Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 292


__ADS_3

Sebenarnya Sam masih dapat menangkap dengar apa yang istrinya gumamkan itu karena jarak mereka cukup dekat. Ia mengulum bibirnya menahan tawa yang rasanya sudah ingin lepas dari mulutnya itu.


Tentu saja ia tau apa yang Sarah maksud. Karena isi percakapan yang pernah ia lihat sebelumnya, antara istrinya itu dan juga kedua sahabatnya.


Tapi menurut Sam, kedua wanita itu sangatlah perhatian padanya. Memberikan ide yang sangat menguntungkan bagi dirinya yang seorang pria. Oh, betapa ia sudah tidak sabar melihat Sarah memakai gaun itu nanti. Yang jelas ia harus ingat, untuk tidak meneteskan air liurnya di hadapan istri tercintanya itu.


Semalam saja, jika ia tidak benar-benar menahan diri, melihat Sarahnya yang hanya mengenakan gaun putih panjang nan tipis seperti itu, apalagi pakaian itu langsung menegaskan bahu dan tulang selangka Sarah yang dapat meneteskan air liurnya saat itu juga.


Sarah, wajah wanita itu sempat memerah saat membayangkan bagaimana dia akan memakai gaun malam yang tersisa di dalam kopernya itu. Ada yang berwarna hitam, merah dan maroon. Ketiganya sama pendeknya, hanya sampai setengah pahanya saja.


Hish,, ia menggaruk kepalanya sendiri dengan kesal. Apa begini rumit dan gugupnya menghadapi malam pertama?! Ia jadi bertanya-tanya apakah Ana juga saat itu merasakan apa yang dirinya rasakan seperti saat ini?! Lalu ia sedikit mengacak rambut depannya karena terlalu frustasi.


"Kalau begitu besok aku akan menyuruh seseorang untuk membawakan pakaianmu ke sini. Tidak mungkin sekarang juga kan, ini sudah malam!", Sam merapihkan rambut Sarah yang ia buat berantakan sendiri.


Meskipun ia sangat gemas melihat tingkah aneh istrinya itu. Tapi sebisa mungkin ia menahan diri. Ia tidak ingin membuat Sarah terkejut ataupun merasa malu. Ia ingin nanti melakukannya perlahan.


"Iya, aku mengerti!", sambil mengerucutkan bibirnya wanita itu menganggukkan kepala.


Tentu saja ia tidak akan setega itu untuk membiarkan seseorang melakukan hal sepele di waktu yang sudah malam seperti ini. Ia seruput lagi coklat panas yang berada di hadapannya dengan penuh semangat.


"Aauuww!", reflek Sarah menumpahkan minuman yang masih mengepul itu ke pakaiannya.

__ADS_1


Saking bersemangatnya, Sarah lupa jika minuman itu masih mengepulkan asap. Saat ini lidahnya terasa seperti terbakar. Sangat panas. Ia mengibaskan tangannya di depan lidah yang ia julurkan ke depan. Beruntungnya tidak banyak coklat yang mengotori dressnya itu. Dan tidak sampai mengenai kulit tubuhnya di bagian dada.


Sam sempat terkekeh melihat tingkah ceroboh istrinya itu. Tapi ia juga tak lupa jika minuman itu jatuh pada pakaian yang Sarah kenakan. Wajahnya lalu berubah khawatir.


"Lihat, pakaianmu jadi kotor, kan! Apa kulitmu terasa panas?! Terasa perih tidak?! Apa ada yang terasa tidak nyaman?!", Sam mengguncang kedua bahu istrinya itu dengan wajah luar biasa khawatir.


Ia bahkan tidak memberikan celah sedikit pun bagi Sarah untuk mengakatakn bahwa bukan bagian itu yang sakit. Bahwa ia tidak apa-apa, hanya lidahnya saja yang terasa panas saat ini.


Sam lalu menarik tangan istrinya itu ke arah keran cuci piring yang berada tak jauh dari mereka berada. Ia basahi dress Sarah yang kotor di bagian dada itu dengan tangannya langsung, bermaksud untuk membersihkannya. Dan rasa paniknya membuat ia tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan saat ini.


Lidahnya yang terbakar, tapi seluruh wajahnya yang terasa panas. Bisa dibilang sudah banyak asap yang mengepul keluar dari pori-pori wajahnya, sudah seperti coklat panas yang Sam buat tadi.


