
Sarah mengerti, pria itu tengah merasa gugup rupanya. Sarah tersenyum lembut ke arah punggung pria itu. Lalu iyw langkahkan kakinya mendekat ke sana.
Saat Sam sedang berusaha menguasai rasa gugupnya, tiba-tiba sebuah tangan yang lembut masuk menautkan jemarinya dengan jemari miliknya. Sam menoleh ke arah orang itu, dia adalah Sarah. Wanita itu tersenyum, meskipun tak mengarah kepadanya. Tapi ia seakan mengerti gundahnya perasaan Sam saat ini. Lalu tangan itu membawanya melangkah menuju ke arah teras rumah. Dimana semua orang sudah menunggu mereka di sana.
Sarah paham, Sarah mengerti, pria itu sedang gugup. Dan hal itu wajar terjadi saat seorang pria akan bertemu dengan orangtua dari kekasih mereka. Apalagi saat ini lebih seperti lamaran, meskipun tidak secara resmi. Tapi tetap saja, segagah-gagahnya seorang pria, di momen seperti ini nyalinya pasti akan ciut juga. Apalagi Sarah sudah memiliki pengalaman seperti ini sebelumnya saat bersama Reyhan dulu, jadi ia sangat mengerti apa yang Sam rasakan saat ini. Dan tugasnya sebagai pasangannya adalah untuk bisa menyemangati orang itu dari rasa gugupnya saat ini. Pria itupun menguarkan senyumannya setelah merasa diisi semangatnya.
"Apakah selama ini kau tinggal di sini?", Sam bertanya pelan saat mereka hampir sampai di teras mansion mewah itu. Maksud Sam adalah selama mereka tidak bertemu belakangan ini. Karena ia merasa sangat kesulitan untuk mencari jejak Sarah yang hanya seorang biasa.
"Ya!", jawab Sarah singkat.
Sam langsung berpikir. Benar saja mengapa selama ini dirinya sangat kesulitan untuk menemukan keberadaan Sarah. Selain ada campur tangan kakaknya, wanita ini juga disembunyikan di tempat yang sama sekali tak terpikirkan oleh Sam. Lagipula sejak kapan saudara sepupu itu menjadi akur. Sam sungguh penasaran. Tapi diluar itu, ia juga merasa lega karena perselisihan keluarga Winata akhirnya selesai juga.
"A,,Ana! Ada apa dengan wajahmu? Kenapa kau pucat sekali?!", baru saja akan menyapa para tamu yang baru saja datang Krystal langsung panik melihat kondisi saudaranya yang lemah dan pucat. Krystal datang dari arah dalam bersamaan dengan Ibu Asih di belakangnya. Melihat ibunya, Sarah buru-buru melepaskan genggaman tangannya pada Sam. Dan pria itu hanya bisa memandang tangannya yang kembali kosong.
"Tidak apa-apa! Nanti setelah aku makan juga akan pulih lagi", Ana mengeluarkan wajahnya saat saudaranya itu bertanya padanya.
"Oh,,, Selamat siang, Tuan dan Nyonya! Silahkan masuk! Maaf aku terlalu khawatir dengan saudaraku ini!", Krystal segera memberi salam seraya membungkukkan sedikit tubuhnya. Ibu Asih juga melakukan hal yang sama dengan yang Krystal lakukan di belakangnya.
"Selamat siang, Nona Krystal! Tidak apa-apa, jangan sungkan. Ana memang harus lebih diperhatikan saat usia kehamilannya yang masih muda seperti ini", Nyonya Rima membalas sapaan Krystal dengan wajah ramah.
"Memang benar, Nyonya! Sepupuku ini memang suka keras kepala! Kadang dia suka sok kuat di depan orang lain, padahal yaahhh,,,, ", Krystal memiliki senyuman mengejek saat memandang ke arah Ana yang masih berada di dalam gendongan suaminya.
"Benarkah?", wajah Nyonya Rima dibuat seakan-akan tak percaya.
