Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 124


__ADS_3

Mereka yang datang telah siap berkumpul di depan altar dimana Ken dan Ana berdiri membelakangi mereka semua. Ana telah siap memegangi buket bunga pengantinnya. Rangkaian bunga mawar merah yang amat indah itu sudah diayun-ayunkan ke udara oleh Ana. Tanpa sengaja tubuh Sarah dan Sam saling berbenturan akibat usaha mereka untuk bisa mendapatkan buket bunga itu. Lain halnya dengan pasangan Han dan Risa yang nampak tenang dan damai, meski mereka tetap berusaha memperolehnya. Dan yang paling kelihatan enggan adalah Ben, Relly dan Tuan Reymond. Mereka bertiga berdiri di sana hanya untuk ikut meramaikan suasana. Toh dia juga sudah menikah, pikir Tuan Reymond tak ingin ikut repot.


"Aku harap, Paman Reymond yang mendapatkanny!", bisik Ken pada Ana sambil tertawa.


"Kau ini ada-ada saja!", Ana memukul bahu Ken pelan dan ikut tertawa.


Ana kembali mengayunkan bunga itu hingga bunga itu terlepas dari tangan pemiliknya. Sekelompok mawar merah itu terbang dari atas Ana melambung ke arah beberapa orang yang tengah menunggu dengan tangan yang siap menggapainya.


Hap


Dan akhirnya malah Tuan Reymond yang mendapatkan buket bunga itu tanpa sengaja. Awalnya ia hanya sedang berbincang santai dengan Ben maupun Relly. Tapi tiba-tiba sebuah buket bunga mendarat dengan sendirinya di telapak tangannya yang sedang terbuka. Semua mata menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Lalu beberapa saat kemudian berubah dengan tatapan kecewa.


"Benarkan apa yang kukatakan!", ucap Ken seraya tersenyum penuh kemenangan. Sesungguhnya ia juga tak menyangka jika apa yang terjadi sesuai dengan perkataannya. Tapi Ana tetap tersenyum kepadanya meski sambil menggeleng pelan.


"Ayolah, Paman! Berikan saja bunga itu untukku! Lagipula Paman kan sudah menikah. Kasihanilah kami yang masih melajang!", ucap Sam dengan wajah memelas.


"Dasar kau bocah!", ucap Tuan Reymond sambil berdecak kesal. Lalu ia menyapu pandangannya pada setiap orang. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memberikan bunga itu kepada orang yang berada di sebelahnya.


"Ini untukmu! Semoga kau cepat mendapatkan pasangan hidupmu", ucapnya pada Ben lalu segera beranjak ke arah tempat duduk tak jauh dari sana.

__ADS_1


Ben tak mengucapkan sepatah kata pun. Kalimat Tuan Reymond sungguh menggema di telinganya. Kalimat sederhana itu amat mengena di hatinya kini. Memang, selama ini hidupnya hanya berjalan begitu saja tanpa ada satu wanita pun yang mengisi hari-harinya. Hanya Ana, hanya gadis remaja yang sudah menjadi wanita dewasa itu yang pernah mengisi relung-relung yang biasanya kosong.


Ya, tapi kini keputusannya sudahlah tepat dengan membuat Ana bahagia dengan melepaskannya kepada pria yang sangat dicintainya. Mungkin ini juga salah satu pertanda bahwa ia juga harus memikirkan kebahagiaan hatinya sendiri. Ia menatap rangkaian bunga itu lama, nampak tertegun untuk beberapa saat. Lalu ia menatap ke arah Relly yang berada di hadapannya. Menatap dengan penuh tanda tanya, namun yang ditatap seakan mengerti apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Relly mengangguk seraya menipiskan bibirnya ke arah tuannya itu. Lalu ditatapnya Ana di seberang pandangannya yang tengah berada di rangkulan tangan suaminya kini, wanita itu pun seakan mengerti. Lalu Ana juga mengangguk sambil tersenyum kepadanya.


"Baiklah, aku terima!", ucapnya sambil lalu dan berbalik untuk duduk di samping Tuan Reymond. Ia menyilangkan kakinya lalu duduk bersandar dengan santainya tanpa mempedulikan suara bising dari mulut Sam yang tak terima jika buket bunga itu tak menjadi miliknya. Tangannya terus memainkan rangkaian bunga itu dengan mata yang menatap lurus ke depan. Tatapannya ambigu tak terbaca.


***


Senja mulai datang, semburat berwarna jingga menghiasi langit sore itu. Mentari yang tadinya gagah perkasa kini juga mulai tenggelam di ujung barat hamparan laut sana. Setelah beberapa rangkaian acara, mereka semua kembali masuk ke dalam villa untuk beristirahat. Sedangkan Tuan Reymond pamit undur diri karena beberapa pekerjaan yang tak dapat ditinggalkannya.


