Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 290


__ADS_3

Mentari malu-malu mulai keluar dari peraduannya. Siluet jingga mulai menghiasi langit subuh yang masih gelap. Ana mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memulihkan penglihatannya yang masih kabur akibat efek bangun tidur.


Ia memandangi suaminya yang masih terlelap itu sambil tersenyum. Mengingat betapa kasih sayang dan perhatian yang suaminya itu berikan tadi malam, membuatnya tak tahan untuk tidak menciumnya.


Ana mengecup singkat bibir suaminya itu sebagai ciuman selamat pagi. Dan juga rasa terima kasihnya, karena semalam, Ken benar-benar memanjakannya. Dan yang Ana tidak sangka adalah, Ken begitu handal dalam memijit kakinya. Bahkan seluruh tubuhnya yang tadinya terasa pegal, sekarang sudah tidak sama sekali. Malahan ia bangun dalam kondisi tubuh yang terasa segar.


Tadi malam bukanlah malam pengantin bagi kedua orang itu. Bukan lagi masanya bagi mereka. Jadi tak ada adegan-adegan ambigu di dalam kamar itu. Hanya curahan kasih sayang yang melimpah di antara keduanya. Ken masih tidak tega jika terlalu sering menginginkan Ana. Meskipun ia yakin bisa melakukannya dengan sangat hati-hati.


"Selamat pagi, Sayang!", suara parau pria itu terdengar dipaksakan dengan mata yang masih terpejam.


"Kau sudah bangun, Ken?!", Ana menengadah, melihat wajah tampan suaminya yang baru saja membuka matanya.


"Kau yang membangunkan aku, Sayang!", pria itu tersenyum meski matanya masih setengah terbuka.


Lalu Ken membalas ciuman selamat pagi yang Ana berikan kepadanya tadi. Hanya sebuah kecupan, tapi tidak hanya di bibir saja, lelaki itu juga mempersembahkan ciuman yang mendalam pada kening istrinya itu. Bahkan Ana sampai memejamkan matanya. Menikmati saluran perasaan cinta yang suaminya berikan di pagi hari ini.


"Apakah tubuhmu masih terasa pegal-pegal?", dengan perhatian Ken menanyakan hal yang membuatnya benar-benar khawatir semalam. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada istri dan calon anaknya. Karena ia tau jika ibu hamil itu tidak boleh sampai kelelahan.


"Baik,, sangat baik malahan! Terima kasih, Ken! Sayang, ayahmu memang selalu jadi yang terbaik!", setelah tersenyum pada suaminya itu, Ana pun mengusap perutnya sambil berbicara pada anaknya di dalam sana.


Tiba-tiba Ken bergerak, turun ke bawah hingga kepalanya kini menempel ke perut Ana. Ia berusaha mendengarkan apa yang sedang dikatakan oleh calon anaknya itu. Tangannya juga ikut mengusap perut istrinya itu dengan lembut.


"Anakku mengatakan jika ayahnya harus diberikan sebuah hadiah!", tiba-tiba saja Ana merasa menyesal melihat seringai licik khas suaminya itu. Ia sangat tau apa yang diinginkan oleh lelaki itu.

__ADS_1


"Ini masih sangat pagi, Ken! Lagipula kita harus bersiap untuk sarapan bersama yang lainnya!", Ana masih berusaha membujuk suaminya itu. Mungkin saja bisa berhasil. Meskipun ia tidak yakin sebenarnya.


"Justru karena ini masih terlalu pagi, Sayang! Aku berjanji ini tidak akan lama!", Ken sudah bangkit, sudah menindih Ana dengan hati-hati.


Tangannya membelai pipi istrinya itu terus sampai ke leher hingga ke bahunya. Lalu ia turunkan salah satu tali baju tidur yang berada di bahunya itu.


"Janji?!", Ana menahan tangan Ken untuk bergerak lebih jauh lagi.


"Janji!", lalu ia melepaskan tangannya setelah mendengar jawaban suaminya itu.


Meski dilihat dari mimik wajah Ken yang sedang menyembunyikan senyum kelicikannya itu, Ana tidak dapat percaya begitu saja padanya. Usaha yang bisa ia lakukan hanyalah mengingatkan suaminya itu sepanjang waktu selama mereka terjerat nanti.


