
"Baiklah, kami beri waktu lima menit lagi untuk menyelesaikan urusan kalian", Ana mengerti sekali apa yang terjadi. Maka dari itu ia segera berbalik dan menghilang di balik pintu dengan wajah acuhnya. Tapi dalam hati ia senang, karena ternyata ada perkembangan dalam hubungan adik ipar dan sahabatnya.
ceklek
Pintu kembali ditutup oleh Ana sambil mengulum senyumnya. Ia lalu bergegas ke depan lagi memberi laporan kepada mertua dan suaminya bahwa Sam dan Sarah masih belum selesai dengan kegiatan mereka. Ana tersenyum ambigu yang tentu saja langsung disambut dengan hal yang sama oleh yang lainnya, kecuali Nyonya Rima. Ibu mertuanya itu menjadi bertanya-tanya kepada suaminya perihal senyum mereka yang terasa aneh. Dan Tuan Dion hanya mampu menanggapinya dengan tertawa.
***
Di dalam kamar
Sarah berusaha mengelak karena malu baru saja dipergoki oleh sahabatnya. Ia menyingkirkan tangan Sam dari dagunya lalu menyalip tubuh pria itu dari samping. Sebisa mungkin ia harus menghindar saat ini juga. Sebelum Sam sadar dan mulai menoleh ke arahnya.
Sayangnya pria itu memiliki refleks yang cukup baik. Ia kembali menarik tangan Sarah hingga wanita itu berputar dan jatuh ke dalam pelukannya. Sam mendekap wanita itu erat-erat dan tak memberi celah sedikitpun untuknya bisa bergerak. Kali ini Sarah benar-benar terkunci seluruh tubuhnya.
"Mau kemana?", nada suara Sam datar tapi juga ada unsur menggoda. Namun dengan tatapan tajamnya, Sarah yang semula ingin memberontak menjadi terdiam seketika.
"Me,, mereka sudah menunggu kita!", dengan terbata Sarah mencari alasan yang masuk akal. Berharap pria itu akan melepaskannya.
"Mereka bisa menunggu! Tapi,,, aku tidak!", bersamaan dengan berhentinya Sam yang baru saja berkata, maka tangannya mulai meraih tengkuk kepala Sarah. Ia segera menempatkan bibirnya di sana. Di bibir Sarah yang sudah menjadi candunya. Ia memberikan kecupan yang begitu lembut pada bibir itu.
Sarah yang mendapat serangan mendadak pun menjadi terbelalak matanya. Ia berusaha mengumpulkan rasionalitasnya tapi sayang semua telah terkalahkan oleh isi hatinya. Kini hatinya yang membimbing Sarah untuk memejamkan matanya. Menikmati sentuhan Sam di bibirnya, lalu memberikan hal yang sama. Satu dorongan Sarah berikan pada bibir pria itu.
Kaget, Sam membuka matanya. Ia pikir ini hanya akan menjadi permainan solo baginya. Ia pikir Sarah tak akan membalas kecupannya. Ia pikir wanita itu akan tetap keras kepala. Tapi tak dinyana, siapa sangka jika wanita itu kini tengah memejamkan matanya. Seakan siap menerima segenap cinta yang akan Sam berikan kepada wanita itu.
Lelaki itu memejamkan matanya kembali. Kemudian ia melanjutkan aksinya di sana. Sam menarik bibirnya dari bibir Sarah. Duet ini pun dimulai. Keduanya sama-sama membuka mulut, mereka mempermudah kegiatan masing-masing pasangannya. Dimulailah dengan saling menyesap candu yang mereka punya. Manis dan lembut, itu yang mereka rasakan saat ini.
Aroma mint yang Sam miliki sungguh membuat Sarah lupa bahwa ia harusnya menolak perlakuan lelaki ini pada dirinya. Wangi khas maskulin dari parfum yang pria itu pakai sungguh membuat Sarah mabuk kepayang dan terus terhanyut oleh permainan.
Di awali dengan kelembutan, kini kegiatan mereka telah lebih panas. Keduanya sama-sama menyalurkan perasaan dan rasa rindu yang telah lama mereka tahan sendirian. Tubuh pria itu membimbing Sarah mundur hingga membentur meja rias di belakangnya. Dengan sedikit kekuatan, Sam menaikkan tubuh Sarah untuk duduk di meja itu, dan tangannya ia buat menyangga tubuhnya di sisi kanan dan yang satunya ia gunakan untuk mendekap erat tubuh Sarah.
Sam sudah dibuat lupa waktu saat ini. Waktu lima menit yang Ana berikan sudah tak ia hiraukan lagi. Harum-mewangi yang tubuh Sarah miliki membuatnya sedikit hilang kendali. Ia mulai menurunkan ciumannya ke arah leher jenjang yang terpampang di hadapannya. Sam mulai menanamkan beberapa ciuman di sana juga di sekitar tulang selangka milik Sarah.
Wanita itu menggelinjang mendapati sesuatu yang basah menyentuh kulit lehernya. Tidak, ini tidak akan benar jika diteruskan. Sarah segera membuka matanya meski saat ini ia sedang berusaha keras menahan senyar nikmat yang Sam berikan pada tubuhnya.
