Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 115


__ADS_3

Nyonya Rima membulatkan matanya lebar-lebar ke arah Sam. Ia memberi isyarat kepada putra bungsunya itu untuk berhenti bicara. Sam melihat isyarat dari bundanya itu dengan tatapan penuh arti. Entah sengaja atau tidak, Sam malah meneruskan kalimatnya dengan santai.


"Kau ingat kan kak, waktu itu kau membawa kakak ipar ke sini dan dia memasakkan makan siang untuk kita!", ucap Sam dengan nada ceria.


"Apa?! Ken sudah membawanya ke sini?! Sepertinya hubungan mereka memang serius saat itu. Ken tidak pernah membawa wanita manapun ke rumahnya", komentar Nyonya Rima dalam hati.


"Untukku!", ucap Ken pelan namun terdengar tajam dan tegas.


"Ya, ya, ya, baiklah! Untukmu, hanya untukmu! Dan aku datang untuk ikut mencicipinya saja", gerutu Sam dengan wajah kesalnya karena kakaknya selalu saja posesif jika mengangkut kakak iparnya itu.


"Kau mencicipi makanan dengan tiga piring nasi!", ucap Ken ketus kepada adiknya.


"Hehe,, Mau bagaimana lagi, masakan kakak ipar sangat enak jika dibandingkan dengan,,, yang ini!", ucap Sam yang memasang senyum ceria tanpa rasa bersalah. Namun sesaat Sam menampilkan seringai liciknya dan kembali tersenyum lagi.


"Andai saja masih ada kakak ipar!", ucap Sam sedikit berkhayal.


"uhuk,, uhuk", ucapan Sam membuat Joice tersedak saat sedang meminum air putih untuk mengakhiri sesi makannya.


"Kau baik-baik saja, sayang?!", Nyonya Rima membantu Joice meredakan batuknya dengan begitu perhatian.


"Terima kasih, Tante!", ucap Joice sambil mengelap mulutnya.


"Kakak, apa kau sudah menemukan dalang di balik kecelakaan itu?!", tanya Sam begitu bersemangat seolah-olah disengaja.


"Aku belum yakin! Tapi yang jelas, aku akan menghabisinya cepat atau lambat!", jawab Ken tajam.


Tiba-tiba Joice membulatkan matanya lebar-lebar. Ia bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika sampai Ken mengetahui bahwa ini semua adalah perbuatannya. Joice benar-benar merasa khawatir bahwa Ken akan melampiaskan amarahnya jika pria itu tau kenyataan yang sebenarnya.


"Ahh, kakak ipar! Kau memang tak tergantikan!", lagi-lagi Sam sedikit berkhayal sambil menyandarkan kepalanya pada kedua jemari tangan yang saling berpaut di belakang lehernya. Ia menatap langit-langit ruangan itu sambil tersenyum.


"Ya, kau benar! Dia tak akan tergantikan!", ucap Ken datar namun tegas dalam pengucapannya. Bagi Ken, Ana adalah wanita pertama dan terakhir. Meskipun ia belum mengetahui kebenaran yang sebenar-benarnya mengenai keberadaan Ana saat ini. Tapi instingnya meyakini bahwa Ana baik-baik saja. Ia hanya belum tahu apa yang terjadi sebenarnya kepada mereka.


Ucapan Ken tatkala mendapat protes dari Nyonya Rima sebagai bundanya sendiri.


"Ken! Kau jangan berbicara seperti itu. Bagaimanapun juga Ana telah tiada. Kau harus menjalani hidup mu ke depan. Jangan lagi terjebak pada masa lalumu, nak! Lagipula saat ini ada Joice yang bersedia membantu dan merawatmu. Benar begitu kan Joice?!", Nyonya Rima mengakhiri ucapannya seraya melempar senyum penuh arti kepada Joice.


"Bunda!!", seru Ken dan Sam bersamaan dengan nada tak suka.

