
Untuk teman-teman yang memilih untuk menghentikan membaca novel ini karena terlalu cinta sama ceritanya Ken dan Ana, author ucapkan terimakasih banyak ya atas dukungannya selama ini ππ Author sangat menghargai keputusan kalian
tapi sudah author jelaskan bahwa cerita Ana dan Ken masih tetap ada meski tidak terlalu banyak seperti sebelumnya. Karena tokoh utamanya berpindah menjadi Sam dan Sarah.
Tapi author juga berjanji kalau ceritanya Sam dan Sarah ga kalah serunya sama ceritanya Ken dan Ana..
Yuk lanjut
Happy reading teman-teman,,π
****
Rintik air rimbun di jendela kaca kamar rawat rumah sakit itu. Hawa dinginnya mensejajari gelapnya malam hari ini. Beberapa saat yang lalu Sam sudah siuman. Matanya bergerak menyapu keadaan sekitarnya. Dan yang didapatinya hanyalah kedua orang tuanya. Tak ada kakak maupun kakak iparnya. Mungkin mereka lelah pikir pria itu, maka mereka memutuskan untuk bergantian menjaga dirinya dengan kedua orang tuanya. Tapi dimana wanita itu, ia harus menanyakan dimana keberadaan wanita itu. Bagaimana keadaannya saat ini, Sam sungguh sangat penasaran dibuatnya.
"Bunda!", panggil Sam ragu.
"Ada apa, Sam?", baik Nyonya Rima maupun Tuan Dion menoleh bersamaan dengan tatapan penuh minat.
"Tidak jadi!", ia urungkan niatannya untuk bertanya perihal wanita yang ia selamatkan nyawanya itu. Dengan wajah seribu ragu, ia kembali meletakkan kepalanya ke atas bantal sambil menahan nyeri di perutnya.
Kedua orangtuanya pun mendekat. Mereka yang semula sudah duduk santai di sofa sambil berbincang-bincang menjadi penasaran dengan sikap aneh putranya.
"Ada apa, Sam? Apa kau memerlukan sesuatu?", tanya Nyonya Rima dengan penuh kasih sayang.
"Emmhh,, tidak ada", ucap Sam lagi sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Ayolah, Sam! Aku ini Bundamu, apakah ada hal yang harus kau tutupi dari Bundamu ini?", Nyonya Rima mencoba merayu Sam untuk mau berbicara.
"Tidak ada, Bunda. Aku hanya ingin,,,,", Sam terdiam sejenak.
"Ingin apa?", kedua orang tua itu bertanya serempak.
"Ingin disuapi oleh Bunda, aku lapar!" ucap Sam dengan senyum ambigu.
"Ahh,, baiklah! Kenapa kau sulit sekali berbicara, padahal itu hanya masalah sepele kan? Benar juga, kau belum makan malam. Diam di sana, Bunda akan menyuapimu!", Sam membalas ucapan ibunya itu masih dengan senyuman yang sama. Senyum ambigu yang sulit dijelaskan.
Bagi Sam, ia merasa belum saatnya saja untuk mengangkat nama Sarah ke permukaan. Entah karena rasa gugupnya karena ini pertama kali baginya untuk menyukai wanita dengan serius. Atau karena takut jika orang tuanya nanti tidak akan menerima Sarah, mengingat kejadian tempo dulu saat makan malam untuk pertama kalinya yang melibatkan Joice maupun Ana. Sam juga belum bisa menebak sepenuhnya, apakah ibunya itu sudah benar-benar berubah atau hanya khusus kepada Ana. Toh lagipula kakak iparnya itu memanglah dari keluarga terpandang, tidak seperti Sarah yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Sam harus menyelidiki hal ini dulu sebelum mengangkat namanya ke dalam pembicaraan keluarga. Tapi yang lebih penting adalah, ia harus mengkonfirmasi bagaimana perasaan Sarah yang sebenarnya kepada dirinya. Sam harus berjuang lebih keras lagi jika nyatanya Sarah masih belum mau atau belum memiliki perasaan terhadapnya.
***
Masih di kamar Sarah,
Ibu mendekat ke kamar putrinya, ia berdiri d ambang pintu sambil mendengarkan putrinya berbicara dengan Sandi, adiknya. Berulang kali Ibu Asih menyeka air matanya saat mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya itu. Itu seperti mengorek luka lama yang telah tersimpan dengan sangat baik oleh putrinya.
