Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 150


__ADS_3

"Permisi, Tuan! Maaf, mobil keluarga Nona Joice telah memasuki halaman!", pelayan itu memberikan laporannya yang membuat semua wajah menegang.


"Ken, bagaimana sekarang?", tanya Ana khawatir. Kekhawatiran yang sama yang dirasakan oleh semua orang lantaran Ana belum mereka sembunyikan.


"Bagaimana ini, Ayah?", Nyonya Rima bertanya pelan kepada suaminya. Ia juga khawatir, namun ia tak ingin membuat putranya bertambah pusing karena pertanyaan yang tak bisa ia tahan di bibirnya. Hingga akhirnya ia memilih untuk menyampaikan pikirannya pada Tuan Dion, suaminya.


Sarah tengah menggigit bibir bawahnya dengan wajah yang tak kalah khawatirnya. Saat akan dibawa ke sini ia hanya diberitahu bahwa tugasnya adalah menemani dan menjaga Ana selagi mereka sedang sibuk untuk meladeni Joice nanti. Tapi ia juga berharap paling tidak dirinya bisa berguna untuk hal lainnya bagi Ana, sahabatnya itu.


Ken memeras otaknya untuk bekerja dengan efektif dan efisien sehingga dapat menemukan ide yang tepat. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, memindai semua tempat dan situasi yang mereka hadapi saat ini. Sebuah ide muncul dalam benaknya, lalu ia menangkap satu sosok yang cocok dengan ide yang ia miliki itu.


"Nona Sarah! Tolong bawa Ana ke kamarku. Dan tolong kau temani dia di sana", pinta Ken pada Sarah. Baik Ana maupun Sarah, keduanya menganggukkan kepala setuju. Ana berjalan mendekati Sarah, memandangi Ken sebentar lalu mulai beranjak dengan koper yang mereka miliki.


"Ana!", wanita itu menghentikan langkahnya ketika suaminya memanggil.


"Ingat! Di ka,, mar,, ku! Kamar kita!", perintah seorang diktator memang tak terelakkan. Ana tersenyum pasrah sebelum akhirnya berbalik dan memberi Ken sebuah acungan jempol yang tinggi. Ana dan Sarah, keduanya mulai melanjutkan langkah mereka.


"Keeenn!", tiba-tiba sebuah suara datang dari arah pintu.


"Ken!", keluarga Joice telah tiba dan Ana belum pergi seberapa jauh dari sana.


Ken mencoba berusaha tenang sambil memandangi Ana dan juga Sarah yang masih terlihat punggungnya. Sedangkan Sam, adiknya itu malahan terlihat lebih frustasi. Ia mengusap wajahnya kasar, sambil menimbang apa yang harus ia lakukan.


"Lakukan sesuatu Sam agar kakakmu bisa tetap di sini untuk menyambut mereka. Tidak akan ada yang curiga jika kau tidak ada!", perintah ayahnya membuat Sam mendapat ide.


"Kak, biar aku yang membantu mereka!", ujar Sam pada Ken lalu berjalan cepat ke arah Ana maupun Sarah. Ken belum sempat mengangguk setuju ketika ia melihat adik bungsunya itu sudah bergerak dengan cepat.


Tepat ketika Sam berhasil menarik dua orang pelayan untuk berdiri bersisian dengannya guna menutupi punggung Ana dan Sarah. Keluarga Joice benar-benar memasuki ruangan tamu itu. Tanpa sadar, Nyonya Rima mengelus dadanya merasa lega.


"Malam, Tante!", Joice pertama menyapa calon ibu mertuanya itu lalu memeluknya.


"Kenapa Tante merasa lega begitu?!", tanyanya setelah melepaskan pelukan dirinya dan juga Nyonya Rima.


"Ah benar! Tante merasa lega karena akhirnya kau datang juga. Kami sudah menunggu kalian sejak tadi. Ya ,, begitulah keadaannya", wanita paruh baya itu mencoba menutupi perasaan yang sebenarnya.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya Alexander!", sapa Tuan Dion ramah kepada orang tua Joice.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya Wiratmadja!", ayah Joice membalas.


Akhirnya mereka memutuskan untuk berbincang-bincang ringan di ruang tamu itu. Di tengah obrolan mereka, pada akhirnya Nyonya Rima sedikit memikirkan bagian perasaan orang tua Joice ketika mereka tau bagaimana kelakuan putrinya selama ini. Bagaimana nanti jika perbuatan Joice terbongkar, akan seberapa terkejutnya kedua orang tua yang tidak tau apa-apa itu. Nyonya Rima mengajak Ken berbicara ke salah satu sudut.