Lagipula ia juga tidak mungkin menolak keinginan suaminya itu, karena ia tau Ken sudah menahan keinginannya untuk beberapa hari. Tapi ia tetap berharap jika suaminya itu tidak akan lama di dalam pergumulan mereka ini.


***


Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Seluruh keluarga sudah berkumpul di restoran hotel itu. Nyonya Rima duduk berdampingan dengan Tuan Dion, di seberangnya ada Nyonya Asih yang sedang sibuk bercengkerama dengan Krystal dan juga Risa. Dan ada juga Louis, Han dan juga Sandi sedang terlibat dalam perbincangan yang sangat seru.


Mereka belum menyentuh satu makanan pun. Padahal makanan itu sudah tertata rapi dan sangat banyak menyapa mereka dari atas meja. Mereka semua akan memulainya ketika semua orang sudah berkumpul di sana.


Jangan tanya siapa yang belum hadir, tentu saja para pengantin yang semalam menjadi raja dan ratu mereka. Kakak-beradik Ken dan Sam beserta istri mereka belum hadir di sana. Dan mereka semua masih memberi toleransi akan hal itu. Wajar saja,, namanya juga pengantin baru.


Tapi bagaimana jika mereka mengetahui jika sebenarnya tidak ada yang terjadi pada Sam dan Sarah, selaku pemeran pengantin baru di dalam keluarga itu. Dan malahan kedua orang itu belum hadir juga sampai saat ini. Apakah mereka semua akan meledeknya habis-hibasan nanti?!

__ADS_1


Sebenarnya itu yang ada di kepala Sarah sejak bangun pagi tadi. Dan yang sebenarnya juga adalah bahwa ia dan Sam tidak terlambat bangun pagi ini. Sam yang meminta Sarah untuk terlambat datang agar mereka bisa lebih percaya dengan bukti yang telah ia buat pada lehernya. Dan karena itu Sarah makin merasa bersalah pada suaminya itu.


"Hey! Jangan menundukkan kepalamu terus! Apakah lebih menarik melihat lantai hotel ini ketimbang melihat wajah tampan suamimu, heh?!", sambil berjalan pria itu mengusap kepala istrinya itu dengan penuh perhatian.


Sam tau apa yang sedang dipikirkan oleh Sarahnya itu. Padahal bukan ini yang Sam inginkan. Bukan rasa bersalah yang membuat istrinya itu menjadi bersedih. Padahal kan niatnya itu untuk membantu menjaga wajah mereka berdua agar tidak menjadi bahan ledekan karena tidak berhasil melaksanakan malam pengantin mereka.


Saat ini keduanya baru saja keluar dari lift yang membawa mereka menuju restoran yang letaknya berada di lantai paling atas hotel ini. Restoran itu sangat mewah, berada di lantai paling atas karena bermaksud menyajikan pemandangan ibukota dari ketinggian.


Sam menggandengan tangan Sarah sambil terus membawa langkah keduanya menuju meja yang telah ditata memanjang untuk mereka semua.


"Terima kasih, Sam!", mendadak Sarah mencium pipi suaminya itu.


Tapi ia langsung menundukkan kepalanya lagi seperti tadi. Jika sebelumnya ia menundukkan kepalanya karena merasa bersalah pada suaminya itu. Dan sekarang ia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang sedang malu karena baru saja mengambil inisiatif lebih dulu.


Pria itu terjerat dalam keterkejutannya sendiri untuk beberapa saat. Hingga akhirnya dia sadar, Sam menghentikan langkahnya lalu menahan tangan Sarah yang terus saja melangkah ke depan. Hingga wanita itu berhenti dan menoleh kebingungan.


Tak menunggu respon lebih jauh lagi, Sam langsung menghampiri tempat Sarah berdiri dan menanamkan bibirnya pada bibir lembut milik Sarahnya. Tindakan langka istrinya itu harus mendapat apresiasi, bukan?!


Sayangnya, belum sempat Sarah merespon ciuman yang Sam berikan padanya, sebuah teguran membuat bibir Sam tergelincir seketika.


"Ini masih pagi, Sam!", sambil lalu Ken menepuk bahu adiknya itu.


Memasang ekspresi datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Tangannya sibuk menggenggam tangan Ana.

__ADS_1


"Kakak!", Sam menggeram marah.


__ADS_2