Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 65


__ADS_3

Sam juga dilanda rasa penasaran, namun ia urungkan untuk bertanya. Insting nya mengatakan bahwa ia harus menyingkir agar Ken dapat dengan leluasa berbicara padanya. Entah berita apa yang baru saja Ken terima, hingga auranya begitu suram dan mencekam.


***


"Tidak, Ken! Aku harus ikut bersamamu. Dia ayahku, jadi aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi padanya. Meski hal terburuk sekali pun, aku harus tau. Aku berhak atas hal itu!", ucap Ana tegas. Namun tubuhnya gemetar, rasa takut dan cemas melanda dirinya. Matanya sudah memerah menjadi kolam untuk air matanya.


FLASHBACK ON


"Katakan Ken, ada apa sebenarnya? Aku tau kau menyembunyikan sesuatu dariku", ucap Ana yang kini sudah menghadap ke arah Ken.


Jantungnya berderak cepat, firasatnya merasakan sesuatu yang tidak baik terjadi. Ken terlihat tenang menanggapi Ana, tapi sorot matanya tak dapat menyembunyikan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Kegundahan yang melanda Ken untuk mengatakan sesuatu pada Ana sangatlah besar saat ini. Dan Ana mampu menangkap hal itu. Ia tau, ada sesuatu yang salah. Ia harus tau, harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Keraguan pun merasuk ke lubuk hati Ken. Ia sungguh tak mampu menyampaikan berita yang nantinya akan membuat wanitanya terpukul. Ken sangat mencintai Ana, ia tak ingin melihat Ana bersedih. Rasa sakit yang Ana derita nantinya, Ken tak ingin menjumpainya. Jika bisa, rasanya ingin hanya ia yang merasakan sakit dalam batinnya nanti. Tapi bagaimana pun juga, Ana harus mengetahui hal ini. Karena Ana adalah orang yang paling tepat mendengar hal ini pertama kali.


Ken mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara. Namun lidahnya kelu, lidahnya seakan tak mendukung apa yang akan Ken ucapkan pada Ana nantinya.


"Tidak ada, sayang! Emm,, sebentar aku ada perlu dengan Sam. Nanti aku kembali lagi, oke. Kau teruskan saja masaknya. Perutku sudah sangat lapar", ucap Ken sedikit manja. Akhirnya ia tetap tak mampu mengatakan kebenarannya. Ia pun melangkah meninggalkan Ana yang masih memasang wajah heran dan pemasaran yang membuncah.


Sarah menatap Ana yang tengah memandangi Ken yang menjauh. Ia juga merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Tapi bukan saatnya untuk bertanya. Ia memilih tugas untuk menghibur sahabatnya agar Ana lupa dengan urusan menyangkut Ken.


"Ayo kita lanjutkan lagi masaknya!", ajak Sarah riang sambil mendorong Ana menuju kompor.


"Kita masak yang enak-enak yah. Supaya para lelaki makin cinta, haha!", ucap Ana berusaha seriang mungkin tanpa sadar apa yang diucapkannya.


"Para lelaki? Makin cinta?,,, Siapa?,,, Sam ya,,,", ucap Ana terputus-putus sambil mengernyit dan meledek Sarah akhirnya.

__ADS_1


"Apa-apaan kau ini?! Baiklah, akan aku beri garam yang banyak supaya dia cepat meninggal!", ucap Sarah bersungut-sungut.


"Enak saja kau! Masih ada Ken ku, jika dia juga memakan masakan yang kau masak lalu dia meninggal bagaimana?! Dan jika hal itu terjadi akan aku pecat kau sebagai sahabat ku!", ucap Ana sambil berkacak pinggang dan memasang wajah garangnya.


"Baiklah, ampun nona! Saya tidak akan melakukannya", ucap Sarah lucu sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Mereka pun tergelak bersama.


Sarah tersenyum sendu menatap Ana yang tengah tertawa. Akhirnya usahanya tidak sia-sia, ia berhasil membuat Ana melupakan rasa penasarannya terhadap Ken.


***


Ken melempar tubuhnya ke sofa panjang dan menengadahkan kepalanya menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Sam yang berada di sofa tunggal dan sedang menscroll ponselnya untuk mengecek beberapa laporan pun sedikit kaget dengan suara Ken yang menimpa sofa dengan keras. Ia hanya menatap kakaknya datar tanpa mengeluarkan pernyataan satu pun.


"Han baru saja memberi kabar buruk! Aku sungguh tak sanggup mengucapkannya pada Ana", ucap Ken terdengar menyedihkan.


"Apa yang terjadi?", tanya Sam singkat.