"Kakak, apakah aku boleh bertanya sesuatu?", tanya Sandi hati-hati. Karena masih lemah, jadi Sarah hanya mengangguk dengan jawabannya.
"Apakah maksudnya kau menyukai pria itu?", sedikit ragu tapi Sandi harus mengkonfirmasi hal ini.
Sarah menjauhkan tubuhnya dari Sandi. Lalu lebih memilih berbaring miring sambil membelakangi adiknya. Ia tak ingin ekspresinya terbaca oleh siapapun saat ini. Keadaan yang sekarang Sarah alami sungguh lah rumit. Ketimbang saat berhubungan dengan mendiang Reyhan dulu, karena keluarganya memanglah keluarga yang sedikit kaya. Tidak seperti Sam yang berasal dari keluarga tingkat atas, yang Sarah rasa akan sulit untuk menjangkaunya. Terlalu jelas jarak antara dirinya dan pria itu. Sarah tak ingin tersakiti lebih jauh lagi. Apalagi mengingat kejadian pada malam itu, saat ia menerima tawaran untuk ikut makan malam keluarga yang ternyata ada Ana di dalamnya. Mengingat kejadian itu, membuat Sarah makin berusaha menjaga hatinya. Ia sangat takut jika suatu saat perasaannya makin bertumbuh, maka hanya akan ada rasa sakit lantaran keluarganya yang tidak menyetujui keberadaan dirinya. Jadi lebih baik sejak dini ia harus menyerah. Toh, hal seperti tadi pagi juga terulang lagi. Ini seperti takdir yang mengatakan bahwa Sam memang bukanlah untuk dirinya.
"Aku mau kakak jujur padaku! Sudah sejak lama kakak tidak pernah memiliki hubungan dengan pria manapun. Jadi sangat jelas perbedaannya saat ini. Apa saat ini kakak mulai membuka hati untuk pria itu? Sehingga dia begitu spesial dan bisa membuat kakak menangis sampai seperti ini?", prediksi Sandi cukup tajam. Sarah yang mendengarnya pun langsung membelalakkan matanya sebentar.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Jarak antara aku dan pria itu sangatlah jauh. Sangat sulit untuk dijangkau. Lagipula kau tau kan, aku ini pembawa sial, aku hanya tak ingin ada orang yang terluka lagi karena aku!", dengan suara gemetar Sarah juga mencengkeram ujung bantalnya saat mengucapkan kalimat tragis itu. Ia menangkis semua rasa yang menjelajah di dalam hatinya saat ini. Seperti putri tidur, ia telah dibangunkan oleh cinta dan kasih sayang yang Sam tunjukkan selama ini. Tapi semuanya selalu ia tolak mentah-mentah lantaran trauma yang ia miliki seperti sekarang ini. Ia tak ingin ada jatuh korban lagi pikirnya.
Ibu yang mendengarnya pun sudah tak tahan untuk ikut bergabung. Ia segera menarik Sarah hingga terduduk, lalu memeluknya erat-erat. Putrinya ini, selama ini selalu bekerja keras untuk menjadi tulang punggung keluarga apalagi saat Sandi masih bersekolah. Ia berjuang demi keluarganya saat kondisi makin memburuk saat ibunya harus menderita sakit jantung kronis dan membutuhkan banyak biaya. Padahal saat itu Sarah baru saja menyembuhkan luka hatinya ketika ditinggal oleh mendiang calon suaminya. Tapi Sarah terus saja fokus pada keluarganya tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Hingga mungkin ia menjadi lupa dengan rasa sakit di hatinya karena terlalu sibuk bekerja.
Dan kini, ketika putrinya mulai membuka hati. Malahan terulang lagi kejadian yang mengorek luka lamanya. Kapan sebenarnya nasib baik akan berpaling untuk putrinya.
"Maafkah Ibu, Sarah! Maafkan Ibu jika selama ini menjadi beban untukmu!", Ibu Asih benar-benar menyesal bahwa selama ini tak ada kebahagiaan pun yang dapat Sarah rasakan. Bahkan ketika ada pria yang menyukainya, keadaannya malah jadi rumit begini. Sejujurnya Ibu Asih hanya ingin putrinya bahagia. Tapi dengan penyakit yang dideritanya ini, baik Sarah maupun Sandi selalu mengesampingkan kebahagiaan mereka dan fokus untuk biaya penyembuhan dirinya.
