Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 283


__ADS_3

Aula yang besar yang megah nan indah itu sudah terisi dengan beberapa tamu dan para kerabat yang datang lebih awal. Mereka sudah mengisi sebagian tempat yang nantinya akan penuh itu.


Beberapa di antaranya sedang berbincang. Beberapa anak kecil berlarian. Dan beberapa lagi ada yang sedang memuji luar biasa indahnya tempat perayaan itu.


Ada sekitar puluhan pria dan wanita berjas hitam dengan pita merah di lengannya. Mereka terlihat sedang mengatur di bagiannya masing-masing. Atau ada juga yang hanya sekedar mengawasi. Mereka yang bertugas untuk menjalankan acara ini agar berjalan sesuai jadwal dan lancar.


Dan banyak juga pengawal yang dikerahkan di sekitar aula itu untuk mengawasi jalannya acara nanti. Ini bukannya acara main-main. Ini merupakan sebuah perayaan besar dimana banyak sekali tamu penting di dalamnya. Jadi perimeter keamanan sungguh sangat diperhatikan di sini. Tapi sebisa mungkin tidak mengurangi kenyamanan para tamu untuk menikmati perayaan besar ini.


Dan akhirnya, dua orang pangeran tampan yang akan menjadi raja pada malam hari ini tiba di depan pintu aula. Keanu dan Samuel Wiratmadja, dua orang kakak-beradik itu nampak sangat amat tampan dengan balutan jas dan setelan putih yang membalut tubuh mereka. Hanya gaya dasi mereka saja yang berbeda. Jika Ken memakai dasi hitam seperti biasa, maka Sam memakai dasi kupu-kupu hitam di lehernya.


Tapi terlepas dari kemiripan setelan yang mereka pakai, sungguh tampilan mereka meyilaukan mata para tamu dan kerabat yang sudah hadir di sana.


Ken dan Sam mulai berjalan masuk menjejakkan kaki mereka di atas karpet merah yang sudah disediakan. Dimana ujungnya sudah nampak seperti gugusan pulau bunga yang sangat indah.


Ada Louis dan juga Han di belakang mereka. Kedua pria itu bertugas untuk mengiringi para raja itu sampai di tempat singgahnya. Lalu beberapa kerabat di sisi-sisi jalan melemparkan mereka dengan taburan kelopak bunga mawar beraneka warna. Dan suara sorak sorai mulai terdengar di dalam aula sana.


Para wanita muda maupun yang sudah cukup berumur dan bahkan sudah memiliki cucu, mata mereka seakan terhipnotis pada ketampanan dua mempelai lelaki itu. Tapi juga pada dua pengiring pria di belakang mereka. Apalagi ada Louis di sana. Banyak juga yang mengenali dirinya yang merupakan seorang selebrita. Ketampanan keempat orang itu sungguh membuat sakit di jantung dan mata para wanita. Terlalu menyilaukan bagi mereka.


Hey, tampan sekali mempelai lelakinya!


Aku mau satu, apa bisa?!

__ADS_1


Pengiringnya juga tak tampan! Aku mau dengan salah satunya saja!


Itu Louis Harris! Aku mau dia menjadi pengantinku!


Oh,, sungguh! Datang ke sini, rasa jantungku mau copot karena terlalu berdebar melihat ketampanan mereka!


Ya, Tuhan! Tampan sekali pengantinnya! Aku ingin calon pengantin impianku seperti mereka!


Ya, siapa juga yang tidak ingin menjadi pendamping hidup dari dua orang pria yang sudah memiliki nama di kota ini?! Ken dan Sam, dua kakak-beradik yang berbeda karakter tapi sudah sangat sukses di usia muda mereka. Ditambah lagi dengan wajah tampan yang mereka bawa sejak lahir, hal itu membaut para kaum hawa menggilai mereka berdua.


Sekarang dua orang raja itu sudah sampai di atas pulau cinta mereka. Ken dan Sam berdiri di depan singgasa yang akan mereka duduki nanti. Dan para pengiring mereka, Louis dan Han yang berbalut jas coklat itu sudah berdiri di samping pelaminan yang luar biasa indah itu.


Sekarang semua mata tertuju ke arah pintu lagi. Para ratu mereka belum tiba. Semua hadirin menjadi berdebar menanti kehadiran para ratu mereka malam ini. Dan yang paling berdebar tak karuan adalah kedua pria di pelaminan sana tentunya.