"Kak Risa, aku titip Sarah padamu ya!", ucap Ana pada Risa. Meskipun mereka semua sedang berpasangan saat ini, tapi yang sah barulah Ana saja. Ia tidak ingin sesuatu terjadi pada mereka yang belum sah seperti dirinya. Dan untuk mencegah hal itu, Ana buru-buru memutuskan supaya Sarah bisa satu kamar dengan Risa. Sedangkan untuk para lelaki, ia tak mempedulikannya karena mereka bisa memilih kamar mereka masing-masing.


"Tenang saja, Ana!", ucap Sarah yang seakan mengerti apa yang Ana pikirkan. Ia tersenyum pada Sarah lalu menggandeng tangan wanita itu dengan riang masuk ke dalam villa.


"Jangan lupa, yang kau buka pertama kali adalah kadoku ya!", ucap Sarah pada Ana sambil lalu karena tangannya terus saja ditarik oleh Risa.


"Oke, baiklah!", sahut Ana begitu saja.


"Memangnya apa isi kado darinya?", tanya Ken heran.

__ADS_1


"Entahlah, aku juga tidak tahu!", jawab Ana santai sambil mengedikkan kedua bahunya lalu berjalan mendahului Ken.


"Hey sayang, tunggu aku!", lalu Ken menyusul langkah Ana kemudian.


Sedangkan para lelaki di belakang mereka berjalan mengekori masuk ke dalam villa dan menuju kamar mereka masing-masing dengan tenang. Terkecuali Sam yang terus menggerutu karena tak dapat mendekati Sarah dengan leluasa.


***


Ana sudah memegang knop pintu kamarnya, lalu tiba-tiba tangan hangat ikut memegang knop pintu itu dan memberi cukup tekanan di sana hingga pintu itu terbuka. Ana menoleh ke arah wajah si empunya tangan itu yang ia sangat tahu dari wangi parfum yang biasa dipakainya. Dan selalu saja Ken mengambil keuntungan di sana. Saat Ana menoleh ke arahnya, ia juga menoleh ke arah wajah Ana sehingga bibir mereka pun bertemu.


Cup


"Satu kosong!", ucap Ken riang seraya melanjutkan langkahnya ke dalam kamar.


"Keennn!", seru Ana sambil membulatkan matanya. Sudah menikah begini pun ia masih merona jika Ken mulai jahil seperti ini padanya. Lalu ia memegangi pipinya yang menghangat seraya meneruskan langkahnya.


Dengan santainya Ken melepas setiap bagian pakaian bagian atasnya, hingga hanya menyisakan celana bahan yang ia kenakan. Ia melempar setelannya itu pada pinggiran sofa dimana kini ia telah melemparkan diri di sana. Ken tengah duduk bersandar dengan kaki yang ia luruskan ke depan. Kepalanya ia sandarkan pada punggung sofa, sedangkan tangannya ia rentangkan selebar-lebarnya. Ia memejamkan matanya lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Seolah telah amat lelah dan menguras tenaga kegiatan mereka hari ini.


Ana memandangi Ken sambil bergeleng pelan, lalu ia memutuskan untuk mendudukkan dirinya di depan meja rias dengan cermin besar di hadapannya. Ana melepas mahkota di kepalanya perlahan, lalu ia lepas setiap jepitan yang terselip untuk menata rambut panjangnya. Setelah itu ia menyanggul asal rambutnya ke atas. Kini giliran gaun putih menjuntai itu yang menjadi pekerjaan berikutnya. Ia berusaha menurunkan resleting gaun itu dengan susah payah karena posisinya yang berada di bagian belakang. Ana terus berusaha dengan tidak sabarnya hingga ia berdiri dan sedikit memutar tubuhnya hingga membelakangi cermin itu.

__ADS_1


Lagi-lagi, tangan hangat itu tiba-tiba menyentuh tangannya yang sedang membuka resleting gaunnya. Hembusan nafas orang itu mengenai belakang tengkuknya hingga membuat Ana terkesiap kaget. Ia lalu menyapu pandangannya ke arah sofa dimana seharusnya tadi Ken berada. Sofa itu kini kosong karena orang yang tadinya berada di sana kini tengah menempel di belakang tubuhnya.


"Harusnya kau panggil aku untuk pekerjaan seperti ini!", bisik Ken begitu lembutnya di telinga Ana. Dan ia mengakhiri ucapannya dengan kecupan panas di sana.


__ADS_2