"Tidak Ibu, Ibu tidak pernah menjadi beban untukku. Hanya Ibu dan Sandi yang aku miliki setelah ayah pergi. Tentu aku harus berjuang keras untuk menjaga dan merawat kalian", pernyataan Sarah membuat Sandi ikut bergabung dengan dengan pelukan itu. Sejak ia memutuskan untuk bekerja, ia sudah berjanji akan membantu kakaknya untuk membiayai perawatan ibunya meski Ana juga sudah membantunya. Tapi biaya diluar rumah sakit, Sarah tak ingin bergantung pada orang lain juga.
"Kalau begitu jangan katakan lagi bahwa dirimu adalah pembawa sial, Sarah! Kau juga berhak bahagia! Hanya saja semua butuh perjuangan, kau harus mengubur semua kenangan itu untuk masa depanmu nanti", Ibu Asih menasehati di dalam pelukannya.
"Kuharap aku bisa, Ibu! Tapi nyatanya itu sangat sulit!", Saran kembali terisak.
"Kau harus bisa, nak!", Ibu Asih pun kembali menangis mendengar isak tangis putrinya. Dan Sandi sebagai pria satu-satunya di rumah ini bertugas untuk menenangkan keduanya. Tangannya bergerak memeluk bahu ibunya maupun kakaknya di sisi kanan dan kirinya.
***
Kembali ke rumah sakit,
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam namun mata Sam masih terjaga. Nyonya Rima dan Tuan Dion memutuskan untuk membuka kamar di sebelah kamar rawat Sam agar mereka bisa beristirahat dengan nyaman. Istrinya itu memang sudah terlelap sejak satu jam yang lalu. Tapi mata Tuan Dion entah kenapa masih terjaga dan sulit terpejam. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamar putranya sambil memastikan bagaimana keadaannya saat ini.
kreett
Pintu dibuka perlahan dari luar. Hingga nampak siluet tubuh pria paruh baya itu dari arah dalam karena membelakangi cahaya terang dari lorong rumah sakit, sedangkan di kamar Sam cahaya redup karena memang Sam sengaja meminta untuk dimatikan lampunya supaya bisa memudahkan untuk tertidur.
Sam sedang berusaha untuk tertidur meski sangat sulit, entah kenapa. Ia berusaha memiringkan tubuhnya ke kanan meski itu sangat menyakitkan di bagian perutnya. Tapi itu ia lakukan untuknya menyudahi kegelisahan yang menderanya, sehingga ia bisa cepat terlelap. Tapi saat tiba-tiba pintu kamarnya dibuka, ia begitu terkejut. Apalagi ia melihat siluet besar mendekat ke arah ranjangnya. Sam makin keras memejamkan matanya sambil gemetar.
ceklek
"Ini aku, bodoh!", geramnya tak sabar seraya memukul kepala Sam, putra bungsunya.
"Aku ini masih pasien, Ayah!", Sam mendengus kesal. Kemudian ia meringis menahan rasa nyeri si perutnya. Tuan Dion dengan sigap membantu putranya itu membenarkan posisinya di ranjang.
"Aku bisa, Ayah! Aku bukan anak kecil lagi!", rajuk Sam lagi berusaha menolak perhatian yang ayahnya berikan untuk membantunya duduk. Sesungguhnya Sam hanya malu diberi perhatian lebih seperti ini. Ia merasa sudah tidak perlu lagi karena kini dia sudah dewasa, apalagi dia ini adalah anak laki-laki, tentu Sam tak ingin terlihat lemah pikirnya.
"Jika kau bukan anak kecil lagi, lalu kenapa barusan kau takut saat Ayah masuk ?! Kau pikir Ayah tak melihatmu, heh! Itu nampak jelas Samuel, kau sedang bergidik ngeri!", Tuan Dion mendudukkan diri di kursi di samping ranjang sambil melempar tatapan mencemooh ke arah putranya.
"Aku kira Ayah hantu!", ucap Sam sedikit terkekeh. Ia geli sendiri dengan pengakuannya barusan.
