Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 165


__ADS_3

Sam menoleh ke arah samping. Wah, matanya membulat besar. Dadanya berdegub kencang, tubuhnya gemetar menahan gugup tak karuan. Benarkah ini kenyataan, ataukah ini hanya sebuah impian.


Pening yang sempat ia rasakan tadi kini menghilang secara ajaib. Berganti dengan perasaannya yang mengembang di dadanya. Tangannya yang satu lagi sedang di peluk erat, tapi lebih seperti sedang dijadikan bantalan untuk menopang wajah Sarah.


Tapi ada sesuatu yang salah, tangannya terasa lembab. Seperti spreinya yang basah atau wajah Sarah yang basah. Tangan yang terhubung dengan selang infus ia gunakan untuk menyibakkan sedikit rambut Sarah yang menutupi wajahnya. Dan,, hati Sam berdenyut ketika melihat penampakan wajah Sarah saat ini. Matanya bengkak, dan di seluruh wajahnya masih tersisa bekas-bekas air mata yang belum mengering sempurna. Masih terasa lengket di wajahnya. Tapi yang lebih terasa adalah sprei di bagian itu yang benar-benar basah kuyup bekas air mata Sarah. Tidak mungkin juga jika itu air liur wanita itu, pikir konyol Sam tiba-tiba.


Sepertinya wanita ini menangis semalaman. Menangis terlalu lama hingga kewalahan. Suara lenguhan tidak jelas keluar dari mulut Sarah ketika Sam berusaha melepaskan tangannya karena rasa pegal dan kebas yang mulai menjalar. Sam sempat tegang karena akan mengganggu waktu tidur wanita itu. Tapi beruntungnya, Sarah tetap memejamkan matanya lalu kembali terseret ke alam mimpi.


Lalu ia mengusap lembut kepala wanita itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Tapi,, gerakan tangannya tiba-tiba berhenti karena mulut Sarah mengeluarkan suara.


"Maafkan aku, Sam! Sungguh maafkan, aku!", lirih suara itu bahkan melodinya terdengar amat sedih dan menyakitkan. Mata Sarah masih terpejam, seakan wanita itu sedang mengigau. Tapi air mata yang tiba-tiba merembes dari matanya yang terpejam, membuat hati Sam ikut menangis dibuatnya. Bahkan dalam mimpi, Sarah masih memikirkan dirinya, masih menyesali dirinya.


Sungguh jika wanita itu terbangun, hal pertama yang ingin ia lakukan adalah merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. Semua ini bukan salahnya, jadi kenapa Sarah harus terus meminta maaf kepada dirinya. Semua yang Sam lakukan adalah murni karena perasaannya terhadap Sarah. Betapa sakit memikirkan air mata wanitanya, Sam pun akhirnya kembali ke alam mimpinya. Berharap bisa bertemu dengan Sarah di sana.


***


Pagi hari telah menjelang, masih cukup pagi sebenarnya. Hawa dingin menyeruak membuat Sarah mau tak mau mengerjapkan matanya. Lalu ia merasa malu karena ternyata semalaman ia memeluk tangan pria itu. Sebenarnya semalam, setelah Sam tertidur dengan tangan yang masih berada di atas kepala Sarah, wanita itu pun menggeliat dan tanpa sadar tangannya meraba-raba, setelah menemukan tangan Sam lagi, lalu ia kembali memeluk tangan itu erat-erat.


Tapi hilang sudah rasa malunya ketika akhirnya ia melihat wajah Sam yang sudah lebih segar dan tidak pucat lagi. Hatinya menjadi sedikit lega karenanya. Ingin rasanya ia menyentuh wajah pria itu, wajah pria konyol yang selalu mengganggunya, tapi wajah itu kini tengah terbaring tak berdaya. Niatannya ia urungkan lantaran mengingat semua ini terjadi pun karena dirinya. Maka,, yang ia bisa hanya menggenggam udara kosong di dekat wajah pria itu. Lalu ia menarik tangannya kembali diiringi senyum kecut yang hadir di bibirnya. Sarah menertawai dirinya sendiri dalam hati.


Puas memandangi wajah damai Sam yang masih tertidur, Sarah memilih untuk pergi ke kamar mandi. Ia butuh cuci muka saat ini. Sarah sadar sudah menangis semalaman, jadi ia tau pasti sudah sangat berantakan wajahnya saat ini.