"Sayang, maaf jika Bunda bertanya seperti ini. Hanya saja apa yang akan kalian lakukan nanti kepada Joice, apakah kalian tidak memikirkan bagaimana perasaan orang tuanya nanti? Maaf bukan Bunda bermaksud untuk membelanya. Sebagai orang tua, Bunda hanya memikirkan bagaimana perasaan mereka sebagaimana orang tua", ucap Nyonya Rima dengan suara pelan.


"Apa yang telah dilakukannya, maka dia harus mempertanggung jawabkannya termasuk di depan orang tuanya sekalipun", Ken tetap pada pendiriannya.


Memang sejak awal Ken kurang setuju untuk Ana melakukan rencana balas dendamnya. Tapi jika diperhitungkan, apa yang telah Joice lakukan sungguh tak termaafkan. Bermain-main dengan nyawa seseorang, sungguh bukan hal yang bisa dimaklumi begitu saja. Sejak Ken menyetujui tentang rencana Ana, maka ia akan mendukung sepenuhnya apapun yang akan Ana lakukan nanti. Karena pria itu telah berjanji pada dirinya sendiri maupun kepada mendiang mertuanya bahwa ia akan selalu membahagiakan istrinya itu.


"Malam makin larut, bagaimana jika kita beristirahat dulu sekarang. Kami telah menyiapkan kamar untuk kalian. Semoga Om dan Tante bisa menikmatinya senyaman mungkin. Silahkan Om, Tante, pelayan akan mengantar ke kamar yang telah disiapkan!", ucap Ken sopan.


"Baiklah kalau begitu ada baiknya memang jika kita beristirahat dulu. Ayo, Ma!", ajak Tuan Alexander kepada istrinya yang sudah mengangguk oleh ajakan suaminya itu. Mereka mengikuti seorang pelayan yang saat ini sudah berjalan di depan sambil membawa koper mereka.


"Bagaimana dengan kamarku, Ken! Apakah kita akan berbagi kamar mulai malam ini?", Joice dengan berani meraih lengan Ken untuk ia rangkul. Tak lupa ia memamerkan senyuman menggodanya seraya mengerlingkan sebelah matanya.


"Heh! Dasar tidak tau malu!", umpat Ken dalam hati.


Pria itu segera menepis tangan Joice dan menjaga jarak dari wanita itu.


"Pelayan sudah menyiapkan kamar sendiri untukmu!", ucap Ken dingin.


"Ayah, Bunda, aku sangat lelah. Aku ingin kembali ke kamarku dulu, ya", lalu Ken segera berlalu menuju kamarnya di lantai dua. Tapi alasan utamanya yaitu untuk menghindari kontak fisik lainnya dengan Joice. Ken tak nyaman jika ada wanita yang mencoba menggodanya. dan Ana adalah pengecualian tentunya. Karena jika istrinya itu menggodanya, Ken malahan akan dengan senang hati meladeninya.


"Joice sayang, kami ke kamar dulu, ya", kemudian hanya tinggal dirinya sendiri di ruangan itu setelah Nyonya Rima dan Tuan Dion ikut pergi.

__ADS_1


"Terus saja Ken dengan sikap dinginmu! Setelah hari esok, kau akan jadi milikku seutuhnya!", Joice tersenyum seakan hadiah besar sudah berada tepat di depan matanya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan pesta pernikahan impiannya. Setiap wanita pasti menginginkan sebuah acara pernikahan yang telah mereka dambakan sejak dulu. Sama halnya dengan Joice, ia memimpikan sebuah pernikahan yang megah dan meriah dimana ia menjadi seorang ratu paling cantik di tengahnya. Namun demi Ken, ia rela mengubur impiannya itu dengan hanya melakukan pernikahan privat yang sederhana seperti keinginan Ken saat ini. Baginya yang terpenting adalah ia bisa memiliki Ken, memiliki pria yang telah ia dambakan selama ini.


"Tunjukkan aku kamarnya!", dengan gaya congkaknya Joice melempar koper miliknya kepada pelayan yang masih tertinggal untuk mengantarnya ke kamar.


***


Kamar yang mereka tempati adalah kamar pengantin saat acara pernikahan mereka tempo hari. Ken memilih kamar ini karena dari sini pemandangan halaman villa terlihat secara keseluruhan dengan jelas dan indah. Setelah memasuki kamarnya, Ken melepas jas yang ia kenakan dan ia lempar ke sofa di dekatnya, lalu ia menghampiri istrinya yang tengah berdiri menghadap ke luar jendela yang sedang terbuka. Ia lingkarkan tangannya di pinggang Ana dan memeluknya dari belakang.


"Apa yang sedang kau lakukan, sayang?", tanya Ken seraya menghirup aroma manis dari kepala istrinya itu.


"Berdiri!", jawab Ana singkat.


"Iya aku tau, maksudku apa yang sedang kau pikirkan?", Ken mengeratkan pelukannya sambil dagunya ia gesek-gesekkan di pucuk kepala Ana.