"Jangan dengarkan dia, Bunda! Sini kau, berani sekali kau mengejekku di depan semua orang!", Ana gemas. Ia sampai menggigit bibir bawahnya menahan kesal dan meronta-ronta agar diturunkan oleh Ken. Ia ingin memberi satu pelajaran pada sepupunya itu.
"Diam!", Ken membulatkan matanya dan memerintah dengan nada tegas pada istrinya itu. Dan sontak, Ana pun langsung menurut dan kembali menyembunyikan wajahnya lagi pada dada bidang suaminya. Semua orang tertawa, suasana menjadi lebih hangat sekarang.
Tapi senyum canggung timbul tatkala pandangan mata Sam bertemu dengan pandangan mata Ibu Asih. Dan Sarah menangkap hal ini, maka ia memilih untuk menghampiri ibunya di belakang Krystal.
"Ah,,,, ini Ibu Asih, benar?", Tuan Dion dengan wajah ramah menyapa wanita paruh baya yang baru saja dihampiri putrinya.
"Ya, benar!", Ibu Asih membalas uluran tangan Tuan Dion yang bermaksud menjabat tangannya.
__ADS_1
"Saya Dion Wiratmadja, ayah dari Ken dan Sam", sedikit memberi guncangan pada tangannya, Tuan Dion menarik kembali tangannya.
"Saya Rima, bundanya Ken dan Sam", sekarang giliran Nyonya Rima yang menjabat tangan Ibu Asih.
"Emmh,,, bagaimana jika kita lanjutkan di dalam saja agar lebih santai?", Krystal menawarkan mereka semua untuk masuk dengan menghela tangannya ke arah dalam.
"Krystal, pinjami aku kamar tamu! Aku ingin sekali merebahkan tubuhku. Kepalaku pusing, jadi jika ada puding mangga di kulkasmu maka segera bawakan untukku, ya!", dengan suara manja Ana meminta pada sepupunya itu setelah para orang tua sudah masuk terlebih dahulu.
"Hey, wanita hamil! Apa hubungannya pusing dengan puding mangga?", Krystal berkacak pinggang di depan Ken yang menggendong Ana sambil menahan kesal.
"Sudah! Sudah! Ibu hamil selalu benar. Kau harus lebih sabar lagi. Dia bahkan meminta hal yang lebih gila lagi dari itu", Sarah menarik tangan Krystal sambil berbisik menahan wanita itu agar tidak lebih kesal lagi pada sahabatnya. Pasalnya dia sendiri juga sudah menjadi korban permintaan Ana yang sangat ekstrim, yaitu untuk berada di satu pelaminan dengan Ana sendiri dan Ken.
"Apa memangnya?", Krystal dibuat penasaran olehnya. Permintaan macam apa sebenarnya yang dikeluarkan oleh sepupunya ini, ia ingin sekali tau.
"Nanti ku beritahu!", balas Sarah masih sambil berbisik.
"Apa kalian masih lama? Aku sudah pusing sekali!", keluh Ana pada kedua wanita itu dengan wajah yang mengesalkan. Tapi memang iya, bahwa ia sudah sangat ingin merebahkan tubuhnya. Selain pusing ia juga merasa lemas karena perutnya kembali kosong tanpa makanan sama sekali.
"Semenjak hamil temanmu itu jadi galak sekali!", gerutu Krystal pada Sarah yang kini berjalan di sampingnya.
"Bahkan sebelum hamil pun dia sudah galak, semua orang tau itu!", balas Sarah dengan santainya. Ya karena memang ia sendiri yang menjadi saksi bagaimana Ana jika sudah marah. Wanita itu akan mengeluarkan taringnya seperti singa betina yang siap memangsa.
***
Semua orang telah berkumpul di ruang tengah, kecuali Ken dan juga Ana. Pria itu memilih untuk menemani istrinya beristirahat. Karena ia merasa tak tega melihat kondisi istrinya yang terlihat lemah.
