Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 174


__ADS_3

"Sepertinya kalian akur sekali ya?", Ana tak mampu menahan tawanya melihat ekspresi sengit di wajah Krystal.


"Heh, kau tak tau saja?! Memangnya kau pikir, dengan cara apa dia bisa sampai di titik ini jika bukan karena menjual tubuhnya!", wanita itu makin kesal sekarang.


"Bukannya hal itu sudah biasa terjadi di dunia kalian yang keras itu?! Memangnya kau tidak?!", Ana senang sekali memprovokasi sepupunya ini. Senang sekali Ana melihat wajah sepupunya yang mudah sekali emosi sejak dulu itu.


"Hey,,, biar begini aku masih menggunakan kemampuanku untuk sampai di titik ini. Sudah mandi keringat darah rasanya!", Krystal memang sudah bekerja sangat keras untuk sampai di titik ini. Orang-orang hanya melihat bagaimana seorang aktris terkenal menjadi tenar dan banyak menghasilkan. Tapi mereka tidak tahu bagaimana kerasnya kehidupan dan jalan yang harus ditempuhnya. Kerikil, batu terjal, Krystal sudah melewati itu semua. Tapi bukan berarti sekarang dia juga sudah terbebas dari perjuangan. Sampai saat ini dirinya juga masih berjuang untuk tetap bertahan di dunia yang begitu kejam ini.


"Baiklah, baiklah! Aku hanya senang menggodamu! Kau gampang sekali marah sejak dulu!", Ana menutup mulutnya untuk menahan tawa.


"Kau ini benar-benar, ya?! Pantas saja kita berdua selalu bertengkar dulu, ternyata sifat kita saling terkait. Yang satu senang memprovokasi, dan yang satunya lagi mudah terprovokasi!", keduanya lalu larut dalam obrolan ringan sampai beberapa saat.


"Ana, aku pamit dulu ya! Aku masih ada jadwal pemotretan sekarang. Jika nanti temanmu bangun, titip salam saja untuknya", ucap Krystal setelah melihat jam tangannya. Ia terlalu asyik berbincang hingga lupa waktu ternyata.


Rasanya memang menyenangkan memiliki teman mengobrol yang sesama wanita. Biasanya ia hanya berbicara dengan beberapa orang saja. Misalnya manajernya, asistennya, atau kekasihnya Louis. Itupun tidak semenyenangkan ini. Krystal sangat bahagia, selain mendapatkan kekasih yang baik seperti Louis, sekarang ia juga sudah mendapatkan saudara perempuannya, yaitu Ana. Teman berbaginya dalam keadaan suka maupun duka mulai sekarang. Ia sudah berjanji akan hal itu, untuk menebus waktu yang telah terbuang sia-sia sebelumnya.


"Baiklah! Hati-hati ya! Sampaikan salamku pada Louis juga, ya!", Ana melepaskan pelukannya lalu mengantar Krystal sampai di depan pintu kamar.


"Oke! Bye!", Krystal melambaikan tangannya sambil lalu.


"Ah ya!", tepat saat Ana akan menutup pintu kamar Krystal memutar tubuhnya.


"Satu bulan lagi kakak akan kembali!", seru Krystal dari kejauhan.


"Kakak? Maksudmu Kak Adam?", Ana mencoba menerka sambil mengerutkan alisnya dalam.


"Iya, siapa lagi memangnya kakakku?! Kak Adam akan kembali dari Negara S dan mungkin akan menetap di sini. Saat Kak Adam pulang nanti, maukah kau menemaniku menjemputnya di bandara?", seru Krystal lagi sedikit antusias dan penuh harap.


"Tentu, kabari aku saja! Oke", Ana membuat lingkaran dengan jarinya memberi tanda oke kepada sepupunya.


"Baiklah, bye!", kini Krystal benar-benar pergi setelah melambaikan tangannya.


Benar, masih ada Kak Adam. Krystal adalah putri kedua dari Tuan Bram, sedangkan Adam adalah sulungnya. Sejak kuliah hingga bekerja seperti sekarang ini, ia sudah menetap di Negara S karena merasa nyaman di sana. Tapi setelah mendengar kabar bahwa ayahnya masuk penjara dan adiknya tidak ada yang menjaga, maka ia memutuskan untuk kembali ke sini, ke negaranya yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan.


