Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 225


__ADS_3

Sedangkan kedua kakak beradik, Ken dan Sam. Keduanya sedang terlibat pembicaraan serius di dekat jendela ruangan itu. Tempat yang paling tepat untuk melihat keadaan di luar sana.


"Kemana ya ponselku? Sam, apa kau melihat ponselku?", Sarah keluar dari tirai tempat Ana mengganti pakaiannya sambil merogoh tasnya.


"Ya,,, ah maksudku tidak!", Sam gugup. Ia berusaha menenangkan dirinya agar tidak terlihat mencurigakan di depan Sarah.


Tadi, saat wanita itu mengganti pakaiannya kembali. Sam tak sengaja melihat ponsel Sarah di dalam tasnya. Jadi dia berinisiatif menyimpan ponsel itu agar Sarah tidak menemukan berita apapun saat ini. Ia tidak ingin membuat Sarah khawatir.


"Bagaimana mungkin! Aku sangat ingat jika tidak pernah mengeluarkannya dari sini", masih sibuk mencari, Sarah juga berjalan mendekat ke arah Sam, ke arah jendela.


Sam sedikit panik, ia bersitatap dengan Ken yang masih tenang. Kakaknya itu hanya menatapnya penuh arti dan berdiri dengan begitu elegannya. Berada di antara cahaya yang masuk melalui jendela, berdiri tegap dengan tangan yang dimasukkan ke dalam kantung celananya. Pria itu tidak menampakkan jejak emosi apapun. Mungkin juga ia membantu Sam agar Sarah tidak terlihat curiga.


"Apakah kau yakin tidak melihat ponselku?", sekarang Sarah menatap Sam masih terus mendekat.


"Emmhh,,, mungkin tertinggal di mobil! Mungkin saja, kan! Sudah,, nanti kita cari lagi ya. Kau sepertinya kelihatan lelah, lebih baik kau duduk saja dulu di sini ya, sayang!", Sam bergegas menggiring wanita itu untuk menjauh dari jendela. Ia mendudukkan Sarah di sofa yang letaknya dekat dengan pintu, sehingga ia bahkan tak dapat menjangkau pemandangan di luar sana.


"Ah, sayang sekali! Padahal aku ingin sekali mengambil foto bersama Ana. Masa momen seperti ini tidak bisa aku abadikan, sih!", Sarah cemberut karena keinginannya ini tidak dapat terpenuhi.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu nanti aku akan mengambil foto dirimu dan juga kakak ipar dengan ponselku dulu. Bahkan kita bisa foto berempat sekalian, okeh!", Sam telah berhasil menenangkan wanitanya setelah mendapatkan satu anggukan kecil meskipun wajah itu masih saja menahan kesal. Tapi paling tidak, Sam bisa merasa sedikit lega saat ini.


"Sayang, kenapa di luar ribut sekali?!", tiba-tiba Ana keluar dengan pertanyaan yang membuat Ken dan Sam kembali tegang. Punggung mereka menjadi tegak seperti patung. Namun sebisa mungkin kedua pria itu terlihat tetap tenang di depan kedua wanita itu. Meskipun dengan satu lirikan, Sam bertanya alasan apa yang harus mereka buat sekarang.


"Entahlah! Mungkin sesuatu terjadi di luar sana. Sudah jangan dipikirkan, lebih baik kita turun sekarang!", mengalihkan pandangannya ke arah Ana, Ken lalu menggandeng tangan istrinya itu dan menggiringnya ke arah luar.


Meskipun menangkap sebuah keanehan, tapi Ana tetap mengikuti arahan suaminya itu. Ia sempat melemparkan pandangan penuh tanda tanya pada Sarah yang masih terduduk di ruangan itu.


"Apakah ada yang kalian sembunyikan?", wajah Sarah menginterogasi.


"Memangnya apa yang perlu disembunyikan, sayang?! Yasudah, ayo kita turun. Yang lain sudah menunggu di bawah", Sam tersenyum tenang sebisa mungkin dan ikut menggiring Sarah ke luar. Sebelum pikirannya kembali tertuju pada keramaian di luar jendela.


Sambil berjalan menuju ke bawah, Ken telah menjelaskan kepada Ana apa yang sebenarnya terjadi di luar sana secara garis besar. Terkejut pasti, tapi ekspresi yang dimiliki wanita itu justru memiliki ekspresi terkejut dengan rasa menakjubkan. Ia takjub dengan nama sahabatnya yang namanya melambung hanya dalam waktu singkat saja.


