
Setelah keluar dari butik, dua pasangan suami istri itu memutuskan untuk langsung makan siang. Para wanita sudah mengeluh kelaparan karena mereka baru saja mengeluarkan banyak tenaga dan pikiran untuk memberi pelajaran kepada wanita yang bernama Rosi dan asistennya itu.
Perut sudah kenyang, mata pun sudah mereka manjakan dengan berkeliling sebentar. Maka Ken memutuskan untuk mengajak mereka semua pulang. Ia merasa istrinya itu sudah terlalu lama beraktifitas di luar. Ia tidak ingin istrinya yang sedang mengandung itu kelelahan dan berdampak pada kehamilannya.
"Padahal aku masih sanggup, Ken!", Ana mengeluh sambil terus berjalan menunggu lift terbuka, membawa mereka ke area parkir mobil.
"Lain kali kita jalan-jalan lagi, oke!", lelaki itu membelai lembut kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Ken sudah berhasil membujuk istrinya itu untuk pulang. Jadi mau seperti apa Ana merajuk lagi padanya, ia tidak akan lemah. Ia tidak ingin usahanya menjadi sia-sia. Toh yang ia putuskan juga demi kebaikan istri dan anaknya.
Ana mendesahkan nafasnya ke samping. Mau mengatakan apapun, memang suaminya itu tetap tidak akan menuruti keinginannya lagi. Ia tahu jika suaminya itu kadang terlalu keras kepala, bukan sih, lebih tepatnya agak ketat jika sudah menyangkut dirinya dan juga anaknya.
Memang benar maksud Ken untuk kebaikannya juga. Tetapi Ana masih belum puas berkeliling. Bukan untuk menghabiskan uang dan berbelanja, karena itu bukan hobinya. Meskipun ia berasal dari keluarga berada sejak lahir, tapi bukan kebiasaannya untuk menghambur-hamburkan uang. Ia hanya suka jalan-jalan saja.
Di dalam ruang kubus yang sempit itu, bukan hanya ada mereka berdua, tapi masih ada Sam dan juga Sarah tentunya. Jika pasangan yang lebih senior, yang sedang merajuk adalah istrinya. Lain halnya dengan pasangan yang satu ini. Di belakang Ana dan Ken, Sam terus membujuk Sarah agar mau menghapus hukuman berat itu untuknya. Tidak menyentuh istrinya itu selama satu minggu?! Siapa juga yang bisa tahan?! Bahkan kakaknya sendiri saja paling tidak bisa jika tidur tanpa memeluk istrinya. Apalagi dirinya yang masih rajin-rajinnya menghangatkan tempat tidur?! Mau dibuang kemana stamina ini?! Sangat disayangkan, bukan?!
"Sayang, aku tidak bersalah dalam hal ini! Jadi kenapa aku harus dihukum juga?", seperti anak kecli, Sam menggoyang-goyangkan lengan istrinya itu, manja.
"Sayang, jangan seminggu, ya! Itu terlalu lama! Sehari saja aku tidak sanggup!", ketika Sarahnya tak bergeming dan tetap diam. Ia memamerkan wajah memelasnya sebisa mungkin pada istrinya, berharap wanita itu akan meluluhkan hatinya.
__ADS_1
Sarah hanya meliriknya saja sekilas dan tak peduli. Mau suaminya itu membujuknya seperti apapun ia sudah terlanjur kesal. Pria itu masih dikejar-kejar oleh wanita-wanita tidak jelas tentu saja karena masa lalunya yang merupakan seorang playboy sejati. Jadi di masa kini, ia harus memberi suaminya itu pelajaran agar di masa depan tidak ada lagi hal-hal seperti ini.
"Sayang, tiga hari saja, ya! Tiga hari?", tapi Sam juga tidak berhenti untuk memohon dengan wajah memelasnya. Terus saja mulut lelaki itu mengoceh hingga rasanya telinga Sarah mau pecah.
Saking tidak tahannya, Sarah sampai menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan tangannya. Sudah begitu pun mulut pria itu masih mengoceh juga. Namun ketika ia ingin meneriaki suaminya itu, seseorang sudah memberinya pelajaran terlebih dahulu.
"DIAM!", mendadak Ana berbalik dan memukulkan tasnya ke wajah adik iparnya itu. Lalu berseru kencang bersamaan setelahnya dentingan suara lift yang menandakan bahwa mereka sudah sampai di lantai yang mereka tuju pun berbunyi.
Untung saja reflek Sam cukup cepat untuk menutup mulut dan melipat bibirnya dalam-dalam. Dalam sekejap pria itu berubah menjadi patung. Ia tidak bergerak sama sekali. Hanya bola matanya saja yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Pria itu memang tidak sanggup untuk menghadapi kakak iparnya yang sudah seperti singa betina itu. Oh Tuhan, ampunilah dia! Ia tidak ingin menjadi santapan empuk singa betina yang sedang marah itu.
