Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 270


__ADS_3

"Tidak sabar untuk apa, Tuan?!", sapa Sam yang pertama kali masuk dengan sinisnya. Matanya menyipit mantap pria itu dengan kejam. Tangan pria itu menarik seseorang agar mereka menjadi sejajar, dan orang itu adalah Sarah.


"Selamat malam, Tuan Alexander!", lalu menyusul Ken di belakang bersama dengan Ana yang nampak segar bugar. Wajah dingin Ken sama persisi dengan yang Ana miliki. Suami istri itu sangat cocok jika diberikan gelar sebagai raja dan ratu dari dunia iblis lantaran tatapan mereka yang kejam dan tirani.


Dan masuklah Krystal bersama dengan Louis yang menggandeng tangannya. Lalu sepasang Tuan dan Nyonya besar Wiratmadja. Dan yang terakhir adalah lebih dari sepuluh orang anak buah geng Harimau Putih. Mereka semua masuk lalu membuat lingkaran mengelilingi Tuan Alexander sambil menodongkan senjata.


Lantas pria paruh baya itu segera bangkit dari duduknya. Wajahnya jelas sangat terkejut saat ini. Matanya melotot dan hampir keluar lantaran masih diliputi ketidakpercayaan. Satu persatu, ia pandangi orang yang berada di dalam ruangan itu. Situasi macam apa ini sebenarnya?!


"Sepertinya kau sangat terkejut?!", lalu Tuan Dion membuka suaranya. Pria itu masih menyunggingkan senyumnya yang ramah sambil merangkul bahu istrinya.


"Kau,,,", Tuan Alexander kehabisan kata-kata. Saat ini di dalam pikirannya sedang terjadi angin ribut yang membuatnya tak mampu membalas ucapan mantan calon besannya itu. Ia masih mencerna dengan baik situasi yang terjadi saat ini.


"Kau berencana menghancurkan keluargaku, bukan?!", lagi, Tuan Dion membuka suaranya.


Ia sedang memprovokasi orang itu agar mau mengakui semua kesalahannya dengan mulutnya sendiri.


"Kalian duluan yang mengusik keluargaku!", teriak Tuan Alexander marah pada semua orang yang berada di sana.


"Dimana yang lainnya?!", tanyanya pada pria di sebelahnya saat melihat orang yang membawa Megan bahkan ikut menodongkan senjata ke arahnya.


"Maaf, Tuan! Semuanya sudah tewas! Hanya saya saja yang disisakan oleh mereka!", pria itu menunduk saat memberikan jawabannya. Ia tak berani menatap mata siapa pun.


Kembali, Tuan Alexander menatap semua orang itu satu persatu. Ada banyak pertanyaan yang kemudian ia temukan sendiri jawabannya. Jika ia perkirakan, meskipun keluarga itu memiliki orang-orang hebat, tapi waktu yang mereka miliki tidak cukup untuk bisa sampai menyelamatkan dua wanita yang seharusnya mereka culik. Jadi pasti ada orang besar yang membantu mereka.


Dan tepat saat itu juga, pandangan matanya jatuh pada sosok yang menyendiri di ambang pintu. Sosok yang tak terlihat wajahnya karena saat ini ia sedang menundukan kepala dan topinya menutupi sebagian wajahnya. Ia merasa sangat familiar dengan gaya orang itu. Seperti pernah bertemu di suatu tempat sebelumnya.


"Kau sedang memandangiku, Tuan?!", perlahan Ben mengangkat kepalanya. Lalu membalas mata Tuan Alexander yang menatapnya. Sudut bibirnya naik ke atas, bukan tersenyum ramah, namun ia sedang tersenyum pada akhir riwayat orang itu. Sangat seram.

__ADS_1


Jika ini benar-benar adalah masalah yang ia punya tanpa ada campur tangan orang lain. Pasti Tuan Alexander itu sudah tak bernyawa detik ini juga. Berani bermain-main dengan nyawa adik dan keponakannya, tentu saja itu merupakan sebuah keputusan yang sangat salah.