"Aku hanya sedang berpikir, Ken. Apakah setelah ini Joice akan jera? Apakah setelah ini kehidupan kita akan berjalan dengan semestinya, seperti pasangan normal lainnya? Apakah aku masih bisa berbahagia setelah aku membalaskan dendam ini? Apakah aku masih berhak bahagia?", Ana menarik nafas sesaat sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku ingin bahagia, Ken. Itu saja! Tapi dengan merampas kebahagiaan yang ingin Joice raih, apa aku masih layak meminta hakku untuk bahagia?", mata Ana berubah sendu saat matanya menerawang keluar jendela.


"Jangan terlalu banyak berpikir, sayang! Ingatkah kau apa yang Ben katakan kepadamu! Jangan melunakkan hatimu untuk musuhmu. Belum tentu mereka akan membalas dengan hal yang sama. Kebahagiaan, dia yang telah merampas kebahagiaan yang tengah kita raih, Ana! Dia yang telah mempermainkan takdir yang sudah seharusnya menjadi milik kita!", Ken membalikkan tubuh istrinya itu sehingga mereka saling berhadapan.


"Setelah ini hanya akan ada kita dan anak-anak kita. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, sayang!", Ken membelai lembut wajah istrinya.


"Terima kasih sayang, aku jauh lebih tenang sekarang", Ana akhirnya menguarkan senyum damainya.


"Kalau begitu apa aku bisa mendapat imbalan yang sesuai?", Ken berucap manja sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Apa sekarang suamiku menjadi semakin perhitungan, heh?!", Ana melipat kedua tangannya di depan sambil menatap awas ke arah Ken.


"Tidak ada salahnya kan menjadi perhitungan dengan istri sendiri. Lagipula yang aku inginkan bukan uang atau yang lainnya. Aku hanya ingin,,,,", Ana segera menerobos dan bergerak menjauh dari Ken.


"Suamiku sebaiknya kau mandi dulu, oke! Aku akan ke kamar Sarah untuk mengambil barangku yang tertinggal padanya!", Ana tersenyum menang berhasil menguji kesabaran suaminya.


"Baiklah aku akan mandi! Tapi setelah ini kau harus berjanji memberikan imbalannya untukku!", Ken menarik pinggang Ana hingga mereka menempel erat. Pria itu mengeluarkan permohonannya, bukan! Itu titah yang ia keluarkan dengan wajah seriusnya.


"Oke, siap bos!", Ana memberi hormat pada Ken sebelum membuka pintu kamarnya.


"Tapi sayang, bagaimana jika nanti kau bertemu dengan Joice?!", Ken baru ingat bahwa Ana masih harus menyembunyikan diri dari wanita licik itu.


"Tenang saja, aku akan berhati-hati!", Ana mengerlingkan sebelah matanya lalu menghilang di balik pintu kamar itu.


Ken menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Lalu ia memilih memasuki kamar mandi untuk menyegarkan diri.


***


Saat keluar kamar ia berjalan sehati-hati mungkin bahkan hampir tak mengeluarkan suara di setiap langkahnya. Ia sempat melewati pintu kamar Joice yang sedikit terbuka, dan nampak di dalam kamar itu Joice yang sedang berbicara sendiri dengan cermin di hadapannya.


"Aku akan menjadi wanita satu-satunya bagimu, Ken!", terdengar satu kalimat yang membuat Ana mencibirkan bibirnya.


Ingin sekali Ana memasuki kamar itu dan menarik rambut wanita licik itu saking kesal ia mendengarnya. Tapi bukan sekarang, buka saat ini Joice merasakan hal yang tak dapat ia lupakan. Akhirnya hanya ide ini yang terbesit dalam pikirannya. Ia meraih kenop pintu kamar Joice secara perlahan selagi wanita itu tak menyadari kehadirannya.


brrakk


Lalu ia menutup pintu kamar Joice dengan amat kencang. Hingga Joice melonjak dari tempatnya. Ana segera berlari kecil menuju kamar Sarah yang berada di sebelah kamar Joice.


Wanita itu kini tengah ketakutan, tapi ia mencoba memberanikan diri untuk membuka kembali pintu kamarnya. Joice menoleh ke kanan dan ke kiri mengawasi lorong lantai dua yang sunyi itu.


"Ini aneh, tak ada siapapun di sini! Apakah villa ini berhantu?", Joice merinding. Ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin lalu segera masuk ke dalam kamar dan lupa menutup pintu itu kembali.


Di kamar Sarah,


"Apa kau sudah gila? Kenapa sejak tadi kau terus tertawa?", tegur Sarah dari ranjangnya. Ia tengah asik memainkan ponselnya dan terganggu oleh Ana yang datang secara tiba-tiba. Bahkan setelah masuk kamarnya, sahabatnya itu tidak berhenti tertawa.

