
Di ruangan vip itu hanya tinggal menyisakan tiga wanita. Di sana terdapat Ana dan Sarah yang sudah berdiri di tepi ranjang sambil memandangi Risa yang masih terbaring tak sadarkan diri.
Tangan Ana bergerak menyentuh tangan Risa yang terdapat selang infus. Selang itu terhubung dengan jarum yang menusuk dan membuat lubang sangat kecil pada kulitnya yang rapuh.
"Kakak!", panggil Ana pelan dengan suara tersekat.
Seperti ada bola besar di kerongkongannya. Menyakiti dirinya bahkan untuk berbicara sekalipun rasanya sulit. Ia menatap sendu pada Risa dan mengusap lengannya pelan.
"Bangunlah, kak! Aku ingin mendengar ceritamu bertemu dengan Han. Aku juga ingin kau mendengar ceritaku tentang Ken. Ayo, bangunlah kak! Nanti siapa yang akan menemaniku menunggu ayah di kantor?! Siapa lagi yang akan aku ganggu di kantor ayah?!", Ana berucap pelan dan menitikkan air mata pada lengan Risa yang terpasang infus.
"Iya, kak! Aku bahkan belum berkenalan denganmu. Kau tau aku sebelumnya sudah menyukai calon suamimu itu. Aku tidak tau bahwa kalian sudah berhubungan. Kumohon maafkan aku ya, kak!", ucap Sarah setelahnya membuat Ana menoleh ke arah Sarah sambil tersenyum jengkel.
"Hey, memangnya dia kakakmu!", ucap Ana memaksakan untuk tertawa.
"Kalau dia kakakmu, berarti dia kakakku juga! Kau ini pelit sekali! Kita kan sahabat, jadi harus berbagi", ucap Sarah ketus.
"Tapi aku tidak mau berbagi Ken denganmu!", Ana mengerucutkan bibirnya sambil berkacak pinggang.
"Siapa bilang aku meminta kau berbagi Tuan Ken denganku. Dia itu seram, sama seperti dirimu! Hiii", ucap Sarah sambil bergidik ngeri. Dan mereka pun tertawa bersama, tetapi sesaat wajah Ana berubah muram karena teringat kondisi ayahnya yang juga tak sadarkan diri.
***
Lorong rumah sakit yang sepi dan dingin menyisakan tiga pria yang duduk bersebrangan di kursi tunggu di depan ruang pasien. Mereka termenung dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1
"Kau sudah bisa menjelaskan semuanya padaku, Han?", suara Ken memecah keheningan itu. Ken mengutarakan pertanyaannya setelah ia melihat Han menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Ya Tuan!", jawab Han menghadapkan dirinya ke arah Ken.
"Termasuk hubunganmu dengan sekretaris Risa!", timpal Sam dengan tatapan sengit. Jelas ada rasa iri dalam hatinya. Bahkan di antara mereka saat ini, hanya Sam lah yang tak memiliki pasangan yang jelas. Jika ditanya soal wanita, ia bisa memilih dengan hanya mengacungkan jari telunjuknya. Tapi kali ini berbeda, mereka sudah mendapat pasangan yang akan mereka bawa untuk berhubungan secara serius. Sedangkan Sam, sama sekali ia tak memilikinya. Bahkan wanita yang ia cintai pun belum menaruh hati padanya.
Ken yang paham maksud dari pernyataan adiknya itu pun melemparkan tatapan tajam ke arah Sam dengan bibir yang mencibir.
"Dasar bodoh! Bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini! Apa kau belum puas dengan kenyataan bahwa kau bisa mengejar wanitamu itu!", omel Ken dalam hati.
Seperti kucing yang baru saja disiram air oleh Tuannya. Sam meringkuk ngeri, ia juga merutuki dirinya sendiri yang dengan polosnya berpikir ke arah sana. Ia bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap jendela, membelakangi mereka agar leluasa berbicara.
"Emmhh,, tak apa Tuan. Saya akan menjelaskannya", ucap Han sopan.
"Sebenarnya saya dijodohkan oleh ibu saya dengan putri dari temannya sejak lama. Tapi saya selalu menolak", Han mengambil jeda untuk melegakan tenggorokannya agar lancar menjelaskan semuanya.
"Lalu bagaimana dengan sekarang?", tanya Sam tanpa membalikkan badan.
Ken tak bergeming dengan respon adiknya. Ia terlalu malas menanggapi hal sepele macam adiknya itu. Sedangkan Han hanya memberi lirikan singkat ke arah Sam yang masih membelakanginya.
"Dasar tukang gosip! Selalu saja penasaran dengan urusan orang lain! Saya tau anda iri kan, Tuan!", ucap Han dalam hati sambil melirik ke arah Sam.
