi tanpa dirinya. Meskipun dijaga oleh beberapa bodyguard, tetap saja Ken akan lebih tenang jika memastikan keselamatan Ana dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


Ana melambaikan tangannya pada Ken dengan senyum hangatnya. Kemudian dia melemparkan lirikan tajam pada Sam yang berada di sebelahnya. Dan ia mengangguk pelan untuk pamit pada Tuan Dion yang berada di sebelah Sam. Tentu saja Ana melihat dua orang wanita yang baru saja tiba, tapi Ana malas untuk menghiraukan mereka, ia lebih memilih untuk langsung masuk ke dalam mobil yang diikuti oleh Sarah. Kedua mobil itu pun meninggalkan halaman kediaman besar Wiratmadja.


__ADS_2