"Anak buahku yang membunuh semua orang-orangmu! Kau telah berani membahayakan adik kesayanganku dan juga keluarganya. Maka kau harus tau bagaimana kau harus membayarnya!", Ben menjadi geram saat pria itu terus menatapnya.


Ia sudah menahan kesabarannya sejak tadi. Jadi jangan uji lagi kesabaran yang ia punya dengan tatapan aneh itu. Ben menodongkan senjata api yang ia ambil dari dalam saku celananya. Tatapannya yang dingin bahkan membuat anak buahnya sendiri di bawah tekanan. Mereka jadi takut membuat kesalahan. Karena mereka tidak mau menjadi sasaran kemarahan bos mereka itu.


"Tenang, Kakak! Jangan terlalu serakah! Masalah ini biar kami saja yang mengadilinya!", Ana melambaikan tangannya pada Ben agar pria itu menghentikan niatannya.


"Baiklah, terserah padamu! Tapi jangan terlalu lama!", dengan sikap acuhnya, Ben meletakkan kembali senjata apinya ke dalam saku celana.


"Selalu saja tidak sabaran!", Ana mencibir pada kakaknya itu.


Ada suaminya di sebelahnya yang saat ini sedang berwajah masam lantaran keakraban hubungan kakak-beradik itu. Tapi ia sadar, rasa cemburu dan irinya ini harus ia ke sampingkan terlebih dahulu. Dan mengutamakan orang yang ada di hadapannya ini.


Sedangkan Tuan Dion dan Nyonya Rima baru saja saling bertukar pandangan. Mereka sama-sama tersenyum, sepertinya apa yang mereka pikirkan saat ini adalah sama. Kedua orang tua itu sangat bangga pada menantu mereka. Wanita muda itu sangat hebat karena bisa menaklukan dua orang pria hebat sekaligus. Sebab Tuan Dion dan Nyonya Rima sudah tau siapa itu Ben yang sebenarnya, dan identitas apa yang disandangnya saat ini.


"Tuan Alexander,,,, Anda memerintahkan seseorang untuk melenyapkan anak kami yang bahkan belum lahir ke dunia ini", Ken mulai berbicara. Matanya menyipit dengan wajah datar khasnya, namun pandangan matanya saat ini sedang memindai ekspresi wajah orang tersebut.


"Anda bahkan mencoba melakukan percobaan penculikan dan berniat membunuh calon istri saya dan temannya", lalu Sam melanjutkan.


Kedua kakak beradik itu telah melepaskan pegangan tangan mereka dari pasangan masing-masing. Lalu berjalan mengelilingi pria itu yang masih berusaha terlihat tenang.


Tekanan yang Ken dan Sam berikan saat ini sebenarnya sudah cukup untuk membuat bulu kuduknya meremang. Bahkan sebenarnya sekarang, kepalan tangannya sudah gemetar di samping tubuhnya. Tapi pria itu tidak bisa menunjukkan dirinya yang lemah saat ini juga.


"Anda pasti bertanya-tanya Tuan, dari mana kami bisa tau semua rencana yang kau pikir berhasil itu?!", Ana melipat tangannya di depan dada. Menatap pria paruh baya itu dengan kesombongan.


Melihat hal ini, Ben tidak dapat tidak menyunggingkan senyumnya. Rasa bangganya begitu besar melihat Ana yang sangat berani seperti ini. Rasanya baru kemarin ia melihat Ana remaja yang masih suka bersikap manja pada mendiang Tuan Danu.

__ADS_1


"Kakak!", Ana memberi isyarat pada Ben.


klik


Setelah Ben menjentikkan jarinya, masuklah dua orang anak buahnya membawa Susi yang sudang diikat tangan dan mulutnya sudah disumpal kain tebal. Susi lalu dilemparkan ke tengah, tepat jatuh di dekat kaki Tuan Alexander.


