Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 269


__ADS_3

Di sebuah sudut kota, terdapat sebuah rumah tua yang sudah lama tidak terpakai. Sebenarnya rumah itu masih kokoh, hanya saja sudah usang karena sepertinya sudah lama tidak ditempati.


Seorang pria paruh baya sedang duduk di sebuah sofa yang ditutupi oleh kain putih panjang. Kakinya ia silangkan sedangkan satu tangannya ia gunakan untuk untuk menyangga dagunya.


Ekspresinya sangat tenang, namun terlihat juga tidak sabar. Kakinya bergoyang-goyang tidak tenang. Sudah setengah jam ia menunggu anak buahnya datang dari waktu yang dijanjikan.


Terbesit sedikit perasaan yang tidak bagus di dalam hatinya. Namun karena saat ini ia sedang terlalu senang, karena tinggal satu langkah lagi, usahanya akan berakhir untuk membalas dendamnya pada keluarga itu.


Menantu yang telah merebut calon suami putrinya itu, pasti saat ini sedang begitu hancur lantaran kehilangan calon jabang bayi yang begitu diidam-idamkan. Dan hal itu pasti akan langsung berdampak kepada suaminya, yaitu putra pertama keluarga Wiratmadja. Pria yang seharusnya menjadi pendaming putrinya.


Lalu sebentar lagi ia akan melenyapkan calon menantu putra bungsu keluarga itu. Dengan kematian wanita ini, pasti pria itu akan hancur hidupnya. Karena menurut penyelidikannya, putra bungsu keluarga itu sangat mencintai calon istrinya.


Dan dari semua tindakan yang ia lakukan, yang jelas pasti akan berdampak pada Tuan besar dan Nyonya besar keluarga itu. Dua orang tua yang ia pikir adalah sahabatnya. Yang dipikirannya itu dapat menjadi orang tua juga bagi putrinya. Menjaga dan menyayangi putrinya seperti mereka menyayangi anak mereka sendiri.


Tapi kenyataan yang ia terima adalah, bahwa putrinya harus menderita sedemikian rupa, dan itu disebabkan oleh seluruh anggota keluarga itu yang bersandiwara. Dan Tuan Alexander tidak dapat menerima kenyataan pahit itu saat ini. Baginya mata harus dibalas dengan mata.


Wajahnya semakin tidak sabar karena ia merasa waktu bergerak makin lambat. Sudah berulang kali ia melihat jam tangannya, namun anak buahnya masih belum sampai juga.


krriieet


Pintu rumah itu dibuka dari arah luar. Tuan Alexander segera bangun dari duduknya. Ia makin tidak sabar ketika menyadari waktu yang ia tunggu hampir tiba.


Namun tiba-tiba wajahnya menjadi gelap saat melihat ternyata yang datang hanyalah satu orang suruhannya saja. Dan itu sebenarnya adalah satu-satunya orang suruhannya yang selamat dari semua anak buah milik Ben. Dan sampai saat ini ia belum mengetahui hal itu. Karena tak lama setelah Sam mendatangi mayat-mayat yang tergeletak itu, Ben mengirim anak buahnya yang lain untuk membereskan tempat itu seakan tidak pernah terjadi apa-apa di sana.


"Dimana yang lain?", tanya Tuan Alexander lagi dingin. Tersirat sedikit kekecewaan di wajahnya.


"Sebentar lagi mereka akan segera datang, Tuan!", dengan berbagai ancaman yang telah orang-orang itu lakukan. Pria itu berusaha keras untuk bersikap senormal mungkin di hadapan Tuan Alexander. Meskipun sebenarnya saat ini punggungnya di penuhi keringat dingin.


"Ternyata kinerja kalian sangat lamban!", Tuan Alexander mengeluh dan mendesah serara meletakkan bokongnya lagi ke sofa tadi.

__ADS_1


Sudah banyak uang yan ia keluarkan untuk melakukan hal ini. Sudah banyak pula waktu yang ia gunakan untuk memantau keluarga itu. Maka dari itu ia menjadi sangat tidak sabar untuk segera menyelesaikan pembalasan untuk putrinya ini.


Pria yang saat ini sebenarnya sedang menahan gemetar itu ditugaskan untuk berdiri di samping Tuan Alexander. Mengawasi pria paruh baya tersebut, lalu menjalankan rencana yang telah orang-oarng itu buat. Demi keselamatan dirinya, saat ini tak ada pilihan selain mengikuti perintah yang diberikan padanya.


krriiet


Pintu yang baru terbuka setengah pun perlahan dibuka lebar oleh orang dari arah luar. Sebuah bayangan seorang wanita yang sedang diikat pun jatuh ke lantai dimana pertama kali Tuan Alexander melihatnya.


Lalu masuklah, Megan yang masih diikat tangannya ke belakang dengan mulut tersumpal. Wanita itu dibawa oleh seorang pria berpakaian hitam ke arah Tuan Alexander.


"Kenapa hanya dia? Mana lagi yang lainnya?! Wanita ini tidak penting bagiku! Yang paling penting adalah dua wanita itu!", sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Megan yang sedan meronta-ronta, Tuan Alexander memasang wajah merendahkan.


Megan yang dinilai lebih rendah dari dua wanita yang ia maksud pun menjadi sangat kesal. Jiwa kesombongannya berteriak, menyatakan tidak ada yang pantas menyaingi dirinya. Dalam hal apa pun.