__ADS_1


"Aku baru saja mengerjai dua orang sekaligus!", sambil berusaha meredakan tawanya Ana bergerak untuk duduk di ranjang dan berhadapan dengan Sarah.


"Apa maksudmu? Coba katakan padaku?", tanya Sarah penuh minat.


"Pertama suamiku, aku membuatnya menahan gejolak ingin memakanku dengan alasan aku harus pergi ke kamarmu dulu!", Ana menutup mulutnya yang tengah tertawa sambil membayangkan kekecewaan Ken tadi.


"Lalu yang kedua, aku membuat penghuni kamar di sebelahmu ketakutan dengan membanting pintu kamarnya secara tiba-tiba!", kembali Ana terkekeh saat membayangkan bagaimana wajah Joice saat ketakutan. Tadi Ana sebenarnya bersembunyi di balik pilar saat Joice mengeluarkan kepalanya untuk mengawasi keadaan sekitar. Ia melihat dengan jelas Joice tengah gemetar saat itu.


"Ya ampun Ana, kau suka sekali menjahili orang ya! Katakan apa alasannya kau melakukan hal itu?", Sarah hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menahan tawanya agar tidak meledak. Ia tak ingin Joice curiga dengan kegaduhan yang akan mereka buat karena wanita itu berada di kamar sebelahnya.


"Kau tau sendiri suamiku si raja singa itu, setiap saat rasanya ia selalu ingin memakanku. Meskipun aku juga menyukainya, hehe. Tapi entahlah, aku hanya sedang berpikir untuk menjahilinya saja!", kedua wanita itu terkekeh bersama mendengar penjelasan Ana.


"Lalu bagaimana dengan Joice?", tanya Sarah masih penasaran.


"Huh!", Ana memukul ranjang dengan wajah kesalnya.


"Aku kesal karena dia berani mengklaim bahwa Ken adalah miliknya! Tadi aku mendengarnya berbicara sendiri, jadilah aku memiliki ide untuk mengerjainya, hehe", jelas Ana sambil mengangkat bahunya.


"Astaga kau ini! Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika kau dan Tuan Ken memiliki anak nanti, bagaimana anak itu akan jahil seperti ayah dan ibunya!", Sarah menggeleng menahan senyumnya. Pasalnya ia juga tau bahwa Ken itu juga sama jahilnya, karena Ana sering bercerita dengannya sejak pertemuan awalnya dengan Ken dulu.


"Mau bagaimana lagi jika ayah dan ibunya terlalu kreatif dalam berpikir!", ucapan Ana membuat gelak tawa di antara keduanya.


"Baiklah, aku kembali ke kamar dulu! Sepertinya Ken sudah selesai mandi", Ana bangun dari duduknya kemudian melangkah ke arah pintu.


"Kembalilah secepatnya, aku tak ingin disalahkan oleh suamimu itu karena telah menahanmu terlalu lama di sini. Sepertinya dia sudah sangat sabar menunggumu di kamar. Kau harus me,,la,,ya,,ni,,nya dengan baik, oke!", Sarah mengedikkan sebelah matanya senang sekali menggoda Ana.


"Hey, sejak kapan pikiranmu jadi kotor sekali!", Ana membulatkan matanya tapi jelas pipinya memerah karena malu dengan ucapan sahabatnya. Kemudian ia segera berlalu meninggalkan Sarah yang masih tertawa sendiri di dalam kamarnya.


Ia kembali berjalan dengan hati-hati di tengah remangnya lorong lantai dua ini. Ana kembali melihat pintu kamar Joice yang masih terbuka. Lalu secepat mungkin ia berlalu dari sana tanpa menimbulkan suara.


Tapi sayangnya, Joice sempat melihat bayangan seseorang lewat di depan kamarnya. Yang jelas orang itu menggunakan pakaian putih panjang. Karena rasa penasarannya, dengan perlahan ia beranikan diri untuk melihat keluar. Dan benar saja, ia melihat seorang wanita dengan gaun putih menjuntai dan rambut panjangnya yang terurai tengah berjalan menyusuri lorong itu.


Joice membekap mulutnya dengan mata membulat besar sempurna.


"Ha,, hantu!", seru Joice dengan suara gemetar dan ketakutan.


-


-


-


-


-


-


Jangan lupa ya ikutin kisah Ben dan Rose di novel aku yang satunya dengan judul


🌹"Hey you, I Love you!"🌹


Dan terutama jangan lupa juga buat tinggalin like, vote sama komentar kalian,, okeh 😉


Love u teman-teman 😘


Stay strong and keep healthy ya 🥰


oh iya follow ig aku ya di @adeekasuryani


nanti aku folback kalian lagi,, tambah banyak temen tambah bagus kan 😊

__ADS_1


__ADS_2