Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 50


__ADS_3

"Ya tentu saja aku ingat. Dia adalah teman wanita yang selalu menempel padaku bahkan dalam hal prestasi pun", ucap Ken dengan penekanan pada setiap katanya. Tak lupa ia memberikan seringai tipisnya ke arah bunda maupun Joice.


***


Nyonya Rima dan Joice hampir tersedak mendengar penuturan Ken. Berbanding terbalik dengan yang mereka harapkan. Ken malah mulai menyerang mereka.


"Ken!", Joice berucap dengan suara tersekat yang hampir tak terdengar.


"Ken! Apa maksud ucapanmu?!", Nyonya Rima menaikkan sedikit intonasinya.


Ken masih memasang wajah datarnya, ia malas menggubris dua orang di hadapannya. Tapi sedetik kemudian matanya terbelalak kaget.


"Sayang, mulutmu sedikit kotor karena terlalu banyak bicara!", ucap Ana lembut sambil mengusap ujung bibir Ken dengan satu jarinya. Ana menipiskan bibirnya sambil memandang Ken.


Melihat tingkah wanitanya yang mulai bereaksi dengan tenang, Ken menyunggingkan salah satu sudut bibirnya sambil membalas tatapan Ana.


"Terima kasih, sayang!", ucap Ken lembut pada Ana sambil mengelus tangan Ana yang mengusap bibirnya. Suasana pun mulai menegang.


"Eherm! Bagaimana denganmu nona Ana. Apa pekerjaanmu?", tanya Tuan Dion yang lagi-lagi memecah keheningan.


Butuh waktu beberapa saat untuk Ana berpikir apa yang harus ia katakan pada mereka saat ini. Toh nyatanya memang saat ini dia tak sehebat apa yang Joice katakan. Karena selama ini ayahnya selalu menyembunyikan bakatnya dari dunia luar.


Ken memperhatikan raut wajah Ana yang nampak bingung. Ia memahami apa yang ada dipikiran Ana. Dia yang begitu berbakat namun tak memiliki prestasi untuk dibanggakan, Ken tau bagaimana perasaan Ana saat ini. Tapi Ken mengusap kepala Ana lembut sambil menganggukkan kepalanya pelan. Ken percaya pada apa pun yang akan Ana katakan. Karena bagaimanapun juga Ken mencintai Ana apa adanya bukan karena siapa Ana sebenarnya.


Ana mulai membuka mulutnya untuk berucap. Tapi belum juga keluar suaranya, Nyonya Rima telah menyelaknya.


"Mungkin saja Nona Ana malu ayah untuk mengatakan apa pekerjaannya saat ini. Karena bagaimanapun juga Joice terlihat hebat bukan sebagai seorang wanita, sehingga Nona Ana tidak enak hati untuk membandingkan dirinya dengan Joice, bukan begitu sayang!", ucap Nyonya Rima sambil mengarahkan senyumnya Joice yang ada di sebelahnya.


"Ah, tante bisa saja!", Joice memasang senyum canggungnya.


Aura dingin langsung melingkupi sekitar meja makan ini. Ken segera melempar tatapan tajam yang langsung menohok ke arah bundanya dan Joice secara bergantian. Berbeda dengan Ana yang nampak tenang mendengar ucapan mereka.


Ana menyenderkan tubuhnya pada punggung kursi dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Ia menipiskan matanya ke arah dua orang di hadapannya.

__ADS_1


"Malu, heh! Jadi anda berpikir aku malu?! Aku tidak malu mengakui pekerjaanku saat ini. Dengar baik-baik Nona Joice dan Nyonya Rima, aku bekerja part time di club malam dan di sebuah minimarket. Aku memang tak sehebat apa yang diceritakan Nona Joice. Tapi aku memulai pekerjaanku tanpa andil dari siapa pun bahkan orang tuaku sekali pun. Aku belajar semuanya dari bawah, dan aku mendapatkan penghasilanku dengan cara yang benar. Aku bangga dengan apa yang aku jalani saat ini. Dan itu sudah cukup bagiku", Ana menuturkan semuanya secara gamblang dengan tatapan tenang. Ken memilih diam, karena kali ini adalah giliran wanitanya bertindak.


"Ah, rasanya aku ingin pulang saja! Mengapa situasinya jadi kacau begini!", gerutu Han dalam hati.


Nyonya Rima mencemooh dalam hati mendengar penuturan Ana yang mengatakan bekerja di club malam. Dalam benaknya, Ana itu pasti wanita sembarang yang Ken temui di sana.


"Jadi kau menjual tubuhmu di sana?! Wanita macam apa kau ini?! Berapa Ken membayarmu? Aku akan membayarmu lebih, tetapi jauhi putraku sekarang juga. Apakah ibumu tidak mengajarkan mu bagaiman harusnya menjaga kehormatan seorang wanita!", racau Nyonya Rima sambil mendengkus kesal.


"Bunda!", Ken dan Tuan Dion teriak bersamaan. Menurut mereka kali ini ucapan Nyonya Rima sudah keterlaluan. Tapi bukannya sadar, beliau malah menatap tidak suka ke arah suami dan putranya itu.