__ADS_1


"Permisi, Tuan!", tiba-tiba seorang pelayan datang.


"Ada apa?", tanya Han yang sudah siap berdiri di belakang Ken sejak tadi.


"Seorang dokter dan perawat datang untuk melakukan pemeriksaan rutin terhadap Tuan Ken!", si pelayan melapor.


Han nampak berpikir sejenak. Karena ini belum waktunya Ken melakukan pemeriksaan rutin, begitu pikirnya saat ini. Namun ia tak ingin berpikir terlalu banyak.


"Perintahkan mereka untuk masuk dan bawa menuju kamarku!", seru Ken akhirnya membuat keputusan lebih dulu.


"Baik Tuan!", pelayan itu pun pergi meninggalkan tempat itu.


"Aku harap Bunda tidak membahas masalah ini lagi! Aku tau kemana arah ucapan Bunda. Dalam hatiku, hanya Ana yang ada. Tak akan tergantikan dengan yang lainnya", ucap Ken tegas seraya menyambar gelas yang berada di hadapannya. Ia menandaskan isinya tak tersisa.


"Jika Ana masih hidup, Bunda akan merestui kalian. Tapi dia telah tiada, Ken. Lihatlah, masih ada wanita yang pantas untuk bersanding denganmu saat ini. Bunda hanya ingin kau bahagia, nak. Tidak lebih!", seru Bunda meninggikan suaranya.


Dan bertepatan dengan itu pula seorang dokter dan perawat mendekat, dibimbing oleh pelayan tadi di depannya. Melewati mereka dan berjalan ke arah tangga untuk menuju kamar pemilik rumah besar ini. Entah mereka mendengar atau tidak percakapan ibu dan anak itu dengan tensi yang lumayan tinggi.


Sejenak Ken terhenyak menatap ke arah perawat dengan kaca mata tebal yang baru saja datang. Ken memperhatikannya ke arah matanya dengan seksama. Mata itu nampak seperti mata yang sangat ia kenal. Namun ia kembali ke pikiran jernihnya untuk mengakhiri perdebatan ini.


"Berhenti mendorong Ken kepada wanita lain, Bunda! Hanya aku yang tau dimana letak kebahagiaan ku saat ini dan nanti!", ucap Ken seraya beranjak dari sana yang langsunh diikuti oleh Han.


Punggung Joice menegang tiba-tiba, mendengar penuturan Ken yang begitu tajam hingga seakan-akan menohok langsung ke dalam dirinya. Suara Joice tersekat, seperti ada bola besar tersangkut di tenggorokan hingga ia tak mampu berbicara banyak. Ia menelan ludahnya dengan rasa pahit yang terus membekas di mulutnya. Dan pemandangan itu nampak jelas pada sepasang mata milik Sam.


***


Ken sudah sampai di lantai dua kediamannya dibuntuti oleh Han dan juga Sam di belakangnya. Seorang pelayan, dokter juga perawat telah menunggunya di depan pintu kamarnya. Dokter dan perawat tersebut tengah berbincang serius dan sekilas mata perawat itu bertemu dengan pandangan mata Ken. Tapi buru-buru ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah dokter yang sedang diajaknya bicara.


Sejak menapakkan kakinya di lantai dua, Ken mengawasi setiap gerak tubuh yang dikeluarkan oleh dokter dan juga perawat itu. Matanya memandang lurus ke arah mereka dengan tatapan yang sulit dibaca. Ken memindai sesuatu yang hanya dia sendiri yang tau apa itu.


Dokter, perawat dan pelayan itu mundur satu langkah ketika rombongan Ken mulai mendekat ke arah mereka. Suasana canggung merebak di antara semuanya.


"Kenapa tidak masuk?", tanya Ken dingin pada pelayannya.


"Dokter mengatakan untuk menunggu Tuan saja di sini", jawab pelayan itu hati-hati.


