
"Dokter, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Ken tak sabar. Dan semua orang menoleh ke arah suara Ken berasal.
"Pelurunya sudah berhasil kami keluarkan. Beruntungnya peluru itu tidak mengenai organ vitalnya. Hanya saja adik Tuan terlalu banyak kehilangan darah", dokter itu memberi penjelasan.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?", kali ini Sarah yang bertanya seraya berdiri dengan tatapan penasaran.
Wajah dokter berubah muram, ia menundukkan kepalanya sebentar. Dan hal itu membuat semua orang yang ada di sana menahan nafasnya, waspada dengan hasil terburuk yang akan mereka dengar.
"Sebenarnya tadi kami hampir kehilangan harapan saat kondisi adik Tuan makin memburuk. Beruntungnya kami memiliki cukup kantong darah yang cocok dengan golongan darah adik Tuan", penjelasan dokter yang diiringi dengan senyuman itu membuat semua orang menghela nafas dalam-dalam untuk merasakan kelegaan yang teramat mereka harapkan.
"Adik Tuan sudah melewati masa kritisnya, tapi saat ini dia masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius", dokter itu menepuk pelan lengan Ken seraya tersenyum. Ia bermaksud melunakkan ketegangan yang sangat nyata di mata dokter itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu!", dokter itu pamit lalu berangsur pergi sembari memberi hormat kepada Tuan Dion dan yang lainnya.
"Terima kasih, dokter!", ucap Ken tulus saat dokter itu menoleh akan memberi hormat kepadanya. Dokter itupun mengangguk, membalas ucapan terima kasih yang Ken berikan.
brruk
Kembali Sarah ambruk, terduduk di lantai dingin rumah sakit itu. Batu yang menghujam dadanya terasa hilang, beban berat yang ia bawa terasa sirna perlahan. Sebuah bayang-bayang samar yang sempat menghantui pikirannya sedikit bisa ia singkirkan. Saat ini paling tidak Sam sudah selamat. Selama hidupnya ini, Sam adalah orang pertama yang telah rela mengorbankan dirinya sendiri untuk Sarah. Sarah amat terharu, tapi juga seperti ada beban tersendiri untuknya bertemu dengan pria itu lagi.
Ana mendekat lalu membantunya berdiri. Air matanya belum juga kering, tapi kini ia harus menangis bahagia karena Sam telah terselamatkan. Ia membantu sahabatnya itu berdiri, lalu mereka saling berpelukan untuk melepaskan perasaan yang mengganjal di dalam hati mereka masing-masing. Perasaan yang sama, dimana rasa bersalah mengisi hati mereka.
"Sam selamat, Sarah!", ucap Ana di tengah pelukan mereka. Suaranya terdengar lirih bercampur tangis bahagia.
"Iya, dia selamat!", sedangkan Sarah merasa amat sedih saat ini. Rasanya ia harus melakukan sesuatu dimana hanya dia sendiri yang tau. Sebuah trauma yang membuatnya enggan bersama pria lagi selama beberapa waktu ini. Dan rahasia ini, ia simpan sendiri.
Pintu ruang operasi dibuka, Sam terlihat masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang pesakitan itu. Tubuhnya di dorong untuk dibawa ke ruang perawatan. Tuan Dion dan Nyonya Rima berdiri lalu berangsur mengikuti lajunya ranjang dimana putra bungsunya itu berada. Ken masih menunggu di tempatnya, ia menunggu Ana untuk berjalan ke arahnya.
"Ayo, kita lihat dia ke sana!", ajak Ana pada Sarah setengah menarik tangannya.
"Emmhh,,, sepertinya aku akan ke toilet dulu, Ana. Lebih baik kau duluan saja dengan Tuan Ken. Lihat, dia sudah menunggumu", ucap Sarah sambil memaksakan senyumnya dan matanya bergerak ke arah Ken berada.
"Baiklah, aku duluan ya!", Ana melambai seraya berjalan ke arah suaminya itu.
"Ayo!", ajaknya pada Ken setelah menggenggam tangan suaminya itu.
Ken sempat menoleh ke arah Sarah dengan tatapan yang sulit dibaca. Ken seperti tau bahwa Sarah tengah menutupi sesuatu dari mereka. Tapi pria itu merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuknya bertanya-tanya. Saat ini yang lebih penting adalah melihat bagaimana kondisi adiknya. Akhirnya mereka meninggalkan Sarah yang masih mematung dengan senyum yang jelas tengah dipaksakan.
brruk
__ADS_1
Kali ini Sarah terduduk di kursi tunggu. Air matanya yang belum mengering kembali membanjiri wajahnya. Sebuah ingatan masa lalu muncul dalam benaknya. Perasaan hancur itu datang lagi menghujam hatinya. Perasaan bertahun-tahun lalu yang sempat ia kubur dalam-dalam.
Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Sarah bangkit sambil menyeka air matanya. Wanita itu mulai berjalan tapi bukan ke arah ruang rawat dimana Sam berada. Langkahnya berlawanan arah malahan ke arah pintu keluar rumah sakit itu.
***
"Ya, Sam baik-baik saja, dia juga sudah dipindahkan ke kamar rawat. Sekarang masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius", ucap Ken pada sambungan teleponnya.
"Kau urus sisanya! Dan pastikan tak ada media yang membuka suara mengenai insiden penembakan ini. Tutupi keberadaan Sam di rumah sakit ini!", perintah Ken lagi setelah mendengar sahutan dari seberang sana. Kemudian ia menutup obrolannya itu setelah mencapai kesepakatannya dengan Han. Ken menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Mereka saat ini tengah berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke ruangan tempat Sam dirawat nanti. Ken telah memesan kamar VVIP yang memiliki pengamanan tingkat tinggi sehingga seluruh privasi pasien dan keluarga sangat dijaga di sana. Keluarga mereka bukanlah keluarga yang biasa, maka dari itu Ken harus menjaga agar berita terlukanya Sam tidak tersebar luas oleh media. Karena tujuannya adalah bahwa ia ingin menjaga kestabilan perusahaan yang ia kelola bersama adiknya itu. Ken tak ingin memancing sesuatu hal apapun yang akan mempengaruhi keberlangsungan perusahaannya.
"Sayang!", panggil Ken pada Ana setelah mengingat sesuatu.
ting
Pintu lift terbuka, mereka pun masuk ke dalamnya. Ken menekan tombol lantai 10 dengan tenang, namun hal yang akan ia bahas jelas memang mengusik benaknya saat ini.
"Ada apa, Ken?", tanya Ana penuh minat.
"Apakah kau yakin tidak apa-apa kita meninggalkan Sarah sendirian? Aku merasa ada hal yang aneh dengannya. Sarah seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari kita", tutur Ken hati-hati pada istrinya.
"Aku serius, sayang! Dia itu sahabatmu, kau pasti sangat peduli padanya, kan?!", Ana mencoba mencerna kalimat suaminya. Memang ada benarnya apa yang Ken ucapkan, tadi Ana merasa senyum yang Sarah keluarkan terasa dipaksakan.
"Benar, Ken! Tapi apa yang ia sembunyikan?! Aku merasa tak ada lagi rahasia yang tidak aku ketahui tentangnya. Sarah telah menceritakan semua tentang dirinya kepadaku, begitu pula sebaliknya dengan diriku. Aku agak ragu sebenarnya jika menyembunyikan sesuatu hal dariku", jelas Ana dengan prediksinya.
"Kuharap ini hanya perasaan kita saja!", tambah Ana yang sebenarnya berusaha menghibur dirinya sendiri. Ia jadi khawatir mengenai Sarah, sahabatnya itu. Ana memang tidak memperhatikan dengan jelas tingkah aneh Sarah. Hanya saja perasaannya merasa tidak enak saat ini.
"Baiklah, kuharap juga begitu! Coba kau tanya dimana dia sekarang, sayang!", perintah Ken yang sudah sama khawatirnya. Ia mempunyai firasat buruk saat ini.
"Baiklah!", Ana pun setuju dengan ide yang Ken berikan.
Ana meninggalkan sebuah pesan ke nomor Sarah.
"Sarah apa kau sudah selesai dari kamar mandi? Dimana kau sekarang? Kami sudah sampai di kamar Sam. Kamarnya berada di lantai 10. Segeralah menyusul!".
ting
Pintu lift kembali terbuka, kini mereka sudah sampai pada lantai yang mereka tuju. Ken menggenggam jemari Ana sambil membawanya keluar dan melangkah bersama lagi.
__ADS_1
"Apakah sudah ada balasan?", tanya Ken lagi dengan wajah serius.
"Belum!", Ana menggeleng lemah lalu menundukkan kepalanya dalam.
drett,, drett
Sebuah pesan masuk ke nomor Ana. Ia segera menscroll layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang mengiriminya pesan. Apakah itu Sarah, Ana benar-benar penasarannya dibuatnya.
*pesan dari : Sarah
Ana maaf, aku harus segera kembali ke rumah. Sakit jantung ibuku kambuh lagi. Maaf aku akan segera mengunjungi kalian lagi nanti*".
"Lihat!", Ana menunjukkan ponselnya kepada Ken.
"Baiklah, biarkan saja dulu!", ucap Ken yang langsung disambut dengan anggukan kepala oleh Ana, istrinya.
Mereka berdua sama-sama mengerti bahwa Sarah hanya sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Meskipun mereka tidak tau apa penyebab dari tingkah aneh wanita itu, namun dari pesan yang Sarah kirim, wanita itu jelas hanya sedang membuat alasan untuk menghindar.
-
-
-
-
-
-
jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya π
**baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
terimakasih teman-teman π
love you semuanya π
__ADS_1
keep strong and healthy ya π₯°**