Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 133


__ADS_3

"Jangan terlalu banyak berpikir, sayang!", bisik Ken lembut lalu mengecup pucuk kepala istrinya itu.


"Aku hanya memikirkan restu orangtuamu, Ken! Kita masih belum memilikinya", ucap Ana mendongakkan kepalanya. Ia menyampaikan kegundahan yang menerpa hatinya kini.


"Setelah besok, kita pasti akan menerima restu dari orangtuaku, sayang!", Ken mengusap lembut kepala Ana dengan sayang dan kembali memberi sebuah ciuman hangat di sana.


"Sudah, lebih baik kita istirahat dulu! Atau kau mau melanjutkan kegiatan kita yang tadi?!", ia membenarkan posisi tidurnya merosot hingga ia berbaring sempurna sambil memeluk Ana.


"Aku lelah, Ken!", Ana merajuk manja di dalam pelukannya.


"Baiklah! Kupikir kita akan melanjutkannya lagi, karena sepertinya aku belum cukup lelah", Ken menggerak-gerakkan bahunya memberi isyarat bahwa staminanya masih tersisa untuk satu ronde ke depan. Wajahnya ia buat serius, namun bibirnya berusaha keras menahan senyum.


"Ken!", istrinya itu makin merajuk dengan wajah yang semakin menggemaskan.


cup


"Iya, iya, aku bercanda, sayang! Selamat malam, istriku!", Ken menarik tubuh Ana hingga menempel seluruh permukaan kulit mereka dan menciptakan sensasi hangat yang menenangkan.


Ana tak melawan, ia hanya bisa tersenyum di dalam dekapan itu. Merasa amat bahagia dan bersyukur memiliki suami yang sangat mencintai dirinya. Matanya terpejam menikmati nuansa hangat yang tercipta dari dekapan yang suaminya berikan. Dan lama kelamaan alam bawah sadar menuntunnya ke dalam mimpi indah malam ini.


***


Hari telah berganti, beberapa orang sudah memulai aktifitasnya sehari-hari. Sejak pagi Ana dan Ken sudah meninggalkan hotel mewah tempat mereka menginap kemarin. Kini mereka dalam perjalanan menuju kediaman Ken karena ia tak mungkin membawa Ana ke kantornya. Bukan bermaksud lain, hanya saja dengan status Ana yang sudah meninggal, orang akan bertanya-tanya dan rencana mereka tak akan berjalan dengan lancar tentunya. Ana tentu mengerti dan paham situasi apa yang mereka hadapi kini. Lagipula masih ada beberapa hal yang harus mereka bicarakan dengan tempat yang paling aman.


"Halo!", Ken menerima panggilan disela kegiatan menyetirnya.


"Ada sesuatu yang harus aku tanyakan kepadamu. Dan ini penting!", ucap Ben dari seberang saluran.


"Baiklah! Datang ke rumahku, aku juga sedang dalam perjalanan ke sana!", jawab Ken serius.


"Baiklah, aku tutup!", Ken segera meletakkan kembali ponselnya pada laci mobil.

__ADS_1


"Ada apa?", tanya Ana penasaran.


"Entahlah, Ben ingin menanyakan sesuatu!", ucap Ken sambil menaikkan kedua bahunya. Lalu ia kembali fokus menyetir.


Setelah 30 menit, mobil yang mereka kendarai masuk ke halaman mansion mewah milik Ken. Lalu menyusul sebuah mobil masuk di belakangnya. Ya, itu adalah mobil yang Ben dan Relly kendarai. Kebetulan saat tadi menelepon Ken, mobilnya berada sejalur dengan arah rumah Ken. Jadi tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sana.


"Ayo masuk! Kita bicara di dalam", ajak Ken pada yang lainnya.


"Ayo sayang!", lalu ia merangkul bahu istrinya dengan mesra.


"Abaikan saja kami, Tuan!", sindir Ben sambil mencebik kesal. Tapi sesaat bibirnya melengkung sempurna. Ben sudah benar-benar merelakan Ana untuk dijaga oleh suaminya.


Baru saja mulut Ken membuka bersiap kembali menjawab apa yang Ben ucapkan. Tapi ia urungkan karena permintaan istri tercintanya yang sedang menggeleng dengan senyum manisnya. Rasanya memang seru berdebat dengan pria eksentrik yang sedikit gila itu, tapi kali ini biar ia mengalah dulu. Lagipula ini demi istri tercintanya, tak ada sedikitpun kerugian jika menyangkut permintaan istrinya.


Kini mereka sudah duduk di sofa ruang tamu. Ken duduk berdampingan dengan Ana pada sofa panjang. Sedangkan Ben duduk dengan gaya angkuhnya pada sofa tunggal. Lalu Relly seperti biasa, berdiri kokoh tak jauh dari bosnya. Posisi yang sama jika saja Han berada di sana.


"Ini adalah bukti-bukti yang dapat menyeret pamanmu ke penjara. Kecelakaan mendiang ayah tempo hari, semua rekaman cctv nya ada di dalam sini. Kau bisa menggunakannya sebaik mungkin. Jangan berbelas kasihan lagi pada rubah tua itu", ucap Ben setelah Relly menyodorkan sebuah amplop coklat ke hadapan Ana maupun Ken. Ia memperingatkan Ana supaya tegas dengan jalan yang sudah ia pilih, yaitu balas dendam. Karena dalam proses balas dendam, jika hatimu melembut, maka kekalahan mutlak yang kau dapatkan.


"Baik, aku mengerti! Nanti siang aku akan mulai meneror paman kesayanganku itu!", Ana meraih amplop coklat itu dan mengintip sedikit isinya. Tekad dan ambisi yang sudah ia kumpulkan tak akan jadi sia-sia.