Ia berjalan menuju teras dan mendudukkan diri di sebuah kursi. Ken merogoh saku celananya, ia mengambil rokok dan juga korek untuknya. Ken menyesapkan sebatang rokok yang menyala pada bibirnya, kemudian ia mengepulkan asapnya ke udara. Ia berusaha menenangkan diri sambil memikirkan langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya.


Sam menghampiri kakaknya yang sedang terlihat berpikir. Raut wajah Sam menjelaskan kekhawatiran yang hinggap pada dirinya. Ia sudah tak sabar untuk bertanya pada kakaknya.


"Kak!", Sam menepuk bahu Ken.


"Emmh!", Ken nampak enggan menanggapi apa pun kali ini.


"Perintahkan Ana dan Sarah untuk bersiap. Kita akan berangkat sekarang", perintah Ken dingin tanpa menoleh ke arah Sam sedikit pun.

__ADS_1


"Kenapa Sarah juga,,,", Ken langsung memotong pertanyaan Sam.


"Aku ingin dia menemani Ana kali ini", jawabnya.


Sam segera memberi tahukan kepada Ana dan Sarah untuk bersiap. Awalnya kedua wanita itu nampak bingung. Bahkan Sam pun tak dapat menjawab pertanyaan yang mereka ajukan. Pasalnya dirinya pun tak mendapat jawaban apa pun dari kakaknya.


Kemudian Ana dan Sarah beranjak menuju kamar Ana untuk bersiap-siap. Tak sampai 10 menit dengan berlari kecil Ana dan Sarah menuruni anak tangga menuju teras dimana Ken sudah terlihat rapi dengan jasnya, meskipun dia tengah memakai pakaian santai saat ini.


Raut wajah Ken tak bersahabat, ia tak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka berempat berada di dalam satu mobil. Sam menyetir mobil sesuai arahan dari Ken sebelumnya dan di sampingnya terdapat Sarah yang hanya memandang lurus ke depan. Dan di kursi belakang, terdapat Ana dan Ken yang juga hanya terdiam. Suasana nampak hening, ada yang ingin bertanya namun ada juga yang tak ingin menjawab apa pun. Mereka berpadu dengan pikiran mereka masing-masing.


"Krrukk,, krrukk,, krruuuukk", hingga suara perut Ana mengehentikan keheningan itu.


Ken menipiskan bibirnya. Ia meraih pinggang Ana agar mendekat ke arahnya.


"Maafkan aku, sayang! Aku jadi melupakan bahwa kita semua belum makan siang", ucap Ken lembut.


"Katakan dulu Ken! Sebenarnya ada apa?", tanya Ana dengan raut wajah memelas.


"Nanti sayang, nanti kita semua akan mengetahui kepastiannya. Aku bahkan tak dapat menjelaskan apa pun sebelum mengetahuinya dengan mata kepalaku sendiri", ucap Ken lembut kemudian ia melempar pandangannya ke arah luar jendela. Namun tangannya tetap menjaga Ana agar berada dalam dekapannya.


Sarah dan Sam yang berada di kursi depan hanya bisa memasang dengar dan saling melempar pandangan yang mengakibatkan rasa gugup mendera pada diri mereka masing-masing.


Mobil memasuki area bandara, Sam menghentikan mobilnya di lobby tepat di hadapan tiga orang suruhan Ken. Sam melemparkan kunci mobil itu asal pada mereka, dan salah satunya pun dengan mudah bisa menangkap kunci tersebut. Kedua pasangan itu jalan beriringan masuk ke dalam bandara menuju jet pribadi yang telah disiapkan oleh orang suruhan Ken. Sebelumya mereka sudah makan siang di salah satu lounge vip di dalam bandara.


Sarah duduk di sebelah Sam, sedangkan Ana duduk bersebelahan dengan Ken yang masih enggan membuka suara namun tangannya tetap menggenggam erat tangan Ana. Wajah Ana berubah murung sejak tadi memandangi Ken yang tak kunjung membuka suara. Ia menarik tangannya perlahan dan melipatnya di depan perutnya. Ana mengalihkan pandangannya ke arah lain, membuang muka dan mengalihkan pandangannya dari Ken.

__ADS_1


Ken menyadari pergerakan pada genggaman tangannya pun langsung menoleh ke arah Ana yang kini sudah memalingkan wajahnya. Ana memberi isyarat bahwa ia sudah tak tahan dengan bungkamnya mulut Ken saat ini. Ken menatap Ana sendu, lidahnya kelu, masih tak mampu untuk menjabarkan segalanya. Tangannya mengambang di udara, berusaha menggapai tangan Ana. Namun ia mengurungkan niatnya, Ken menarik kembali tangannya dan menatap ke arah luar, lagi.


__ADS_2