"Kakak, kenapa sekarang juga masih sama gugupnya dengan yang tadi pagi?!", Sam menggoyang-goyangkan tangan kakaknya menanti sebuah respon.


"Tidak tau!", jawab Ken acuh sambil menghempaskan tangan adiknya itu.


"Heh! Kelihatannya kau tidak gugup sama sekali, Kak!", Sam mendengus. Ia iri pada kakaknya yang selalu bisa mengendalikan diri itu.


"Sudahlah, tutup mulutmu!", Ken menoleh sebentar ke arah adiknya yang cerewet itu.

__ADS_1


Akhirnya Ken menggenggam tangannya sendiri yang terasa dingin. Siapa bilang ia tidak gugup? Dia hanya lebih pintar menyembunyikan perasaannya saja. Tapi menghadapi acara megah ini, Ken juga belum pernah mengalaminya. Waktu itu ia hanya melakukan perayaan kecil saja dengan orang-orang terdekat di hari pernikahannya. Pria itu meniupkan nafas hangatnya ke arah kepalan tangannya yang terasa semakin dingin menusuk oleh kegugupannya.


Melihat hal itu, Sam pun tersenyum simpul. Ternyata bukan dirinya seorang yang merasakan hal ini. Kakaknya juga. Hanya saja, kakaknya itu memang selalu keren dalam menghadapi apa yang dirasakannya. Dan matanya pun harus menatap lurus ke depan, ke arah sorak sorai yang begitu ramai lantaran ratu mereka sudah tiba di ambang pintu.


Dua wanita cantik dengan gaun putih menjuntai baru saja turun dari sebuah kereta kencana berwarna putih juga. Dan kali ini yang bertugas sebagai pengiring penganti wanita adalah Krystal dan juga Risa. Dua wanita itu membantu para ratu memegangi gaun pengantin mereka saat turun dari kereta kencana.


Ana dan Sarah, siapa sangka jika kedua sahabat itu kini sudah menjadi saudara ipar. Mereka berdua telah ditakdirkan untuk mendampingi kakak beradik Wiratmadja itu.


Gaun putih senada dengan gaya sederhana yang sama, tapi tetap terlihat mewah dan elegan dengan taburan berlian pada setiap bagiannya. Gaun putih mereka menjuntai ke belakang sampai menyapu lantai.


Rambut mereka di sanggul ke atas rapih, namun beberapa helai anak rambut sengaja diturunkan di sisi wajah keduanya. Polesan wajah yang tidak berlebihan, membuat kecantikan natural yang mereka miliki menguar dengan sendirinya. Ditambah lagi, kedua wanita itu juga memakai mahkota indah yang tidak terlalu besar di kepala mereka. Ana dan Sarah sudah benar-benar menjelma menjadi ratu pada malam hari ini. Mereka luar biasa cantik malam ini.


Masing-masing ratu itu memegang sebuah buket bunga di tangan mereka. Itu adalah rangkaian bunga mawar beraneka warna. Tidak besar, tapi tidak kecil pula. Buket bunga itu terlihat pas di tangan mereka. Melengkapi putihnya gaun mereka dengan begitu indahnya.


Wajah sang sahabat terlihat cukup tegang. Sumpah demi apapun, Ana ingin sekali tertawa saat ini. Melihat Sarah seperti itu, ia sangat ingin menawarinya untuk pergi ke toilet. Sekedar membasuh wajah untuk mengusir rasa gugupnya. Tapi dengan kondisi mereka saat ini, tidak mungkin bukan?! Bisa dikira melarikan diri mempelai wanita mereka yang satunya!


"Apa yang kau tertawakan, Ana?!", Sarah berbisik pelan pada wanita di sebelahnya itu.


Karena ia melihat dengan jelas jika tadi sahabatnya itu tertawa kecil setelah melirik ke arahnya. Lalu barusan, ia melihat Ana menutup mulut dengan kepalan tangannya.


"Tidak ada!", Ana pura-pura berdehem untuk mengelabui sahabatnya itu. Tapi malahan memubatnya ingin tertawa lagi.

__ADS_1


"Tidak lucu, Ana!", Sarah mengerang. Ia setengah kesal karena ternyata sahabatnya itu sedang menertawakan kegugupannya saat ini.


__ADS_2