Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 129


__ADS_3

Tiga mobil sudah meninggalkan area villa itu. Ben bersama Relly tidak mengikuti dua mobil di depan mereka, karena masih harus mengurus beberapa hal lainnya. Satu mobil adalah dimana sepasang pengantin baru itu berada. Dan satu mobil lagi terdapat empat orang lainnya yaitu, Han, Sam, Sarah dan Risa. Mobil yang mereka tumpangi melesat ke arah pusat kota.


***


"Sayang, bukalah!", Ken menyodorkan sebuah map kepada wanita di sebelahnya.


"Apa ini, Ken?", tangan Ana sibuk membolak-balik kan berkas yang ia pegang.


"Ini adalah hadiah pernikahan kita, sayang. Aku sudah membuatnya atas nama dirimu", sambil terus mengemudi Ken meraih salah satu tangan Ana dan mengecupnya.


Dalam berkas itu tercatat bahwa saham Winata Group sebesar 30% atas nama Bastian Adelard telah dialihkan menjadi atas nama Keana Winata. Jadi, dengan saham mendiang Tuan Danu sebelumnya yang berjumlah 25% yang telah diwasiatkan kepadanya dan ditambah saham yang Ken berikan, otomatis Ana telah menjadi pemegang saham terbesar. Dan secara otomatis juga semua kekuasaan atas nama Winata Group telah menjadi milik Ana sepenuhnya.


Mata Ana kelihatan memerah, panas dan sudah mulai menerjunkan air mata yang siap membanjiri pipi putihnya. Ia sangat terharu dengan setiap kebaikan yang Ken berikan. Ia sangat beruntung mendapatkan suami seperti pria di sampingnya ini. Ana menatap wajah Ken dengan begitu dalam. Ia tersenyum bangga ke arah suaminya yang sedang fokus menyetir itu.


"Aku hanya ingin membuatmu terus bahagia, sayang!", Ken membalas tatapan dalam Ana seraya mengulas senyumnya lalu kembali fokus menyetir kembali.


"Terima kasih!", ucap Ana dengan suara tersekat karena tak mampu lagi menahan tangis yang telah ia bendung sebelumnya.


"Han, apa semuanya sudah siap?", tanya Ken pada sambungan telponnya.


"Sudah Tuan. Kita bisa mulai bergerak sekarang!", jawab Han dari sambungan teleponnya.


"Baiklah, kita langsung ke sana!", ucap Ken lalu menutup panggilannya.


"Kau sudah siap, Ana?", tanya Ken dengan wajah seriusnya.


"Sejak lama, Tuan!", jawab Ana sambil menatap lurus ke depan. Tatapannya dipenuhi ambisi yang amat kuat.


"Halo, Joice!", kini Ken melakukan panggilan kepada incaran mereka.


"Ken, itukah dirimu?", Joice merasa tak percaya jika calon suaminya akan berinisiatif menghubunginya terlebih dahulu.


"Ya, ini aku! Kau bekerja atau tidak hari ini?", Ken membuat suaranya lembut namun ekspresi nya sangatlah enggan dan jijik. Ana yang berada di sebelahnya jadi terkekeh tak bersuara.


"Aku belum berangkat, Ken. Aku hanya ada meeting dengan klien jam 1 siang nanti. Ada apa?", Joice tak dapat menutupi rasa gembiranya karena dapat mendengar suara Ken secara langsung setelah sekian lama.


"Aku akan ke apartemen untuk membicarakan masalah pernikahan kita!", Ken masih berusaha menjaga intonasinya meski enggan.


"Datanglah, Ken! Aku akan menunggumu!", pipi Joice merona sangat bahagia saat ia bisa mengucapkan kalimat obrolan layaknya sepasang kekasih dengan pria yang telah ia dambakan sejak remaja dulu.

__ADS_1


"Baiklah, aku tutup!", Ken hendak mengakhiri panggilan itu.


"Hati-hati dalam perjalananmu, Ken!", mendengar hal itu Ken menjauhkan ponselnya dengan tatapan jijik dan melemparkannya ke laci mobil.


"Kau jahat sekali, Ken! Bagaimana jika dia melihat ekspresi mu saat ini?!", ucap Ana sambil tersenyum puas.


"Cekk!", Ken berdecak kesal sambil terus melajukan mobilnya.


"Demi dirimu Ana, aku akan melakukan apapun. Kini kebahagiaanmu adalah prioritas bagiku", ucap Ken dalam hati.


***


Di sebuah apartemen mewah di pusat kota, nampak Joice sangat bahagia karena Ken akan datang mengunjunginya. Ia kembali ke kamarnya untuk merapihkan dirinya yang memang sudah berdandan sejak tadi. Waktu masih menunjukkan pukul 10 jadi masih ada waktunya untuk ia sedikit berbincang-bincang dengan Ken yang biasanya sangat sulit bahkan mustahil untuk dia temui.


Selang 1 jam, bel rumahnya berbunyi. Dengan riang ia mendekat ke arah pintu. Dan benar saja, di sana telah berdiri seorang pria tampan dengan setelan jas berwarna navy yang pas di badannya. Segera ia membuka pintu dan memasang senyum cerianya.