Sudah kesal karena keinginannya tidak dipenuhi oleh suaminya. Lalu kepalanya harus pusing juga mendengar ocehan tidak jelas yang tidak putus-putus dari mulut Sam. Tentu saja hal itu membuat mood wanita hamil itu menjadi buruk sekarang.
"Ayo, jalan!", Sarah pun harus menarik paksa tangan suaminya itu karena setelah menunggu beberapa detik, pria itu masih saja diam.
"Emm,,, emm,,, emm,,, ", Sam berbicara tidak jelas dengan mulutnya yang masih tertutup rapat. Mengingat wajah marah kakak iparnya itu, apalagi tatapannya barusan, Sam jadi takut untuk bergerak lagi, atau bahkan untuk sekedar membuka mulutnya. Ia takut kakak iparnya akan kembali memarahinya lagi.
"Ya, Tuhan! Tolong bantulah suamiku agar cepat bertaubat!", sambil menyeret suaminya itu ke arah mobil mereka, Sarah menengadahkan kepalanya memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Ia memohon kepada Tuhan agar suaminya itu bertaubat dari pikiran bodoh dan konyolnya, sehingga tidak terus menerus membuat orang kesal.
__ADS_1
"Emm,,, emm,,, emm,,, ", mulutnya bicara tidak jelas lagi. Tapi dalam hati Sam sungguh bertanya-tanya karena tidak mengerti maksud dari doa istrinya itu. Lagipula,, memangnya ia melakukan dosa apalagi sehingga harus bertaubat segala?! Dosanya itu kan hanya pernah menjadi playboy saja! Dalam hatinya pun sebenarnya Sam masih membela diri.
***
"Kau masih kesal?", tanya Ken pada Ana yang sejak tadi masih mengerucutkan bibirnya. Selama kehamilannya ini, wanita memang semakin sensitif saja. Tadi bukannya ia tidak mau mengeri keinginan istrinya itu. Tapi karena memang mereka berjalan-jalan sudah cukup lama. Dan istrinya itu tidak boleh kelelahan, sehingga Ken memutuskan lebih baik untuk pulang. Dan seperti sekarang ini, mereka sudah berada di dalam perjalanan. Mereka berpisah di tempat karena harus pulang dengan jalur masing-masing. Dan lagi Sarah berencana menemui ibunya di rumah Krystal.
"Sudah, jangan marah lagi, ya!", pria itu mencubit kecil dagu istrinya itu, namun dengan cepat tangannya ditepis. Ibu hamil ini benar-benar sedang tidak baik moodnya.
Dan sekarang ia hanya harus lebih sabar dalam menghadapi demo istrinya itu, yang bahkan tidak mau menjawab pertanyaannya. Namun ia juga tahu jika hati wanita itu lemah. Mereka sangat mudah untuk dibujuk dengan kata-kata manis ataupun makanan yang enak.
Ken memainkan ponselnya sebentar, lalu tak lama pesan masuk ke dalam ponsel supir pribadinya. Ternyata pria itu mengirimi lokasi selanjutnya yang harus mereka tuju. Ia memiliki tugas memperbaiki mood ibu hamil ini sebelum mereka sampai di rumah. Karena pria itu ingin, begitu menginjakkan kaki di rumah, istrinya itu sudah dalam keadaan bahagia.
"Baik, Tuan!", supir pribadinya menjawab sambil sedikit menganggukkan kepalanya. Ia mengerti situasi tuannya saat ini. Memanglah membujuk ibu hamil itu tidak mudah.
Ana menolehkan kepalanya saat telinganya menangkap sebuah suara. Tapi kenapa tiba-tiba, padahal ia yakin suaminya itu tidak mengatakan sepatah kata pun barusan. Entahlah, ia tak peduli! Lalu ia tolehkan lagi kepalanya ke arah luar jendela. Ia masih kesal saat ini.
Dan tak lama mobil mereka memutar balik menuju arah lain, bukan ke arah rumah mereka. Ana memutar bola matanya nampak berpikir. Ia ingin bertanya pada suaminya itu, namun ia gengsi karena masih kesal sekarang. Hingga tatapan mata mereka bertemu pada pantulan kaca mobil di hadapan wanita itu sendiri. Ana menggigit bibir bawahnya, dengan cepat menguasai diri dari rasa terkejutnya. Pandangan matanya juga langsung ia alihkan ke luar lagi. Berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Ken terkekeh sambil menutupi mulutnya dengan satu kepalan tangan. Istrinya ini memang menggemaskan. Lihat saja nanti! Jika ia sudah berhasil membujuk ibu hamil ini, maka ia harus memberikan sebuah apresiasi untuk dirinya sendiri. Dan sepertinya Ana harus berkorban sedikit untuk hal ini.