Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 114


__ADS_3

Di kamar dengan nuansa hangat itu, Ana sedang berbaring seraya memainkan gantungan kunci kesayangannya. Gantungan yang sama dengan milik Ken karena memang ia yang membuatnya. Ia memandangi benda itu dengan tatapan yang sulit dibaca.


"Ken", ucapnya dalam hati.


"Apa kau begitu merindukannya?", sebuah suara mendekat ke arahnya.


"Kakak!", seru Ana seraya mendudukkan dirinya.


"Apa kau begitu rindu pria bodoh itu, hah?", tanya Ben lembut sambil mengacak rambut Ana.


"Berhenti mengatakan dia bodoh!", ucap Ana kesal seraya menghempas tangan Ben dengan kasar yang langsung disambut oleh kekehan dari mulut pria eksentrik itu.


"Baiklah! Baiklah!", Ben menarik tangannya ke depan dada dan melipatnya di sana. Kini ia memandang ke arah Ana dengan tatapan serius.


"Sekarang apa rencanamu?", tanya Ben.


"Aku bingung harus mulai darimana! Tapi bisakah aku bertemu dengannya dulu?!", ucap Ana ragu dengan tatapan sendu.


"Baiklah!", ucap Ben lembut sambil mengukir senyumnya. Pria eksentrik itu menyembunyikan hatinya yang tersayat akibat wanita yang dicintainya itu malah merindukan pria lain dengan terang-terangan. Tapi apalah daya, Ana hanya menganggapnya sebagai kakak, tak lebih dari itu. Maka ia hanya bisa menjaga Ana sebagai keluarga yang ia sudah tak punya.


"Tapi aku ingin pergi ke makam ayah dulu, kak! Boleh ya, boleh!", pinta Ana sambil bergelayut manja pada lengan Ben.


"Kau itu sudah cerewet juga banyak maunya lagi!", Ben mencubit gemas pipi Ana seraya bangkit pergi meninggalkan kamar itu. Senyumnya masih mengembang namun kemudian menghilang sesaat setelah tubuhnya membelakangi Ana. Ben merasakan dadanya serasa diremas-remas saat ini. Ia tak memungkiri sakit hati yang menderanya kini.


***


Di pemakaman,


Ana berlutut, setengah duduk ia menopang tubuhnya dengan kedua lututnya di antara makam ayahnya dan makam ibunya. Wajahnya berubah sendu. Ia mengusap kedua batu nisan itu dengan lembut, seakan yang ia sentuh adalah wajah-wajah dari orang yang tak dapat lagi ia lihat. Beberapa saat ia memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya. Setelah itu ia meletakkan sebuah buket bunga mawar putih pada masing-masing makam itu.


"Ibu, Ayah, aku harap kalian sudah bahagia di sana. Aku pun akan memperjuangkan kebahagiaan ku di sini. Karena kali ini adalah giliranku, Ayah!", ucap Ana dalam hati.


Ana bangkit berdiri di bantu oleh Ben yang sejak tadi menemaninya dalam keheningan. Kemudian ia tersenyum penuh arti ke arah nisan yang bertuliskan namanya sendiri di sana.


"Belum waktunya!", gumamnya sambil memandang ke arah nisan itu.

__ADS_1


"Sudah?", tanya Ben setelah berdoa untuk mendiang Tuan Danu yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri. Ana mengangguk tanpa bersuara.


"Ayo!", Ben memakai topi koboi nya seraya mengulurkan tangannya supaya Ana menyambutnya.


"Ayo!", Ana tak menyambut uluran tangan itu. Ia tersenyum ceria sambil menggandeng lengan Ben dan setengah menariknya.


Ben tersenyum getir sambil memandangi lengannya yang sedang ditarik oleh Ana, wanita yang membuatnya merasakan cinta sebelah pihak. Ia menggeleng pelan, kemudian senyum ikhlas nya menguar seraya hatinya yang mantap untuk melepaskan perasaannya terhadap Ana. Hingga akhirnya mobil yang mereka tumpangi pergi keluar dari area pemakaman itu.


***


Siang itu di mansion mewah nan maskulin, aroma masakan mulai menggoda indera penciuman yang setiap insan yang berada dibawah sana. Setelah beberapa hal dibahas, Ken tak menampik jika perutnya maupun perut Han meminta untuk diberi sokongan nutrisi. Sambil berbincang santai kedua pria itu menuruni tangga dan berjalan menuju meja makan.


Di sana Nyonya Rima maupun Joice tengah mengakhiri kegiatan mereka menata beberapa menu makanan. Warna warni juga aromanya sungguh menggugah selera. Namun ketika melihat siapa yang menyajikan hidangan itu, seketika selera makannya menurun drastis. Wajahnya berubah dingin nan suram.


"Sayang! Kau sudah baikan? Ayo kita makan siang dulu! Joice yang memasak makan siang kali ini khusus untukmu", ucap Nyonya Rima ramah sembari menarik salah satu kursi untuk Ken.


Joice tersenyum malu ketika namanya sedang disebut sebelum akhirnya berkata, "Ini bukan apa-apa, Tante!". Topeng kemunafikannya kembali dipasang. Sesekali ia memasang senyumnya sambil memandang ke arah Ken. Ia berharap Ken akan melihat ke arahnya, meskipun nyatanya pria itu masih terlihat dingin tak mempedulikan dirinya sedikit pun. Lalu sejenak ia memalingkan wajahnya dan tersenyum kecut, kecewa karena Ken tetap diam.