Suasana menjadi agak tegang dan sedikit canggung setelah keluarga Wiratmadja menyampaikan maksud dari kedatangan mereka. Ibu Asih nampak ragu untuk memberi jawaban. Seperti terlalu banyak yang ia pertimbangkan saat ini. Wajar saja, terlalu banyak perbedaan yang membentang di antara putrinya dengan putra bungsu dari keluarga mereka. Ibu Asih jelas sangat khawatir Sarah akan tersakiti nanti jika sudah masuk ke dalam keluarga yang sangat ternama itu. Dirinya juga seakan memiliki beban tersendiri karena berasal dari kalangan biasa yang tak sepadan dengan mereka.
Tapi beliau ingat apa yang Ana katakan semalam. Bahwa kebahagiaan Sarah adalah yang paling penting. Lagipula Ana bisa menjamin dengan dirinya sendiri bahwa keluarga suaminya itu sangat baik dan hangat. Tidak seperti apa yang Ibu Asih bayangkan. Meskipun mereka merupakan orang-orang terpandang, tapi kehangatan dan keharmonisan adalah yang terpenting di sana.
Ibu Asih juga bukannya tidak tau jika selama ini Sarah sering sekali menangis karena memikirkan pria itu. Beberapa kali Ibu Asih memergoki Sarah tengah menitihkan air matanya sambil merapalkan nama Sam dengan mulutnya. Sebagai ibunya, Ibu Asih tentu tau betapa putrinya itu ternyata memiliki perasaan kepada Tuan Sam itu. Tapi tetap saja, sebagai ibu pun ia merasa khawatir jika putrinya nanti akan merasa tak bahagia. Sarah telah mengorbankan banyak hal untuk keluarganya setelah ayahnya meninggal. Maka kali ini Ibu Asih hanya berharap yang terbaik untuk putri sulungnya itu.
"Jika Sarah mengatakan iya, maka saya juga sama", begitu akhirnya Ibu Asih memberikan jawabannya sambil menggenggam tangan putrinya yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
Sarah menitihkan air matanya mendengar jawaban dari ibunya itu. Ia tak menyangka jika ibunya akan langsung memberi jawaban seperti itu. Sedangkan sebelumnya ibunya bersikeras mengatakan agar dirinya menjauh dari Sam.
"Terima kasih, Ibu! Bisakah aku memanggil Anda seperti itu sekarang?", Sam mendekat ke arah Ibu Asih lalu bersimpuh di dekat kakinya. Ia menatap wanita itu penuh haru dan bahagia sambil menggenggam erat tangannya.
"Ya!", Ibu Asih pun mengangguk seraya tersenyum. Dan tak terasa satu titik cairan bening melesat dari ujung matanya.
"Ibu, aku tidak bisa berjanji banyak. Aku hanya berjanji akan membahagiakan putri Ibu", Sam mencium punggung tangan Ibu Asih. Dengan tulus ia mengucapkan janjinya dipenuhi rasa lega karena ia sudah mendapatkan restu dari calon mertuanya itu.
"Tunggu dulu!", Sarah meletakkan tangannya di atas tangan Sam yang menggenggam tangan ibunya. Lantas semua orang yang berada di ruangan itu segera mengalihkan perhatiannya kepada Sarah.
"Memangnya aku sudah memberi jawaban?!", tanya Sarah dengan wajah acuhnya.
Sam membelalakkan matanya. Benar, Sarah memang belum mengatakan jawabannya. Tapi apa iya, sudah menangis haru begini Sarah masih akan menolak dirinya. Sam menjadi menatap wanita itu dengan penuh waspada.
-
-
-
-
-
**kira-kira Sarah mau ngasih jawaban apa ya?! Tunggu episode berikutnya ya teman-teman π
tenang aja, Sarah udah ga galau lagi kaya sebelumnya kok, jadi jangan marahin Sarah terus ya kalian π€
aku tunggu dukungan kalian ya dengan kasih like, vote sama komentarnya βΊοΈ
keep strong and healthy ya semuanya π₯°
terima kasih π**
__ADS_1