Ana menutup pintu kamarnya lalu mendudukkan diri lagi di samping ranjang Sarah. Dipandanginya wajah pucat sahabatnya itu, rasa nyeri dan sakit itu kembali hadir saat mengingat derita yang sahabatnya itu alami selama ini. Dan lagi saat ini derita Sarah semakin bertambah nyeri itupun karena dirinya. Demi menyelamatkan dirinya, Sarah menjadi mengalami hal pahit seperti ini lagi. Ana belum berhenti menyalahkan dirinya saat pintu kamar kembali terbuka.


"Ana!", sapa Ibu Asih yang baru saja masuk bersama dengan Sandi.


"Ibu! Bagaimana? Apa yang dokter katakan?", tanya Ana sambil menuntun Ibu Asih untuk duduk di kursi yang tadi ia tempati.


"Hah!", sejenak beliau menghela nafasnya.


"Sarah bisa sembuh dari traumanya! Dia harus menjalani trauma healing selama beberapa waktu. Dokter akan menjadwalkan terapinya. Untuk saat ini, selagi moodnya sudah membaik, kita harus membujuknya untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasanya. Itu kita lakukan, agar Sarah dapat melupakan kejadian kemarin itu. Lalu kita hanya perlu mengikuti arahan dokter untuk selanjutnya", Ibu Asih menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.


Namun dari matanya terasa ada yang masih mengganjal di hatinya. Ibu Asih bingung harus menyampaikan ini atau tidak kepada Ana. Hal ini bukan anjuran dokter, hanya saja ini naluri seorang ibu untuk melindungi putrinya.


"Ana!", serunya sedikit ragu sambil memandangi Sarah.


"Iya bu?", Ana menghadap ke arah Ibu Asih dengan penuh minat. Ia pun tau masih ada yang Ibu Asih tahan dengan penjelasannya barusan.


"Tolong Ibu, nak! Jangan biarkan Tuan Sam itu mendekati Sarah lagi. Situasinya terlalu rumit untuk mereka berdua. Ibu tidak ingin putri Ibu banyak terluka lagi. Sudah cukup apa yang Sarah derita selama ini. Bisa kan Ana menolong Ibu?", Ibu Asih menggenggam tangan Ana dan menatapnya dalam penuh dengan harapan.

__ADS_1


"Tentu saja bisa, Bu! Ana juga sangat menyayangi Sarah seperti saudara Ana sendiri. Ana pasti akan melindungi Sarah dan membuatnya bahagia. Ana akan mendukung apapun keinginan Sarah, Bu!", itu janji Ana pada dirinya sendiri. Bukan janji Ana pada Ibu Asih. Karena apa yang diminta oleh beliau adalah sesuatu yang membuatnya dilema. Di satu sisi ia sangat tau bagaimana perasaan Sam terhadap sahabatnya itu. Di sisi lain ia juga harus menjaga sahabatnya itu dari beban berat traumanya yang mendalam. Jadi Ana memilih kalimat ambigu yang sesuai untuk menjawab pertanyaan Ibu Asih kepadanya.


"Terima kasih, Ana!", Ibu Asih menarik Ana ke dalam pelukannya. Ia sangat bersyukur Sarah memiliki seseorang yang tulus berteman dengannya. Meski mereka tau bahwa status Ana jauh di atas mereka. Tapi Ana tetap menganggap mereka sama. Dan terlebih lagi mereka saling menyayangi satu sama lain. Hal itu yang makin membuat Ibu Asih bahagia.


Di dalam pelukan yang begitu erat dan agak lama itu, Ana bertukar pandang dengan Sandi. Adik dari sahabatnya itu seakan mengerti maksud dari ucapan Ana tadi. Ia sangat memahami hal itu. Ia pun akan memiliki keputusan yang sama dengan Ana. Ia akan mengatakan kalimat itu kepada Ibunya. Bukan karena apa-apa, tapi kelak takdir telah ditentukan oleh Tuhan. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk memaksakan takdir mereka ataupun orang lainnya. Sandi tak akan memaksakan bagaimana perasaan Sarah nanti. Ia hanya akan mendukung kakaknya untuk bahagia.