"Sam!", ia sangat ingin menghentikan aksi suaminya itu, tapi sangat sulit rasanya karena Sam seperti tiba-tiba tuli. Ia menggigit bibir bawahnya menahan perasaan yang tidak karuan ini.


Lalu sepasang bola mata membulat sangat besar. Wajahnya mematung tak memiliki ekspresi lain, selain keterkejutan yang melingkupi keseluruhan wajahnya.


Akhirnya Sam sadar dengan apa yang ia lakukan sekarang. Ada dua buah gundukan indah menerawang dari balik dress yang baru saja dibasahinya. Dan tangannya ikut mematung karena ia tau sedang ia letakkan dimana saat ini.


"Sa,,,Sarah!", masih dalam keadaan terkejut mengangkat wajahnya, mengalihkan pandangannya ke arah wajah istrinya itu.


"Sayang, kau,,,, ", ucapannya terhenti saat melihat wajah Sarah yang sudah merah padam itu, juga bibir yang terlipat dengan kuat.

__ADS_1


Akhirnya Sam menyadari betapa ia telah membuat apa yang tidak ia inginkan menjadi kenyataan. Wajah Sarah yang canggung dan malu itu, membuatnya menjadi merasa bersalah. Kemudian tangannya turun dengan lemasnya bersamaan dengan wajah yang ia tundukkan ke bawah.


"Aku tidak apa-apa, Sam! Hanya lidahku saja yang terasa seperti terbakar!", wanita itu menjelaskan perlahan dengan nada lembut.


Melihat suaminya yang saat ini merasa bersalah pun membuat Sarah tersenyum kecil. Matanya menjadi teduh saat melihat wajah yang menunduk itu. Sebenarnya apa yang suaminya itu pikirkan saat ini?! Bukankah sekarang ia telah menjadi istrinya, sudah menjadi miliknya?! Jadi apa hal yang membuat wajah itu seperti ragu?! Ia jadi bertanya-tanya sendiri di dalam hati.


"Apakah kau tidak mencintaiku?", sepertinya Sarah tau apa yang ada dipikiran suaminya itu.


Baiklah, jika begitu! Bagaimana jika dia saja yang memulainya. Sambil mengajukan pertanyaannya, Sarah maju satu langkah mendekat. Ia lalu mengambil kedua tangan pria itu untuk ia letakkan di pinggangnya.


"Tentu saja aku mencinta,,, ", baru saja pria itu mengangkat wajahnya, bibirnya yang sedang menjawab sudah di tutup dengan bibir istrinya yang lembut. Tangan Sarah bahkan sudah mengalung ke lehernya. Mata wanita itu juga sudah terpejam sambil menyentuhkan bibirnya dengan sedikit tekanan.


Lalu, waktu yang berputar di sekitar mereka seakan berhenti. Semuanya seperti menghormati momen apa yang akan terjadi setelah ini.


Jadi, dengan begini pun Sam tidak sungkan lagi. Istrinya telah membuka jalan yang semula ia rasa sulit untuk dibuka. Istri tercintanya itu sepeti sudah memberi izin dengan sikap yang telah diambilnya.


Ia dekap pinggang Sarah dengan begitu posesifnya dengan satu tangan. Dan satu tangannya lagi ia usapkan dari pucuk kepala istrinya itu dan berhenti di tengkuk leher belakangnya. Sam beri sedikit tekanan di sana pertanda ia akan memulai permainannya.


Pria itu membuka bibirnya, memulai cara agar ia bisa menikmati bibir istrinya itu dengan leluasa. Bibir yang masih menyisahkan rasa manis dari coklat yang tadi dicicipinya membuat Sam makin bersemangat untuk menjelajah di sana.


Segera setelah Sarah membalas ciumannya, Sam menggiring istrinya itu ke arah meja bar yang berada di sisinya. Ia dudukkan wanita itu di sana sehingga tinggi mereka menjadi sejajar sekarang.

__ADS_1


Saat ini, keduanya sudah terjerat dalam awal mula penyatuan cinta yang begitu indah dan manis. Pertukaran rasa cinta kasih yang sudah tertahan selama ini. Tapi di detik ini, keduanya masih mencoba memanaskan tubuh satu sama lain.


__ADS_2