__ADS_1
"Saaamm!", seru Sarah dengan susah payah. Gelenyar itu sungguh Sam sangat pandai membuatnya. Ia berusaha mendorong bahu pria itu dengan sedikit kewarasan yang masih ia miliki.
Lelaki itu membuka matanya. Sejenak ia memaku wajahnya di tempat. Pria itu telah menyadari sesuatu. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu menarik diri dari sana. Ia menempelkan keningnya pada kening Sarah. Keduanya sama-sama terengah-engah.
"Maafkan aku!", Sam pun membenahi pakaian Sarah yang agak berantakan di bagian atas. Memberi satu kecupan di kening Sarah, ia kemudian memasukkan tubuh wanita itu ke dalam pelukan hangatnya.
"Maaf aku hilang kendali! Aku berjanji hal seperti ini tak akan terulang lagi sebelum kita menikah nanti", Sam melepaskan pelukan itu seraya memalingkan tubuhnya membelakangi Sarah.
Di belakang, wanita itu tersenyum memandangi punggung pria yang tengah merasa bersalah itu. Hatinya tersentuh bahwa pria itu masih menghargainya saat ini. Sam tak tahan untuk tidak mengucapkan rasa syukurnya karena pria itu mau dengan sukarela menghentikan aksinya.
"Sam!", ia menyentuh lengan Sam.
Panggilan hangat itu membuat Sam menolehkan kepalanya ke arah lengannya yang sedang dipegang oleh jemari tangan Sarah. Ia lalu mengangkat wajahnya untuk melihat wajah wanita yang telah menyebutkan namanya.
"Terimakasih karena telah berhenti!", ujar Sarah dengan senyum tulusnya. Tangannya masih memegangi lengan pria itu.
Bukannya menjawab, pria itu malahan menarik Sarah ke dalam pelukannya. Ia amat senang, karena ia pikir Sarah akan marah padanya. Tetapi yang didapatinya adalah senyuman yang begitu tulus terbit dari bibir wanita itu.
"Itu harus!", sahut Sarah ketus sambil memukul pelan bahu Sam di bagian atas. Wanita itu pun segera tersenyum seraya membalas pelukan yang Sam berikan padanya.
"Aku mencintaimu, Sarah!", ungkap Sam sambil memejamkan matanya. Pria itu tengah meresapi perasaan yang membuncah di dalam dadanya. Semua rasa yang telah tertahan, kini sudah ia luapkan kepada wanita yang ia cintai itu. Rasa rindu, cinta dan kasih sayang telah Sam lampiaskan hingga kini dirinya menjadi lebih lega. Ungkapan perasaan ini ia tak berharap Sarah akan menjawabnya sekarang. Biarlah wanita itu membuka hatinya secara perlahan untuk bisa menerima dirinya dengan apa adanya.
Bibir Sarah bergetar, ia ingin sekali membalas ucapan pria itu. Mengatakan bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama, bahwa Sarah juga telah mencintai dirinya. Tapi wanita itu pikir ini belum saatnya bagi ia untuk menyatakan perasaannya secara langsung. Sarah masih ingin melihat betapa seriusnya Sam membuktikan bahwa dirinya memang benar telah berubah. Akhirnya,, wanita itu hanya mengangguk kencang di dalam pelukan itu.
"Ayo kita bergabung dengan mereka!" ajak Sam setelah melepas pelukannya. Ia tak mempermasalahkan tentang Sarah yang belum bisa membalas ungkapan cintanya. Ia akan bersabar untuk hal itu. Dan Sam akan berusaha keras untuk membuat Sarah jatuh cinta terus dan terus kepada dirinya.
"Tunggu!", Sarah menarik tangannya yang sudah digenggam oleh Sam.
"Kenapa?", tentu Sam bingung.
"Aku harus membenahi riasanku!", ucap Sarah lirih sambil memalingkan wajahnya. Bibirnya menahan diri untuk tersenyum malu. Jadi kini ia dengan kikuk memegangi bibirnya yang sudah berantakan bekas lipstiknya.
"Oh ya ampun! Aku hampir lupa!", Sam memijit pangkal pelipisnya sambil tersenyum canggung.
__ADS_1
"Berikan lipstiknya!", tangan Sam menengadah setelah mendudukkan Sarah di bibir ranjangnya.
"Apa yang akan kau lakukan?!", tanya Sarah keheranan namun tangannya tetap mencari-cari benda yang diminta oleh prianya.
"Kau akan tau nanti! Berikan yang warnanya paling terang", ucap Sam yang tangannya masih menanti.
"Tidak akan! Aku tidak ingin menjadi badut di tengah hari seperti ini!", Sarah mengambil sebuah lipstik yang warnanya tidak terlalu mencolok tapi tetap terlihat fresh saat Sarah memakainya. Ia meletakkan benda itu di telapak tangan Sam. Lagipula untuk apa juga pria itu meminta lipstiknya. Sungguh memang pria yang aneh, Sarah jadi membatin sendiri.
Sam menggenggam benda itu dengan kepalan tangannya. Ia lalu tersenyum miring sambil memandangi wajah Sarah. Otaknya selalu memberikan ide-ide gila.
-
-
-
-
-
baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya π
terimakasih teman-teman π
love you semuanya π
keep strong and healthy ya
__ADS_1