Ana mengernyit heran. Bagaimana bisa Ken berkaitan dengan seorang wanita. Padahal selama ini yang ia tau, suaminya itu hanya mengenal satu wanita saja, yaitu dirinya. Hatinya bertanya-tanya dengan ekspresi curiga yang tak dapat ia sembunyikan.


Sedangkan si pria, Ken bersikap tenang. Tangannya tetap menggenggam erat jemari istrinya. Ia juga sudah memperhatikan perubahan ekspresi di wajah istrinya itu. Bibirnya menipis menahan diri untuk tertawa.


"Ya, aku tau!", jawab Ken dengan tenang. Tapi jawaban itu malahan membuat Ana makin gelisah tak menentu. Bibirnya mulai mengerucut, isyarat bahwa istrinya itu mulai kesal dan cemburu.


"Apa perlu aku melahap bibirmu di depan mereka, sayang?!", bisik Ken di telinga Ana hingga menimbulkan sengatan ke sekujur tubuhnya. Tapi saat ini Ana masih bisa mengendalikan dirinya. Ia tak ingin kalah dari suaminya yang seperti biasanya itu.


"Coba saja kalau berani!", Ana memiringkan tubuhnya sedikit membelakangi Ken masih dengan ekspresi yang sama.


"Tentu saja aku berani!", bisik Ken lagi dengan seringainya.

__ADS_1


"Ken! Katakan dulu siapa dia?!", Ana kembali menghadap ke arah depan tapi tak mengubah wajah kesalnya.


"Aishh kalian ini! Bisakah kita membahas hal penting ini dulu!", Ben merasa jengah dengan tingkah dua manusia di hadapannya. Pria itu memang sudah pernah jatuh cinta, namun ia belum pernah merasakan saling mencintai, belum pernah membina suatu hubungan, maka dari itu pikiran logisnya belum bisa menerima hal-hal menyenangkan seperti membuat pasangan cemburu seperti ini.


"Dia adalah salah satu pelayan di villa tempat kita menikah kemarin. Kepala pelayan menemukannya di pinggir pantai dalam kondisi yang sangat lemah. Setelah membaik, wanita itu memohon untuk diberi pekerjaan. Karena tidak tega, kepala pelayan akhirnya melapor langsung kepadaku perihal masalah ini. Dan aku sudah mengecek seluruh data dirinya, menurutku tak apa jika dia bekerja di sana. Lagipula saat itu di villa juga sedang membutuhkan pelayan tambahan. Dan karena dia dalam proses melarikan diri, maka aku memerintahkan kepala pelayan untuk menutupi rambutnya yang menjadi ciri khas dirinya. Namanya Rose Benneth kalau tidak salah!", jelas Ken yang akhirnya membuat Ana sedikit lega.


"Rose Benneth! Jadi benar itu dia! Pantas saja matanya terasa tidak asing, gumam Ben dalam hatinya.


"Ada angin apa kau menanyakan perihal seorang wanita? Atau jangan-jangan dia adalah salah satu dari target kalian?", tanya Ken hati-hati. Sebenarnya setelah mengecek seluruh riwayat pelayan itu, tak ada sedikitpun jejak-jejak hitam dalam kehidupannya. Jadi Ken tak mempermasalahkan jika wanita itu bekerja di sana. Tapi jika ia mulai membahayakan, maka Ken tak akan segan-segan bermain dengan nyawanya.


"Bisa dibilang begitu!", jawab Ben dengan senyum penuh arti.


"Apa maksudmu?", nada bicara Ken seakan ia sedang terancam. Otaknya mulai bekerja bagaimana cara untuk meningkatkan kewaspadaannya.


"Bukan begitu maksud Tuan Ben, tuan!", Relly menyelak agar bosnya itu tak disalahpahami lagi seperti biasanya. Ben memang tak pernah menjelaskan apa-apa tentang dirinya. Baginya sudah amat biasa jika ia disalahpahami seperti ini. Sudah menjadi makanan sehari-harinya jika ia difitnah di sana-sini. Tapi kali ini tujuannya memang adalah memprovokasi Ken. Seperti biasa, kegiatan yang satu ini terasa amat menyenangkan baginya. Melihat wajah kesal Ken menjadi penghiburan tersendiri bagi dirinya.


"Wanita ini adalah adik dari salah satu teman lama Tuan Ben. Kakaknya sedang sekarat dan sangat berharap supaya bisa segera dipertemukan dengan adiknya itu" kali ini Relly mewakili tuannya berbicara.


"Baiklah!", jawab Ken ambigu seraya menyadarkan tubuhnya lagi pada punggung sofa.


"Apa maksudmu dengan baiklah?", tanya Ana masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.


"Pria ini, akan membawa wanita itu untuk menemui kakaknya. Jadi apa lagi yang harus aku katakan? Haruskah aku menjawab tidak? Hey, aku juga masih berperikemanusiaan, sayang!", jelas Ken pada istrinya itu.


"Siang ini aku akan langsung membawanya!", Ben sudah membuat keputusan.


"Baiklah! Kau atur saja!", jawab Ken padanya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Ben dan Relly sudah pergi tak lama setelah pembicaraan mereka berakhir. Dan kini Ken sudah rapih dengan setelan jasnya. Ia akan pergi ke kantor, karena terdapat meeting penting yang tak bisa digantikan oleh yang lainnya. Dengan berat hati ia harus meninggalkan Ana dengan rencana selanjutnya.

__ADS_1


"Benar tidak apa-apa jika aku pergi ke kantor sekarang?", tanya Ken dengan wajah yang dibuat-buat memelas.


"Tidak apa-apa, sayang! Aku yakin bisa!", ucap Ana penuh percaya diri.


__ADS_2