"Ibu memohon untuk yang terakhir kalinya. Mengingat penyakit ibu saya yang sudah parah, jadi mana mungkin saya menolaknya. Kami baru saja bertemu tepat saat Nona Ana meeting di kantor bersama dengannya. Dan kami langsung cocok. Lagipula saya juga ingin merasakan hal-hal menyenangkan seperti Tuan. Juga sudah lama saya menyendiri... Jadi saya mohon maaf Tuan jika baru mengatakan hal ini", tutur Han kemudian menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Maka dari itu setelah mendengar kabar kecelakaan Tuan Danu dan Risa, saya segera mohon ijin pada Anda agar bisa dengan cepat sampai di sini. Karena saya begitu mengkhawatirkan nya", jelas Han panjang lebar.
"Dan ternyata keadaannya seperti ini", tambahnya berucap lemah. Wajah Han berubah sedih.
"Hemmh,, lalu bagaimana dengan kecelakaannya?", tanya Ken agar Han mengalihkan perhatiannya dan tidak sedih lagi. Ken merupakan bos yang baik hati. Meskipun tampilannya yang dingin dan antipati, tapi dia selalu memperhatikan bawahannya.
Sebelum menjawab, Han menegakkan punggungnya. Dia berdiri tegap seperti siap mengurai semua yang ia ketahui.
"Menurut orang kita, tak jauh setelah Tuan Danu meninggalkan bandara mobil yang ditumpanginya ditabrak oleh sebuah mobil box dengan kecepatan tinggi. Mobil Tuan Danu terlempar jauh dan nyaris terbakar. Supir box yang menabrak sudah tertangkap dan sudah mengaku bahwa ia orang suruhan Tuan Bram. Saat ini orang itu sudah diamankan", jelas Han datar. Namun di matanya ada pula api yang berkobar. Pasalnya, calon istrinya juga menjadi korban dalam insiden ini. Han berjanji dalam hatinya bahwa ia tak akan melepaskan hal ini begitu saja.
"Untuk orang suruhan Tuan Bram itu, kirim kabar kepada Tuan Bram bahwa orangnya tewas di tempat. Buat seolah-olah kita belum mengetahui apa pun dan ini hanya kecelakaan biasa. Dan sisanya aku serahkan kepadamu, Han", perintah Ken dengan wajah dingin. Air mukanya menggambarkan bahwa ia sedang merencanakan sesuatu. Namun ia tak ingin melampaui wewenangan Ana dalam hal ini. Ia akan membicarakannya terlebih dahulu dengan Ana nantinya.
Sam yang masih berdiri membelakangi mereka tak bergeming sambil memasang telinganya lebar-lebar ia mendengar dengan jelas semua penuturan Han dan perintah Ken. Saat ini bukan bagiannya untuk ikut berkompromi, terkecuali kakaknya sendiri yang meminta bantuannya. Karena ia tak memiliki hak untuk ikut campur dalam masalah ini. Nanti jika orang itu benar-benar membuat masalah dengannya baru Sam akan bertindak, dengan kejam.
***
"Ayah! Kumohon bangunlah! Apa ayah sudah tak ingin melihat wajahku lagi?! Apa ayah tidak merindukan aku?! Apa ayah tau, aku sudah tidak menjadi perawan tua lagi, ayah! Sekarang ada Ken di sisiku. Apa ayah tidak ingin melihatku menikah nanti dan memiliki cucu untukmu. Bukankah ayah ingin melihatku bahagia, jadi tolong sadarlah ayah! Jangan tinggalkan aku sendiri! Ibu sudah pergi, jika ayah pergi lalu bagaimana denganku! Bangun ayah, sadarlah! Kumohon!", Ana menangis pilu di samping ranjang ayahnya.
Ia mengharapkan dan memohon pada ayahnya yang tak sadarkan diri untuk bangun, untuk bisa menemaninya lagi. Deraian air mata mengalir tanpa henti membanjiri wajahnya yang sudah kusut sejak tadi. Matanya yang sudah bengkak, kini malah makin tak terlihat akibat tangisnya yang terus bersambung. Rintihan yang hanya bisa ia dengar itu menyeruak ke seluruh penjuru ruangan ayahnya. Ruangan dingin dengan bau khas rumah sakit, menambah getir rasa sakit di dadanya. Bau yang tak ia sukai semenjak kepergian ibunya dulu.
Bulir-bulir itu juga membasahi tangan Tuan Danu yang nampak lemah dan rapuh. Derasnya air mata membuat tangan ayahnya itu menjadi lembab dan becek. Ana menyeka air matanya berulang kali, namun tetap saja benda cair dan bening itu terus meluncur dengan bebasnya di pipi Ana. Kini Ana tengah duduk dengan tumpuan kedua lututnya yang lemas tak berdaya.
Suara knop pintu terdengar, Ken memasuki ruangan menyusul Ana di dalam. Hatinya sakit setelah melihat kondisi Ana saat ini. Ia mempercepat langkahnya menuju Ana yang masih terisak.
__ADS_1