
"Pelan-pelan, Sayang! Tidak ada yang akan merebut minumanmu!", dengan wajah tenang Ken mengusapi punggung istrinya itu sampai tenggorokannya terasa membaik.
Mendengar hal itu Ana langsung mencebik kesal ke arah wajah suaminya itu. Ini bukan masalah siapa yang akan meminta minuman siapa. Tapi ide gila suaminya itu yang membuatnya hampir tersedak begini. Ana bingung seberapa cerdas otak suaminya itu sehingga bisa melahirkan ide seperti itu dalam waktu singkat. Ia melambaikan tangannya memberi isyarat kepada Ken agar berhenti mengusapi punggungnya, karena ia sudah merasa baik-baik saja sekarang.
"Aku hanya kaget saja mendengar ide yang baru saja kau ucapkan, Ken!", ucap Ana setelah meminum kembali jus mangganya.
Tiba-tiba saja ia sudah tidak memiliki minat pada minuman berwarna jingga itu, matanya lebih tertarik pada jus alpukat yang masih utuh di hadapannya. Ia ganti isi tangannya dengan minuman berwarna hijau itu. Ada susu cokelat juga bertabur di sana, membuat Ana tidak sabar untuk segera mencobanya. Dan Ken hanya bisa menggelengkan kepalanya tak berdaya melihat tingkah ibu hamil itu.
Sedangkan Louis nampak berpikir keras dengan ide yang tadi ia dengar dari mulut Ken. Ia pandangi cangkir kosong yang masih ia genggam. Di dalam sana seperti terdapat banyak hal yang berputar untuk ia pikirkan dan ia lakukan dalam waktu dekat ini. Otaknya ia paksa untuk bekerja rodi.
Pikirkan tentang Krystal dulu sekarang. Karena masalah mengenai kekasihnya itu adalah kunci dari langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya. Biasanya ia dapat berpikir jernih. Memikirkan segalanya secara sistematis. Tapi entah kenapa dalam menghadapi masalahnya kali ini, ia jadi begitu bodoh dan hanya pusing sendiri. Kemarin-kemarin itu, ia merasa semua masalah hanya berputar di dalam benaknya. Tapi tak satu pun yang dapat berhenti menemukan jalan keluarnya sendiri.
"Baiklah!", seruan itu berbarengan dengan bunyi derap kaki Louis yang nyaring. Pria itu tiba-tiba berdiri tegak. Tatapannya yang lurus itu penuh dengan tekad.
"Terima kasih, Presdir Ken yang terhormat! Terima kasih karena telah memberikan ide yang sangat luar biasa kepadaku!", lelaki itu menarik tangan Ken dengan paksa lalu menjabatnya dengan penuh semangat.
"Ya, ya! Tapi tanganku bisa remuk jika begini terus!", Ken mengangguk. Tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk melepaskan tangannya yang sedang di genggam erat oleh Louis. Pria itu terlelau bersemangat pikirnya. Kemudian ia mengibaskan tangannya yang terasa sedikit nyeri beberapa kali.
"Kalau begitu, aku harus pergi sekarang juga untuk menyiapkan sesuatu! Aku akan membutuhkan bantuanmu, An!", Louis mengangguk dengan peuh keyakinan ke arah Ana. Ia ingin menjabat atau sekedar mengelus bahu temannya itu, tapi sepertinya tidak mungkin. Karena ada raja singa yang setia menjaganya saat ini. Louis tahu jiak raja singanya Ana itu sangat pencemburu. Jadi lebih baik ia urungkan saja niatannya untuk melakukan kontak fisik dengan temannya itu.
__ADS_1
"Ya! Katakan saja! Aku akan selalu siap untuk membantumu!", ucap Ana sedikit acuh. Saat ini ia seperti lebih tertarik untuk menikmati jus alpukat berpadu dengan susu cokelat di tangannya. Meskipun begitu, ia masih mendengarkan perkataan temannya itu.
Derap langkah Louis yang begitu bersemangat terdengar menjauh dari meja mereka. Wajahnya yang ketika datang sangat kusut, sekarang sudah seperti habis disetrika, sangat rapih dan begitu cerah.