"Heh! Dasar penakut!", umpat Tuan Dion lagi kepada putranya.
"Masalah hantu tidak memandang anak kecil atau dewasa, Ayah. Buktinya saja kami berhasil kan melakukan rencana itu dengan cara menakut-nakuti Joice", Sam tersenyum puas mengingat wajah Joice yang pias setiap kali mereka memulai aksinya.
"Itu berbeda! Dia ketakutan karena pernah melakukan salah! Untuk kasus dirimu, itu karena kau memang penakut!", Ucapan Tuan Dion membuat Sam bungkam. Ya memang benar adanya ucapan ayahnya itu. Joice memang melakukan kesalahan sampai hampir mati ketakutan.
"Kau pasti ingin menanyakan keberadaan wanita itu, kan sejak tadi?", kali ini pertanyaan Tuan Dion terdengar serius.
"Apa maksud Ayah? Aku tidak mengerti!", Sam berkilah sambil matanya menatap ke arah lain.
"Jangan menghindar lagi! Playboy keluarga Wiratmadja tidak pernah membawa seorang wanita pun untuk dikenalkan kepada keluarganya. Benar begitu, kan?! Terlebih dia rela mengorbankan dirinya untuk melindungi wanita itu", skak mat. Sam tak mampu berkutik lagi. Ucapan ayahnya seratus persen benar. Jadi hanya diam yang ia bisa.
__ADS_1
"Tadi dia menangis tanpa henti saat ka masih di ruang operasi. Bahkan ia sampai berlutut di hadapan Bundamu untuk meminta maaf karena telah membahayakan nyawa dirimu", Sam langsung melotot. Rahangnya mengeras mengetahui Sarah sampai harus menjatuhkan harga dirinya seperti itu. Tapi ada rasa hangat yang menjalar ketika mendengar hal itu. Berati Sarah sangat peduli terhadapnya.
"Santai dulu! Bukan Bundamu yang memintanya, tapi dia sendiri yang melakukannya. Bahkan sepertinya Ana sekalipun terlihat kaget dengan tindakan impulsif itu", dengan wajah tenang Tuan Dion menyandarkan punggungnya pada kursi itu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Benarkah?", tanya Sam penuh rasa ketidakpercayaan. Pikirnya itu mungkin ayahnya itu sedang membela istrinya saja.
"Aku tidak sedang membela istriku!", seru Tuan Dion tak terima melihat tatapan mata Sam yang menelanjangi.
"Lalu?", mata Sam awas penuh selidik.
"Sebelum wanita itu menghampiri kami berdua, Bundamu bahkan terlihat lebih sedih dan khawatir. Tapi saat wanita datang menghampiri, Bundamu terlihat lebih bersemangat dan malahan membantu Sarah untuk duduk meredakan kesedihannya", jelas Tuan Dion lagi sambil memperhatikan gerak-gerik putranya.
"Benarkah?", wajah Sam terlihat bersemangat.
"Apa ayahmu ini terlihat seperti tukang pembohong?!", Tuan Dion melempar tatapan malasnya.
"Baiklah, baiklah aku percaya!", ucap Sam pasrah namun sudut bibirnya melengkung sempurna.
"Lalu seperti apa sebenarnya perasaanmu kepada wanita itu?", tanya Tuan Dion penuh minat.
"Entahlah ayah,, aku sebenarnya bingung. Ini kali pertama bagiku menyukai seorang wanita dengan serius. Aku benar-benar mengejarnya saat ini", Sam berkata jujur.
"Lalu?".
"Sebenarnya sejak awal aku hanya bermain-main dengannya", Sam menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum lebar dengan rasa bersalah yang mendalam.
bruk
Sarah sudah berdiri di ambang pintu kamar rawatnya. Buket bunga yang ia pegang jatuh ke lantai karena tiba-tiba tangannya lemas dan jatuh di kanan dan kiri tubuhnya setelah mendengar ucapan San barusan. Tubuhnya mematung tak berdaya dan wajahnya sulit diartikan ekspresiny. Sam baru aja menyiram air garam ke dalam lukanya.
-
-
-
-
-
-
jangan lupa kasih like, vote sama komentar kalian ya π
baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku tuk di @adeekasuryani,, dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
terimakasih teman-teman π
__ADS_1
love you semuanya π
keep strong and healthy ya π₯°