Baik Ana maupun Sandi sama-sama mengangguk pelan, isyarat bahwa mereka akan saling menghormati satu sama lain untuk membuat Sarah bahagia. Ya, wanita itu berhak untuk bahagia setelah ribuan rasa yang ia derita di waktu sebelumnya.


***


Dua hari telah berlalu, pagi ini Sam dijadwalkan akan pulang dari rumah sakit. Kondisinya sudah benar-benar sehat saat ini. Hanya saja luka di perutnya itu masih harus dijaga agar tidak mengeluarkan darah lagi. Itu artinya lukanya akan terus basah, dan akan memakan waktu untuk proses penyembuhannya. Sam dan keluarga sudah mengangguk mengerti.


Tapi di waktu dua hari ini, kakak iparnya tak menunjukkan batang hidungnya barang sedetik saja. Yang datang hanya Ken saja seorang diri. Ken bilang Ana ada urusan setiap kali ditanya. Dan kakaknya itu selalu berusaha menutupi jika Sam ingin bertanya lebih jauh lagi.


Karena tak dapat bertemu Ana, ada sedikit kelegaan karena ia bisa menghindari hukuman selama beberapa waktu ini. Tapi ada juga yang membuatnya gelisah. Dia jadi tidak dapat mengetahui bagaimana kabar Sarah sekarang. Sam belum bisa menghilangkan kekhawatirannya karena terakhir kali kondisi Sarah yang ia lihat, tidaklah baik bahkan lebih buruk lagi prediksinya. Ia sudah tidak tahan ingin sekali bertemu dengan pujaan hatinya itu. Untuk mengatakan beribu kata maaf kepada wanita itu.


Nyonya Rima telah membereskan barang-barang dan pakaian Sam ke dalam tasnya. Mereka hanya tinggal menunggu Ken datang untuk menjemputnya pulang.


"Bunda!", sapa Ken seraya memeluknya.


"Dimana Ana?", tanya Nyonya Rima setelah melepaskan pelukan putranya.


"Dia sedang ada urusan Bunda, akhir-akhir ini dia sangat sibuk. Ana menyampaikan permintaan maafnya kepada Ayah dan Bunda karena tidak bisa datang untuk menjemput Sam hari ini. Dan sebagai permintaan maafnya, kami akan makan malam di rumah besar akhir pekan nanti. Ana bilang rindu memasak bersama Bunda", ujar Ken kepada ibunya dengan hangatnya. Meskipun Nyonya Rima merasa putra sulungnya itu menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi setelah mendengar bahwa menantunya itu merindukannya, maka ia pun jadi melupakan hal itu. Terlalu bahagia hingga lupa.


"Apa Ana tidak rindu Ayah?", Tuan Dion meletakkan ponselnya di meja lalu bertanya dengan mata penuh harap.


"Ya, ampun!", Ken tertawa di dalam hatinya.


"Lalu, apa kakak ipar tidak merindukanku?", Sam merajuk. Ia melingkar tangannya di lengan ibunya. Memasang wajah memelasnya yang tentu saja tidak akan mempan dengan kakaknya.


"Tidak!", sahut Ken cepat dengan nada dinginnya.


"Ayah, Bunda lihat! Tak ada yang merindukan aku! Aku merasa sedih sekali sekarang!", Sam berpura-pura mengusap matanya yang tidak ada air mata.


"Ceh! Wanita-wanita mu di sana, mereka merindukanmu semua!", sindir Tuan Dion dengan wajah serius tapi mengejek putranya. Tak ayal kata-kata itu membuat Nyonya Rima dan juga Ken berusaha menahan tawanya. Karena apa yang diucapkan ayahnya itu adalah kenyataan yang ada.


"Ayah!", seru Sam tak terima.


"Kurasa itu sangatlah benar!" Ken mengiyakan apa yang ayahnya katakan. Lagipula siapa suruh adiknya itu menjadi playboy kawakan di keluarganya.


"Lihat saja nanti, aku akan menyingkirkan mereka semua hingga hanya Sarah saja yang tersisa", Sam berusaha berbicara dengan nada seriusnya.