Tak butuh waktu lama untuknya untuk melakukan beberapa kegiatannya di kamar mandi itu. Dengan langkah ragu Sarah keluar dari sana. Dan,,, betapa terkejutnya wanita itu saat mendapati Sam telah terjaga dengan mata membuka sempurna. Saat ini pria itu sudah duduk sambil bersandar di kepala ranjangnya. Pria itu tersenyum, tapi masih cukup lemah untuk menampilkan senyum cerianya.


"Sudah bangun?", Sarah akhirnya mendekat sambil terus menundukkan kepala atau membuang pandangannya ke arah lain. Ia tak mampu memandang ke arah Sam. Rasanya kelopak matanya terasa berat untuk ia arahkan ke sana.

__ADS_1


"Emmhh!", gumam Sam untuk menjawab pertanyaan Sarah. Bola matanya terus bergerak mengikuti setiap gerakan Sarah.


"Mau minum?", Sarah menawarkan segelas air putih kepada Sam masih tanpa menatap ke arah pria itu.


"Boleh", jawab Sam singkat sambil terus memperhatikan Sarah.


Lalu seorang suster datang membawa sebuah nampan berisi satu set sarapan untuk Sam beserta obat yang harus diminumnya. Dengan sigap Sarah menyambut nampan itu dari tangan suster.


"Mau makan?", tawar Sarah lagi masih terus berusaha untuk tidak menatap ke arahnya.


"Tidak!", jawab Sam datar. Otomatis Sarah menoleh ke arahnya sambil menautkan kedua alisnya, wajahnya terlihat tidak suka.


"Tapi kau sedang sakit sekarang? Kondisi tubuhmu masih lemah!", seru Sarah tidak suka dengan jawaban yang Sam keluarkan. Tapi lebih terdengar seperti ia sedang mengomel saat ini.


Sadar ia telah memandang Sam cukup lama, maka ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bahkan ia sedikit menundukkan kepalanya.


"Jadi kau sadar jika aku sedang sakit sekarang?", Sam melipat tangannya di depan dada. Berujar dingin agar wanita itu mau mengalihkan perhatiannya ke arah dirinya.


"Lalu kenapa kau tega membiarkan aku terus saja mengejarmu tadi malam?", tambahnya tak kalah dingin.


"Maaf!", Sarah mana sanggup menatap wajah Sam saat ini. Yang ia lakukan malahan menambah dalam tundukkan kepalanya sambil berucap lirih.


"Aku tau, aku memang membawa sial untukmu!", suara Sarah serak penuh dengan penyesalan juga kesedihan yang mendalam.


"Apa yang kau ucapkan, Sarah?", bentak Sam kesal. Apalagi ini, apalagi yang sebenarnya terjadi. Sam benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Sarah saat ini. Ia mendesah frustasi sambil berusaha keras menahan puncaknya emosi.

__ADS_1


Dan air mata yang terjatuh di pergelangan tangan Sarah membuat Sam menghirup nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya membuangnya perlahan. Lalu terdengar sesekali suara isak tangis dari mulut wanita itu.


"Baiklah, aku akan memaafkanmu jika kau mau menyuapiku makan!", pinta Sam dengan wajah datarnya. Tidak seperti Sam yang biasanya.


Tak sanggup membuka mulutnya untuk menjawab, Sarah memberikan anggukan sebagai jawaban seraya menyeka air matanya. Lalu tangannya mulai bergerak mengumpulkan nasi, sayur berserta lauk pauknya ke sendok yang ia pegang. Baiklah, sesaat otaknya tak mampu bekerja, sehingga ia hanya bisa menurut saja. Sam senang dalam hatinya, wanita ini menjadi penurut padahal biasanya ia akan selalu memberi perlawanan atau bahkan menjadi seorang penganiaya baginya.


"Buka mulutmu?", pinta Sarah sambil menyodorkan sesendok makanan penuh ke arah mulut Sam. Ia masih tak berani melihat wajah pria itu.


Sam menatap sendok itu lalu bergantian menatap wajah Sarah yang masih tertunduk. Ia menaikkan sudut bibirnya tipis hingga hampir tak terlihat.


"Tidak! Kau yang makan!", perintah Sam tiba-tiba dengan nada arogan.


-


-


-


-


-


maaf ya kemarin ga bisa tepati janji๐Ÿ™


maka diusahakan hari ini author akan crazy up lagi ya๐Ÿ˜

__ADS_1


ditunggu aja oke ๐Ÿ˜‰


__ADS_2