"Masuk!", ucap Ken setelah memegang handle pintu kamar dan membukanya. Han dan Sam mengekorinya lebih dulu.

__ADS_1


"Silahkan masuk Tuan! Saya permisi dulu", pelayan itu membungkuk hormat kemudian beranjak dari sana.


"Ayo!", ajak dokter kepada si perawat.


"Emh,, emh", perawat itu mengangguk dan mengikuti langkah si dokter di belakangnya. Tangannya mengepal kuat dan sedikit gemetar. Terlihat kepalan tangan itu basah akibat keringat, sepertinya ia sedang menahan gugup saat ini.


Sam sudah menempatkan dirinya duduk do sofa panjang kamar itu sambil meluruskan kakinya ke meja dengan gaya serampangan. Sedangkan Ken duduk di tepi ranjang dengan Han berdiri tak jauh darinya.


Dokter itu memerintahkan kepada perawatnya untuk menempatkan tas dan peralatan yang mereka bawa pada nakas di seberang ranjang milik Ken. Dan dirinya sendiri telah siap untuk memeriksa kondisi Ken dengan stetoskop yang sudah terpasang pada telinganya.


"Baiklah, saya akan mulai untuk memeriksa Tuan!", ucap si dokter sebelum mengawali kegiatannya.


Secara profesional ia mengecek denyut nadi pada lengan Ken dan menempatkan ujung stetoskop pada dadanya untuk mengecek detak jantungnya. Setelah itu ia mengecek kondisi tangan Ken yang cedera. Ia menggerak-gerakkan tangan itu dengan perlahan. Sampai pada akhirnya ia menekan tempat dimana bagian yang patah pada tangan itu.


"Apa ini masih sakit,, Tuan?", tanya dokter dengan sedikit penekanan pada ucapannya. Pria itu menundukkan tubuhnya, kemudian ia mengangkat wajahnya ke arah Ken. Dokter itu melempar pandangan tajam dengan sedikit seringai terselebung di bibirnya.


"Apa yang kau lakukan dokter?!", tegur Han yang melihat Ken malah meringis kesakitan. Ia mulai mencurigai gelagat dokter itu.


"Aku hanya mengeceknya, itu saja!", jawab dokter itu dengan santainya.


"Siapa kau sebenarnya? Ini bukanlah jadwal untuk pemeriksaan rutinku", ucap Ken dengan tatapan tajamnya.


Perawat itu membalikkan badan saat ia mendengar kalimat yang Ken lontarkan. Dirinya menundukkan kepalanya dalam, tak berani menatap lurus ke depan. Ia paham bahwa situasinya tak sesuai dengan apa yang mereka rencanakan.


"Aku? Tentu aku adalah seorang dokter. Sayangnya aku tidak bisa mengobati sakit pada tanganmu, tapi aku punya obat untuk mengobati sakit...", dokter itu menghentikan kalimatnya sambil menyeringai.


"Hatimu!", lanjutnya seraya menunjuk bagian dadanya sendiri.


"Apa maksud ucapanmu?! Siapa kau sebenarnya?", Han menaikkan intonasinya merasa geram dengan sikap dokter itu yang bertele-tele. Sam segera membenarkan posisi duduknya saat mendengar Han yang setengah berteriak. Kini ia memasang wajah penuh antisipasi.


"Benny Callary!", ucap Ken dingin.


"Heh! Mengapa begitu mudah bagimu untuk mengetahui siapa diriku!", Ben menyeringai seraya melepas kacamatanya.


"Apa tujuanmu datang ke sini?", tanya Ken waspada. Ia segera beranjak untuk berdiri menghadap pria eksentrik yang bisa kapan saja berbuat hal gila.


"Sudah jelas bukan! Aku sudah mengatakannya barusan, bahwa aku memiliki obat untuk sakit hatimu!", Ben masih terlihat santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Katakan!", ucap Ken sambil menggeram karena tak sabar dengan sikap Ben.


__ADS_2