"Lakukan! Kami butuh bukti bukan cuma ucapan saja!", ucap Tuan Dion lagi dengan nada acuhnya.


"Baik! Tenang saja, aku akan membuktikan kepada kalian dan juga,,, seluruh dunia!", wajah Sam yang bisanya konyol tiba-tiba berubah serius. Sangat serius bahkan sampai ia menatap tajam dinding yang berada di seberangnya.


Tuan Dion dan juga Ken memandangi Sam dengan satu senyuman di sudut bibir mereka. Kali ini dua pria itu telah melihat sebuah keteguhan di mata Sam. Sebuah tekad yang kuat yang jarang sekali ia perlihatkan.


"Baiklah, ayo Bunda kita pulang!", tiba-tiba senyum dua pria itu hilang ketika Sam mulai bertingkah manja lagi kepada Nyonya Rima. Rasanya mereka ingin memukul kepala bocah itu saja. Selalu bertingkah konyol di setiap waktu.


***

__ADS_1


Saat mereka sudah keluar dari lift dan akan menuju ke lobby, sekilas Sam melihat seseorang yang ia kenal. Sosoknya mirip Sarah, sedang duduk di kursi tunggu di lorong tak jauh darinya berdiri. Dan Sam rasa hanya dirinya yang menyadari hal itu.


Sam harus memastikan hal itu, ia harus memastikan sendiri bahwa itu memanglah Sarahnya. Wanita yang sudah dua hari ini ia khawatirkan keadaannya. Wanita yang tak berhenti mengusik benaknya hingga ia hampir gila, meski harus ia tahan agar orang lain tak melihat kegilaannya.


"Bunda, sepertinya aku akan ke toilet sebentar. Kalian pergi saja duluan ke depan", Sam tersenyum berpura-pura tidak menyembunyikan sesuatu dari mereka.


"Ayo aku temani!", ucap Ken tiba-tiba. Gerakan mata kakaknya terlalu was-was hingga membuat Sam curiga.


"Hey, kau pikir aku anak umur lima tahun, hah! Kau ingin memegangi punyaku saat aku buang air kecil, heh!", Sam berusaha senatural mungkin dengan sikapnya. Ia juga tak ingin membuat mereka semua curiga.


"Sudah Ken, biarkan saja dia!", tangan Tuan Dion bergerak memutar tubuh putra sulungnya. Ken masih berharap, sangat jelas di matanya. Dan hal itupun membuat Sam semakin curiga saja.


"Baiklah, kami tunggu di lobby depan", keputusan Nyonya Rima mau tak mau membuat Ken terbawa langkahnya.


Sam benar-benar merasa aneh dengan sikap kakaknya. Tapi apa yang kakaknya sembunyikan hingga membuatnya curiga. Hah sudahlah, saat ini yang terpenting adalah ia bisa memastikan sendiri penglihatannya barusan.


Sam memutar tubuhnya dan melanjutkan langkahnya ke arah dimana tadi ia melihat Sarah berada. Betapa leganya saat ia melihat sosok itu masih di sana. Sam bergerak mendekat. Dan betapa bahagianya dia, bahwa wanita itu adalah benar-benar Sarah. Wanita yang sangat ingin ditemuinya.


Dada Sam mengembang saking gembiranya. Jantungnya berdegup kencang tak seperti biasanya. Pria itu sedikit gugup seperti seorang remaja yang akan menghampiri pujaan hatinya.


Sam lalu mendudukkan diri tepat di samping Sarah saat wanita itu tak menyadarinya.


"Sarah!", sapa Sam lembut hingga wanita itupun menoleh ke arahnya.


"Maaf, anda siapa?", jawab wanita itu dengan wajah polosnya.


-


-


-


-


-


cukup dulu ya untuk hari ini 😊


kita lanjut lagi besok, okeh πŸ˜‰


baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya


🌹Hey you, I Love you!🌹


Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan 😊


jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya 😁


terimakasih teman-teman πŸ˜‰


love you semuanya 😘

__ADS_1


keep strong and healthy ya πŸ₯°


__ADS_2