Dan sekarang, ia telah bergabung dengan pembicaraan antara Krystal dan yang lainnya mengenai hal ini. Selagi Sarah belum juga sampai ke bawah sini. Tapi ada suatu hal yang dikhawatirkan oleh Krystal, karena ia sangat mengenal kerasnya dunia hiburan itu. Ia khawatir Megan Aira akan memanfaatkan media untuk memukul Sam dan Sarah balik. Tau sendirilah, jika wanita itu selalu mengandalkan tubuhnya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Pasti mudah bukan, untuk merayu beberapa wartawan kecil. Tapi Sam bilang untuk tidak mengkhawatirkan hal ini, ia pasti akan mengurus wanita itu dengan baik jika berani menyakiti calon istri tercintanya.


Dan dengan hal itu pula, akhirnya Ken bertemu dengan Adam Winata. Kakak dari Krystal yang juga sepupu dari Ana, kakak iparnya. Mereka seperti pernah bertemu di suatu tempat, hanya saja keduanya belum ingat dimana. Hanya merasa bahwa wajah masing-masing begitu familiar bagi keduanya.

__ADS_1


"Kakakku semenjak kuliah menetap di luar negeri sampai akhirnya dia nyaman dan meninggalkan aku seorang", Krystal mendengus ke arah kakaknya itu dengan sindiran yang memaksa. Ia memperkenalkan Adam pada Ken, yang sebenarnya memiliki saham paling tinggi di Winata Group. Karena pada akhirnya, mereka akan sering berkomunikasi mengenai urusan pekerjaan.


"Oh, ya?! Jadi kau sekolah di sini?", Ken bertanya sedikit penasaran.


"Ya! Apakah kau alumni SMA HARAPAN BANGSA? Wajahmu sangat familiar bagiku", Adam langsung saja jujur dengan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Benar! Kupikir kau juga pernah bersekolah di sana, kan?! Wajahmu juga terasa familiar", Ken menjawab dengan antusias namun tetap menjaga ketenangannya.


Lalu kedua lelaki itu ternyata merupakan teman satu angkatan. Hanya saja mereka berbeda kelas saat itu. Dan lagi, siapa yang tidak mengenal Keanu Wiratmadja?! Siswa nomer satu sepanjang masa. Tidak hanya ketampanannya yang menjadikannya idola nomer satu di sekolah, tapi juga intelegensi dan kecerdasan yang dimilikinya selalu menjadikan dirinya peringkat pertama selama Ken bersekolah di sana. Sikap dinginnya, gayanya yang sangat keren, siapa yang tidak mengenalnya.


Ken tidak menyangkal apa yang Adam jabarkan itu, tapi ia tidak juga jadi sombong karena hal itu. Dan ia tidak menganggapnya keren atau apalah semacamnya, karena ia hanya menjadi dirinya sendiri saat itu. Adam berpikir dulu Ken sombong, tapi bukan itu ternyata. Memang pada dasarnya sifat pria itu yang lebih dingin ketimbang orang lainnya. Adam paham setelah melakukan beberapa obrolan ringan dengan pria itu.


"Ana! Kita belum sempat berfoto, kan?!", Sarah berseru setelah selesai menuruni anak tangga. Di sampingnya ada Sam yang dengan posesifnya menggenggam jemari wanita itu dengan eratnya.


Mata pria itu lalu beradu dengan pandangan mata Adam. Saingan cinta, yang bahkan belum pernah ditemui wanitanya. Mungkin Sam terlalu berlebihan, tapi sepertinya sifat cemburuannya sangat kental dari genetik yang diturunkan pada lelaki keluarga Wiratmadja, buktinya saja Ken bisa sama parahnya jika sudah sedikit tersulut. Dan Sam mengakui hal itu sama terjadi pada dirinya.


Tatapan nyalang Sam lontarkan. Tapi,,, seakan tak peduli, Adam malahan mengangguk memberi penghormatan pada pria itu sambil tersenyum ramah. Sedikit memaksakan senyumnya, Sam memaki dalam hati jika senyuman Adam hanya topeng saja. Padahal dia sendiri yang memiliki topeng tersenyum, sementara dalam hati Sam terus merutuki pria yang bernama Adam itu.

__ADS_1


Para wanita, termasuk Ibu Asih dan juga Nyonya Rima yang tak ketinggalan, tengah asyik mengambil beberapa foto dengan berbagai angle. Meskipun merasa jengah, tapi Ken dan para lelaki membiarkan saja hal itu demi kesenangan para wanita yang tak dapat dicegah. Walau kadang juga mereka ditarik untuk masuk ke dalam frame secara paksa, dan Tuan Dion juga termasuk di dalamnya.


__ADS_2