"Heh!", Han yang berdiri di belakang Ken pun mendengus pelan. Ia muak dengan sikap Joice yang amat pandai mengambil hati Nyonya Rima dengan segala cara yang ia punya.


"Sam kau datang!", seru Nyonya Rima seraya menghampiri putra bungsunya itu.


"Iya Bunda! Apakah aku dilarang hadir di sini?", ucap Sam setelah melepaskan pelukanny dari Nyonya Rima.


"Tentu saja, tidak sayang! Ayo kita makan bersama! Joice sudah memasak banyak menu untuk makan siang kali ini. Kau harus mencobanya, masakan Joice pasti sangat enak!", ucap Nyonya Rima begitu bersemangat memuji Joice secara langsung sambil melirik ke arah Ken. Ia juga menarik kursi untuk Sam duduki tepat di sebelah putra sulungnya itu.


Ken tak bergeming dengan apapun yang kedua wanita itu lakukan maupun ucapkan. Wajahnya dingin dengan ekspresi datar tak terbaca. Ia masih ingin diam saat ini.


"Benarkah?! Baiklah aku akan mencobanya terlebih dahulu!", dengan percaya dirinya Sam mulai menyendokkan nasi ke piringnya.


Dan Joice mencibirkan bibirnya kesal lantaran harusnya Ken yang mencoba masakannya pertama kali. Tapi ia berusaha menutupi kekesalannya itu dengan tersenyum manis.


"Hey Han, mengapa kau hanya berdiri di sana! Ayo kita makan! Sayang jika makanan sebanyak ini tidak dihabiskan. Ayo cepat duduk di sini!", ajaknya seraya menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya.


"Tidak, terima kasih Tuan! Saya bisa makan nanti!", tolak Han dengan sopan.

__ADS_1


"kruukk! kruukk!", namun suara perutnya berkata lain. Nampaknya Han memang sudah cukup menahan laparnya.


Wajah Han sudah merah seperti kepiting rebus, ia menahan malu yang teramat sangat karena ucapan di mulut dengan suara perutnya begitu tidak sinkron. Dan hal itu tentunya menjadi bahan tertawaan seisi ruangan itu saat ini. Terutama Sam yang sedang terpingkal hingga mengeluarkan air mata. Sedangkan Ken hanya sedikit menipiskan bibirnya. Hal yang amat Joice sukai saat melihat Ken tersenyum meskipun hanya sedikit.


"Ayolah Han! Ayo duduk di sebelahku dan kita makan bersama. Kasian cacing-cacing di perutmu yang sedang berdemo itu!", Sam kembali meledek Han lagi.


"Tidak Tuan, terima kasih. Saya bisa nanti", Han tersenyum canggung sambil menahan kesalnya karena Sam selalu tak berhenti meledek seseorang hingga orang itu habis kesabarannya.


"Duduklah, Han!", ucap Ken menengahi mereka berdua.


"Tapi Tuan..", Han merasa sungkan hingga Ken memotong kalimatnya.


"Ini perintah, Han!", ucap Ken santai namun masih terdengar tegas.


"Baik Tuan!", akhirnya Han mendudukkan dirinya dan sebelah Sam yang masih berusaha meredakan tawanya.


"Berhenti tertawa, Sam! Ayo kita mulai makan!", ucap Nyonya Rima seraya mengambilkan nasi untuk Ken karena Sam sudah lebih dulu mengambil beberapa menu di piringnya.


"Biar aku saja Tante yang melakukannya untuk Ken!", Joice berinisiatif mengambil alih sendok yang berada di tangan Nyonya Rima supaya ia bisa mengambil hati ibu dan anak itu dengan melayani Ken.


"Baiklah! Kau memang seorang wanita idaman, sayang!", ucap Nyonya Rima seraya tersenyum dan disambut senyuman pula oleh wanita cantik itu.


"Aku ingin Bunda yang mengambilkan makanan untukku!", seru Ken dingin saat tangan Joice bergerak mengambil beberapa menu.


Tangan Joice berhenti di udara. Awalnya ia kesal dengan ucapan Ken yang menolaknya secara terang-terangan. Tapi kemudian dengan cepat ia mengembalikan senyum ramahnya.


"Silahkan, Tante! Sepertinya Ken masih ingin diperhatikan oleh bundanya", ucap Joice sambil mengumbar senyum palsunya.


Akhirnya mereka menikmati makan siang itu dengan khidmat. Han sudah menyingkirkan rasa malunya demi sokongan untuk perutnya. Sedangkan Sam, mulutnya sibuk cicip sana sini menuntaskan rasa penasarannya dengan menu-menu yang tersaji di sana. Dan Ken menikmati makanannya dalam diam.


"Wahh, aku kenyang sekali!", ucap Sam seraya mengusap perutnya.


"Aku jadi teringat masakan kakak ipar!", ucap Sam tiba-tiba.


Kalimat Sam membuat semua yang ada di sana menghentikan gerakan mereka. Beberapa pasang mata itu menatap Sam dengan tatapan yang berbeda. Dan beberapa di antaranya merasa sesak saat nama itu disebutkan di tengah suasana santai siang ini.

__ADS_1


__ADS_2