"Apa?! Apakah yang aku katakan salah?!", ucap Nyonya Rima dengan nada menantang. Joice hanya diam, dia mengamankan posisinya terlebih dahulu. Karena ia tahu jika ia ikut membuka suara, maka Ken akan makin tidak suka padanya.


Belum juga sempat menjawab segala ucapan Nyonya Rima yang begitu merendahkannya, ditambah lagi beliau yang membawa ibunya dalam ucapannya membuat Ana sudah tak dapat menahan amarahnya. Tiba-tiba sebuah suara datang dari arah depan.


"Kakak!", panggil Sam bersemangat dari arah ruang tengah.


"Kakak ipaaaarr !", jerit Sam histeris saat melihat Ana duduk di sebelah kakaknya.


"Bahkan Sam pun mendukungku", batinnya terlalu senang.


Sam berlari kecil menghambur ke arah Ken, ia memeluknya erat. Kemudian dia beralih melihat Ana dengan mata berbinarnya. Ken memperhatikan tingkah adiknya tidak suka, ia mendengus kesal.


"Apa kau ingin aku congkel bola matamu!", ancam Ken dengan dengusan kesalnya.


Sam terkekeh dan tak mempedulikan ucapan Ken, ia lebih memilih memeluk Ana yang akan menjadi kakak iparnya itu.


"Oh kakak ipar! Mengapa kau begitu cantik malam ini!", ucap Sam setelah melepas pelukannya. Ken masih menatap Sam tajam.


"bbam!", pipi Joice tertampar lagi oleh kenyataan yang ada bahwa bahkan Sam telah mengenal Ana dan mengakuinya sebagai kakak iparnya. Dia mendengus kesal, tapi kemudian ia mencoba tetap tenang. Tapi di bawah meja tangannya terlihat mengepal dan mencengkram sedikit gaunnya, ia menahan rasa kecewanya.


"Dan lihatlah kalian berdua! Gaun dan jas yang kalian pakai terlihat sangat serasi. Pasti ini kakak ipar yang memilih bukan?! Aku mana percaya jika kakakku yang memilihnya!", ucap Sam nyinyir ke arah Ken. Tapi kemudian ia tertawa setelah menyadari kehadiran Han di sana dan ia memakai jas yang sewarna dengan gaun milik Joice. Sam terkekeh, kini ia paham apa maksud dari semua ini.


"Oh, Han! Maaf aku baru menyadari keberadaan dirimu! Wah, kau tampan juga ya ketika memakai jas dengan warna lain. Jangan kaku seperti kakakku!", ucap Sam dengan tawanya.

__ADS_1


"Berisik!", Ken mendaratkan sebuah sendok pada kening Sam.


Sam mengelus keningnya yang terasa nyeri, ia tak peduli dengan keningnya. Dia masih bersemangat menyelesaikan ucapannya.


"Wah, ada Nona Joice rupanya! Kau cantik sekali nona!", Sam memasang senyumnya.


"Kau terlihat sangat serasi.. dengan Han!", Sam menyelesaikan kalimatnya dengan lambat-lambat dan di akhiri dengan kekehan.


Han langsung tersedak mendengar ucapan Sam. Ken buru-buru mengarahkan segelas air putih padanya.


"Pelan-pelan, Han!", Ken terkekeh sambil memukul-mukul punggung Han pelan membantunya melancarkan makanan yang menyangkut di tenggorokannya.


Ana nampak mengembungkan pipinya menahan tawanya yang ingin ia lepaskan sekencang-kencangnya.


Dan wajah Joice kini benar-benar tenggelam, ia menunduk hingga dagunya menyentuh ke bawah. Nyonya Rima menyadari hal itu, ia mengelus lengan Joice lembut. Ia mencoba menenangkan Joice yang sudah terlanjur murung. Joice menatap Nyonya Rima dan memaksakan senyumannya.


Tuan Dion sudah melebarkan senyum yang sejak tadi ingin ia kembangkan. Tapi ia tetap harus menetralisir keadaan ini.


"Kenapa baru datang Sam?", tanyanya pada Sam. Dan Sam pun baru ingat bahwa ia belum menyapa orang tuanya karena sibuk mencela di sana-sini. Sam pun mendatangi ayahnya dan memeluknya.


"Ada sedikit urusan ayah!", Sam memamerkan senyum lebar setelah melepas pelukannya.


"Bunda!", Sam beralih ke arah bundanya yang masih memasang wajah masam.


"Dasar anak nakal!", ucap Nyonya Rima setelah melepas pelukan putra bungsunya.


"drrer, drret, drret!", ponsel Sam bergetar. Seseorang melakukan panggilan untuknya.


Sam merogoh saku celananya dan menggeser tombol terima panggilan.


"Baiklah!", ucapnya singkat dengan wajah serius kemudian ia meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.


"Aku keluar sebentar ya, ada urusan penting!", ucap Sam yang telah berubah dengan wajah cerianya. Ia melangkah ke arah depan meninggalkan mereka yang kembali dengan aura menegangkan di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2