"Apa kau masih ada waktu sebelum meetingmu?", tanya Ken dengan wajah datar seperti biasanya.


"Masih banyak waktu untukmu, Ken", tangan Joice menghela mempersilahkan pria itu masuk.


"Duduklah Ken, aku akan membuatkan minuman dulu untukmu!", Joice berjalan ke arah dapurnya. Ken hanya menjawab dengan anggukan.


"Silahkan diminum, Ken!", Joice mendekatkan cangkir itu ke hadapan Ken.


"Terima kasih!", Ken tetap waspada dengan wanita licik itu. Takut-takut Joice memasukkan sesuatu di dalam minumannya. Jadwal ia hanya menempelkan bibirnya di pinggir cangkir seakan-akan ia telah meminumnya. Lalu ia meletakkan kembali cangkir itu dengan hati-hati.


"Apa yang ingin kau bicarakan, sayang! Uupss, Ken!", Joice berpura-pura tidak sadar dengan ucapannya. Padahal ia sengaja mengucapkan kata itu dengan tidak tahu malunya.


Mata Ken sedikit membulat saat Joice dengan berani memanggilnya sayang, kata yang hanya boleh diucapkan oleh istri sahnya seorang yaitu, Ana. Lalu ia kembali ke ekspresi awalnya, datar seperti biasa.


"Bagaimana dengan persiapan pernikahan kita?", tanya Ken mengalihkan topik mengenai panggilan yang membuat telinganya jengah.


"Kita? Wow, aku benar-benar bahagia saat dia mengatakan bahwa ini adalah pernikahan kita", Joice kegirangan dalam hati.


"Sudah 70% , gaun dan jas yang akan kita pakai juga telah dipesan, gedungnya juga sudah di booking, mungkin hanya undangan yang belum tersebar", jelas Joice dengan riangnya.


"Ah, pas sekali. Aku juga ingin membahas masalah itu. Untuk gedung biar aku yang mengaturnya. Dan masalah undangan, lebih baik jangan disebar dulu. Karena aku ingin sekali kita menikah dengan acara yang khidmat dimana hanya keluarga kita saja yang datang. Aku tidak suka keramaian", ucap Ken lugas.


"Tapi Ken, bagaimana dengan keluargaku dan semua klien papa. Mereka pasti sangat ingin putri satu-satunya ini menikah dengan acara yang sangat meriah", ucap Joice nampak berpikir.

__ADS_1


"Hanya itu pilihannya. Kau ikuti perkataanku atau tidak sama sekali. Kau bisa memikirkannya dulu", ucap Ken datar namun ia menyelipkan tatapan kejamnya membuat wanita yang ada di hadapannya ini mematung.


"Baiklah, baiklah! Aku setuju!", dengan cepat Joice memberikan jawaban. Ia tak berpikir dua kali karena mana mungkin ia akan menyia-nyiakan kesempatan yang amat langka untuk bisa menikahi pria kesukaannya ini.


"Baiklah, masalah gaun pengantin aku serahkan kepadamu. Dan sisanya biar aku yang urus", Ken menutup ucapannya dengan berdiri.


"Kalau begitu aku permisi dulu! Aku harus kembali ke kantor", Ken melangkah ke arah pintu.


Joice nampak tak suka dengan Ken yang kelihatannya terburu-buru untuk pergi dari apartemen miliknya. Ia juga bangkit mengekori Ken di belakangnya.


"Kenapa terburu-buru, Ken?! Kau baru saja datang", wanita itu berusaha menahan Ken untuk pergi.


"Aku lupa ada sesuatu yang harus aku urus segera! Aku pamit!", Ken segera melangkah keluar dari sarang rubah itu.


"Sia! Apa dia tau aku memberikan sesuatu ke dalam minumannya?! Padahal jika sesuatu terjadi di antara kami, Ken tak dapat menolak lagi untuk menikah denganku!", gerutu Joice seraya menyambar cangkir teh tadi.


Sebelumnya, Joice telah mencampur teh hangat itu dengan obat perangsang. Ia berharap obat itu akan membakar tubuh Ken sehingga ia dapat menyatu dengan Ken seutuhnya. Kau setelah itu, tak ada lagi cela bagi Ken untuk tidak menikahinya. Tapi rencananya gagal, karena Ken tidak meminum teh yang ia buat. Dan malah buru-buru pergi dari tempatnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11:30 pada jam dinding di ruang tamu apartemen itu. Joice segera berjalan ke kamarnya untuk mengganti pakaian dengan setelan formal karena ia harus berangkat ke kantor sekarang juga. Na'asnya saat baru saja melangkah ke dalam kamarnya. Ia mendapati sebuah cairan merah pada lantai kamar itu membentuk sebuah huruf-huruf.


***Aku akan membalasmu


A***


"Aaaaaaaakkhh!", Joice berteriak histeris setelah ia melihat inisial yang ditorehkan di sana. Tubuhnya menegang dan gemetar. Demi apapun saat ini ia benar-benar ketakutan. Joice merosot ke lantai lalu dengan kedua tangannya ia menutupi wajahnya sambil terus menjerit.


-


-


-


-


-


maaf ya crazy up nya segini dulu,, besok-besok author bikin lagi ya😉


hayo,, jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2