
Sebuah mobil hitam terparkir di tepi jalan beberapa blok tak jauh dari kediaman Krystal. Kaca hitamnya tak menampakkan siapa gerangan penghuni mobil tersebut. Hening di sekitar jalan itu, merupakan tempat yang tepat untuknya berkamuflase.
Pria misterius yang mengantarkan amplop tadi menghentikan laju motornya tepat di samping pintu penumpang. Sebuah tangan wanita terjulur keluar memegang amplop coklat yang bentukannya berisi setumpuk uang. Pria misterius dengan cepat menyambar amplop coklat itu.
"Aman?", tanya Joice pada orang yang ia bayar.
"Saya sudah memastikan, semua aman. Tak ada yang mengenali saya dan mencurigai siapa pun!", pria misterius itu membuat laporannya.
"Bagus! Jika kerjamu tak mengecewakan kali ini, selanjutnya aku akan menghubungi mu lagi", ucap Joice dengan tatapan licik.
"Baik, Nona! Terima kasih. Saya permisi dulu!", pria misterius itu langsung menyalakan mesin motornya dan melesat menjauh dari mobil yang Joice tumpangi.
"Nona Krystal Winata, kali ini aku meminjam tanganmu, heh!", Joice menyeringai. Matanya memancarkan kebencian dan rasa iri yang begitu besar pada Ana. Dengan mudahnya ia mendapatkan pria yang sudah bertahun-tahun dikejarnya. Susah payah ia berusaha yang bahkan menghabiskan masa mudanya hanya dengan mensejajarkan dirinya dengan Ken, namun semua tak berarti apa-apa dibandingkan Ana yang notabene bukan apa-apa. Seringai liciknya menguar dengan tatapan lurus ke depan penuh kebencian. Bersamaan itu pula kaca mobil tertutup kembali dan mobil itu pun pergi meninggalkan tempatnya terparkir barusan.
***
"bbrraaakkk!", Krystal memukul meja makan sekuat tenaga dengan kedua tangannya seraya bangkit berdiri. Tubuhnya bergetar penuh amarah.
Beberapa pelayan yang tak sengaja lewat ikut terkesiap kaget dan mempercepat langkahnya. Mereka sangat takut melihat nona mereka saat ini. Bukan karena mengkhawatirkan nonanya, melainkan lebih pada mengkhawatirkan diri mereka sendiri. Mereka masih sayang dengan nyawa mereka sendiri, mereka tak ingin menjadi bahan pelampiasan dari masalah yang mereka tak tahu asalnya. Terlebih masih ada keluarga yang harus mereka nafkahi, sehingga mereka masih sangat membutuhkan pekerjaan ini.
"Dasar wanita ******! Beraninya kau merebut masa depanku!", ucap Krystal geram seraya meremas foto kebersamaan Ken dan Ana saat berada di rumah sakit.
Setelah mengetahui bahwa Krystal dan Ana memiliki hubungan darah, Joice menyewa seorang fotografer untuk mengabadikan momen saat Ken sedang bersama dengan Ana. Hal itu tentu bertujuan untuk membakar api cemburu dalam hati Krystal. Dengan begitu, Ana akan menjadi bulan-bulanan Krystal. Dan hal itu sangat menguntungkan bagi Joice karena tak perlu repot-repot menggunakan tangannya sendiri untuk menyingkirkan saingan terberatnya untuk menjadi Nonya muda Wiratmadja.
"Hey, kenapa kau marah-marah!", seseorang berjalan mendekat ke arah Krystal.
"Siapa yang memperbolehkan mu masuk ke rumahku!", ucap Krystal sengit.
"Pintunya tidak dikunci", ucap Louis santai seraya menduduki dirinya di kursi sebelah Krystal duduk.
"Lagipula tidak ada yang orang satu pun dari depan hingga ke sini. Sunyi sekali rumahmu!", tanpa permisi ia mengambil dua lembar roti dan mengoleskannya dengan selai.
__ADS_1
"Hey! Aku bahkan belum menerimamu masuk ke dalam rumahku!", ia menatap Louis dengan begitu kesal. Pertama pria itu masuk tanpa izin dan sekarang ia malah dengan santainya menyantap roti tanpa dipersilakan.
"Apakah aku membayar dua lembar roti ini?", tanya Louis dengan mulut penuh makanan.
"Dasar sinting! Pergi kau dari rumahku!" teriak Krystal begitu melengking di telinga.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?!", ucap Louis dengan wajah menantang. Lalu ia melahap roti yang ia pegang lagi.
"Dengar, aku sedang sangat kesal! Jangan sampai kau menjadi bahan pelampiasanku saat ini!", ancam Krystal sambil menunjuk-nunjuk wajah Louis dengan foto-foto yang diremasnya.
Dengan gerakan cepat Louis menangkap foto-foto yang berada di tangan Krystal. Matanya sempat terbelalak setelah melihat siapa objek dari foto itu. Namun secepat mungkin ia memasang wajah tenangnya.