Tapi setelah menyadari bahwa ia bukanlah sasaran utama dari pria paruh baya yang sepertinya pernah ia kenal, maka ingn sekali ia mengataka apa yang dilihatnya saat baru saja dikeluarkan dari dalam mobil. Sayangnya mulutnya yang diperban, tidak bisa menyampaikan apapun pada orang itu. Mungkin saja jika ia bisa membantu, maka orang itu mau melepaskannya.


"Mereka selalu membuat masalah dan berusaha untuk kabur! Jadi mereka sedang diikat ulang agar tidak mudah lepas!", menyadari gelagat aneh Megan, pria yang membawanya pun menjauhkan wanita itu dari Tuan Alexander agar pria itu tidak curiga.


Merasa kesal karena usahanya dihalangi, Megan pun berusaha menginjak dengan keras kaki pria yang sedang memeganginya itu. Tapi sayang, pria itu memiliki reflek yang sangat cepat. Sehingga dengan sedikit trik, pria itu menendang kecil kaki Megan, dan jadilah wanita itu terjungkal ke lantai sambil mengerang kesakitan. Bokongnya benar-benar terasa nyeri karena harus membentur lantai yang keras.


"Ada apa dengannya?", Tuan Alexander menyipitkan matanya ke arah Megan. Sedikit mencurigai sesuatu.


"Tidak apa-apa, Tuan! Mungkin kakinya sedang kram karena terlalu lama diikat di dalam mobil", pria itu beralasan dengan wajah tenang sambil berusaha membantu Megan berdiri lagi.


Saat Tuan Alexander mengalihkan pandangannya ke arah pintu, pria barusan menodongkan senjata pada pinggang wanita itu.


"Jangan macam-macam! Nyawamu berada di tangan kami! Bahkan orang itu sekali pun tidak pantas menjadi lawan kami!", pria itu menekan senjatanya hingga punggung Megan menegang beserta wajahnya.


Meskipun mulutnya ditutupi lakban, namun masih terlihat jelas jika wajah wanita itu saat ini berubah pucat. Jadi siapa lagi orang ini?! Menyatakan kata kami, siapa itu kami yang dia maksud?! Apakah lebih berbahaya daripada orang yang saat ini berada di hadapannya?!

__ADS_1


Tapi situasi macam apa ini?! Megan sama sekali tidak mengetahuinya. Yang ia tau, tadi mereka tertangkap oleh orang-orang Tuan Sam, lalu tiba-tiba tak sadarkan diri. Dan begitu siuman, dirinya sudah berada di dalam mobil bersama pria-pria misterius dan dibawa ke sini.


Pria yang berdiri di samping Tuan Alexander melihat apa yang terjadi pada Megan pun makin merasakan krisis di hatinya. Orang-orang itu namapaknya sangat berbahaya, dan tak ada gunanya ia melawan. Karena ia telah melihat dengan kepalanya sendiri saat rekan-rekannya harus tumbang dengan bergitu mudahnya oleh orang-orang itu.


Pria paruh baya yang sedang duduk di atas sofa lama itu pun menjadi sangat tidak sabar. Tangannya sudah merogoh saku celananya. Ia ingin menelepon anak buahnya yang lain untuk memerintahkan kepada mereka agar cepat membawa tawanan mereka ke dalam sini.


Pria yang berada di sebelahnya pun menyadari hal itu. Tidak akan ada gunanya, karena sebuah anak buahnya itu sudah mati dan hanya menyisahkan dirinya saja seorang. Tapi mungkin karena sudah terlalu tua, ia tidak menyadari jika orang yang bersama Megan bukanlah anak buahnya. Mungkin karena pakaian mereka sama, jadi Tuan Alexander tidak menyadarinya.


"Apa sebenarnya yang mereka lakukan?! Kenapa ponsel mereka bahkan tidak bisa dihubungi?!", saat ini sepertinya Tuan Alexander sudah benara-benar kesal.


"Kalian ini sudah lamban lalu tidak becus pula! Masa hanya mengurus tiga orang wanita yang lemah saja kalian bisa menjadi begini lama! Apa kalian tidak tau, aku sudah sangat tidak sabar untuk,,,,", jadilah pria paruh baya itu mengomel dengan suara keras pada pria yang berdiri di sebelahnya sejak tadi.


Dan sebelum ia bisa melanjutkan lagi apa yang ingin ia ucapkan, suara derap langkah kaki beberapa orang pun membuatnya menolehkan kepala ke arah pintu.


-


-


-


**Maaf teman-teman semua.. rencananya aku mau namatin novel ini tuh minggu ini. Tapi karena satu dan lain hal di kehidupan nyata, jadi malah molor begini,,,


meskipun nulis novel itu penting, tapi buat aku urusan anak-anak dan kesehatan keluarga itu lebih penting lagi dari apapun,, makanya mohon maaf sekali lagi kalau akhir-akhir ini updatenya sering lama begini 🙏


mohon pengertiannya ya teman-teman,, terima kasih buat teman-teman yang selalu setia ikutin novel aku ini ya 😊


love buat kalian semua 🥰


keep strong and healthy ya teman-teman 😉**

__ADS_1


__ADS_2