Wajah Susi sangat ketakutan saat ini. Wanita itu meringkuk sambil merapatkan diri ke arah kaki Tuan yang sudah memberinya perintah sebelumnya.


"Kau telah menyusupkan dia selama setahun belakangan ini, kan di rumahku?!", Ken menatap pria paruh baya itu penuh cemooh.


"Ya! Aku membuatnya berada di dekatmu agar putriku bisa mengetahui segala hal tentang dirimu! Joice sudah mengorbankan banyak hal agar bisa terus berada di sampingmu. Masa remajanya, masa mudanya, karirnya yang cemerlang, semuanya hancur karena dirimu. Dan kau,,, wanita murahan yang datang entah dari mana lalu mencuri pria yang seharusnya menjadi pendamping putriku!", Tuan Alexander meluapkan emosinya. Lalu ia juga berteriak pada Ana yang saat ini tak gentar sedikit pun menatap pria paruh baya itu.


Ken sempat khawatir jika Tuan Alexander akan menyakiti Ana. Ia ingin menghentikan pria itu. Tapi isyarat tangan Ana mengatakan bahwa istrinya itu tidak apa-apa dan bisa menangani itu sendiri. Wajah tenang Ana membuat Ken mengangguk kecil.


"Putriku sudah mengejar Ken semenjak ia masih sekolah! Berusaha keras menjadi wanita paling cantik dan cerdas agar ia bisa selalu sejajar dengan pria ini. Tapi,,, tapi tiba-tiba kau hadir dan mengacaukan semua harapan dan impian putriku selama ini. Pria yang seharusnya ditakdirkan untuk putriku, malahan kau rebut begitu saja!", lagi, Tuan Alexander meluapkan isi hatinya.


"Kalian mempermalukan putriku! Memberikannya harapan dan pernikahan palsu! Lalu kalian menjatuhkan hidupnya sampai ke dasar. Sampai ia tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak. Kalian semua telah menghancurkan hidup putriku satu-satunya. Dan tentu saja juga aku. Secara tidak langsung kalian telah menghancurkan hidupku!", sangat emosional pria itu menyampaikan kata-katanya sampai air mata tergenang di pelupuk matanya.


"Kawan! Tapi yang kau lakukan saat ini adalah salah! Dan apa yang Joice lakukan saat itu juga sangat salah!", sebagai rekan yang pernah begitu akrab, Tuan Dion masih memiliki simpati terhadap Tuan Alexander itu. Ia ingin maju untuk menenangkan pria itu, namun buru-buru ditolak mentah-mentah olehnya. Jadilah ia memundurkan langkahnya kembali.


"Diam! Aku tidak butuh simpatimu sedikit pun! Kau yang seharusnya menjadi orang tua bagi putriku, tapi kau malahan mendukung semua yang dilakukan oleh anak-anakmu untuk menghancurkan hidup putriku!", Tuan Alexander melemparkan telunjuknya ke hadapan Tuan Dion dengan emosi yang masih menggebu-gebu.


"Putriku tidak bersalah! Dia hanya mengejar cintanya!", tambahnya lagi yang kini tatapannya dilemparkan untuk semua orang.


Melihat bahwa orang itu tidak merasa bahwa dia dan putrinya bersalah, Ben sudah sangat tidak sabar untuk meledakkan seluruh isi kepalanya. Tapi Ana tetap pada pendiriannya. Ia hanya mengangguk untuk memberi isyarat pada Ben. Ia akan menanganinya sendiri Sambil berdecak kesal, tentu pria eksentrik itu harus menuruti kemauan adiknya itu.


"Apa kau sudah selesai bicara, Tuan?!", suara Ana yang lembut dan tenang membuat semua orang menoleh ke arahnya. Pun, termasuk dengan Tuan Alexander yang menatapnya tajam.

__ADS_1


__ADS_2