"Hey, kembalikan foto itu!", tangan Krystal sudah akan menyambar foto di tangan Louis.
Louis refleks menjauhkan tangannya dari jangkauan Krystal. Wanita itu terus berusaha menjangkaunya hingga wajah mereka sangat dekat. Sejenak mereka berdua saling tertegun dengan rona merah yang mampir pada pipi mereka masing-masing. Louis yang lebih cepat mengembalikan kesadarannya pun mengambil kesempatan untuk mengecup Krystal dengan cepat. Dan sebelum ia mendapat pukulan dari Krystal, ia langsung bangkit berdiri menjauh.
"Looouuiiss!!", teriak Krystal begitu keras.
"Iya apa sayang?!", tanyanya dengan senyum menggoda.
"Atau apa? Sudah sini duduk! Biar aku jelaskan padamu mengenai foto ini!", perintah Louis dengan nada lembut. Ia menangkap telunjuk Krystal dan mengarahkan tubuh wanita itu untuk duduk.
Krystal tanpa sadar hanya bisa patuh begitu saja pada perintah pria yang selalu membuatnya kesal.
"Tau apa kau?! Apa jangan-jangan kau yang mengirimkannya?!", tanya Krystal penuh selidik.
"Mana mungkin! Justru aku ingin bertanya siapa yang mengirimkan foto-foto ini padamu?!", jawab Louis masih berusaha untuk tenang. Lagipula mana mungkin ia membongkar rahasia Ana ini, ia sudah berjanji untuk tidak memberitahu Krystal. Tapi karena sudah terlanjur begini, hanya ini yang bisa ia lakukan. Mengarang bebas!
"Mana ku tau! Baru saja ada orang yang mengirimkan itu padaku!", ucapnya tak mengurangi rasa kesalnya pada Louis.
"Emmhh, begitu rupanya!", Louis menopang dagunya dan menatap ke arah langit-langit seakan sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Apa? Kau mau menjelaskan apa?", tanya Krystal yang masih penasaran dengan apa yang akan Louis ucapkan.
"Apa kau begitu penasaran?", Krystal langsung membulatkan matanya lebar-lebar ke arah Louis.
"Baiklah, baiklah! Jadi begini, saat itu aku juga ada di sana. Aku datang bersamaan dengan Presdir Ken. Saat itu Presdir Ken hanya kebetulan datang menjenguk Tuan Danu karena pamanmu itu kan rekan kerja Presdir Ken, dan mereka cukup dekat", jelas Louis dengan cerita karangannya.
"Lalu ini apa? Apa perlunya dia sampai saling berpelukan?! Tentu hubungan mereka mempunyai hubungan lebih kan?!", selidik Krystal dengan wajah kesal.
"Siapa yang bilang?!", Louis bertanya balik dengan wajah berpura-pura tidak percaya.
"Ini buktinya!", Krystal menunjuk ke arah foto itu.
"Hey, apakah Nona Krystal ada di sana saat itu?! Jangan menuduh orang sembarangan, Nona!", sahut Louis setenang mungkin.
"Presdir Ken hanya memberi semangat pada Ana karena ia merasa kasihan pada Ana yang terus saja menangis. Bisa dibayangkan betapa sedihnya Ana saat itu, saat dimana ayahnya tak kunjung sadarkan diri, bukan!", tutur Louis dengan cerita karangannya lagi.
"Tapi kan tidak harus peluk-pelukan!", protes Krystal. Amarahnya mulai reda seiring penjelasan dari Louis. Krystal menelan mentah-mentah semua yang Louis ceritakan.
"Wajar saja, memangnya ada yang salah?! Aku juga memeluk Ana! Memangnya kenapa?! Kami tidak ada hubungan apa-apa. Tapi wajar saja bila kita ingin memberi ketenangan bagi seseorang, bukan!", ucap Louis dengan santainya.
"Kau berpelukan dengan Ana?!", Krystal menaikkan intonasi suaranya.
"Kenapa? Cemburu ya?", Louis menjentikkan jarinya ke dagu Krystal.
"Jangan sembarang bicara!", Krystal berkilah dengan perasaannya sendiri. Entah timbul rasa tidak suka saat mendengar Louis memeluk wanita lain.
"Sini, sini, biar ku peluk!", Louis sudah mendekat seraya merentangkan tangannya.
"Tetap di sana! Atau ku perintahkan penjaga untuk mengusirmu!", ancam Krystal.
Louis menghentikan aksinya dan kembali duduk dengan tenang di samping Krystal.
__ADS_1
"Aku masih belum mempercayai kata-kata mu!", ucap Krystal dengan tenang namun terdengar menuntut.
"Haahh!", Louis menghela nafas panjang. Ia bingung cerita apa lagi yang harus ia karang untuk membuat Krystal percaya dengan ucapannya dan tidak lagi mencurigai Ana.