"Oh, iya, An! Jangan katakan apapun dulu pada Krystal! Aku ingin membuat sebuah kejutan untuknya!", pria itu berbalik lagi ketika langkahnya belum benar-benar jauh dari Ana dan Ken.
"Iya!", sahut Ana sambil menganggukkan kepalanya. Ia mengerti maksud dari temannya itu.
"Satu lagi, An! Tolong bayarkan minumanku juga, ya!", baru saja ia akan menyeruput jus alpukat yang menggoda itu, sudah terdengar lagi suara Louis memanggilnya.
"Ya, tenang saja!", setelah menghela nafas dengan kasar, Ana bersedia untuk menolehkan kepalanya lagi dan menjawab ucapan temannya itu. Mengganggu saja, pikirnya!
"Ah! Aku kenyang sekali, Ken!", wanita itu mengelus perutnya yang sudah buncit dengan senyum puasnya sampai memejamkan mata. Terlihat sekali jika Ana sangat menikmati pesanannya.
Ken hanya melirik seraya mengerutkan alisnya. Aneh malah jika istrinya ini mengatakan belum kenyang. Setengah gelas jus strawberry, setengah gelas jus mangga, beserta satu gelas penuh jus alpukat ia tandaskan sekaligus tanpa jeda. Sudah sangat wajar jika istrinya itu merasa kenyang. Bahkan orang normal pun belum tentu sanggup menghabiskan semua itu sekaligus.
"Kita pulang sekarang, ya!", ajak wanita itu kemudian.
"Ya, baiklah! Ayo kita pulang!", meskipun tak habis pikir sampai menggelengkan kepalanya tak berdaya, Ken tetap merasa bersyukur karen nafsu makan istrinya yang sedang hamil ini sangat baik. Ia akan lebih bingung lagi jika istrinya ini susah untuk diberi asupan. Karena dengan begitu, yang ia khawatirkan bukan hanya Ana saja, tapi juga calon jabang bayi mereka di dalam sana.
__ADS_1
Setelah itu Ken memanggil salah satu pelayan untuk meminta bill dan melakukan pembayaran. Matanya seketika melebar ketika mengetahui berapa nominal yang harus ia bayar. Ini bukan tentang nominalnya, tak masalah bagi pria itu. Uangnya sangat banyak dan melimpah. Untuk membayar pesanan yang seperti itu saja, tentu uangnya tidak akan habis. Tapi yang menjadi masalah adalah, cara pria yang telah meninggalkan mereka lebih dulu itu sangat mengesalkan.
"Ada apa, Ken?", tanya Ana penasaran pada suaminya itu yang sudah cukup lama menatap bill di tangannya.
Karena Ken masih diam saja, atau mungkin tidak mendengarnya, maka Ana berinisiatif mengambil kertas kecil itu dari tangan suaminya. Matanya langsung membulat sama seperti yang dilakukan suaminya barusan.
"Apa-apaan ini?! Dasar Louis kurang ajar! Sebenarnya sudah berapa cangkir kopi yang ia minum sebelumnya!", Ana sedikit menahan jeritan kesalnya. Ia masih sadar jika mereka ini masih berada di tempat umum. Tapi tangannya tak tahan untuk mengepal keras di samping tubuhnya. Wanita itu juga menggertakkan giginya sampai bersuara keras.
"Ketika datang, Tuan yang tadi juga langsung memesan banyak makanan untuk dirinya sendiri!", pelayan di sebelahnya menambahkan informasi yang membuat Ana semakin kesal.
"Dasar,,,!", Ana menggeram sampai tak sadar kertas di tangannya itu ia remas dengan kencang. Bisa-bisanya ia ditipu oleh artis yang katanya terkenal itu! Yang krisis kan perusahaannya, bukannya keuangannya pribadi! Memangnya sejak kapan artis papan atas menjadi semiskin ini! Huh!
"Sudahlah, Sayang! Anggap saja kita sedang beramal kepada fakir miskin!", Ken menepuk bahu Ana, lalu mengelus lengannya supaya emosi istrinya itu mereda.
Setelah selesai melakukan pembayaran, mereka pun memutuskan untuk pulang.
-
-
__ADS_1
maaf ya segini dulu,, otakku lagi ga konek soalnya ðŸ¤